twittsev.com

Situs Web Pendidikan Terupdate

Serangan di Sekolah Tiongkok dan AS Munculkan Perbedaan Dampak UU Pengawasan Senjata

Serangan di Sekolah Tiongkok dan AS Munculkan Perbedaan Dampak UU Pengawasan Senjata

Serangan di Sekolah Tiongkok dan AS Munculkan Perbedaan Dampak UU Pengawasan Senjata

Serangan di Sekolah Tiongkok dan AS Munculkan Perbedaan Dampak UU Pengawasan Senjata

Serangan di Sekolah Tiongkok dan AS Munculkan Perbedaan Dampak UU Pengawasan Senjata

Serangan terhadap sekolah dasar yang hampir bersamaan di Amerika Serikat dan Tiongkok

telah mendorong banyak orang menilik pendekatan setiap negara yang sangat berbeda untuk UU pengawasan senjata.
Berbekal senapan dan dua pistol, Adam Lanza yang berusia 20-tahun mampu melaksanakan salah satu penembakan massal terburuk dalam sejarah Amerika pada hari Jumat, menewaskan 20 anak-anak dan enam orang dewasa di Sekolah Dasar Sandy Hook di Newtown, Connecticut.

Hanya beberapa jam sebelumnya, Min Yongjun, pria berusia 36-tahun,

bersenjatakan sebuah pisau dapur, masuk ke sebuah sekolah dasar di provinsi Henan dan diduga mulai menyerang para siswa. Meskipun polisi mengatakan ia mampu melukai 23 anak dan seorang warga lanjut usia, tidak ada luka yang parah dan ia segera dibekuk oleh polisi dan guru.

Ini adalah insiden terbaru dalam serangkaian serangan terhadap siswa di Tiongkok yang telah menyebabkan orang bertanya-tanya dan keamanan meningkat di luar lembaga pendidikan. Tapi hampir semua insiden melibatkan senjata yang kurang maut seperti pisau dan palu, jauh dari skala tragedi hari Jumat di Amerika.

Joseph Cheng, seorang profesor City University di Hong Kong, mengatakan kepada VOA

bahwa hal itu karena UU senjata yang keras di Tiongkok, di mana warga biasa hampir tidak mungkin mendapatkan senjata api. PBB memperkirakan bahwa tingkat pembunuhan di Tiongkok kurang dari seperempat yang terjadi di Amerika Serikat.

Pendukung pengawasan senjata berpendapat ini karena Tiongkok, yang populasinya satu miliar lebih banyak dari Amerika, hanya memiliki sebagian kecil dari jumlah senjata yang ada di Amerika.

 

Baca Juga :

 

 

KPAI Desak Pemerintah Atasi Radikalisme Agama di Sekolah

KPAI Desak Pemerintah Atasi Radikalisme Agama di Sekolah

KPAI Desak Pemerintah Atasi Radikalisme Agama di Sekolah

KPAI Desak Pemerintah Atasi Radikalisme Agama di Sekolah

KPAI Desak Pemerintah Atasi Radikalisme Agama di Sekolah

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendesak pemerintah untuk menindak tegas sekolah

yang mengajarkan fanatisme dan radikalisme agama.
JAKARTA — Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Badriyah Fayumi mengatakan sejumlah sekolah telah mengajarkan intoleransi dan mengarahkan siswa untuk memiliki fanatisme terhadap ajaran agama tertentu.

Kepada VOA Jumat (14/12), Badriyah mengatakan bahwa indoktrinasi semacam itu sudah berjalan melalui kegiatan yang sistematis di sejumlah lembaga pendidikan, dan akan berbahaya jika dibiarkan.

Anak, menurut Badriyah, sangat rawan menjadi korban indoktrinasi dan juga rentan untuk meneruskan tradisi intoleransi. Ia menambahkan kurikulum pendidikan harus betul-betul memiliki muatan yang mengajarkan toleransi.

“Radikalisme di sekolah itu terjadi dari level yang paling dini sampai level perguruan tinggi, antara lain melalui proses indoktrinasi bahwa yang lain yang tidak sama seperti kita adalah musuh kita, boleh kita serang, boleh kita perangi,” ujar Badriyah.

“Bahkan kami mendapatkan pengaduan dari guru TK di Depok,

yang kemudian ayahnya mengeluarkan anaknya dari TK tersebut, karena anaknya pulang mengatakan bahwa ‘Oh, itu berbeda agamanya dengan kita, berarti dia boleh dibunuh’.”

Badriyah mengatakan kasus indoktrinasi seperti itu juga dapat terjadi melalui kegiatan ekstrakurikuler keagamaan yang ada di sekolah.

Sebelumnya, hasil survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian selama Oktober 2010 hingga Januari 2011 menunjukkan bahwa 49 persen siswa di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Tanggerang dan Bekasi) cenderung setuju menempuh aksi kekerasan untuk menyelesaikan masalah agama dan moral.

