twittsev.com

Situs Web Pendidikan Terupdate

Menganalisis Politik Sultan Agung Menghadapi VOC

Menganalisis Politik Sultan Agung Menghadapi VOC

Belajar berasal dari Perjalanan jihad Sultan Agung berasal dari Mataram. Upaya untuk menegakkan syari’at islam membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Kerajaan Mataram Islam ini udah melaksanakan syariat islam. Pada th. 1613-1645 M Mataram Islam diperintah oleh Sultan Agung yang bertekad mengantarkan mataram menuju puncak kejayaan.

Sultan agung memiliki nama lain yakni Mas Rangsang. Ia adalah anak berasal dari raja ke-3 sultan mataram yang bernama Panembahan Anyakrawati atau Mas Jolang. Setelah ia diangkat menjadi raja bergelar Kanjeng Sultan Agung Senapati Ing Alaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama yang berarti raja yang besar sebagai panglima perang kala berperang, tetapi ia juga hamba Allah dan juga pemimpin agama.

Sesudah lima th. memerintah, Sultan Agung memindah ibu kota kerajaan Mataram berasal dari Kotagede ke Kerto yang jaraknya sekitar 5 km di sebelah selatan Kotagede. Pemindahan ini memiliki nilai strategis lebih-lebih bidang kenegaraan dan pemerintahan, lebih-lebih di dalam bidang kemiliteran agar tambah kuat. Karena Sultan Agung memperkuat prajurit angkatan laut dan membawa dampak kolam telaga yang lebar dan luas, yang disebut Segarayasa di desa Wonokromo.

Sultan Agung adalah raja terbesar Mataram yang bercita-cita: mempersatukan semua Jawa di bawah Mataram, dan mengusir Perserikatan Perusahaan Hindia Timur atau Perusahaan Hindia Timur Belanda atauVereenigde Oostindische Compagnie(VOC) berasal dari Pulau Jawa. Untuk merealisasikan cita-citanya, ia berniat membendung usaha-usaha Kompeni menggerakkan penetrasi politik dan monopoli perdagangan.
Ekspedisi Jihad
Pada selagi Sultan Agung memimpin Kerajaan Mataram, beliau mengirim pasukan untuk menghimpun semua Jawa. Pasukan Mataram merasa menaklukkan kota-kota kecil seputar Surabaya (1614 M), Wirasaba (1615), Lasem (1616), Pasuruan (1617) dan Madura (1624). Kota Surabaya bisa dikuasai secara menyeluruh pada th. 1628, disebabkan pasukan angkatan laut mataram kalah dan pasukan darat juga kalah. Pasukan Sultan Agung bisa mengalahkan Surabaya bersama langkah membendung sungai Surabaya yang kemudian di alirkan ke sungai porong agar pasukan surabaya kekurangan air.

Pada th. 1628, lokasi Mataram nyaris termasuk semua jawa. Tetapi tetap ada batu sandungan untuk menghimpun semua jawa yakni VOC yang membawa benteng pertahanan di Batavia. Oleh gara-gara itu Sultan Agung berniat mengusir VOC berasal dari Jawa. Niatan ini bukan hanya keinginan saja, tetapi dibuktikan oleh Sultan Agung. Ia mengirim pasukan untuk menyerang Batavia hingga 2 kali serangan.
Serangan pertama, pada bulan Agustus 1628 M dan dilakukan di dalam dua gelombang. Ia mengirim sekitar 20.000 pasukan bersama pakai 60 kapal untuk menyerang Batavia. Gelombang I di bawah pimpinan Baurekso dan Dipati Ukur, sedangkan gelombang II di bawah pimpinan Suro Agul-Agul, Manduroredjo dan Uposonto. Batavia dikepung berasal dari darat dan laut selama tiga bulan, tetapi tidak menyerah. Bahkan sebaliknya, tentara Mataram pada akhirnya terpukul mundur.

Serangan ke dua dilancarkan pada bulan September 1629 M di bawah pimpinan Dipati Purbaya dan Tumenggung Singaranu. Sebanyak 80.000 pasukan mataram diterjunkan dan ditambah bersama persenjataan meriam. Mereka juga menghimpun beras di pelabuhan Tegal dan Cirebon. Untuk memenuhi keperluan makanan pasukan mataram. Dan dibuat lumbung padi di Karawang.

Akhirnya rahasia lumbung padi ini bocor. J.P. Coen pemimpin VOC menyadari hal itu, maka ia tidak tinggal diam. Ia pun mengirimkan kapal-kapal perang belanda ke pelabuhan Tegal dan Cirebon untuk membakar gudang-gudang beras punya pasukan Mataram. Akibat berasal dari pembakaran lumbung padi ini pasukan Mataram kelaparan dan juga di serang penyakit busung lapar dan kolera, agar sebagian besar berasal dari mereka meninggal dunia.

Belajar Dari Pengalaman
Pengalaman adalah guru yang berharga, berasal dari kegagalan serangan Sultan Agung ke Batavia. Ia membawa dampak trik baru di dalam menghimpun Pulau Jawa. Diantara gara-gara kegagalan di dalam perang melawan VOC di Batavia adalah berasal dari segi persenjataan Mataram kalah, berasal dari segi logistik untuk menyuplai pasukan udah bocor lebih-lebih dahulu kemudian oleh Belanda dibakar, berasal dari segi jarak tempuh pada Mataram menuju Batavia jauh, dan berasal dari segi kesegaran pasukan Mataram banyak terjangkiti wabah penyakit.

Di pada faktor yang lain adalah kondisi alam yang tidak menolong gara-gara bertepatan musim penghujan taktik Sultan Agung yakni di dalam usaha membendung sungai Ciliwung pada akhirnya menuai kegagalan juga.

Belajar berasal dari pengalaman ini Sultan Agung melaksanakan rekonsiliasi dan penyatuan secara spiritual bersama kalangan keagamaan. Langkah-langkah yang di membuat adalah penetapan pemakaian penanggalan Islam berdasarkan Qomariah, menikahkan keturunan Sunan Giri di Gresik bersama adik Sultan Agung, dan untuk memperkuat posisinya sebagai sultan di Jawa,Sultan Agung mengutus utusan ke Makah untuk memohon gelar untuk dirinya.
Setahun berikutnya utusan itu kembali bersama membawa restu berasal dari penguasa Makah. Sultan Agung mendapat gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarani. Akhirnya Sultan Agung meninggal pada th. 1645 M dan ia dimakamkan di kompleks makam raja-raja mataram di Imogiri.

Sumber : https://www.kumpulansurat.co.id/

Baca Juga :