twittsev.com

Situs Web Pendidikan Terupdate

Pendidikan

Puluhan Mahasiswa Asing Ikut Lomba Baca Berita Bahasa Indonesia

Puluhan Mahasiswa Asing Ikut Lomba Baca Berita Bahasa Indonesia

Puluhan Mahasiswa Asing Ikut Lomba Baca Berita Bahasa Indonesia

Puluhan Mahasiswa Asing Ikut Lomba Baca Berita Bahasa Indonesia

Puluhan Mahasiswa Asing Ikut Lomba Baca Berita Bahasa Indonesia

 

 

Sebanyak 60 mahasiswa asing

dari 21 negara yang tergabung dalam program Darmasiswa Republik Indonesia 2018/2019, lomba membaca berita berbahasa Indonesia.

Lomba yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa Ubaya atau Ubaya Language Center (ULC) bekerja sama dengan Direktorat Kerjasama Kelembagaan Ubaya ini bertujuan untuk menginternasionalisasikan bahasa Indonesia, Kamis (14/3/2019).

“Saya berharap melalui acara ini, bisa membuat mahasiswa asing menjadi cinta akan bahasa dan budaya Indonesia sesuai dengan harapan program Darmasiswa. Setelah pulang ke negara masing-masing, mahasiswa asing ini dapat mengajarkan bahasa Indonesia kepada teman-temannya,” ujar Ferry Christian, salah satu panitia lomba.

Direktur Pusat Bahasa Ubaya,

Devi Rachmasari mengungkapkan, selain untuk menginternasionalkan bahasa Indonesia, lomba yang diikuti oleh mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) dan perwakilan dari 20 Universitas yang tergabung dalam program Darmasiswa ini juga untuk memperkenalkan program BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) yang ada di pusat lembaga bahasa Ubaya.

“Selain itu, kita dapat mengakrabkan hubungan antara pengelola dan universitas yang tergabung dalam Darmasiswa,” ungkapnya.

Dalam perlombaan, panitia sudah menyediakan topik dan naskah berita. Peserta dapat memilih membaca berita melalui teks atau layar yang telah disediakan. Setiap peserta diberikan durasi waktu selama 90 detik untuk membaca berita.

Sedangkan indikator penilaian

, juri menilai berdasarkan kelancaran membaca naskah berita sesuai dengan tanda baca, intonasi yang tepat, pelafalan kata-kata bahasa Indonesia dengan baik dan benar, serta penampilan. Gaya berpakaian, postur tubuh, kontak mata, dan bahasa tubuh saat menyampaikan berita merupakan poin lebih dalam penilaian penampilan.

Pusat Bahasa Ubaya menghadirkan tiga juri yaitu Arief Izzak, Dwi Laily Sukmawati dari Lembaga Pusat Bahasa Provinsi Jawa Timur dan penyiar dari JTV Helmi Kahaf. Sebanyak 60 peserta akan dipilih 10 finalis untuk berlomba memperebutkan juara satu, juara dua, dan juara tiga. Pemenang lomba nantinya akan membawa pulang sertifikat dan uang.

 

Baca Juga :

 

 

 

Tiba di KPK, Romi Sembunyi di Balik Badan Penyidik

Menkominfo Imbau Masyarakat tak Sebar Video Christchurch

Tiba di KPK, Romi Sembunyi di Balik Badan Penyidik

Tiba di KPK, Romi Sembunyi di Balik Badan Penyidik

Tiba di KPK, Romi Sembunyi di Balik Badan Penyidik

Ketua Umum PPP M Romahurmuziy atau yang akrab dipanggil Romi akhirnya tiba di Gedung KPK Jakarta sekitar pukul 20.15 WIB. Sebelumnya, ia bersama empat orang lainnya tertangkap tangan oleh tim penidakan KPK di Surabaya, Jawa Timur pada Jumat (15/3) pagi.

Pantauan Republika

, saat tiba di Gedung KPK, Romi mengenakan pakaian yang serba tertutup mulai dari jaket berwarna hitam, topi, kacamata hitam serta masker wajah untuk menutupi wajahnya. Romi juga tampak tak ingin wajahnya terlihat oleh awak media sehingga saat turun dari mobil ia berusaha bersembunyi di balik badan penyidik KPK.

Selain Romi, tim penindakan KPK

juga membawa lima orang lainnya. Mereka terdiri dari sejumlah unsur, yakni staf anggota DPR RI, pejabat Kemenag dan pihak swasta. Romi dan lainnya ditangkap saat sedang melakukan transaksi suap di Jawa Timur. Diduga mereka melakukan suap terkait jual beli jabatan di Kementerian Agama baik di pusat ataupun di daerah.

Dalam operasi senyap tersebut, tim KPK juga mengamankan sejumlah uang dengan pecahan seratus ribu rupiah. Uang itu diduga bagian suap atau fee atas pengaturan jabatan tersebut.

Saat ini, KPK memiliki waktu 1×24 jam

untuk menentukan status hukum dari mereka. Detail ihwal kasus ini akan diumumkan pimpinan KPK dalam konferensi pers yang bakal digelar malam ini ini atau besok pagi.

