twittsev.com

Situs Web Pendidikan Terupdate

Pendidikan Dalam Masyarakat Majemuk-Amerika

Pendidikan Dalam Masyarakat Majemuk-Amerika

Pendidikan Dalam Masyarakat Majemuk-Amerika

Pendidikan Dalam Masyarakat Majemuk-Amerika

Bangsa Amerika Serikat telah mengalami pasang surut dalam upaya pembinaan bangsanya. Berbagai pilihan telah digunakan, mulai dari “Melting Pot” yang didominasi oleh kultur golongan kulit putih sampai dengan “Salad Bowl: Kesatuan dalam kemajemukan” yang menghargai eksistensi keragaman etnik dalam kemajemukan budaya. Kebijakan-kebijakan tersebut berpengaruh terhadap dunia pendidikan. Pemisahan dan diskriminasi berlaku dalam pelayanan pendidikan bagi siswa golongan kulit berwarna. Dalam perjuangan hak-hak sipil telah membawa perubahan ke arah perlakuan kemajemukan budaya (Culture Pluralism). Suatu masukan bagi dunia pendidikan, terutama dalam masyarakat yang pluralistik.

Prasangka Terhadap Orang-orang Berkulit Hitam

Masyarakat Amerika adalah masyarakat majemuk. Penduduknya terdiri dari kaum imigran yang berasal dari berbagai negara, ras, agama, dan kebudayaan. Para pendatang mulanya adalah orang-orang berkulit putih dari kebudayaan Anglo-Sakson. Jadi merekalah yang kemudian mendominasi arena politik dan kemasyarakatan. WASP (White, Anglo-Saxon, and Protestant) adalah premis keunggulan ras dan menjadi kriteria keberhasilan dan kekuasaan dalam masyarakat Amerika Serikat yang pluralistik.
Untuk pendidikan di sekolah-sekolah juga mencerminkan pandangan dalam masyarakatnya. Ada masalah yang paling kontroversial saat itu adalah diskriminasi terhadap orang-orang berkulit hitam, walaupun perlakuan yang berbeda juga lazim terhadap orang-orang Indian, Mexico, Puerto Rico dan dalam takaran yang relatif lebih lunak terhadap orang-orang keturunan Asia seperti Jepang, Cina dan Filipina.
prasangka terhadap orang-orang kulit hitam adalah yang paling tua usianya dalam diskriminasi pendidikan di Amerika Serikat. Perlakuan yang membedakan ini sudah berlangsung sejak abad ke-17 disebabkan karena, kecuali bangsa Indian, orang berkulit hitamlah yang merupakan minoritas tertua. Mereka juga merupakan minoritas terbesar yang diwakili di setiap negara bagian. Dan disamping itu citra dari budak melekat pada orang berkulit hitam dan hal tersebut merupakan stigma sosial bagi mereka.
Sesudah perang saudara dan periode rekonstruksi, diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam (blacks) ini berkurang walaupun mereka masih diperlakukan terpisah dalam segregasi. Dua keputusan pengadilan yakni perkara “Cumming vs Georgia Board of education (1899) dan Berea College vs Kentucky (1908) yang menyatakan agar pengurus sekolah dengan bijaksana sepatutnya menyediakan fasilitas pendidikan yang terpisah kepada anak-anak orang kulit hitam, menyebabkan pelayanan pendidikan bagi mereka rendah sehingga kualitas pendidikan akan menjadi lebih inferior dibandingkan dengan anak-anak orang kulit putih.
Perubahan yang berpengaruh terjadi pada awal perjuangan hak-hak sipil di Amerika Serikat. Dengan adanya keputusan Mahkamah Agung terhadap perkara Brown vs Board of Education of Topeka, menyatakan bahwa pelayanan yang terpisah walaupun sebenarnya sama pada hakekatnya adalah tidak sederajat. Keputusan tersebut berlaku juga terhadap kasus-kasus  segregasi di negara-negara bagian lainnya, sehingga dampaknya adalah pukulan terhadap upaya-upaya yang menentang intergrasi dalam pendidikan. Puncak yang menghebohkan ialah peristiwa de-segregasi di Little Rock, Arkansas, satu dekade sesudah keputusan perkara Brown berlaku.

Melting Pot: Upaya Perbauran dalam Pembinaan Bangsa

Hal yang diupayakan untuk mempersatukan keragaman ini dalam sebuah nation, dilakukanlah upaya pembauran, Melting Pot adalah pilihan ke arah menciptakan sebuah bangsa baru yang lebih unggul dari hanya kumpulan berbagai kelompok etnik saja. Akan tetapi ternyata di dalam proses tersebut, budaya Anglo-Amerika tetap menonjol dan WASP masih mendominasi. Kelompok-kelompok etnis yang lain pun terpaksa melepaskan unsur-unsur etniknya untuk dapat menyesuaikan diri dengan pola perilaku dan sistem nilai Anglo-Amerika. Sekolah-sekolah merupakan lembaga masyarakat yang menyebarluaskan sasaran ini. Dan salah satunya sebaran tentang pembauran yang berbunyi sebagai berikut ini;

“Adalah tugas kami (sekolah) untuk membubarkan kelompok-kelompok dan pemukiman-pemukiman kaum imigran ini, untuk selanjutnya digabungkan dan dibaurkan ke dalam bangsa Amerika. Adalah tugas kami untuk mendidik anak-anak mereka ke dalam konsep-konsep Anglo-Sakson tentang baik buruk, hukum, tertib dan pemerintahan, serta membangkitkan rasa hormat mereka terhadap lembaga-lembaga demokratis dan cita-cita lainnya yang dijunjung tinggi oleh seluruh rakyat (James A. Banks, Multiethnic Education: Practices and Promises (Bloomington, Indiana: The Phi Delta Kappa Educational Foundation, 1977 , halaman 11).

Sebagai ilustrasi dari kebajikan pembauran bersi “kawah candradimuka” ini, kita tilik proses asimilasi yang terjadi dikalangan imigran Cina. Mereka merupakan kelompok yang menjunjung tinggi budaya leluhur dan selalu bermukim di wilayah-wilayah yang eksklusif, yang dikenal dengan istilah China Town. Di tempat itu mereka merasa aman dan dikelilingi oleh keluarga serta adat yang akrab. Namun tuntutan pendidikan, lapangan pekerjaan dan kesejahteraan yang lebih baik, yang ingin dicapai oleh orang-orang cina ini, ingin menuntut perubahan. Pada pasca perang dunia II (1939 sampai dengan 1945), mereka yang ingin maju mulai meninggalkan China Town dan berusaha bertempat tinggal di daerah pemukiman umum, berkompetisi dengan  bersekolah yang bermutu serta dilapangan pekerjaan yang penuh dengan saingan. Untuk itu mereka melepaskan budaya tradisional China, masuk ke dalam pola budaya Anglo-Sakson, agar diterima sebagai bangsa Amerika.

Perubahan yang terjadi di kalangan Cina ini, khususnya di bidang pendidikan, disebabkan karena perlakuan yang diskriminatif terhadap mereka dan tuduhan-tuduhan bahwa siswa keturunan Cina yang mempertahankan budaya nenek moyangnya, di sekolah kurang berpartisipasi, non-asertif dan tidak pernah bertanya. Walaupun demikian penelitian yang dilakukan oleh Lesser, Fifer, dan Clark (1965) menunjukkan bahwa siswa-siswa Cina memang benar mendapat skor rendah pada tes verbal, akan tetapi mereka mendapat skor tinggi pada tes numerik dan skor tertinggi pada tes yang menguji nalar dan spatial.
Pembauran di kalangan imigran Jepang menunjukkan gambaran yang agak berbeda. Pada dekade 1970-an angkatan Sensei, yaitu keturunan ketiga imigran Jepang di Amerika Serikat, telah berhasil menerobos citra “Bahaya Kuning” menjadi “Minoritas Teladan” melalui kerja keras dan berbagai pengalaman. Keturunan Jepang yang pertama, atau Issei, masih mengikuti pola hidup budaya asalnya. Sedangkan anak-anaknya atau Nissei, mulai mengalami perubahan. Di sekolah mereka berbahasa Amerika; tetapi di rumah mereka masih berbahasa dan menggunakan adat-istiadat Jepang. Maka keturunan Nissei ini hidup dalam dunia yang penuh dengan konflik, baik di bidang pendidikan, sosial, maupun ideologis. (https://bandarlampungkota.go.id/blog/konsep-dan-radiasi-gelombang-elektromagnetik/)
Akan tetapi sesudah perang dunia kedua, angkatan Sansei mulai berhasil tampil dalam kelas menengah di Amerika, tanpa telalu dibebani oleh diskriminasi atau prasangka ras yang dialami oleh para pendahulunya, Issei dan Nissei. Bahkan merekalah yang mampu menerobos mitos keberhasilan Amerika, yakni sukses dalam pendidikan dan sukses dalam profesi. Meskipun demikian, penelitian-penelitian yang dilakukan pada tahun 1970-an (antara lain oleh Hosakawa, 1978) masih menunjukkan tanda-tanda belum yakin diri dan kekhawatiran di kalangan Sansei. Isu bahwa mereka adalah high achievers masih ramai diperdebatkan, dan Sansei masih diliputi perasaan sebagai golongan marginal yang bukan Jepang lagi, namun belum sepenuhnya di terima sebagai warga Amerika. Khususnya di kalangan Sansei wanita, terutama yang berkaitan dengan kemandirian dan gerakan feminim, hal-hal itu masih merupakan persoalan dikotomi yang belum terpecahkan dan masih rawan.

Salad Bowl: Kesatuan dalam Kemajemukan

Gagasan dari pembauran dalam Melting Pot diakui telah memberi sumbangan yang baik ke arah pembinaan berbagai macam kelompok imigran dan etnik untuk bersatu menjadi sebuah bangsa. Tetapi penggabungan ini tidak berhasil menghapuskan perbedaan-perbedaan kultural di antara mereka. Para penganut pembauran memang selalu mengemukakan dalih bahwa tuntutan dari masyarakat modern dan teknokratis menghendaki surutnya budaya tradisional. Namun sulit juga untuk membantah bahwa cara-cara demikian justru berakibat tercerabutnya para imigran dari akar budaya mereka, sehingga menimbulkan alienasi dan anomie. Hal lain yang juga merupakan dampak negatif ialah tekanan-tekanan politik dan budaya dari kelompok etnik yang dominan terhadap yang lainnya, dengan mengatasnamakan tujuan dan kepentingan nasional.

Maka absahlah tuntutan pandangan baru yang konsekuensi dari sistem politik yang demokratis maupun kultur yang demokratis. Sehingga kaum imigran yang berasal dari Eropa Selatan, Tengah, dan Timur, mereka tergolong Afro-Amerika, Chicano atau Indian mempunyai hak atas lembaga dan budaya etnik mereka di dalam masyarakat Amerika Serikat. Mereka disebut Mangkuk Selada, karena argumentasi mereka ialah bahwa setiap bawaan budaya etnik akan mempunyai peranan yang unik dalam memperkaya khazanah budaya nasional secara keseluruhan. Jadi begitulah yang disebut kemajemukan budaya (cultural pluralism), gagasan dan pilihan lain yang dianjurkan untuk dilaksanakan, baik oleh lembaga pendidikan maupun umum.