Survei ini dilakukan terhadap 1.000 siswa dari 100 sekolah menengah pertama dan atas di Jabodetabek.

Direktur Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian Bambang Pranowo

mengungkapkan paham radikal bisa masuk ke sekolah dengan berbagai cara, seperti kegiatan ekstrakurikuler.

“Ada kegiatan yang memanggil orang dari luar untuk memberikan materi, ceramah mengenai ideologi seperti NII (Negara Islam Indonesia) secara meyakinkan,” ujar Bambang.

Juru Bicara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ibnu Hamad mengatakan para kepala sekolah harus dapat mengontrol setiap kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti siswa, apalagi kalau kegiatan tersebut memanggil pihak dari luar.

Khawatir dengan kondisi di sekolah tersebut, tokoh agama Romo Franz Magnis Suseno mengatakan pendidikan ke arah toleransi harus dimulai.

“Di situ ada dua poin yang penting. Yang pertama bahwa toleransi bukan berarti mengatakan semua keyakinan sama dan sebagainya. Dan yang kedua, belajar menerima bahwa orang dengan keyakinan yang berbeda. Nah yang dua hal itu yang harus diajarkan pada anak [sejak] kecil,” ujarnya.

 

Sumber :

https://www.edocr.com/v/rypqab5o/ojelhtcmandiri/Review-Text

5 Negara Bagian AS Perpanjang Waktu Sekolah

5 Negara Bagian AS Perpanjang Waktu Sekolah

5 Negara Bagian AS Perpanjang Waktu Sekolah

5 Negara Bagian AS Perpanjang Waktu Sekolah

5 Negara Bagian AS Perpanjang Waktu Sekolah

Lima negara bagian AS memperpanjang waktu belajar mengajar di sekolah

untuk meningkatkan prestasi siswa dan membuat sekolah lebih kompetitif.
WASHINGTON — Lima negara bagian di Amerika Serikat mengumumkan Senin (3/12) bahwa mereka akan menambahkan paling sedikit 300 jam ke dalam kalender tahun ajaran beberapa sekolah mulai 2013.

Colorado, Connecticut, Massachusetts, New York dan Tennessee akan ambil bagian dalam inisiatif tersebut, yang bertujuan meningkatkan prestasi siswa dan membuat sekolah-sekolah di AS lebih kompetitif di tingkat global.

Program pilot tiga tahun yang dibiayai anggaran nasional dan lokal tersebut akan berdampak pada hampir 20.000 siswa di 40 sekolah, dengan harapan jangka panjang untuk mengembangkan program tersebut di sekolah-sekolah lain, terutama yang melayani masyarakat kelas bawah.

Sekolah-sekolah tersebut, bekerja sama dengan dinas pendidikan, orang tua dan guru, akan memutuskan apakah penambahan jam tersebut akan membuat waktu belajar mengajar lebih panjang, atau menambahkan hari sekolah atau bahkan keduanya.

Menghabiskan lebih banyak waktu di kelas, menurut pihak berwenang, akan memberi siswa akses terhadap kurikulum yang lebih sempurna yang memasukkan seni dan musik, bantuan individual untuk siswa yang tertinggal dan kesempatan untuk menguatkan matematika kritis dan kemampuan sains.

“Penambahan waktu yang berarti di sekolah merupakan investasi kritis yang akan lebih baik

mempersiapkan anak-anak supaya berhasil menghadapi abad 21,” ujar Menteri Pendidikan Arne Duncan dalam pernyataan tertulis.

Proyek ini dibuat menyusul kesulitan dari para guru untuk mengidentifikasi cara terbaik untuk memperkuat sistem sekolah negeri yang dikhawatirkan oleh banyak pihak telah tertinggal dibandingkan negara-negara lain. Selain perpanjangan waktu belajar, ujian siswa, evaluasi guru, sekolah carter dan program voucher telah dilakukan untuk mereformasi pendidikan di AS.

Penelitian menunjukkan bahwa para siswa yang menghabiskan lebih banyak waktu belajar memiliki prestasi yang lebih baik. Salah satu penelitian tersebut, dari ekonom Harvard Roland Fryer, menunjukkan bahwa pengajaran intensif dan penambahan paling tidak 300 jam ke dalam tahun ajaran merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan hasil pendidikan.

Namun laporan tahun lalu dari Pusat Pendidikan Publik pada Asosiasi

Dewan Sekolah Nasional menunjukkan bahwa negara-negara dengan kinerja pendidikan yang tinggi seperti Korea Selatan, Finlandia dan Jepang memiliki waktu sekolah yang lebih sedikit dibandingkan sebagian besar siswa AS.