Ketua KPK Agus Rahardjo mengungkapkan pihaknya telah lama menyelidiki dugaan transaksi terkait pengisian jabatan di Kementerian Agama (Kemenag) yang diduga melibatkan Romi. “Sudah lama. Sudah lama (intai Romahurmuziy),” kata Agus di Gedung KPK Jakarta, Jumat (15/3).

Agus mengatakan, penyelidikan kasus ini tidak sampai satu tahun. Penguatan ini, kata Agus dilakukan KPK setelah mendapat laporan dari masyarakat. Dari proses verifikasi dan pemeriksaan KPK menemukan adanya alat bukti permulaan.

Bahkan, Agus mengungkapkan, dari proses identifikasi sementara, KPK menemukan adanya dugaan transaksi terkait jual beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama yang diduga melibatkan Romi telah terjadi berulang kali.

“Yang perlu dicatat itu bukan pemberian yang pertama karena sebelumnya juga yang bersangkutan pernah memberikan,” ujarnya.

Romi dan empat orang lainnya diamankan KPK di Jawa Timur. Kelimanya diduga melakukan suap terkait jual beli jabatan di Kementerian Agama baik di pusat ataupun di daerah.

Selain menangkap kelimanya, tim KPK juga mengamankan sejumlah uang dengan pecahan seratus ribu rupiah. Uang itu diduga bagian suap atau fee atas pengaturan jabatan tersebut.

 

Sumber :
http://bpbd.lampungprov.go.id/blog/penjelasan-struktur-kulit/

Menkominfo Imbau Masyarakat tak Sebar Video Christchurch

Menkominfo Imbau Masyarakat tak Sebar Video Christchurch

Menkominfo Imbau Masyarakat tak Sebar Video Christchurch

Menkominfo Imbau Masyarakat tak Sebar Video Christchurch

Menkominfo Imbau Masyarakat tak Sebar Video Christchurch

 

 

Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo)

, Rudiantara mengimbau masyarakat untuk tidak menyebar video kekerasan. Imbauan tersebut dikeluarkan melalui cicitan di akun Twitter pribadi Rudiantara (@rudiantara_id), Jumat (15/3).

Kami mengimbau agar masyarakat tidak ikut menyebarkan video atau tautan terhadap konten kekerasan yang brutal tersebut. Kominfo akan terus memantau dan mengupayakan dengan maksimal penapisannya,” tulis Rudiantara.

Imbauan tersebut dikeluarkan setelah adanya peristiwa penembakan di Masjid Al Noor, Christchurch, Selandia Baru. Rudiantara menyatakan, Kominfo sudah berusaha menyaring video rekaman yang tersebar di media sosial.

Berkaitan dengan tragedi berdarah di Selandia Baru

, dengan ini Kominfo menyampaikan, sejak Jumat siang ini telah menapis video rekaman penembakan yang beredar di internet dan media sosial. Sudah sekitar 500 posting yang ditapis dari berbagai platform sampai sore ini,” tulis Rudiantara.

Menkominfo telah melakukan kerja sama dengan Facebook, Instagram, Twitter, serta media sosial lainnya. Hal itu dilakukan untuk menapis konten-konten kekerasan tersebut. Selain itu, Kominfo juga bekerja sama dengan instansi pemerintah lainnya untuk mengoptimalkan upaya itu.

Rudiantara juga menjelaskan, presiden dan wakil presiden

telah mengecam peristiwa di Selandia Baru tersebut.

“Indonesia sangat mengecam keras aksi kekerasan seperti ini. Saya juga menyampaikan duka yang mendalam kepada para korban yang ada dari aksi tersebut,” ungkap Presiden sebagaimana tertulis di akun Twitter Rudiantara.

Penembakan secara brutal di Masjid Al Noor, Christchurch, Selandia Baru terjadi saat warga Muslim sedang shalat Jumat. Dalam kejadian tersebut, setidaknya 49 orang dikabarkan tewas dan 20 orang lainnya mengalami luka-luka.

 

Sumber :
https://bandarlampungkota.go.id/blog/struktur-kulit-fungsi-kulit-beserta-gambar-kulit/

Shalat Idul Adha Tingkat Kota Bogor Digelar di Masjid Raya

Shalat Idul Adha Tingkat Kota Bogor Digelar di Masjid Raya

Shalat Idul Adha Tingkat Kota Bogor Digelar di Masjid Raya

 

Shalat Idul Adha Tingkat Kota Bogor Digelar di Masjid Raya

Hari Raya Idul Adha 2018

Hari Raya Idul Adha 2018 telah ditetapkan jatuh pada Rabu (22/8/2018). Hal tersebut berdasarkan keputusan sidang Isbat awal Dzulhijjah 1438 H yang digelar di kantor Kementerian Agama, Sabtu (11/8/2018) lalu.

Sementara itu

Di Kota Bogor pelaksanaan shalat Idul Adha 1439 H akan dilaksanakan di Masjid Raya Bogor (Masjid Agung Al Mi’raj), Jalan Pajajaran, Kota Bogor.

