twittsev.com

Situs Web Pendidikan Terupdate

KPAI Sayangkan Tindakan Kekerasan di SPN Dirgantara Batam

JAKARTA — Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyayangkan insiden dugaan kekerasan yg terjadi pada SPN Dirgantara, Batam. Terkait hal ini, KPAI mendorong Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau dan Kemendikbud RI untuk mengevaluasi kebijakan-kebijakan sekolah.

Berdasarkan informasi yg diterima KPAI, SPN Dirgantara mempunyai sel tahanan yg dipakai buat menghukum siswa. Siswa yg dinilai nir disiplin akan dimasukkan ke sel tahanan tadi pada waktu yg beragam, bahkan terdapat yang ditahan lebih menurut satu hari.

KPAI Sayangkan Tindakan Kekerasan di SPN Dirgantara Batam

KPAI Sayangkan Tindakan Kekerasan di SPN Dirgantara Batam

Kasus yang saat ini mencuat dari berdasarkan siswa berinisial RS (17). Ia diduga melakukan pelanggaran berat & mengalami kekerasan hingga tangannya wajib diborgol. RS juga mengalami tekanan psikologis karena foto dirinya waktu didisiplinkan tersebar pada media sosial.

“Keluarga itu merasa dirugikan lantaran foto-foto saat anak diborgol, ditangkap itu dipublish,” istilah Komisioner KPAI Putu Elvina, saat ditemui di Kantor KPAI, Jakarta Pusat, Rabu (12/9).

Menurut Putu, orang tua RS nir mengetahui bagaimana syarat anaknya di sekolah tadi. Orang tua RS kaget karena dikirimi foto penangkapan dan sidang disiplin anaknya melalui Whatsapp. Foto tadi dikirim oleh ED, keliru satu pemilik modal sekolah tersebut.

Foto-foto RS ketika dihukum pula dikirim melalui Instagram sebagai akibatnya banyak pihak yg mengetahui tindakan tersebut. Apalagi, foto tadi juga ditambahi cerita-cerita yang tidak sahih misalnya RS dituduh sudah melakukan pencurian, mengedarkan narkoba, & melakukan pencabulan terhadap pacarnya.

Pola pendidikan di sekolau tersebut memakai semi militer. ED sebagai pemilik modal tadi sehari-hari membina latihan fisik, baris berbaris hingga acapkali menginap di sekolah. Sebuah asrama juga masih ada di sekolah ini, tetapi menurut KPAI nir seluruh orang tua setuju dengan sistem asrama lantaran memberatkan biaya .

Sebelum perkara RS mencuat, pernah terjadi kekerasan di sekolah ini. Seorang murid berinisial F menerima kekerasan berdasarkan beberapa seniornya. Foto F saat divestasi atribut sekolah juga diunggah ke Facebook oleh pihak sekolah sehingga menciptakan membuat malu anak dan keluarganya. Akhirnya, F dipindahkan ke sekolah lain.

Baca Juga :