Perpanjangan waktu sekolah juga dapat menimbulkan masalah dengan serikat guru.
Kurang lebih 1.000 sekolah di AS telah menjalankan waktu sekolah yang lebih panjang, naik 53 persen dari 2009. Beberapa pihak mengatakan beberapa sekolah sebaiknya mengikuti perpanjangan waktu tersebut, namun menekankan bahwa program tersebut bukan strategi yang tepat untuk setiap sekolah. (AP/Josh Lederman)

 

Sumber :

https://crooksandliars.com/user/danuaji88

Carut marut Indonesia

Carut marut Indonesia

Carut marut Indonesia

Carut marut Indonesia

Carut marut Indonesia

Di hari kebangkitannya yang ke 100 tahun

Indonesia diwarnai berbagai macam kejadian, yang hampir bisa disetarakan sebagai fragmen dagelan sebuah bangsa.
Lihat saja berita-berita media, dan detailnya di internet, banyak berita yang membuat kita bertanya-tanya.
Diantaranya, penemuan blue energi, bahan bakar berasal dari air, semua pihak menanggapi menurut versinya masing-masing, baik politikus, ilmuwan, lembaga riset, sampai wakil presiden.

Belum selesai masalah blue energi

muncul lagi kehebohan yang lain, seorang yang tidak jelas asal usulnya,Ahmad Zaini, mengaku memiliki dana ribuan trilyun, bayangkan, ribuan trilyun..!!! untuk menghitung jumlah nol nya saja kita kesulitan, apalagi membayangkan seberapa besar dana tersebut.

Ribut-ribut terakhir adalah seorang motivator

Tung Desem Waringin, yang akan membagi-bagikan uang lewat pesawat. Sebuah kegiatan yang sangat kontroversial, lebih cenderung arogan.
Mengapa uang itu tidak disumbangkan saja melalui badan amal, jika memang niatnya sedekah..
Membagi-bagikan uang dari udara, ibarat memberi makan ikan di kolam, makanan di lempar, dan ikan-ikan akan berebutan, sang pemilik melihat dari atas, mungkin sambil bernyanyi-nyanyi, atau mengajak anak kecil melihat ikan..
Memang itu adalah uang dia sendiri, hasil jerih payah, namun apakah itu cara yang bijak dalam penggunaannya..??

Tirto Adi Suryo

Tirto Adi Suryo

Tirto Adi Suryo

Tirto Adi Suryo

Tirto Adi Suryo

Tak banyak yang tahu, siapa Tirto Adi Suryo

seorang pelopor, masterpiece dalam bidang media dan pergerakan nasional yang sesungguhnya. Kisahnya terangkum jelas dalam buku-buku karya Pramudya Ananta Toer, Tetralogi Pulau Buru. Yang beberapa waktu lamanya di larang beredar oleh penguasa Indonesia dan kembali muncul ketika rezim orde baru runtuh.
Mas, Tirto Adhi Suryo adalah bangsawan jawa pelopor pembentuk kesadaran nasionalisme tersebut. Lewat kecakapannya sebagai primbumi terdidik, lahir organisasi modern pertama; Serikat Priayi (SP). Organisasi ini tidak berumur panjang, dan tidak pernah kelihatan memimpin kesadaran politik anti penjajah karena di dalamnya tergabung kaum priayi Jawa yang masih memegang teguh status kepriayiannya. Namun organisasi ini telah menjadi media pertama kali secara struktur kaum pribumi mendiskusikan embrio sebuah Nation. Kesadaran pembentuk nation justru sesungguhnya berasal dari koran bernama “Medan Priayi” yang didirikan Tirto Adhi suryo pada tahun 1907 dengan format 125 kali 195mm, dengan tebal 22 halaman terbit seminggu sekali. Kenapa koran ini yang menjadi peletak dasarnya? Karena lewat koran inilah gagasan nasionalisme tertulis pertama kali dan dibaca dan menjadi pembentuk kesadaran awal tentang nasionalisme melampaui perbedaan agama, suku, dan organisasi. Koran tersebut diterbitkan dengan semboyan: “Suara orang-orang yang terperintah”. Kita masih mengingat bagaimana peranan tulisan telah menentukan proses gerak sejarah bangsa termasuk pembentukan nation, karena tanpa tulisan maka betapa sulitnya menyatukan nusantara yang Terdapat lebih dari tigaratus etnik berbeda di Indonesia, masing-masing dengan identitas budayanya sendiri, dan lebih dari duaratus limapuluh bahasa berbeda yang diucapkan di kepulauan (archipelago)Indonesia.

Pelopor pers nasional

Raden Mas Tirto Adhi Soerjo lahir di Blora tahun 1880 sebagai Raden Djokomono. Ia adalah siswa Stovia di Batavia yang tidak tamat menjadi “dokter Jawa”. Sejak muda, sudah mengirimkan tulisan-tulisan ke sejumlah surat kabar dalam bahasa Belanda dan Jawa. Selama dua tahun, ia ikut membantu Chabar Hindia Olanda, pimpinan Alex Regensburg, kemudian pindah menjadi redaktur Pembrita Betawi, pimpinan F. Wiggers, yang kelak digantikannya.