Kasubbag Bina Mental dan Rohani Administrasi Kesejahteraan Masyarakat (Adkesra) Setdakot Bogor Andrie mengatakan, shalat Idul Adha di Masjid Raya Bogor akan dilaksanakan pukul 06.30 WIB.

“Bertindak selaku Imam Ustadz Yusuf Ardabili pimpinan pondok pesantren Asyifa

Sedangkan Khotib Dr. KH. Muhidin Djunaedi selaku Wakil Ketua MUI Pusat bidang hubungan luar negeri,” ungkap Andrie di Balaikota Bogor, Selasa (21/8/2018).

Dalam sholat Idul Adha itu juga dijadwalkan Walikota Bogor Bima Arya dan Wakil Walikota Bogor Usmar Hariman serta unsur Muspida lainnya akan hadir sekaligus melaksanakan shalat Ied.

Usai sholat

Bima Arya dijadwalkan akan merayakan Idul Adha bersama warga di Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat Sejahtera (P2WKSS) Sukaresmi, Tanah Sareal. Dalam kesempatan tersebut Bima Arya akan menyerahkan hewan kurban berupa 1 ekor sapi.

Artikel terkait:

Museum Perjuangan Dihibahkan ke Pemkot Bogor

Museum Perjuangan Dihibahkan ke Pemkot Bogor

 

Museum Perjuangan Dihibahkan ke Pemkot Bogor

Pihak ahli waris pemilik lahan berdirinya Museum Perjuangan yang berlokasi di Kawasan Merdeka

Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, akan menghibahkannya kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Nantinya, museum yang menyimpan beragam koleksi masa perjuangan itu akan dikelola Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud).

Museum Perjuangan

Demikian kesimpulan dari hasil rapat lanjutan terkait Museum Perjuangan yang berlangsung di Paseban Narayana, Balai Kota Bogor, Selasa (21/08/2018).

Rapat tersebut dipimpin Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman dan diikuti Kepala Disparbud Shahlan Rasyidi bersama sejumlah kabid dan kasi, Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor (DK3B) serta pihak ahli waris, Ardian Wahab dan Fahmi Wahab.

Seperti diutarakan pihak ahli waris

Ardian Wahab, bahwa dihibahkannya lahan tersebut lantaran adanya penyimpangan dalam pengelolaannya selama ini. Sehingga Museum Perjuangan telah melenceng dari niat awalnya.

“Awalnya Museum Perjuangan ini diserahkan kepada sebuah yayasan untuk merawatnya, tetapi fakta yang ada Museum Perjuangan disewakan kepada pihak yg tidak bertanggung jawab. Pemasangan reklame atau iklan berbayar dan yang paling memprihatinkan adalah didapat informasi bahwa di sekitar Museum Perjuangan dijadikan tempat maksiat,” papar Ardian.

Atas dasar itulah, lanjutnya

Maka pihak keluarga ahli waris memutuskan untuk menghibahkannya kepada Pemkot Bogor melalui Disparbud dengan harapan agar Museum Perjuangan dapat dikelola dengan baik dan beroperasi sesuai dengan fungsinya.

Sementara Kepala Disparbud Kota Bogor Shahlan Rasyidi menceritakan, bahwa sebenarnya tahun 2011 lalu Museum Perjuangan itu sudah akan diserahkan kepada Pemkot Bogor. Namun lantaran saat itu dokumen dan legalitasnya belum memiliki kekuatan hukum yang tetap maka diurungkan.

“Dan Alhamdulillah sekarang sudah disepakati Pemkot Bogor menerima hibah Museum Perjuangan dari pihak ahli waris,” kata Shahlan.

Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman

Begitu pun halnya dengan Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman, ia mengaku senang Pemkot Bogor menerima hibah tersebut dari ahli waris.

“Karena museum merupakan aset bangsa yang dapat memberikan wawasan kepada masyarakat, terutama generasi muda untuk mengetahui sejarah dan memotivasi semangat juangnya,” katanya.

 

Sumber: http://bpbd.lampungprov.go.id/blog/gelombang-elektromagnetik/

138 Paket Pekerjaan Ditenderkan ULP Kota Bogor

138 Paket Pekerjaan Ditenderkan ULP Kota Bogor

138 Paket Pekerjaan Ditenderkan ULP Kota Bogor

 

 

138 Paket Pekerjaan Ditenderkan ULP Kota Bogor

Unit Layanan Pengadaan

Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kota Bogor mencatat, hingga 20 Agustus 2018 ada sekitar 138 paket pekerjaan yang diajukan oleh perangkat daerah untuk ditenderkan. Jumlah tersebut terdiri dari 69 paket konstruksi, 54 paket konsultasi, 8 pengadaan dan 4 paket lainnya.

