twittsev.com

Situs Web Pendidikan Terupdate

Hubungan Sultan Agung dan VOC Pra Konflik 1628-1629

Hubungan Sultan Agung dan VOC Pra Konflik 1628-1629

Mulanya sikap Sultan Agung tahu dan tegas, beliau dambakan berdagang bersama pihak manapun asalkan tidak mengganggu kemerdekaan wilayah kekuasaannya. Sikap yang demikianlah ini ditunjukkan terhadap utusan pertama VOC, Caspar Van Surck yang datang ke Mataram di th. 1614, dan ketika itu Sultan Agung mengemukakan sebuah pesan yaitu beliau berkata:

Buatlah sebuah benteng atau kalau diinginkan sebuah tempat tinggal sedemikian kuat sehingga sanggup bertahan kalau diserbu musuh, hingga saya sanggup berikan bantuan…. Saya tahu benar bahwa tuan-tuan singgah tidak untuk mendiami tanah Jawa…. Saya tidak bermusuhan bersama Banten, bakal tetapi kecuali tuan-tuan diganggu oleh Banten, saya bakal menambahkan 40 gorap (atau Kapal) sebagai bentuan kepada tuan-tuan, balaslah perbuatan mereka (H. J. De Graaf, 1986: 54).

Maka dari perkataan tersebut Sultan Agung sebetulnya tidak menganggap VOC sebagai sebuah ancaman bagi kedaulatan Mataram. Beliau lebih-lebih bersedia menunjang kesulitan-kesulitan VOC didalam hadapi tekanan-tekanan kerajaan Banten serta bersedia menunjang memfasilitasi pembangunan pangkalan dagang di Jepara.

Dalam rangka pembangunan pangkalan dagang atau disebut Loji, VOC di Jepara diputuskan untuk menghendaki perlindungan bahan bangunan melalui kepala dagang Andries Soury dan kepala Loji Steven Doenssen kepada Gubernur Kendal, Kyai Sundana. Tanggal 27 Juli 1615 Kyai Sundana singgah ke loji yang pas itu tengah step pembangunan, dan disepakati bahwa dari pihak Mataram bersedia sedia kan bahan bangunan, lebih-lebih batu bata, untuk pembangunan loji bersama ukuran 25 wadem pesegi (1Vadem= 1,88m) bersama imbalan 4 buah meriam. Serta disepakati pula, sebagai angsuran pertama diserahkan lebih-lebih dahulu dua meriam tersebut segala perlengkapannya (H. J. De Graaf, 1986: 55-56).

Kesepakatan ini tidak berjalan bersama baik, terbukti bersama diutusnya duta VOC untuk mengajukan keberatan-keberatan mereka kepada Sultan Agung sebanyak dua kali. Duta pertama ialah Gerret Fredericks Druyff yang singgah terhadap th. 1616, mengadukan masalah suplai batu bata yang tidak sesuai bersama kesepakatan serta tersedia masalah kesusahan meraih beras. Namun kebutuhan beras seterusnya sanggup dipenuhi bersama baik hingga bersama th. 1618 di pas Mataram menerapkan larangan ekspor beras gara-gara tengah mengalami krisis pangan. Karena larangan ini maka dicabutlah untuk pihak VOC sesudah duta kedua, Cornelis Van Maseyek sanggup berunding bersama Temunggung Singaranu di Mataram. Pada tanggal 22 Juli 1618 rombongan Cornelis Van Maseyck tiba ulang di Jepara bersama membawa bukti tetulis berkenaan pembebasan bea cukai dan pemenuhan kebutuhan beras (H. J. De Graaf, 1986: 58-59).

Hubungan privat bersama VOC bersama Mataram terlampau buruk, itu gara-gara sikap kepala pedagang VOC di Jepara, yaitu Balthasarvan Eyndhoven terlampau tidak baik dan tidak menyenakan, dan selain itu termasuk penyerangan serta perampasan kapal-kapal Mataram oleh VOC termasuk banyak terjadi. Berdasarkan 2 Hal atau alasan ini, maka sesudah itu syah bandar Jepara, Koja Hulubalang terhadap bulan Agustus 1618 atas nama Sultan Agung menyerang loji VOC. Serangan ini nampaknya menewaskan tiga orang Belanda dan menawan yang lainnya (Ricklefs, 2005: 69). Dekatnya pas pada penyampaian bukti tertulis dari pusat Mataram bersama penyerangan loji tersebut cukup mengakibatkan pertanyaan, mungkinkah didalam surat tersebut termasuk terdapat perintah tersirat untuk menyerang loji VOC?. Padahal di awalnya utusan tersebut sudah di terima bersama ramah tamah di pusat Mataram dan sudah pula menambahkan beraneka macam persembahan. Ataukah ini hanya semacam tindakan yang terburu-buru dari syah bandar Koja Hulubalang?. Dengan mengingat sesudah itu surat ke-2 singgah dari Tumenggung Singaranu untuk membebaskan para tawanan Belanda dan memperbolehkannya untuk singgah dan berdagang ulang di Jepara sepanjang tidak mengulang ulang perbuatan-perbuatan jahatnya (H. J. De Graaf, 1986: 61).

Kejadian ini rupanya menyebabkan JP Coen selaku Gubernur Jenderal VOC di Batavia marah besar. Meskipun demikianlah ia menahan dirinya, untuk tidak memakai langkah kekerasan militer, ia lebih mengedepankan kepentingannya meraih logistik dari Mataram dan menahan diri untuk membalas perbuatan Mataram. Barulah di bulan November 1618, diperintahkannya Ven der Marer untuk “menghukum” orang-orang Jawa yang salah. VOC mengadakan ekspedisi lintas darat bersama 160 pasukan. Dengan itu kelanjutannya sukses mendiami benteng Jepara, membakar loji dan rumah-rumah disekitarnya, dan merampas kapal-kapal di depan Demak dan Jepara, serta menewaskan lebih kurang 30 orang Jawa. ternyata tidak cukup ekspedisi itu saja, VOC masih termasuk melancarkan serangan untuk ke-2 kalinya terhadap 23 Mei 1619, termasuk termasuk membakar pos Maskapai Hindia Timur milik Inggris (Ricklefs, 2005: 69).

Penaklukan VOC atas Batavia di th. 1619 merupakan titik balik menentukan, gara-gara VOC sudah melaksanakan apa yang harusnya tidak dilakukan mereka bersama merebut lebih dari satu pulau Jawa untuk diperintah dan dikuasai sendiri. Meskipun demikian, Sultan Agung senantiasa fokus untuk menaklukan Surabaya sudah menunda untuk pas perhatiannya terhadap pergantian konstelasi politik di Batavia. Beliau lebih-lebih membebaskan lebih dari satu tawanan orang belanda dan menambahkan perlindungan beras terhadap th. 1621 (H. J. De Graaf 1986: 60).

Baca Juga :