Setelah menikah dengan R.A. Siti Habibah

ia tinggal di Desa Pasircabe, 3 pal dari ibu kota Kabupaten Bandung. Di sinilah ia ditawari oleh Bupati Cianjur, R.A.A. Prawiradiredja, untuk menerbitkan surat kabar sendiri. Terbitlah Soenda Berita pada tahun 1903. Inilah surat kabar pribumi pertama berbahasa Melayu, yang dimodali, dicetak, ditangani oleh pribumi.
Soenda Berita berhenti terbit tahun 1906. Tirto Adhi Soerjo tinggal di Bogor, kemudian bersama beberapa prijaji di Batavia, mendirikan Sarikat Prijaji dengan anggota sekira 700 orang dari berbagai daerah di Hindia Belanda. Sarikat Prijaji menginginkan sebuah surat kabar untuk corong suara mereka yang lebih dari Soenda Berita yang tak mau bicara politik. Maka pada tanggal 1 Januari 1907, diterbitkanlah Medan Prijaji. Sesuai dengan namanya, Medan Prijaji merupakan suara golongan priayi.

Dalam kesibukannya, Tirto Adhi Soerjo mengadakan rapat di rumahnya, di Bogor tanggal 27 Maret 1909 untuk mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah. Perkumpulan ini dipimpin Achmad Badjenet, seorang saudagar di Bogor. Tirto Adhi Soerjo sendiri berkedudukan sebagai Sekretaris-Adviseur.

Tahun 1909, Tirto Adhi Soerjo melalui Medan Prijaji membongkar skandal yang dilakukan Aspiran Kontrolir Purworejo A. Simon. Diberitakan bahwa A. Simon yang disebutnya “snot aap” (monyet ingusan) telah bersekongkol dengan wedana dalam mengangkat seorang lurah di Desa Bapangan. Lurah yang terpilih dengan suara terbanyak malah ditangkap, dikenakan hukuman dan dibuang ke Teluk Betung Lampung.

Sepulang dari pembuangan, Tirto Adhi Soerjo membenahi NV-Medan Prijaji, H.M. Arsyad keluar dari perusahaan, kini Tirto Adhi Soerjo sendiri menjadi pemimpin perusahaan dengan komisaris Haji Anang Tajib, seorang saudagar besar, dan Haji Amir, saudagar kain, keduanya tinggal di Bandung.

Masa keruntuhan Medan Prijaji dimulai dengan pemberitaan-pemberitaan tentang Bupati Rembang, R. Adipati Djojodiningrat (suami R.A. Kartini) yang dituduh menyalahgunakan kekuasaan, pada terbitan 17 Mei 1911, kemudian pemberitaan yang dianggap menghina Residen Ravenswaai dan Residen Boissevain yang dituduh menghalangi putra R. Adipati Djojodiningrat menggantikan jabatan ayahnya. Tirto Adhi Soerjo pun terkena delik pers dan diputus pengadilan untuk dihukum buang ke Ambon selama 6 bulan. Sementara itu, kesalahan manajemen menyebabkan kesulitan keuangan yang berat hingga akhirnya NV Medan Prijaji dinyatakan pailit. Medan Prijaji berhenti terbit 22 Agustus 1912. Nasib lebih buruk lagi, Tirto Adhi Soerjo disandera para kreditornya sehingga baru tahun 1913 ia pergi ke tempat pembuangannya. Tirto Adhi Soerjo pergi dengan mental patah dan apa yang sudah dibangunnya ikut runtuh.

Sekembali dari Ambon, ia tinggal di Hotel Medan Prijaji (ketika ia sedang di Ambon namanya diubah menjadi Hotel Samirono oleh Goenawan). Antara tahun 1914-1918, Tirto Adhi Soerjo sakit-sakitan dan akhirnya meninggal pada tanggal 7 Desember 1918. Mula-mula ia dimakamkan di Manggadua Jakarta kemudian dipindahkan ke Bogor tahun 1973. Di nisannya tertulis: “Perintis Kemerdekaan; Perintis Pers Indonesia”. Layaklah ia disebut sebagai Bapak Pers Nasional.
Namun, gelar Perintis Pers atau Perintis Kemerdekaan saja tidak cukup. Dari jumlah 129 pahlawan nasional yang kita miliki hingga tahun 2006, hanya ada 3 orang yang tercatat pernah sebagai wartawan yaitu, Abdul Muis, Douwes Dekker, dan Adam Malik. Berdasarkan peraturan pemerintah yang berlaku (UU No 33 Tahun 1964, UU No 22 Tahun 1999, PP Pemerintah tahun 2000, Kep Mensos tahun 1997), Tirto Adhi Soerjo ini memenuhi syarat untuk diajukan sebagai pahlawan nasional dari Jawa Barat. Meskipun ia bukan orang Sunda, ia berkiprah di Jawa Barat, mengangkat nama Jawa Barat dalam pergerakan nasional, baik melalui pers maupun politik, bahkan kuburannya pun di Jawa Barat.