Kepala Bagian Administrasi Pengendalian Pembangunan dan Pengadaan Barang Jasa

Kepala Bagian Administrasi Pengendalian Pembangunan dan Pengadaan Barang Jasa (Adalbang) Sekretariat Daerah Kota Bogor Rahmat Hidayat mengatakan, sebanyak 69 paket konstruksi dan 15 paket lainnya sudah dilakukan tanda tangan kontrak. “54 paket konsultasi masih dalam proses tender,” ujar Rahmat di sela briefing staf di Paseban Sri Bima Balaikota Bogor, Selasa (21/8/2018).

Dinas Pendidikan

Ia menambahkan, jumlah tender paket konstruksi yang diajukan terbesar datang dari Dinas Pendidikan sebanyak 27 paket, disusul Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) sebanyak 19 paket.

Lalu ada Dinas Perhubungan

“Lalu ada Dinas Perhubungan dan Dinas Kesehatan masing-masing 6 paket serta Dinas Perumahan dan Permukiman 4 paket,” pungkasnya. (Tria/Indra/pri).

 

Sumber: http://bpbd.lampungprov.go.id/blog/pancasila-sebagai-dasar-negara/

Potensi Diri Positif

Potensi Diri Positif

Potensi Diri Positif

Potensi Diri Positif

Potensi Diri Positif

a) Memiliki idealisme

Kita harus memiliki ide yang kita yakni kebenarannya dengan didukung fakta dan berusaha untuk mewujudkan dalam tujuan hidup kita.

b) Dinamis dan kreatif

Selalu berkembang mengikuti perkembang zaman tanpa berhenti untuk berkreasi dalam mencapai tujuan tanpa mengabaikan norma-norma yang ada dalam kehidupan sehari-hari, baik norma agama, norma hukum, norma Kesusilaan dan norma kesopanan.

c) Keberanian mengambil resiko

Semua tindakan yang dilakukan selalu ada resiko, itu karena selalu sebab pasti ada akibat. Jadi sebelum bertindak harus selalu mempertimbangkan masak-masak resiko yang akan timbul dan berusaha menghadapi serta mengatasi dengan baik.

d) Optimis dan kegairahan semangat

Sebagai manusia yang hidup di era globalisasi tidak boleh pesimis, maka sebagai bagian dari dunia seseorang harus selalu optimis dan memiliki kegairahan semangat supaya tidak putus asa dan lemah sebelum bertanding. Bangsa yang maju adalah bangsa yang rakyatnya berkeinginan bekerja keras, ulet dan tangguh dalam mewujudkan sebuah prestasi. Kita perlu mengingat baik-baik bahwa Tuhan sendiri tidak akan mengubah kondisi suatu bangsa jika bangsa itu tidak mau berubah.

e) Kemandirian dan disiplin murni

Sebagai bagian dari bangsa yang mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri dan memiliki disiplin yang tinggi. Pendidikan disiplin bukan hanya sekedar patuh terhadap aturan tetapi juga harus terwujud dalam bentuk pengakuan terhadap hak dan keinginan orang lain, serta mau mengambil bagian dalam memikul tanggung jawab sosial secara manusiawi.

f) Fisik yang kuat dan sehat

Kita perlu menjaga kekuatan dan kesehatan fisik agar jiwa tetap kuat penuh semangat.

g) Sikap ksatria

Ksatria adalah sikap yang sportif yakni berani mengakui kesalahan dan kekalahan jika mengalaminya, serta bersedia meminta maaf untuk tidak mengulangi lagi perbuatan.

h) Terampil dalam menerapkan IPTEK

Melalu pendidikan dan pelatihan diharapkan manusia dapat melatih kemampuannya dengan bantuan fasilitas yang ada demi dapat mengikuti perkembangan zaman dan mampu bersaing dengan bangsa lain. Diharapkan kedepannya setiap orang dapat menerapkan IPTEK dalam kehidupan sehari-hari.

i) Kompetitif

Setiap individu harus menunjukkan kelebihan pada dirinya dengan berkompetisi dengan bangsa lain. Dalam berkompetisi tidak ditentukan adanya ajaran yang menjadikan orang lain sebagai objek / musuh. Jadi kompetitif adalah orang lain dijadikan sebagai mitra dalam mencapai suatu prestasi. Jika hendak bersaing harus mempersiapkan diri berani memulai, tidak menunda, kemudian menfokuskan pada keunggulan yang dimiliki serta yang tidak kalah penting adalah mengubah energi persaingan yang bersifat negatif menjadi sesuatu yang positif, supaya terjadi persaingan yang sehat dan mencapai hasil yang optimal.

j) Memilik bakat

Memiliki bakat berarti orang tersebut sungguh beruntung karena akan mudah dalam mewujudkan prestasi dirinya. Dukungan dari keluarga dan lingkungan sangat penting untuk memotivasi terwujudnya prestasi orang yang memiliki bakat. Bakat yang besar harus didukung dengan motivasi yang kuat di dalam dirinya. Seorang pemimpin hebat selain bisa dipersiapkan melalui pendidikan dan pelatihan akan lebih hebat jika dia memiliki bakat terpendam sebagai potensi dirinya.

k) Daya pikir kuat.

Untuk dapat mencapai keberhasilan, manusia harus memiliki daya pikir yang kuat dan didukung dengan motivasi yang kuat juga dalam dirinya. Karena merupakan penggerak untuk dapat melakukan aktivitas. Mempunyai kemampuan dan kemauan yang berfikir dengan kuat maka dia akan mampu berprestasi dengan baik.

 

Baca Artikel Lainnya:

Sejarah Pendidikan Warga Cina Di Indonesia

Sejarah Pendidikan Warga Cina Di Indonesia

Sejarah Pendidikan Warga Cina Di Indonesia

Sejarah Pendidikan Warga Cina Di Indonesia

Sejarah Pendidikan Warga Cina Di Indonesia

Sekolah tradisional

saat pertama kali dibuka bagi etnik Cina dilakukan pada zaman kolonial Belanda dan saat itu kebijakan kolonial yang digunakan untuk pendidikan etnik Cina adalah membiarkan mereka mendirikan lembaga-lembaganya sendiri, berlainan dengan perlakuan mereka terhadap pendidikan bangsa Indonesia. Hal ini disebabkan karena adanya undang-undang kewarganegaraan yang berlaku saat itu mendudukkan Belanda dan Eropa lainnya sebagai warga negara kelas pertama, bangsa Cina dan Timur Asing lainnya sebagai warga negara kelas kedua, sedangkan bangsa pribumi sebagai lapis ketiga. Sekolah-sekolah untuk etnik Cina menggunakan bahasa Cina dan buku-buku ajaran Confusianisme sebagai bahasa dan alat pengajaran. Anak-anak golongan peranakan dan pedagang kaya juga anak-anak para kapten Cina (wijkmeesters) dimasukkan di sekolah-sekolah belanda, sedangkan anak-anak Cina yang miskin pada umumnya ditelantarkan. Pada tahun 1901, demi kepentingan mereka maka dibukalah sekolah-sekolah Tiong Hoa Kwee Koan (THHK) dengan mengajarkan cita-cita dan aspirasi bangsa Cina. Dari pengaruh gerakan kebangsaan di daratan Cina di bawah kepemimpinan Dr. Sun Yat-sen menyebabkan rasa kesetiaan dan kebanggaan terhadap tanah air (Cina) menjadi tumbuh semakin kuat.

Selanjutnya untuk menangkal kecenderung itu

maka Belanda mulai membuka sekolah-sekolah HCS (Holland Chineese School) di tahun 1908. Dalam kurikulum pembelajarannya, bahasa dan budaya Cina sudah tidak diajarkan lagi, dan bahasa pengantarnya yang digunakan adalah bahasa Belanda. Anak-anak para pemimpin dan orang kaya Cina mulai masuk sekolah-sekolah itu, nampaknya karena orang tua mereka berfikir secara pragmatik bahwa pendidikan Belanda semacam ini akan berarti kesempatan memasuki lapangan kerja kelas menengah, walaupun persyaratan dan uang sekolah yang harus dibayarkan cukup tinggi dan mahal. Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan di tingkat HCS, mereka memasuki sekolah-sekolah menengah dan kemudian perguruan tinggi baik di Indonesia ataupun di negeri Belanda, dan mereka berkembang menjadi angkatan pertama profesional Cina yang berpendidikan Barat. (https://bandarlampungkota.go.id/blog/jenis-jaringan-tumbuhan-dan-fungsinya/)

Selama zaman pendudukan Jepang

sekolah-sekolah Cina ditutup. Pada umumnya anak-anak sekolah atau pegawai etnik Cina mengganggur dan Tinggal di rumah. Hanya secara proklamasi kemerdekaan RI, di dalam perkembangannya pemerintah Indonesia menggolongkan sekolah-sekolah Cina ini sebagai sekolah asing karena bahasa pengajaran yang digunakan adalah bahasa Cina dan pengaruh ideologi komunis sangat besar. Tindakan-tindakan untuk membatasi meluasnya pengaruh asing ini diambil sejak 1975, terutama pengawasan terhadap guru dan buku-buku yang digunakan. Anak-anak Indonesia dilarang memasuki sekolah-sekolah asing itu.

Sesudah peristiwa G-30-S PKI tahun 1965

sekolah-sekolah Cina ditutup. Para siswanya disalurkan ke sekolah-sekolah negeri/swasta. Pada umumnya mereka memilih sekolah swasta yang dinaungi gereja. Coppel dan Suryadinata menyatakan bahwa pada waktu itu terjadi gelombang besar-besaran etnik Cina yang masuk agama Kristen untuk menghilangkan stigma sosial (dalam arti dituduh komunis) dan penganut Confusinisme atau Buddhisme.
Pada siswa yang tidak masuk sekolah negeri/swasta Katolik/Protestan selanjutnya memasuki Sekolah Proyek Khusus Nasional, yang dibuka pemerintah di beberapa daerah. Sekolah-sekolah ini mengikuti kurikulum nasional yang mengajarkan Ideologi Pancasila, Bahasa Indonesia, Kewarganegaraan, Sejarah dan Geografi Indonesia, serta mempelajari budaya Indonesia. Setelah periode transisi berakhir sekolah-sekolah khusus ini ditutup. Maka alternatif yang masih terbuka bagi anak-anak etnis Cina adalah masuk sekolah negeri atau swasta, pada umumnya mereka memilih sekolah swasta yang disponsori gereja.