Sumber : https://www.okeynotes.com/blogs/212521/21236/pengertian-akhlak

Kamuflase Bernama Pemilu

Kamuflase Bernama Pemilu

Kamuflase Bernama Pemilu

Kamuflase Bernama Pemilu

Sekali lagi, rakyat indonesia dihadapkan pada sebuah drama baru

perhelatan akbar bernama pemilihan umum, yang di eufimis kan menjadi “pesta demokrasi”. Istilah pesta demokrasi sendiri tidak diketahui adalah warisan dari pemerintahan Soeharto, yang memang memiliki strategi yang sangat jitu dalam menggunakan metafor dan eufimisme kata-kata.

Yang menjadi pertanyaan kini adalah

benarkah pemilu adalah benar-benar pesta demokrasi, jika sampai sejauh ini ajang pemilu hanya melahirkan koruptor-koruptor baru, serta menjadi sebuah pintu gerbang bagi mereka yang akan menumpukkan pundi-pundi uang. Istilah yang tepat untuk pemilu adalah pesta elite politik.!!
Seperti telah diketahui, partai peserta pemilu tumbuh seperti jamur di musim penghujan, tentu saja dengan visi dan misi yang yahud, luar biasa dan ambisius, apalagi kalau bukan untuk mensejahterakan rakyat.

Namun rakyat terlanjur apatis dan skeptis

bahkan tak jarang mungkin mereka berpikir, “lebih baik kembali ke jaman soeharto”. Bisa jadi benar, karena stabilitas sosial politik adalah mutlak untuk negeri yang sedang membangun.
Namun jaman harus berubah, dan ternyata Indonesia atau tepatnya para elite yang belum siap atau tidak mampu untuk mengikuti arus perubahan, karena tidak didukung oleh moralitas dan sistem pendukung yang bagus.
Undang-undang seperti dibuat hanya untuk kepentingan sesaat mereka,meskipun tak menutup mata bahwa KPK sebagai pemburu koruptor semakin menunjukkan taringnya.

Akan tetapi, sampai saat ini yang terlihat, Pemilu masih berupa sebuah kamuflase untuk sebuah kekuasaan atas nama perjuangan untuk kesejahteraan rakyat..
Entah sampai kapan…

Sumber : https://www.okeynotes.com/blogs/212521/21235/contoh-teks-eksplanasi

Sinergi Lembaga Komunitas Diharapkan Permudah Akses Pendidikan

Sinergi Lembaga Komunitas Diharapkan Permudah Akses Pendidikan

Sinergi Lembaga Komunitas Diharapkan Permudah Akses Pendidikan

Sinergi Lembaga Komunitas Diharapkan Permudah Akses Pendidikan

Sinergi Lembaga Komunitas Diharapkan Permudah Akses Pendidikan

Pendidikan merupakan permasalahan serius yang perlu penanganan secara massif

terutama para pihak-pihak yeng memiliki kewenangan untuk memajukan bidang pendidikan. Terutama dalam hal pemerataan pendidikan hingga pelosok daerah.

Selain lembaga terkait, ada juga komunitas-komunitas yang cukup memberikan perhatian terhadap dunia pendidikan, salah satunya dari komunitas GreatEdu.

CEO GreatEdu, Robert E Sudarwan mengatakan, Jakarta memiliki banyak potensi tidak hanya potensi materil, melainkan juga potensi kumpulan manusianya yakni komunitas. Data Jakarta mencatat ada 33 komunitas di Jakarta yang aktif di berbagai aktivitas pendidikan.

Baca Juga:

Penerapan Sistem Zonasi Membutuhkan Perpres

Sinergi Komunitas Penting untuk Wujudkan Pendidikan Berkualitas

“Banyak komunitas yang tentunya belum tercatat dan memiliki banyak potensi dan prestasi.

Acara ini diinisiasi oleh GreatEdu bahwa hadirnya komunitas memberikan banyak impact bagi lingkungan sekitar,” kata Robert dalam acara Rembuk Komunitas Pendidikan di Kedai Kepikiran Kopi, Pasar Minggu, Kamis 23 Mei 2019.

“Jika komunitas-komunitas tersebut bersinergi dan berkolaborasi untuk pendidikan, akan lebih banyak lagi manfaat yang bisa dirasakan masyarakat. Terutama kemudahan akses pendidikan berkualitas yang merupakan salah satu persoalan utama dibalik keberadaan sekolah-sekolah berprestasi,” sambungnya.