Pendidikan Dalam Masyarakat Majemuk-Amerika

Pendidikan Dalam Masyarakat Majemuk-Amerika

Pendidikan Dalam Masyarakat Majemuk-Amerika

Pendidikan Dalam Masyarakat Majemuk-Amerika

Pendidikan Dalam Masyarakat Majemuk-Amerika

Bangsa Amerika Serikat telah mengalami pasang surut dalam upaya pembinaan bangsanya. Berbagai pilihan telah digunakan, mulai dari “Melting Pot” yang didominasi oleh kultur golongan kulit putih sampai dengan “Salad Bowl: Kesatuan dalam kemajemukan” yang menghargai eksistensi keragaman etnik dalam kemajemukan budaya. Kebijakan-kebijakan tersebut berpengaruh terhadap dunia pendidikan. Pemisahan dan diskriminasi berlaku dalam pelayanan pendidikan bagi siswa golongan kulit berwarna. Dalam perjuangan hak-hak sipil telah membawa perubahan ke arah perlakuan kemajemukan budaya (Culture Pluralism). Suatu masukan bagi dunia pendidikan, terutama dalam masyarakat yang pluralistik.

Prasangka Terhadap Orang-orang Berkulit Hitam

Masyarakat Amerika adalah masyarakat majemuk. Penduduknya terdiri dari kaum imigran yang berasal dari berbagai negara, ras, agama, dan kebudayaan. Para pendatang mulanya adalah orang-orang berkulit putih dari kebudayaan Anglo-Sakson. Jadi merekalah yang kemudian mendominasi arena politik dan kemasyarakatan. WASP (White, Anglo-Saxon, and Protestant) adalah premis keunggulan ras dan menjadi kriteria keberhasilan dan kekuasaan dalam masyarakat Amerika Serikat yang pluralistik.
Untuk pendidikan di sekolah-sekolah juga mencerminkan pandangan dalam masyarakatnya. Ada masalah yang paling kontroversial saat itu adalah diskriminasi terhadap orang-orang berkulit hitam, walaupun perlakuan yang berbeda juga lazim terhadap orang-orang Indian, Mexico, Puerto Rico dan dalam takaran yang relatif lebih lunak terhadap orang-orang keturunan Asia seperti Jepang, Cina dan Filipina.
prasangka terhadap orang-orang kulit hitam adalah yang paling tua usianya dalam diskriminasi pendidikan di Amerika Serikat. Perlakuan yang membedakan ini sudah berlangsung sejak abad ke-17 disebabkan karena, kecuali bangsa Indian, orang berkulit hitamlah yang merupakan minoritas tertua. Mereka juga merupakan minoritas terbesar yang diwakili di setiap negara bagian. Dan disamping itu citra dari budak melekat pada orang berkulit hitam dan hal tersebut merupakan stigma sosial bagi mereka.
Sesudah perang saudara dan periode rekonstruksi, diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam (blacks) ini berkurang walaupun mereka masih diperlakukan terpisah dalam segregasi. Dua keputusan pengadilan yakni perkara “Cumming vs Georgia Board of education (1899) dan Berea College vs Kentucky (1908) yang menyatakan agar pengurus sekolah dengan bijaksana sepatutnya menyediakan fasilitas pendidikan yang terpisah kepada anak-anak orang kulit hitam, menyebabkan pelayanan pendidikan bagi mereka rendah sehingga kualitas pendidikan akan menjadi lebih inferior dibandingkan dengan anak-anak orang kulit putih.
Perubahan yang berpengaruh terjadi pada awal perjuangan hak-hak sipil di Amerika Serikat. Dengan adanya keputusan Mahkamah Agung terhadap perkara Brown vs Board of Education of Topeka, menyatakan bahwa pelayanan yang terpisah walaupun sebenarnya sama pada hakekatnya adalah tidak sederajat. Keputusan tersebut berlaku juga terhadap kasus-kasus  segregasi di negara-negara bagian lainnya, sehingga dampaknya adalah pukulan terhadap upaya-upaya yang menentang intergrasi dalam pendidikan. Puncak yang menghebohkan ialah peristiwa de-segregasi di Little Rock, Arkansas, satu dekade sesudah keputusan perkara Brown berlaku.

Melting Pot: Upaya Perbauran dalam Pembinaan Bangsa

Hal yang diupayakan untuk mempersatukan keragaman ini dalam sebuah nation, dilakukanlah upaya pembauran, Melting Pot adalah pilihan ke arah menciptakan sebuah bangsa baru yang lebih unggul dari hanya kumpulan berbagai kelompok etnik saja. Akan tetapi ternyata di dalam proses tersebut, budaya Anglo-Amerika tetap menonjol dan WASP masih mendominasi. Kelompok-kelompok etnis yang lain pun terpaksa melepaskan unsur-unsur etniknya untuk dapat menyesuaikan diri dengan pola perilaku dan sistem nilai Anglo-Amerika. Sekolah-sekolah merupakan lembaga masyarakat yang menyebarluaskan sasaran ini. Dan salah satunya sebaran tentang pembauran yang berbunyi sebagai berikut ini;

“Adalah tugas kami (sekolah) untuk membubarkan kelompok-kelompok dan pemukiman-pemukiman kaum imigran ini, untuk selanjutnya digabungkan dan dibaurkan ke dalam bangsa Amerika. Adalah tugas kami untuk mendidik anak-anak mereka ke dalam konsep-konsep Anglo-Sakson tentang baik buruk, hukum, tertib dan pemerintahan, serta membangkitkan rasa hormat mereka terhadap lembaga-lembaga demokratis dan cita-cita lainnya yang dijunjung tinggi oleh seluruh rakyat (James A. Banks, Multiethnic Education: Practices and Promises (Bloomington, Indiana: The Phi Delta Kappa Educational Foundation, 1977 , halaman 11).

Sebagai ilustrasi dari kebajikan pembauran bersi “kawah candradimuka” ini, kita tilik proses asimilasi yang terjadi dikalangan imigran Cina. Mereka merupakan kelompok yang menjunjung tinggi budaya leluhur dan selalu bermukim di wilayah-wilayah yang eksklusif, yang dikenal dengan istilah China Town. Di tempat itu mereka merasa aman dan dikelilingi oleh keluarga serta adat yang akrab. Namun tuntutan pendidikan, lapangan pekerjaan dan kesejahteraan yang lebih baik, yang ingin dicapai oleh orang-orang cina ini, ingin menuntut perubahan. Pada pasca perang dunia II (1939 sampai dengan 1945), mereka yang ingin maju mulai meninggalkan China Town dan berusaha bertempat tinggal di daerah pemukiman umum, berkompetisi dengan  bersekolah yang bermutu serta dilapangan pekerjaan yang penuh dengan saingan. Untuk itu mereka melepaskan budaya tradisional China, masuk ke dalam pola budaya Anglo-Sakson, agar diterima sebagai bangsa Amerika.

Perubahan yang terjadi di kalangan Cina ini, khususnya di bidang pendidikan, disebabkan karena perlakuan yang diskriminatif terhadap mereka dan tuduhan-tuduhan bahwa siswa keturunan Cina yang mempertahankan budaya nenek moyangnya, di sekolah kurang berpartisipasi, non-asertif dan tidak pernah bertanya. Walaupun demikian penelitian yang dilakukan oleh Lesser, Fifer, dan Clark (1965) menunjukkan bahwa siswa-siswa Cina memang benar mendapat skor rendah pada tes verbal, akan tetapi mereka mendapat skor tinggi pada tes numerik dan skor tertinggi pada tes yang menguji nalar dan spatial.
Pembauran di kalangan imigran Jepang menunjukkan gambaran yang agak berbeda. Pada dekade 1970-an angkatan Sensei, yaitu keturunan ketiga imigran Jepang di Amerika Serikat, telah berhasil menerobos citra “Bahaya Kuning” menjadi “Minoritas Teladan” melalui kerja keras dan berbagai pengalaman. Keturunan Jepang yang pertama, atau Issei, masih mengikuti pola hidup budaya asalnya. Sedangkan anak-anaknya atau Nissei, mulai mengalami perubahan. Di sekolah mereka berbahasa Amerika; tetapi di rumah mereka masih berbahasa dan menggunakan adat-istiadat Jepang. Maka keturunan Nissei ini hidup dalam dunia yang penuh dengan konflik, baik di bidang pendidikan, sosial, maupun ideologis. (https://bandarlampungkota.go.id/blog/konsep-dan-radiasi-gelombang-elektromagnetik/)
Akan tetapi sesudah perang dunia kedua, angkatan Sansei mulai berhasil tampil dalam kelas menengah di Amerika, tanpa telalu dibebani oleh diskriminasi atau prasangka ras yang dialami oleh para pendahulunya, Issei dan Nissei. Bahkan merekalah yang mampu menerobos mitos keberhasilan Amerika, yakni sukses dalam pendidikan dan sukses dalam profesi. Meskipun demikian, penelitian-penelitian yang dilakukan pada tahun 1970-an (antara lain oleh Hosakawa, 1978) masih menunjukkan tanda-tanda belum yakin diri dan kekhawatiran di kalangan Sansei. Isu bahwa mereka adalah high achievers masih ramai diperdebatkan, dan Sansei masih diliputi perasaan sebagai golongan marginal yang bukan Jepang lagi, namun belum sepenuhnya di terima sebagai warga Amerika. Khususnya di kalangan Sansei wanita, terutama yang berkaitan dengan kemandirian dan gerakan feminim, hal-hal itu masih merupakan persoalan dikotomi yang belum terpecahkan dan masih rawan.