Robert mengungkapkan, rembug ini bertujuan menyamakan kepahaman dan sinergi mengenai keresahan dan masalah yang dihadapi oleh masing-masing komunitas. Acara yang dihadiri oleh 17 komunitas ini membuka mata bahwa masih banyak masyarakat yang belum bisa menerima akses pendidikan yang baik.

“Komunitas ini banyak bercerita sulitnya akses pendidikan itu tidak hanya milik masyarkat

desa tetapi yang utama justru berada di masyarakat miskin kota. Mengenai pendidikan pada masyarakat miskin kota ini menjadi konsern bagi komunitas

Dalam Rembuk Komunitas Pendidikan Jakarta ini,” ungkapnya.

M Chozin Amirullah, pemantik diskusi mengatakan, ini adalah awal dari terciptakanya kemudahan akses pendidikan yang digerakan langsung oleh orang terdekat di masyarakat yaitu komunitas.

“Acara ini akan berlanjut untuk mensinergikan antar komunitas agar tergali lagi potensi masing-masing yang belum termaksimalkan. Harapannya komunitas ini mampu membantu masyarakat untuk akses pendidikan yang lebih baik,” pungkasnya.

 

 

Baca Juga :

DPR Pertanyakan Siswa Tak Diluluskan karena Kritik Kebijakan Sekolah

DPR Pertanyakan Siswa Tak Diluluskan karena Kritik Kebijakan Sekolah

DPR Pertanyakan Siswa Tak Diluluskan karena Kritik Kebijakan Sekolah

DPR Pertanyakan Siswa Tak Diluluskan karena Kritik Kebijakan Sekolah

DPR Pertanyakan Siswa Tak Diluluskan karena Kritik Kebijakan Sekolah

Siswa Kelas XII jurusan IPS SMAN 1 Sembalun Lombok Timur, NTB Aldi Irpan

disebutkan tidak lulus dikarenakan mengkritik kebijakan sekolah. DPR menyoroti peristiwa tersebut.

Wakil Ketua Komisi X DPR, Reni Marlinawati kebijakan sekolah yang tidak meloloskan siswa karena mengkritik kebijakan sekolah. “Kami menyayangkan kebijakan sekolah yang tidak meloloskan siswa karena dipicu mengkritik kebijakan sekolah. Jika itu menjadi dasarnya, ini jelas melanggar prinsip demokratisasi di dunia pendidikan,” ujar Reni di Gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Senin (20/5/2019).

Reni meminta agar persoalan yang telah menjadi perbincangan di publik i

ni dapat segera direspons oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. “Perlu ada klarifikasi secara mendalam atas persoalan tersebut. Jika memang ketidaklulusan siswa hanya dipicu oleh karena mengkritik kebijakan sekolah, harus ada koreksi atas kebijakan tersebut,” tambah Reni.

Baca Juga:

DPR Nilai Pernyataan Praktisi Pendidikan Setyono Bisa Menyulut Polemik

Kasus Pemalsuan SKD, Kemendikbud Serahkan ke Daerah

Wakil Ketua Umum DPP PPP ini menyebutkan dunia pendidikan harus menjadi ruang dialektika bagi pendidik, siswa dan stakeholder pendidikan lainnya. “Dialektika di dunia pendidikan harus dalam koridor etik dan harus dipertanggungjawabkan,” tandas Reni.

 

Sumber :

https://www.deviantart.com/gimadelija/journal/Your-High-School-Diploma-Online-804324339

Dilakukan Melalui Sistem Online, Pendaftar Harus Cermat

Dilakukan Melalui Sistem Online, Pendaftar Harus Cermat

Dilakukan Melalui Sistem Online, Pendaftar Harus Cermat

Dilakukan Melalui Sistem Online, Pendaftar Harus Cermat

Dilakukan Melalui Sistem Online, Pendaftar Harus Cermat

Pendaftaran Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2019 akan dimulai hari ini (10/6) hingga 24 Juni mendatang. Pendaftaran dilakukan melalui sistem online. Pendaftar harus teliti agar semua syarat terpenuhi. Ketua Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi Negeri (LTMPT) Ravik Karsidi mengatakan, hari ini pendaftaran akan dibuka pada pukul 13.00 WIB.

Dia mengatakan, pendaftaran SBMPTN tidak dilakukan secara offline di masing-masing kampus, melainkan mendaftar online melalui laman http://pendaftaran.sbmptn.ac.id. “Calon pendaftar harus cermat memperhatikan dengan teliti semua persyaratan dan tahapan pendaftaran di laman tersebut,” katanya kemarin.

Calon mahasiswa jalur SBMPTN diketahui harus memenuhi syarat siswa lulusan SMA/MA/SMK yang lulus pada 2017 dan 2018 harus sudah memiliki ijazah. Sementara siswa SMA/MA/SMK/sederajat lulusan 2019 memiliki surat keterangan lulus pendidikan menengah. Syarat terbaru tahun ini ialah mereka harus mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dan telah memiliki hasil nilai UTBK-nya.

Baca Juga:

Kasus Pemalsuan SKD, Kemendikbud Serahkan ke Daerah

Penerapan Sistem Zonasi Membutuhkan Perpres

Memiliki kesehatan yang memadai sehingga tidak mengganggu kelancaran proses studi. Selain itu juga memiliki NISN. Peserta yang memilih program studi bidang seni dan olahraga wajib mengunggah portofolio. Biaya UTBK ditanggung oleh peserta dan subsidi pemerintah serta syarat terakhir adalah tidak lulus jalur SNMPTN 2019.

Mantan rektor Universitas Negeri Sebelas Maret Solo ini menjelaskan, pemerintah menetapkan melalui Permenristekdikti No 60/ 2018 bahwa kuota setiap program studi yang disediakan untuk calon mahasiswa baru yang mengikuti SBMPTN ditetapkan paling sedikit 40% dari daya tampung program studi di PTN.

Pendaftaran mahasiswa baru dibagi tiga yakni Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 20%, SBMPTN 40%, dan jalur mandiri maksimum 30% dari daya tampung PTN. Ravik menekankan, calon peserta penerima beasiswa Bidikmisi yang telah dinyatakan lulus SNMPTN 2019 dan calon peserta non-Bidikmisi yang dinyatakan lulus SNMPTN 2019 tidak diperbolehkan mendaftar SBMPTN 2019.

“Calon peserta bisa melihat dulu ke laman untuk mempertimbangkan program studi,

daya tampung per PTN, dan juga jumlah peminat program studi PTN tahun 2018. Kami juga mengingatkan kepada peserta pelamar Bidikmisi mempelajari prosedur pendaftaran di laman http://bidikmisi.belmawa.ristekdikti.go.id,” jelasnya.

Untuk menghindari penipuan, Ravik mengingatkan kepada masyarakat dan khususnya para calon pendaftar SBMPTN 2019 bahwa LTMPT tidak menjalin kerja sama dengan pihak mana pun dalam pelaksanaan SBMPTN 2019. Semua informasi resmi dan setiap terjadi perubahan ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan SBMPTN 2019, katanya, selalu diinformasikan melalui laman resmi di http://sbmptn.ac.id.

Sebelumnya diberitakan, sesi UTBK 2019 telah selesai dilaksanakan sesuai jadwal. UTBK

yang dilaksanakan pada 25 Mei 2019 dengan total peserta terdaftar sebanyak 113.189 peserta yang terbagi pada sesi pagi sebanyak 58.140 peserta dan sesi siang sebanyak 55.049 peserta.

Sesi pagi terdiri atas kelompok Saintek sebanyak 34.167 peserta dan Soshum 23.973 peserta dengan menggunakan 2.016 ruang yang berada di 64 pusat UTBK. Untuk sesi siang peserta kelompok Saintek sebanyak 29.568 peserta dan Soshum 25.481 peserta dengan ruang yang digunakan sebanyak 1.918 ruang yang berada di 56 pusat UTBK

 

Sumber :

https://rahulraheja.atavist.com/school-education-completion-broadening-opportunities

Menganalisis Politik Sultan Agung Menghadapi VOC

Menganalisis Politik Sultan Agung Menghadapi VOC

Belajar berasal dari Perjalanan jihad Sultan Agung berasal dari Mataram. Upaya untuk menegakkan syari’at islam membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Kerajaan Mataram Islam ini udah melaksanakan syariat islam. Pada th. 1613-1645 M Mataram Islam diperintah oleh Sultan Agung yang bertekad mengantarkan mataram menuju puncak kejayaan.

Sultan agung memiliki nama lain yakni Mas Rangsang. Ia adalah anak berasal dari raja ke-3 sultan mataram yang bernama Panembahan Anyakrawati atau Mas Jolang. Setelah ia diangkat menjadi raja bergelar Kanjeng Sultan Agung Senapati Ing Alaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama yang berarti raja yang besar sebagai panglima perang kala berperang, tetapi ia juga hamba Allah dan juga pemimpin agama.

Sesudah lima th. memerintah, Sultan Agung memindah ibu kota kerajaan Mataram berasal dari Kotagede ke Kerto yang jaraknya sekitar 5 km di sebelah selatan Kotagede. Pemindahan ini memiliki nilai strategis lebih-lebih bidang kenegaraan dan pemerintahan, lebih-lebih di dalam bidang kemiliteran agar tambah kuat. Karena Sultan Agung memperkuat prajurit angkatan laut dan membawa dampak kolam telaga yang lebar dan luas, yang disebut Segarayasa di desa Wonokromo.

Sultan Agung adalah raja terbesar Mataram yang bercita-cita: mempersatukan semua Jawa di bawah Mataram, dan mengusir Perserikatan Perusahaan Hindia Timur atau Perusahaan Hindia Timur Belanda atauVereenigde Oostindische Compagnie(VOC) berasal dari Pulau Jawa. Untuk merealisasikan cita-citanya, ia berniat membendung usaha-usaha Kompeni menggerakkan penetrasi politik dan monopoli perdagangan.
Ekspedisi Jihad
Pada selagi Sultan Agung memimpin Kerajaan Mataram, beliau mengirim pasukan untuk menghimpun semua Jawa. Pasukan Mataram merasa menaklukkan kota-kota kecil seputar Surabaya (1614 M), Wirasaba (1615), Lasem (1616), Pasuruan (1617) dan Madura (1624). Kota Surabaya bisa dikuasai secara menyeluruh pada th. 1628, disebabkan pasukan angkatan laut mataram kalah dan pasukan darat juga kalah. Pasukan Sultan Agung bisa mengalahkan Surabaya bersama langkah membendung sungai Surabaya yang kemudian di alirkan ke sungai porong agar pasukan surabaya kekurangan air.

Pada th. 1628, lokasi Mataram nyaris termasuk semua jawa. Tetapi tetap ada batu sandungan untuk menghimpun semua jawa yakni VOC yang membawa benteng pertahanan di Batavia. Oleh gara-gara itu Sultan Agung berniat mengusir VOC berasal dari Jawa. Niatan ini bukan hanya keinginan saja, tetapi dibuktikan oleh Sultan Agung. Ia mengirim pasukan untuk menyerang Batavia hingga 2 kali serangan.
Serangan pertama, pada bulan Agustus 1628 M dan dilakukan di dalam dua gelombang. Ia mengirim sekitar 20.000 pasukan bersama pakai 60 kapal untuk menyerang Batavia. Gelombang I di bawah pimpinan Baurekso dan Dipati Ukur, sedangkan gelombang II di bawah pimpinan Suro Agul-Agul, Manduroredjo dan Uposonto. Batavia dikepung berasal dari darat dan laut selama tiga bulan, tetapi tidak menyerah. Bahkan sebaliknya, tentara Mataram pada akhirnya terpukul mundur.

Serangan ke dua dilancarkan pada bulan September 1629 M di bawah pimpinan Dipati Purbaya dan Tumenggung Singaranu. Sebanyak 80.000 pasukan mataram diterjunkan dan ditambah bersama persenjataan meriam. Mereka juga menghimpun beras di pelabuhan Tegal dan Cirebon. Untuk memenuhi keperluan makanan pasukan mataram. Dan dibuat lumbung padi di Karawang.

Akhirnya rahasia lumbung padi ini bocor. J.P. Coen pemimpin VOC menyadari hal itu, maka ia tidak tinggal diam. Ia pun mengirimkan kapal-kapal perang belanda ke pelabuhan Tegal dan Cirebon untuk membakar gudang-gudang beras punya pasukan Mataram. Akibat berasal dari pembakaran lumbung padi ini pasukan Mataram kelaparan dan juga di serang penyakit busung lapar dan kolera, agar sebagian besar berasal dari mereka meninggal dunia.

Belajar Dari Pengalaman
Pengalaman adalah guru yang berharga, berasal dari kegagalan serangan Sultan Agung ke Batavia. Ia membawa dampak trik baru di dalam menghimpun Pulau Jawa. Diantara gara-gara kegagalan di dalam perang melawan VOC di Batavia adalah berasal dari segi persenjataan Mataram kalah, berasal dari segi logistik untuk menyuplai pasukan udah bocor lebih-lebih dahulu kemudian oleh Belanda dibakar, berasal dari segi jarak tempuh pada Mataram menuju Batavia jauh, dan berasal dari segi kesegaran pasukan Mataram banyak terjangkiti wabah penyakit.

Di pada faktor yang lain adalah kondisi alam yang tidak menolong gara-gara bertepatan musim penghujan taktik Sultan Agung yakni di dalam usaha membendung sungai Ciliwung pada akhirnya menuai kegagalan juga.

Belajar berasal dari pengalaman ini Sultan Agung melaksanakan rekonsiliasi dan penyatuan secara spiritual bersama kalangan keagamaan. Langkah-langkah yang di membuat adalah penetapan pemakaian penanggalan Islam berdasarkan Qomariah, menikahkan keturunan Sunan Giri di Gresik bersama adik Sultan Agung, dan untuk memperkuat posisinya sebagai sultan di Jawa,Sultan Agung mengutus utusan ke Makah untuk memohon gelar untuk dirinya.
Setahun berikutnya utusan itu kembali bersama membawa restu berasal dari penguasa Makah. Sultan Agung mendapat gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarani. Akhirnya Sultan Agung meninggal pada th. 1645 M dan ia dimakamkan di kompleks makam raja-raja mataram di Imogiri.

Sumber : https://www.kumpulansurat.co.id/

Baca Juga :