Salad Bowl: Kesatuan dalam Kemajemukan

Gagasan dari pembauran dalam Melting Pot diakui telah memberi sumbangan yang baik ke arah pembinaan berbagai macam kelompok imigran dan etnik untuk bersatu menjadi sebuah bangsa. Tetapi penggabungan ini tidak berhasil menghapuskan perbedaan-perbedaan kultural di antara mereka. Para penganut pembauran memang selalu mengemukakan dalih bahwa tuntutan dari masyarakat modern dan teknokratis menghendaki surutnya budaya tradisional. Namun sulit juga untuk membantah bahwa cara-cara demikian justru berakibat tercerabutnya para imigran dari akar budaya mereka, sehingga menimbulkan alienasi dan anomie. Hal lain yang juga merupakan dampak negatif ialah tekanan-tekanan politik dan budaya dari kelompok etnik yang dominan terhadap yang lainnya, dengan mengatasnamakan tujuan dan kepentingan nasional.

Maka absahlah tuntutan pandangan baru yang konsekuensi dari sistem politik yang demokratis maupun kultur yang demokratis. Sehingga kaum imigran yang berasal dari Eropa Selatan, Tengah, dan Timur, mereka tergolong Afro-Amerika, Chicano atau Indian mempunyai hak atas lembaga dan budaya etnik mereka di dalam masyarakat Amerika Serikat. Mereka disebut Mangkuk Selada, karena argumentasi mereka ialah bahwa setiap bawaan budaya etnik akan mempunyai peranan yang unik dalam memperkaya khazanah budaya nasional secara keseluruhan. Jadi begitulah yang disebut kemajemukan budaya (cultural pluralism), gagasan dan pilihan lain yang dianjurkan untuk dilaksanakan, baik oleh lembaga pendidikan maupun umum.

Teori-Teori Penyimpangan Sosial

Teori-Teori Penyimpangan Sosial

Teori-Teori Penyimpangan Sosial

Teori-Teori Penyimpangan Sosial

Teori-Teori Penyimpangan Sosial

Teori-teori yang menguraikan tentang penyebab terjadinya perilaku menyimpang menurut pendapat para ahli sosiologi antara lain:

a. Teori Pergaulan Berbeda (teori differential association),

oleh Edwin H. Sutherland E. H. Sutherland mengemukakan bahwa penyimpangan bersumber pada pergaulan yang berbeda. Misalnya menjadi pemakai narkoba karena bergaul dengan pecandu narkoba.

b. Teori Labelling (pemberian julukan), oleh Edwin M. Lemert

E. M. Lemert mengemukakan bahwa seseorang telah melakukan penyimpangan pada tahap primer, tetapi masyarakat kemudian menjuluki sebagai pelaku menyimpang, sehingga pelaku meneruskan perilaku menyimpangnya dengan alasan kepalang basah.

Misalnya seorang yang baru mencuri pertama kali lalu masyarakat menjulukinya sebagai pencuri, meskipun ia sebenarnya Penyimpangan Sosial dan Upaya Pencegahan sudah tidak lagi mencuri, akibatnya karena selalu dijuluki pencuri, maka ia pun terus melakukan penyimpangannya.

c. Teori Fungsi, oleh Emile Durkheim

Emile Durkheim mengemukakan bahwa tercapainya kesadaran moral dari semua anggota masyarakat karena faktor keturunan, perbedaan lingkungan fisik, dan lingkungan sosial.

Ia menegaskan bahwa kejahatan itu akan selalu ada, sebab orang yang berwatak jahat pun akan selalu ada. Menurut Emile Durkheim kejahatan diperlukan agar moralitas dan hukum dapat berkembang secara normal.

d. Teori Merton, oleh Robert K. Merton

R. K. Merton mengemukakan bahwa perilaku menyimpang merupakan bentuk adaptasi terhadap situasi tertentu. Berdasarkan pendapat Robert K. Merton ada 5 (lima) tipe adaptasi yang termasuk penyimpangan sosial, yaitu ritualisme, rebellion, retreatisme, dan inovasi.

  1. Inovasi, yaitu perilaku mengikuti tujuan yang ditentukan masyarakat tetapi memakai cara yang dilarang oleh masyarakat (dengan melakukan tindak kriminal).
  2. Ritualisme, yaitu perilaku seseorang yang telah meninggalkan tujuan budaya, namun masih tetap berpegang pada cara-cara yang telah digariskan masyarakat.
  3. Pengunduran/pengasingan diri (retreatisme), yaitu meninggalkan baik tujuan konvensional maupun cara pencapaian yang konvensional sebagaimana dilakukan oleh para pelaku penyimpangan sosial.
  4. Pemberontakan (rebellion), yaitu penarikan diri dari tujuan dan cara-cara konvensional yang disertai upaya untuk melembagakan tujuan dan cara baru.
  5. Konformitas, yaitu perilaku mengikuti tujuan dan cara yang ditentukan oleh masyarakat untuk mencapai tujuan tersebut.
  6. Media Pembentukan Perilaku Menyimpang Terbentuknya perilaku menyimpang karena adanya media pencetus yang dapat mendorong terbentuknya kepribadian yang menyimpang tersebut.

 

Baca Artikel Lainnya: