twittsev.com

Situs Web Pendidikan Terupdate

Pendidikan

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Apa yang Harus Dicermati Orangtua?

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Apa yang Harus Dicermati Orangtua? – Pendidikan anak umur dini sejatinya ialah sebuah investasi jangka panjang guna anak meraih kesuksesan di masa mendatang. Berkaca pada urusan itu, masing-masing orangtua tentu mengharapkan pendidikan terbaik guna buah hatinya.

Pertanyaan yang lantas mengemuka merupakan, bagaimana teknik orangtua memilih lembaga edukasi anak umur dini atau pre-school yang tepat guna putra-putrinya? Serta hal apa saja yang mesti diamati dalam pemilihan tersebut?

Pada dasarnya, dikutip pada Jumat, (22/1/2016), edukasi terbaik bakal dapat didapatkan anak saat metode dan sistem pembelajaran di ruang belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.

Oleh karena tersebut sebelum menilai opsi sekolah mana yang bakal dimasuki, usahakan orangtua mesti terlebih dahulu mengetahui keterampilan dan keperluan si buah hati. Hal ini guna meyakinkan anak dapat mengekor proses pembelajaran dengan mengasyikkan tanpa merasa tertekan.

Kemudian, setelah tersebut barulah orangtua dapat melihat hal lainnya yang wajib diamati saat menilai pre-school guna anak. Berikut pembahasannya.

1. Tenaga pendidik yang cakap

Baik atau tidaknya kualitas pre-school yang bakal dipilih dapat dilihat lewat tenaga pendidiknya. Kerap dilafalkan bahwa tenaga pendidik atau guru ialah ujung tombak yang menilai anak bakal belajar dan bermain dengan mengasyikkan atau tidak.

Di samping harus mempunyai background edukasi yang sesuai, seorang guru pun harus cakap dalam menyerahkan pengajaran yang baik supaya mereka nyaman sedang di kelas.

“Hal utama yang mesti dilaksanakan guru ialah membuat anak didik nyaman terlebih dahulu sedang di kelas. Jika urusan itu sudah tercapai, maka mereka bakal mempunyai rasa trust untuk guru sampai-sampai pembelajaran menjadi lebih optimal,” ungkap Koordinator Guru Early Years Sinarmas World Academy, Len, Jumat (6/10/2018).

Lebih lanjut, seorang guru pun harus pandai menyaksikan perkembangan dan urusan apa saja yang diperlukan anak. Terlebih bila anak mempunyai masalah dalam proses belajar melatih di kelas. Guru yang baik bakal mengkomunikasikan untuk orangtua tentang pertumbuhan maupun kendala-kendala yang barangkali saja dihadapi si buah hati.

2. Lingkungan sekolah

Hal selanjutnya yang mesti diamati dalam memilih pre-school ialah lingkungan sekolah (environment) tersebut sendiri. Perhatikan, apakah sekolah mempunyai sarana dan prasarana yang mencukupi atau tidak?

Selain tersebut cermati pun ruang belajar anak didik. Melansir Senin (21/5/2018), kelas yang baik untuk siswa pre-school mesti mempunyai furnitur yang cocok ukuran dengan tubuh anak-anak. Dengan begini mereka dapat mengambil barang yang dibutuhkannya sendiri tanpa bergantung untuk orang dewasa.

Komposisi jumlah siswa dengan guru pun harus dicocokkan dengan ruang kelas. Jangan sampai ruang belajar terasa sarat dan sesak. Co-Principal Early Years and Elementary School SWA Kelly mengungkapkan, idealnya jumlah murid dalam satu ruang belajar berjumlah 6-15 anak.

“Hal ini agar anak didik bisa lebih nyaman berada di ruang belajar dan guru dapat melihat perkembangan setiap anak dengan lebih fokus,” jelasnya.

3. Nilai dasar atau filosofi sekolah

Setiap sekolah memiliki nilai dasar dan filosofinya masing-masing. Meskipun secara kasat mata komponen ini tidak tidak sedikit diperhatikan oleh orangtua, namun nyatanya urusan ini paling penting. Sebab, nilai dasar dan filosofi sekolah menilai bagaimana kebiasaan belajar melatih di ruang belajar berlangsung.

Hal terpenting yang mesti Anda kerjakan sebagai orangtua ialah kenali terlebih dahulu nilai-nilai dasar yang dipegang teguh oleh sekolah. Kemudian, sesuaikan pula dengan keperluan anak Anda, apakah jati diri dan gaya belajar si anak sesuai atau tidak.

4. Penggunaan kurikulum

Kurikulum dan pembelajaran adalah satu kesatuan yang saling menyokong dalam suatu pendidikan. Kurikulum yang tepat bakal dapat menyerahkan pembelajaran yang sesuai sampai-sampai proses belajar melatih pun bakal berjalan lancar.

Oleh sebab itu, urgen hukumnya merealisasikan kurikulum yang tepat untuk membuat pendidikan yang berkualitas. Hal ini laksana yang diterapkan oleh Sinarmas World Academy (SWA).

“Pada  https://www.bukuinggris.co.id edukasi anak umur dini, ada sejumlah tahapan bertolak belakang yang dipunyai anak cocok usianya. Dalam urusan ini berarti lain usia maka lain skills pun yang bakal dipelajari,” ungkap Kelly.

Melihat kenyataan tersebut, SWA memakai dua kurikulum yang bertolak belakang sesuai dengan tahapan umur anak, yaitu Early Years Foundation Stage (EYFS) dan Cambridge Primary Curriculum Stage 1.

“Kurikulum EYFS dipakai untuk ruang belajar Toddler (0-2 tahun), Nursery (2-3 tahun), Pre Kindergarten (3-4 tahun), dan Kindergarten 1 (4-5 tahun). Kami menilai kurikulum ini sesuai untuk mereka sebab menyeimbangkan pekerjaan bermain dan belajar,” jelas Kelly.

Pada etape ini peserta didik difokuskan pada empat lokasi pembelajaran, seperti edukasi literasi, matematika dasar, seni dan desain ekspresif, serta pengetahuan dasar komputer dan robotik.

Setelah anak meningkat usia pada rentang 5-6 tahun, lanjut Kelly, mereka bakal masuk ke dalam ruang belajar Kindergarten 2.

“Pada ruang belajar ini kami memakai Cambridge Primary Curriculum Stage 1 yang berfokus pada persiapan peserta didik masuk ke jenjang berikutnya, yaitu sekolah dasar,” ujarnya lagi.

Pembelajaran komputasi matematika mulai diluncurkan di ruang belajar ini. Di samping itu, latihan ilmu pengetahuan alam, bahasa Inggris, bahasa Mandarin, dan kesenian pun mulai difokuskan.

Di samping pentingnya eksistensi kurikulum, ternyata peran orangtua terhadap pertumbuhan anak umur dini di sekolah pun mempunyai posisi yang strategis.

“Orangtua mesti berlaku supportive, cooperative, dan open minded dalam edukasi anak umur dini. Di samping itu, komunikasi yang rapi juga mesti terjalin antara orangtua dan guru, jadi terjalin hubungan yang terbuka,” ujar Kelly.

Dengan begitu, diharapakan murid usia dini dapat mendapatkan edukasi yang berkualitas sebagai bekal guna mengecap edukasi selanjutnya.

baca juga: OPSI 2018, Jadikan Meneliti Hal yang Seru bagi Siswa

OPSI 2018, Jadikan Meneliti Hal yang Seru bagi Siswa

OPSI 2018, Jadikan Meneliti Hal yang Seru bagi Siswa – Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) menjadi di antara agenda urgen Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas dalam rangka membangun insan Indonesia unggul.

Sejak tahun 2009, pekerjaan ini diadakan sebagai wadah untuk siswa SMA/MA mengembangkan bakat, minat, dan keterampilan dalam menganalisis dan berinovasi, serta menumbuh kembangkan kebiasaan meneliti di kalangan siswa.

Di samping itu, pekerjaan OPSI pun menjadi ajang seleksi karya riset unggul guna diikutsertakan dalam sekian banyak ajang lomba riset tingkat internasional.

Tahun ini OPSI diselenggarakan tanggal 15-20 Oktober 2018 di kota Semarang, Jawa Tengah. OPSI 2018 mengangkat semangat dengan tema ”Meneliti Itu Seru”.

Menumbuhkan minat riset siswa

“OPSI hendak mengganti pandangan umum murid terhadap riset yang dirasakan serius, susah dan membosankan. OPSI hendak memberikan murid pengalaman menganalisis dengan teknik menyenangkan, sampai-sampai minat menganalisis terus bertambah dan bisa ditularkan pada rekan dan lingkungannya,” jelas Kasubdit Peserta Didik, Juandanilsyah.

Bidang lomba pada OPSI tahun 2018 dikelompokkan menjadi 3 kelompok bidang penelitian, yaitu:
1. Bidang Matematika, Sains, dan Teknologi (Math, Science, and Technology)
2. Bidang Fisika Terapan dan Rekayasa (Applied Physics and Engineering)
3. Bidang lmu Sosial dan Humaniora (Social Sciences and Humanities)

Minat riset kian bertumbuh

“Antusiasme peserta yang mengekor OPSI tahun ini paling menggembirakan menjangkau 1.593 proposal riset dari 30 provinsi. Jumlah SMA yang tercebur pada OPSI 2018 sejumlah 275 SMA dan 55 Madrasah Aliyah,” tambah Juanda.

Ia menambahkan, dari jumlah tersebut sudah tersaring sejumlah 900 naskah laporan riset di tahap evaluasi naskah dan lantas menjadi 105 naskah terbaik dari 199 siswa.

Pada https://www.sekolahan.co.id  etape ini dilaksanakan penilaian poster/infografis dan evaluasi presentasi guna finalis. Kemudian bakal dipilih 9 naskah terbaik guna mendapatkan Medali Emas, 9 naskah medali perak, 9 naskah medali perunggu dan 9 naskah guna diberikah penghargaan khusus.

Berbagi empiris dan peluncuran buku

Dalam pekerjaan ini juga dikenalkan secara resmi kitab “Meneliti Itu Seru” yang dibentuk oleh pembina OPSI dan diterbitkan Direktorat Pembinaan SMA, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikbud.

Karya kitab “Meneliti Itu Seru” dimaksudkan sebagai wujud nyata untuk menjangkau tujuan OPSI dan pun untuk menyerahkan panduan penelitian untuk peneliti muda.

Tidak melulu kegiatan final penjurian, dalam pekerjaan OPSI ini siswa pun diberikan sekian banyak pembekalan dalam format seminar dengan menghadirkan semua peneliti guna berbagi empiris dan pengetahuan.

baca juga: Jangan Anggap Sepele, Kenali Gejala Awal Penyakit Kanker Sarkoma

Pendekatan Saintifik/Ilmiah dalam Proses Pembelajaran

Pendekatan Saintifik/Ilmiah dalam Proses Pembelajaran

Pendekatan Saintifik

Pendekatan Saintifik

 

Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah telah mengisyaratkan tentang perlunya proses pembelajaran yang dipandu dengan kaidah-kaidah pendekatan saintifik/ilmiah. Upaya penerapan Pendekatan saintifik/ilmiah dalam proses pembelajaran ini sering disebut-sebut sebagai ciri khas dan menjadi kekuatan tersendiri dari keberadaan Kurikulum 2013, yang tentunya menarik untuk dipelajari dan dielaborasi lebih lanjut.
Melalui tulisan ini, saya akan sedikit bercerita tentang pendekatan saintifik/ilmiah dalam proses pembelajaran sebagaimana yang telah saya pahami selama ini. Menurut hemat saya, upaya penerapan pendekatan saintifik/ilmiah dalam proses pembelajaran bukan hal yang aneh dan mengada-ada tetapi memang itulah yang seharusnya terjadi dalam proses pembelajaran, karena sesungguhnya pembelajaran itu sendiri adalah sebuah proses ilmiah (keilmuan).
Banyak para ahli yang meyakini bahwa melalui pendekatan saintifik/ilmiah, selain dapat menjadikan siswa lebih aktif dalam mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, juga dapat mendorong siswa untuk melakukan penyelidikan guna menemukan fakta-fakta dari suatu fenomena atau kejadian. Artinya, dalam proses pembelajaran, siswa dibelajarkan dan dibiasakan untuk menemukan kebenaran ilmiah, bukan diajak untuk beropini apalagi fitnah dalam melihat suatu fenomena. Mereka dilatih untuk mampu berfikir logis, runut dan sistematis, dengan menggunakan kapasistas berfikir tingkat tinggi (High Order Thingking/HOT). Combie White (1997) dalam bukunya yang berjudul “Curriculum Innovation; A Celebration of Classroom Practice” telah mengingatkan kita tentang pentingnya membelajarkan para siswa tentang fakta-fakta. “Tidak ada yang lebih penting, selain  fakta“,  demikian ungkapnya.


Penerapan pendekatan saintifik/ilmiah dalam pembelajaran menuntut adanya perubahan setting dan bentuk pembelajaran tersendiri yang berbeda dengan pembelajaran konvensional. Beberapa metode pembelajaran yang dipandang sejalan dengan prinsip-prinsip pendekatan saintifik/ilmiah, antara lain metode: (1) Problem Based Learning; (2) Project Based Learning; (3) Inkuiri/Inkuiri Sosial; dan (4) Group Investigation. Metode-metode ini berusaha membelajarkan siswa untuk mengenal masalah, merumuskan masalah, mencari solusi  atau menguji  jawaban sementara atas suatu masalah/pertanyaan dengan melakukan penyelidikan (menemukan fakta-fakta melalui penginderaan), pada akhirnya dapat menarik kesimpulan dan menyajikannya secara lisan maupun tulisan.

Pendekatan Saintifik-Ilmiah

Apakah pendekatan saintifik/ilmiah dengan langkah-langkah seperti dikemukakan di atas bisa diterapkan di semua jenjang pendidikan? Jawabannya tentu akan menjadi perdebatan keilmuan, tetapi saya memegang satu teori yang sudah kita kenal yaitu Teori Perkembangan Kognitif dari Piaget yang  mengatakan bahwa mulai usia 11 tahun hingga dewasa (tahap formal-operasional), seorang individu telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu: (1) Kapasitas menggunakan hipotesis; kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang dia respons; dan (2) Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak; kemampuan untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam.

Dengan demikian, tampaknya pendekatan saintifik/ilmiah dalam pembelajaran sangat mungkin untuk diberikan mulai pada usia tahapan ini. Tentu saja, harus dilakukan secara bertahap, dimulai dari penggunaan hipotesis dan berfikir abstrak yang sederhana, kemudian seiring dengan perkembangan kemampuan berfikirnya dapat ditingkatkan dengan menggunakan hipotesis dan berfikir abstrak yang lebih kompleks.
Sementara itu, Kemendikbud (2013) memberikan konsepsi tersendiri  bahwa pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran didalamnya mencakup komponen: mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Komponen-komponen tersebut seyogyanya  dapat dimunculkan dalam setiap praktik pembelajaran,  tetapi bukanlah sebuah siklus pembelajaran.

Materi PARADIGMA KUANTITATIF POSITIVISTIK

Materi PARADIGMA KUANTITATIF POSITIVISTIK

PARADIGMA KUANTITATIF POSITIVISTIK

 

Munculnya aliran filsafat positivisme ini dipelopori oleh seorang filsuf yang bernama August Comte (1798 – 1875). Comte jugalah yang menciptakan istilah ”sosiologi” sebagai disiplin ilmu yang mengkaji masyarakat secara ilmiah. Mulai abad 20-an sampai dengan saat ini, aliran positivisme mampu mendominasi wacana ilmu pengetahuan. Aliran ini menetapkan kriteria-kriteria yang harus dipenuhi oleh ilmu-ilmu manusia maupun alam untuk dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan yang benar, yaitu berdasarkan kriteria-kriteria eksplanatoris dan prediktif. Untuk dapat memenuhi kriteria-kriteria dimaksud, maka semua ilmu harus mempunyai pandangan dunia positivistik,

yaitu : 1) Objektif. Teori-teori tentang semesta haruslah bebas nilai; 2) Fenomenalisme. Ilmu pengetahuan hanya bicara tentang semesta yang teramati. Substansi metafisis yang diandaikan berada di belakang gejala-gejala penampakan disingkirkan; 3) Reduksionisme. Semesta direduksi menjadi fakta-fakta keras yang dapat diamati; dan 4) Naturalisme. Alam semesta adalah obyek-obyek yang bergerak secara mekanis seperti bekerjanya jam (Burhan Bungis: 2005; 31-32).


Kekuatan pengaruh aliran positivistik ini dikarenakan adalah klaim-klaim terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu imu pengetahuan haruslah nyata dan positivistik. Klaim-klain tersebut adalah : 1) Klaim Kesatuan Ilmu. Ilmu-ilmu manusia dan alam berada di bawah satu payung paradigma yang sama, yaitu paradigma positivistik; 2) Klaim Kesatuan Bahasa. Bahasa perlu dimurnikan dari konsep-konsep metafisis dengan mengajukan parameter verifikasi; dan 3) Klaim Kesatuan Metode. Metode verifikasi bersifat universal, berlaku baik ilmu-ilmu manusia maupun alam.

Aliran positivistik ini akhirnya melahirkan pendekatan-pendekatan paradigma kuantitatif dalam penelitian, dimana obyek penelitian dilihat memiliki keberaturan yang naturalistik, empiris, dan behavioristik, dimana semua obyek penelitian harus dapat direduksi menjadi fakta yang dapat diamati, tidak terlalu mementingkan fakta sebagai makna tetapi mementingkan fenomena yang tampak, serta serba bebas nilai (obyektif) dengan menentang secara tajam sikap subyektif. Tradisi positivistik ini membawa paradigma penelitian sebagai aliran yang berlawanan dengan paradigma kualitatif- fenomenologis.

Sumber : Ngelag.Com

RASIONALISME DAN EMPERISME BERJABAT TANGAN DALAM EPISTEMOLOGI

RASIONALISME DAN EMPERISME BERJABAT TANGAN DALAM EPISTEMOLOGI

RASIONALISME DAN EMPERISME BERJABAT TANGAN DALAM EPISTEMOLOGI

RASIONALISME DAN EMPERISME BERJABAT TANGAN DALAM EPISTEMOLOGI

Cara efisien untuk mendapatkan sebuah pengetahuan yaitu harus melalui proses tertentu agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menangani sebuah permasalahan. Semua permasalahan bisa menjadi rasioanl (masuk akal) tentu harus melewati proses yagn disebut empiris. Kalau ada orang berkata kepada kita “Aku tahu lo cara bermain gitar…!”. Tapi apakah yang dia katakan merupakan ilmu?

Tadi pada hakikatnya kita mengharapkan jawaban yang benar. Bukan jawaban yang bersifat sembarangan. Kalau dilihat dari sejumlah pola pikir manusia, terdapat dua pola dalam memperoleh sebuah pengetahuan. Yang pertama harus kita ketahui adalah berpikir secara rasional yang berdasarkan faham rasiolisme, yaitu ide tentang sesuatu sebenarnya sudah ada tanpa melalui indra. Kemudian yang kedua dikembangkan dengan pola pikir yang empiris.

 

Emmanuel Kant seorang filosof Eropa yang terkenal dalam “Master Piece” nya “chitique of pure reason” (murni) teori tersebut terangkum dalam kepercayaan adanya dua sumber bagi konsepsi. (Pertama) pengindraan (esensi). Kita mengkonsepsi panas, cahaya, rasa dan suara. Karena pendengaran kita terhadap semuanya. (Kedua) fitrah, akal manusia tidak muncul dari pengindraan melainkan memang sudah ada dalam lubuk “fitrah”. Yang menurut Descrates, konsepsi “FHN” ide Tuhan. Menurut Emmanuel Kunt, semua pengetahuan manusia itu FHN, termasuk dua bentuk ruang dan waktu serta dua belas (12) kategori Kunt, yaitu (1) kuantitas = unitas, pluralitas, totalitas (2) kualitas = realitas, penafiaan, liminitas (4) modalitas = kemungkinan kemustahilan, ada dan tiada, keniscayaan ketidakniscayaan.[1]


“EPISTEMOLOGI VERSI RASIONALISME”

 

Dalam pandangan rasionalis manusia terbagi dalam dua bagian. (Pertama) pengetahuan yang mesti atau intuitif. Akal mesti mengakui suatu proposi tertentu tanpa mencari bukti kebenarannya. (Kedua) informasi dan pengetahuan teoritis. Akal tidak akan mempercayai kebenaran beberapa proposisi, kecuali pengalaman “pendahuluan” umpamanya “Bumi itu bulat” contoh ini bila dicodorkan apda akal, maka tidak akan menghasilkan suatu apapun. Jadi doktrin rasional adalah landasan pengetahuan menginformasikan primer. Karena pengalaman primer itu dianggap “sebab à “pertama pengetahuan”. Dan sebab pengatahuan ada dua. Pertama kondisi pokok pengetahuan manusia pada umumnya. Kedua, sebab bagi sebagian informasi.

Intinya, dasar pengetahuan itu diperoleh melalui secara rasional, terlepas dari pengalaman manusia (pasti). Namun dari manakah kita mendapatkan kebenaran bila kebenaran itu terlapas dari pangalaman manusia. Kalau kita mengambil gagasan Bung Hatta “Pengetahuan yang di dapat dari pengalaman disebut pengetahuan pengalaman atau pengetahuan. Pengetahuan yang didapat dengan jalan keterangan disebut ilmu.[2] Dari sinilah kita dapat menggambarkan bahwa pengetahuan yang didapat tanpa ada bukti yang empiris maka pengetahuan pantas dipertanyakan. Dan cara berpikir seperti itu akan menyebabkan kita terjatuh kedalam pengetahuan yang benar menurut anggapan masing-masing. Oleh sebab itu, kita harus mengetahui pula pola berfikir yang empiris.


EPISTEMOLOGI VERSI EMPIRISME

 

John Lock filosof Inggris mengemukakan sumber segala ide adalah pengalaman yang terdiri dari sensasi dan refleksi. Karyanya adalah Essay Concerning Human Understanding.[3]. Teori emperikal mengatakan bahwa akal manusia dapat dengan konsepsi-konsepsi dan gagasan-gagasan adalah bekal bagi penginderaan.

Mao Tse Tung (1893-1976) menyatakan bahwa “Sumber segala pengetahuan tersembunyi dalam pengindraan oleh organ-organ jasmani manusia terhadap alam objektiv yang mengelilinginya. Teori emperikal berdasarkan atas eksperimentasi. seseorang yang tidak memiliki satu macam indra, maka dia tidak dapat mengkonsepsikan pengertian yang mempunyai hubungan dengan indra tersebut.

Tapi apakah pendekatan empiris ini membawa lebih dekat kepada kebenaran ? Jawaban tidak. Sebab gejala yang terdapat dalam pengalaman. Baru bila mempunyai arti kalau kita bisa memberikan penafsiran kepada mereka. Jujun S. Suria-Sumantri dalam bukunya “Ilmu dalam Perspektif” mengatakan, “Seperti biasanya, waktu mengendapkan sifat ekstrim dari tiap-tiap bentuk pemikiran yang radikal. Lambat laun akan berubah menjadi lebih moderat, sehingga kompromi lebih mudah dicapai, demikian juga dengan pendekatan rasional dan empiris yang membentuk dua kutub yang saling bertentangan yang akhirnya kedua belah pihak saling menyadari bahwa rasionalisme dan empirisme mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.[4]

Dari sinilah timbul gagasan untuk menggabungkan keduanya utnuk mendekatkan kepada metode yang lebih diandalakan dalam menemukan pengetahuan yang benar. Bukankah bila kekurangan dan kelebihan disatukan akan lebih bagus? Ibarat kopi itu pahit dan gula manis, apabila keduanya disatukan maka akan terasa nikmat.

Misalnya seperti Carles Darwin yang menggabungkan metode deduksi Aristoteles dengan metode induksi Bacon. Dalam gabungan antara kedua metode adalah merupakan kegiaran beranling antara deduksi dan induksi yang mana awalnya seorang penyelidik mempergunakan induksi dalam menggabungkan antara pengamatan dengan hipotesis. Kemudian secara deduktif hipotesis ini dihubungkan dengan pengetahuan yang ada untuk melihat kecocokannya dan implikasinya yang kemudian hipotesis ini di uji benar apa tidak secara empiris.


KOMBINASI ANTARA RASIONALISME DENGAN EMPIRISME

 

Rasionalisme memberikan kerangka berfikir yang koheren dan logis, sedangkan empirisme adalah kerangka pengujian dalam menghasilkan suatu kebenaran. Kedua metode ini apabila dipergunakan secara dinamis maka akan menghasilkan pengetahuan yang konsisten dan sisematis serta dapat diandalkan. Karena pengetahuan itu melewati pengujian yang empiris. Oleh sebab itulah muncul “Metode eksperimen” yang merupakan jembatan antara penjelasan teoritis yang hidup di alam rasional dengan pembuktian yan dilakukan secara empiris.

Metode ini dikembangkan oleh sarjana-sarjaan muslim pada masa keemasan islam ketika ilmu-ilmu yang sudah mencapai kulminasi antara abad IX dan XII Masehi. Pengembangan metode ini mempunyai pengaruh penting tehadap cara berpikir manusia. Sebab dengan demikian maka dapat diuji berbagai penjelasan teoritis. Apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak?

Dalam bagan logika ilmiah yang merupakan pertemuan antara rasionalisme dan empirisme, misalnya Galiko (1564-1642) dan Norton (1642-1727) yang merupakan pioner yang mempergunakan gabungan berpikir deduktif dan induktif.

Berpikir deduktif memberikan sifat rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Penjelasan rasional ini[5] bukan berarti bersifat final. Oleh sebab itu, maka dipergunakan pula cara berfikir yang induktif sebagai contoh, “Mobil itu bermerek Inova”. Tapi bagi yang tidak tahu, maka pengkajian secara empiris mempunyai sebuah makna lain. Dari sinilah pendekatan rasional digabungkan dengan pendekatan empiris dalam langkah yang disebut metode ilmiah. Sumber : gurupendidikan.co.id

9 Cara Mudah Melatih Kecerdasan Emosional Yang Dimiliki

9 Cara Mudah Melatih Kecerdasan Emosional Yang Dimiliki

Untuk menjangkau kesuksesan dalam karier dan kehidupan pribadi, kepintaran intelektual saja tidak cukup. Anda pun harus pandai dalam membina dan mengelola relasi yang positif dengan orang lain. Hal tersebut tentunya dibuka dari diri sendiri. Anda butuh mengantongi jati diri yang positif supaya Anda dapat menghadapi kondisi sesulit apa pun. Itulah kenapa Anda membutuhkan kepintaran emosional. Namun, melatih kepintaran emosional bukan sesuatu yang dapat Anda kerjakan dalam masa-masa semalam. Anda butuh membentuknya perlahan-lahan. Akan tetapi, kita tak butuh khawatir sebab mengasah kepintaran emosional pada dasarnya paling sederhana. Ikuti saja petunjuk mudahnya inilah ini.

Apa tersebut kecerdasan emosional?

Sebelum melatih kepintaran emosional Anda, usahakan pahami dulu apa tersebut kecerdasan emosional yang pun sering dinamakan emotional intelligence atau emotional quotient (EQ). Berdasarkan keterangan dari para pakar psikologi dan pertumbuhan mental, kepintaran emosional ialah kemampuan guna mengenali dan mengelola emosi yang dialami Anda sendiri maupun orang lain.

Seperti halnya kemampuan berhitung, berbahasa, dan bekerja, keterampilan ini pun perlu diasah. Memahami emosi orang beda dan menanggapinya dengan tepat ialah kemampuan yang bermanfaat supaya Anda dapat bernegosiasi dan berkolaborasi dengan teman kerja. Di samping itu, kepekaan emosional pun sangat bermanfaat dalam kehidupan sosial, keluarga, atau ketika menjalin asmara bareng dengan pasangan.

Melatih kecerdasan emosional

Ada prinsip-prinsip utama yang perlu diisi untuk melatih kepintaran emosional. Silakan simak 9 tips yang dapat Anda contek inilah ini.

1. Kenali emosi yang kita rasakan

Selalu tanyakan pada diri kita sendiri apa yang sedang kita rasakan. Baik ketika Anda merasakan kejadian tak mengenakkan, mendapat kabar baik, bahkan saat Anda sedang jenuh dan tidak bersemangat. Jangan menyepelekan proses ini. Mengenal perasaan kita sendiri dapat membantu Anda menebak tindakan apa yang bakal Anda lakukan saat menghadapi kondisi tertentu. Anda juga jadi dapat mengendalikan diri dan menangkal perbuatan-perbuatan yang bakal Anda sesali di lantas hari.

Misalnya saat Anda baru saja ditegur oleh atasan. Cobalah guna bertanya pada diri sendiri apakah yang kita rasakan secara dominan ialah kecewa pada diri sendiri, marah pada anggota kesebelasan yang lain, atau Anda malah tidak menikmati apa pun. Dari sini, Anda dapat mencari tahu tahapan selanjutnya dan meyakinkan kejadian ini tak terulang lagi.

2. Minta pendapat orang lain

Kadang, Anda perlu pendapat dari orang beda untuk mengetahui diri kita sendiri. Tak masalah, Anda dapat mencoba bertanya pada orang-orang terdekat soal pandangan mereka terhadap diri Anda. Misalnya ketika Anda kelelahan, apa yang seringkali Anda kerjakan atau keluhkan? Bagaimana urusan itu memengaruhi orang-orang di dekat Anda? Ini akan menolong Anda mengenali pola perilaku kita sendiri sekaligus mengetahui perasaan orang-orang yang dekat dengan Anda.

3. Mengamati setiap evolusi emosi dan mood Anda

Biasakan untuk meneliti dan menikmati setiap evolusi emosi, keadaan hati, atau pola perilaku Anda. Anda juga tak bakal lagi merasakan mood swing yang tidak jelas asal-usulnya. Dengan begitu, kita jadi dapat mengatasi masalah-masalah yang awalnya tidak begitu kita sadari. Sebagai contoh, kita tiba-tiba bangun pagi dalam suasana uring-uringan. Jika kita terbiasa untuk meneliti dinamika perasaan dan peristiwa dalam hidup Anda, Anda barangkali menyadari bahwa penyebabnya ialah rasa gugup lantaran Anda mesti presentasi di depan supervisor kita siang ini.

4. Menulis jurnal atau kitab harian

Supaya kita lebih cepat menguasai sekian banyak  teknik guna mengelola emosi, catat segala kegiatan dan perasaan kita dalam suatu jurnal atau kitab harian. Dengan begitu, Anda bakal semakin mahir mendeteksi emosi yang kita rasakan, penyebabnya, dan teknik menangani emosi tersebut. Hal ini pun berlaku untuk emosi yang dialami orang lain. Dengan menyebutkan dinamika ketika bersangkutan dengan orang lain, kita akan mengajar diri untuk menggali tahu apa yang orang beda rasakan, penyebabnya, dan teknik terbaik menghadapi orang tersebut.

5. Berpikir sebelum bertindak

Untuk melatih kepintaran emosional Anda, tidak boleh terburu-buru dalam memungut keputusan atau mengerjakan sesuatu. Anda butuh waktu guna mempertimbangkan segala kemungkinan. Di samping itu, Anda pun jadi dapat melihat akibat yang dimunculkan tindakan Anda untuk diri sendiri dan orang lain. Kesannya memang lebih mudah disebutkan daripada dilakukan, namun triknya ialah https://www.pelajaran.id dengan  belajar lebih tidak sedikit mendengarkan daripada berbicara. Dengan begitu, Anda bakal terbiasa guna mengendalikan diri sebelum menuliskan atau melakukan sesuatu.

6. Gali akar permasalahannya

Kadang, kendala tersulit dalam melatih kepintaran emosional ialah memahami orang lain. Maka, yang butuh Anda lakukan ialah mengasah empati. Anda dapat mengembangkan empati dengan menanyakan empat pertanyaan urgen ini:

Perasaan apa yang sedang dia ucapkan lewat perbuatan atau kata-katanya?
Mengapa dia merasa demikian?
Apa yang mungkin dirasakan atau dipikirkan olehnya namun tidak kuketahui?
Mengapa aku tidak menikmati apa yang dia rasakan?

Dengan mengetahui orang lain, kita pun dapat menggali akar persoalan yang dihadapi oleh kita dan orang beda tersebut. Karena itu, solusi masalah bakal jadi lebih gampang dan lancar.

7. Berintrospeksi ketika menerima kritik

Melatih kepintaran emosional pun penting untuk dilaksanakan saat Anda merasakan kejadian yang tidak cukup mengenakkan laksana dikritik orang lain. Tanpa kita sadari, kritik ialah hal yang kita perlukan guna mengembangkan diri. Maka, daripada berkecil hati atau marah-marah, usahakan pakai kesempatan ini guna berintrospeksi. Meskipun kita dikritik dengan teknik yang tidak cukup sopan atau tidak menghargai, usahakan untuk konsentrasi pada isi kritiknya, bukan teknik penyampaiannya. Tanyakan pada diri kita sendiri apa yang kira-kira menciptakan orang beda mengkritik diri kita sedemikian rupa? Cobalah guna mengesampingkan sejenak rasa sakit hati atau malu yang menyelimuti kita dan pikirkan apakah kritik itu ada benarnya. Setelah itu, pikirkan pun bagaimana teknik untuk membetulkan diri Anda.

8. Memahami tubuh kita sendiri

Kecerdasan emosional sehubungan langsung dengan situasi tubuh Anda. Ini sebab setiap saraf dan sel dalam tubuh kita saling berpengaruh. Jika kita stres, Anda dapat jadi kehilangan selera santap atau susah tidur. Atau jangan-jangan kita merasa mual sebab sedang gugup. Belajar untuk mengetahui tubuh kita sendiri akan menolong Anda menyadari perasaan dan reaksi kita terhadap kondisi tertentu.

9. Terus melatih kelaziman tersebut

Cara terbaik guna melatih kepintaran emosional ialah dengan terus mempraktekkan langkah-langkah di atas. Proses melatih kepintaran emosional bisa dilangsungkan sepanjang hidup Anda. Namun, semakin kita giat berusaha, hasilnya pun bakal semakin baik dan terasa dalam kehidupan keseharian tanpa mesti menantikan bertahun-tahun lamanya. Anda pun tak butuh susah-susah mengekor terapi atau seminar pengembangan diri yang harganya tidak murah. Jika kita memang percaya bahwa keterampilan mengelola emosi dapat meningkatkan kualitas hidup, kita hanya perlu satu kunci sederhana, yakni terus mendorong diri sendiri guna melatih kepintaran emosional.

BAHASA INDONESIA DAN ERA GLOBALISASI

BAHASA INDONESIA DAN ERA GLOBALISASI

 

Sejarah mencatat bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu-Riau, salah satu bahasa daerah yang berada di wilayah Sumatera. Bahasa Melayu-Riau inilah yang diangkat oleh para pemuda pada “Konggres Pemoeda”, 28 Oktober 1928, di Solo, menjadi bahasa Indonesia. Pengangkatan dan penamaan bahasaMelayu-Riau menjadi bahasa Indonesia oleh para pemuda pada saat itu lebih “bersifat politis” daripada “bersifat linguistis”. Tujuannya ialah ingin mempersatukan para pemuda Indonesia, alih-alih disebut bangsa Indonesia. Ketika itu, yang mengikuti “Kongres Pemoeda” adalah wakil-wakil pemuda Indonesia dari Jong Jawa, Jong Sunda, Jong Batak, Jong Ambon, dan Jong Selebes. Jadi, secara linguistis, yang dinamakan bahasa Indonesia saat itu sebenarnya adalah bahasaMelayu. Ciri-ciri kebahasaannya tidak brbeda dengan bahasa Melayu. Namun, untuk mewujudkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, parapemuda Indonesia pada saat itu “secara politis” menyebutkan bahasa Melayu-iau menjadi bahasa Indonesia. Nama bahasa Indonesialah yang dianggap bisa memancarkan inspirasi dan semangat nasionalisme, bukan nama bahasa Melayu yang berbau kedaerahan.

BAHASA INDONESIA DAN ERA GLOBALISASI

BAHASA INDONESIA DAN ERA GLOBALISASI

Ikrar yang dikenal dengan nama “Soempah Pemoeda” ini butir ketiga berbunyi “Kami poetera-poeteri Indonesia, mendjoendjoeng tinggi bahasa persatoean, bahasa Indonesia” (Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia). Ikrar yang diperingati setiap tahun oleh bangsa Indonesia ini juga memperlihatkan betapa pentingnya bahasa bagi suatu bangsa. Bahasa sebagai alat komunikasi yang paling efektif, mutlak diperlukan setiap bangsa. Tanpa bahasa, bangsa tidak akan mungkin dapat berkembang, bangsa tidak mungkin dpat menggambarkan dan menunjukkan dirinya secara utuh dalam dunia pergaulan dengan bangsa lain. Akibatnya, bangsa itu akhirnya akan lenyap ditelan masa. Jadi, bahasa menunjukkan identitas bangsa. Bahasa, sebagai bagian kebudayaan dapat menunjukkan tinggi rendahnya kebudayaan bangsa. Bahasa akan menggambarkan sudah sampai seberapa jauh kemajuan yang telah dicapai suatu bangsa. Ikarar berupa “Soempah Pemoeda” inilah yang menjadi dasar yang kokoh bagi kedududkan dan fungsi bahasa Indonesia bagi bangsa Indonesia. Bahkan, pada perjalanan selanjutnya, bahasa Indonesia tidak lagi sebagai bahasa persatuan, tetapi juga berkembang sebagai bahasa negara, bahasa resmi, dan bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

Setelah hampir dasa windu menjadi bahasa persatuan, bahasa Indonesia memperlihatkan ciri-cirinya sebagai alat komunikasi yang mutlak diperlukan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia telah membuktikan diri sebagai bahasa yang tahan uji. Bahasa Indonesia telah menunjukkan identitas bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia sangat berperan dalam mempersatukan belbagai suku bangsa yang beraneka adat dan budayanya. Dalam mengemban misinya, bahasa Indonesia terus berkembang seiring dengan keperluan dan perkembangan bangsa Indonesia, walaupun ada perkembangan yang menggembirakan dan ada perkembangan yang menyedihkan dan membahayakan, Dualisme perkembangan ini memang merupakan dinamika dan konsekuensi bahasa yang hidup Tetapi, karena bahasa Indonesia sudah ditahkikkan sebagai bahasa yang berkedudukan tinggi oleh bangsa Indonesia, ia harus dipupuk dan disemaikan dengan baik dan penuh tanggung jawab agar ia bisa benar-benar menjadi “cermin” bangsa Indonesia.

Sebelum Perang Dunia Kedua, bahasa Indonesia tidak dihargai dengan sepantasnya walaupun dunia pergerakan politik sedmakin banyak memakai bahasa Indonesia. Dunia ilmu pengetahuan dan dunia pendidikan belum lagi menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. Kalau ingin memperbaiki nasib, bukan bahasa Indonesia yang digunakan,melainkan bahasa Belanda sebagai bahasa kaum penjajah. Bahasa pengantar untuk ilmu pengetahuan adalah bahasa Belanda. Apabila sesorang ingin dihormati dan disegani dalam pergaulan, ia harus bisa menguasai bahasa Belanda dengan baik. Bahasa Belanda benar-benar bisa menentukan status pemakainya. Akibatnya, pemakai bahasa Indonesia merasa apatis atau masa bodoh melihat kekangan-kekangan yang hebat terhadap bahasa Indonesia ketika itu. Seolah-olah bahasa Indonesia tidak akan mampu menjadi bahasa ilmu pengetahuan. Kaum penajajh ketika itu memang menginginkan seperti itu sehingga pemakai bahasa Indonesia merasa diri tidak berguna mempelajari dan menguasai bahasa Indonesia. Orang Indonesia ketika itu merasa lebih terpelajar dan terhormat aoabila menguasai bahasa Belanda dengan baik. Orang Indonesia tidak merasa malu apabila tidak menguasai bahasa Indonesia dengan baik, tetapu akan merasa ada yang kurang apabila tidk menguasai bahasa Belanda dengan baik. Akibatnya, tidak banyak orang Indonesia yang mau mempelajari bahasa Indonesia dengan serius dan cukup menguasai bahasa Indonesia ala kadarnya untuk komunikasi umum. Akhirnya, banyak pula otang Indonesia yang tidak mahir berbahasa Indonesia , tetapi menguasai dan sangat mahor berbahasa Belanda.

Pada zaman pendudukan Jepang, bahasa Belanda dilarang pemakaiannya dan harus digani dengan bahasa Indonesia. Ketika itu, sebagian orang masih meragukan kemampuan bahasa Indonesia menjadi bahasa ilmu pengetahuan, termasuk kaum cendekiawannya. Tetapi, karena dipaksa oleh pemerintah pendudukan Jepang dan didorong oleh pemuda-pemuda Indonesia, orang-orang Indonesia terpanksa menggunakan bahasa Indonesia untuk setiap ranah pembicaraan. Bahasa Indonesia mulai populer dan mulai diperhatikan para pemakainya dengan baik. Sesudah itu terbuktilah bahwa bahasa Indonesia tidak kurang mutunya dibanding dengan bahasa-bahasa asing lainnya. Bahasa Indonesia pun mulai mengalami perkembangan sesuai dengan kodratnya sebagai bahasa yang hidup. Bahasa Indonesia terus dipakai pemiliknyadengaqn teratur dan lebih luas.

Sesudah Indonesia merdeka, bahasa Indonensia lebih berkembang lagi dengan baik dan meluas. Bangsa Indonesia sudah merasakan betapa perlunya membina dan memperhatikan perkembangan bahasa Indonesia. Bangsa Indonesia mulai sadar bahwa tanpa bahasa Indonesia, bangsa Indonesia tidak akan memperoleh kemajuan. Minat bangsa Indonesia untuk mau mempelajari bahasa Indonesia dengan baik setiap tahun terus bertambah. Akibatnya, bahasa Indonesia mengalami kemajuan yang pesat. Setelah perkembangan bahasa Indonensia itu sedemikian pesatnya, sekarang timbullah serangkaian pertanyaan:

Apakah setiap bangsa Indonesia sudah bangga berbahasa Indonesia sebagai bahasa nasional?

Apakah setiap bangsa Indonesia sudah mencintai dan menghormati bahasa Indonesia?

Adakah rasa kebanggan itu timbul dari hati nurani setiap orang yang mengaku berbangsa Indonesia?

Apabila setiap bangsa Indonesia sudah mencintai, menghormati, dan bangga berbahasa Indonesia, apakah mereka sudah membina bahasa Indonesia dengan baik?

Adakah pemakai bahasa Indonesia itu sudah memathui kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang benar?

Apakah setiap orang yang mengaku berbangsa Indonesia itu sudah mempergunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar?

Jawaban untuk semua pertanyaan ini tentulah ada di dada masing-masing orang yang menganggap, mengaku, dan menjadikan dirinya sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

 

Jati Diri Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia mempunyai ciri-ciri umum dan kaidah-kaidah okok tertentu yang membedakannya dengan bahasa-bahasa lainnya di dunia ini, baik bahasa asing maupun bahasa daerah. Dengan ciri-ciri umum dan kaidah0kaidah pokok ini pulalah dapat dibedakan mana bahasa Indonesia dan mana bahasa asing ataupun bahasa daerah. Oleh karena itu, ciri-ciri umum dan kaidah-kaidah pokok tersebut merupakan jati diri bahasa Indonesia. Ciri-ciri umum dan kaidah-kaidah pokok yang dimaksud adalah antara lain sebagai berikut.

  1. Bahasa Indonesia tidak mengenal oerubahan bentuk kata untuk menyatakan jenis kelamin. Kalau kita ingin menyatakan jenis kelamin, cukup diberikan kata ketarngan penunjuk jenis kelamin, misalnya:

Untuk manusia dipergunakan kata laki-laki atau pria dan perempuan atau wanita.

Untuk hewan dipergunakan kata jantan dan betina.

Dalam bahasa asing (misalnya bahasa Ingris, bahasa Arab, dan bahasa Sanskerta) untuk menyatakan jenis kelamin digunakan dengan cara perubahan bentuk.

Contoh:

Bahasa Inggris : lion – lioness, host – hostess, steward –stewardness.
Bahasa Arab : muslimi – muslimat, mukminin – mukminat, hadirin – hadirat
Bahasa Sanskerta : siswa – siswi, putera – puteri, dewa – dewi.

Dari ketiga bahasa tersebut yang diserap ke dalam bahasa Indonesia adalah beberapa kata yang berasal dari bahasa Arab dan bahasa Sanskerta; sedangkan perubahan bentuk dalam bahasa Inggris tidak pernah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Penyerapan dari bahasa Arab dan bahasa Sanskerta pun dilakukan secara leksikal, bukan sistem perubahannya. Dengan demikian, dalam bahasa Arab, selain kata muslim, diserap juga kata muslimin dan muslimat; selain mukmin, diserap juga kata mukminin dan mukminat; selain hadir (yang bermakna ‘datang’, bukan ‘orang yang datang’), diserap juga kata hadirin dan hadirat. Dalam bahasa Sanskerta, selain dewa, diserap juga dewi; selain siswa diserap juga siswi. Karena sistem perubahan bentuk dari kedua bahasa tersebut tidak diserap ke dalam bahasa Indonesia, maka tidaklah mungkin kita menyatakan kuda betina dengan bentuk kudi atau kudarat; domba betina dengan bentuk kata dombi atau dombarat. Untuk menyatakan jenis kelamin tersebut dalam bahasa Indonesia, cukup dengan penambahan jantan atau betina, yaitu kuda jantan, kuda betina, domba jantan, domba betina. Oleh karena itu, kaidah yang berlaku dalam bahasa Arab dan bahasa Sanskerta, dan juga bahasa Inggris tidan bisa diterapkan ke dalam kaidah bahasa Indonesia. Kalau dipaksakan, tentu struktur bahasa Indonesia akan rusak, yang berarti jati diri bahasa Indonesia akan terganggu.

  1. Bahasa Indonesia mempergunakan kata tertentu untuk menunjukkan jamak. Artinya, bahasa Indonesia tidak mengenal perubahan bentuk kata untuk menyatakan jamak. Sistem ini pulalah yang membedakan bahasa Indonesia dengan bahasa sing lainnya, misalnya bahasa Inggris, bahasa Belanda, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa lain. Untuk menyatakan jamak, antara lain, mempergunakan kata segala, seluruh, para, semua, sebagian, beberapa, dan kata bilangan dua, tiga, empat, dan seterusnya; misalnya: segala urusan, seluruh tenaga, para siswa, semua persoalan, sebagian pendapat, beberapa anggota, dua teman, tiga pohon, empat mobil.

Bentuk boy dan man dalam bahasa Inggris yang berubah menjadi boys dan men ketika menyatakan jamak, tidak pernah dikenal dalam bahasa Indonesia. Bentuk bukus (jamak dari kata buku), mahasiswas (jamak dari mahasiswa), dan penas (jamak dari pena), misalnya, tidak dikenal dalam bahasa Indonesia karena memang bukan kaidah bahasa Indonesia.

  1. Bahasa Indonesia tidak mengenal perubahan bentuk kata untuk menyatakan waktu. Kaidah pokok inilah yang juga membedakan bahasa Indonesia dengan bahasa asing lainnya. Dalam bahasa Inggris,misalnya, kita temukan bentuk kata eat (untuk menyatakan sekarang), eating (untuk menyatakan sedang), dan eaten (untuk menyatakan waktu lampau). Bentukan kata seperti ini tidak ditemukan dalam bahasa Indonesia. Bentuk kata makan tidak pernah mengalamai perubahan bentuk yang terkait dengan waktu, misalnya menjadi makaning (untuk menyatakan waktu sedang) atau makaned (untuk menyatakan waktu lampau). Untuk menyatakan waktu, cukup ditambah kata-kaa aspek akan, sedang, telah, sudah atau kata keterangan waktu kemarin, seminggu yang lalu, hari ini, tahun ini, besok, besok lusa, bulan depan, dan sebagainya.
  2. Susunan kelompok kata dalam bahasa Indonesia biasanya mempergunakan hukum D-M (hukum Diterangkan – Menerangkan), yaitu kata yang diterangkan (D) di muka yang menerangkan (M). Kelompok kata rumah sakit, jam tangan, mobil mewah, baju renang, kamar rias merupakan contoh hukum D-M ini. Oleh karena itu, setiap kelompok kata yang diserap dari bahasa asing harus disesuaikan dengan kaidah ini. Dengan demikian, bentuk-bentuk Garuda Hotel, Bali Plaza, International Tailor, Marah Halim Cup, Jakarta Shopping Center yang tidak sesuai dengan hukum D-M harus disesuaikan menjadi Hotel Garuda, Plaza Bali, Penjahit Internasional, Piala Marah Halim, dan Pusat Perbelanjaan Jakarta. Saya yakin, penyesuaian nama ini tidak akan menurunkan prestise atau derajat perusahaan atau kegiatan tersebut. Sebaliknya, hal inilah yang disebut dengan penggunaan bahasa Indonesia yang taat asas, baik dan benar.
  3. Bahasa Indonesia juga mengenal lafal baku, yaitu lafal yang tidak dipengaruhi oleh lafal asing dan/atau lafal daerah. Apabila seseorang menggunakan bahasa Indonesia lisan dan lewat lafalnya dapat diduga atau dapat diketahui dari suku mana ia berasal,maka lafal orang itu bukanlah lafal bahasa Indonesia baku. Dengan kata lain, kata-kata bahasa Indonesia harus bebas dari pengaruh lafal asig dan/atau lafal daerah. Kesulitan yang dialami oleh sebagian besar pemakai bahasa Indonesia adalah sampai saat ini belum disusun kamus lafal bahasa Indonesia yang lengkap. Akibatnya, sampai sekarang belum adapatokan yang jelas untuk pelafalan kata peka, teras, perang, sistem, elang. Tetapi, pengucapan semangkin (untuk semakin), mengharapken (untuk mengharapkan), semua (untuk semua), mengapa (untuk mengapa), thenthu (untuk tentu), therima kaseh (untuk terima kasih), mBandung (untuki Bandung), dan nDemak (untuk Demak) bukanlah lafal baku bahasa Indonesia.

Referensi : kuliahbahasainggris.com

Bakal Ikut Magang atau Praktik Kerja Lapangan? Ikuti 5 Tips Ini!

Bakal Ikut Magang atau Praktik Kerja Lapangan

Bakal Ikut Magang atau Praktik Kerja Lapangan? Ikuti 5 Tips Ini!

Perkuliahan itu ngga hanya duduk di kelas atau praktek di laboratorium, namun juga banyak kegiatan-kegiatan lain yang membantu dan buat persiapan kalian para mahasiswa sementara nanti formal dilepas sebagai lulusan perguruan tinggi, contohnya KKN (Kuliah Kerja Nyata), PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) dan juga Magang atau Praktik Kerja Lapangan (PKL).

Bakal Ikut Magang atau Praktik Kerja Lapangan

Kegiatan magang/PKL ini penting banget lho! Mahasiswa sanggup segera menerapkan Hard Skill atau ilmu cocok dengan jurusan/prodi yang diambil alih dan juga merasakan segera terjun di dunia kerja!

Nah mumpung masih tersedia sementara bagi kalian yang belum/akan jalankan magang/PKL ini, kalian sanggup ikuti tips-tips ini buat buat persiapan era magang kalian nanti!

1. Tentukan tujuanmu
Ini penting banget sebelum akan kami terasa cari daerah magang/PKL. Sebaiknya rencanakan kemana kalian bakal jalankan program tersebut. Mulai dari model perusahaan/instansi, bidang yang dikerjakan, lokasinya, dan semua yang tentang dengan bakal daerah magang kalian nantinya.

Misalkan kalian lebih condong ke instansi pemerintah daripada perusahaan, detailkan ulang permintaan kalian, Kalian idamkan di instansi pemerintah yang mana dan yang layaknya apa. Dengan ini anda gak bakal bingung deh jikalau cari daerah magang nantinya.

2. Mulailah survei ke perusahaan/instansi
Setelah sanggup uraian atau rencana-rencana dari tips nomer 1, mulailah jalankan survei ke perusahaan/instansi yang anda inginkan. Tanyakan se-detail bisa saja hal-hal yang tentang dengan magang kalian layaknya sementara magang, beberapa syarat untuk mendaftar sebagai mahasiswa magang/PKL, dan juga tanyakan juga kuota yang disediakan oleh instansi tersebut. Apabila perusahaan/instansi selanjutnya menerima mahasiswa magang segera penuhi beberapa syarat yang diminta mereka.

Melakukan survei ini sebaiknya 3-5 bulan sebelum akan sementara magang kalian dimulai. Jangan hingga mepet ya, sebab yang magang juga bukan dari kampus kalian aja lho!

3. Masih bimbang? Tanyakan pada kakak tingkat atau dosen
Nggak tersedia salahnya jikalau kalian bertanya kepada orang yang memiliki pengalaman lebih daripada kalian, kalau kakak tingkat atau dosen kalian. Kakak Tingkat pastinya telah magang lebih dahulu dan memiliki pengalaman magangnya tersendiri. Kalian sanggup tanyakan bagaimana, dimana, dengan siapa kakak tingkat kalian jalankan magang. Kalian juga sanggup menggali Info dari daerah magang kakak tingkat kalian, siapa sadar kalian tertarik!

Bertanya pada dosen juga lebih bagus, biasanya dosen memiliki relasi atau referensi untuk daerah kalian magang. Kalian juga sanggup bertanya apakah perusahaan yang kalian idamkan itu cocok bagi kalian. Jangan malu-malu, layaknya pepatah, “Malu bertanya, sesat di jalan.”

4. Pilih teman sehidup semagang kalian
Umumnya pihak kampus dan instansi bakal mengijinkan anda mengajak 1 atau 2 orang temanmu untuk magang/PKL di perusahaan yang anda pilih. Nah, kalian mesti sadar kurang lebih siapa yang cocok untuk mendampingi kalian sepanjang kehidupan magang kalian di perusahaan tersebut. Kalian sanggup menentukan sobat kalian yang asik dan seru, atau menentukan teman yang kalau sanggup memotivasi kalian untuk bekerja lebih giat sementara magang.

Ingat, setelah era magang kalian selesai, kalian masih mesti buat laporan atau bisa saja proyek-proyek untuk mencukupi nilai magang kalian.

5. Siapkan skill yang bakal membantu kesibukan magang kalian
Menyambung dari poin ke 2, kalian juga mesti tau kurang lebih kalian bakal mengerjakan apa saja sepanjang era magang kalian berlangsung. Jangan hingga dikala pembimbing dari perusahaan berharap kalian jalankan pekerjaan, kalian menolaknya sebab belum mengerti.

Siapkan kurang lebih kekuatan atau skill apa yang dibutuhkan sementara kalian magang. Apabila anda belum mempunyai kekuatan tersebut, jangan segan untuk mempelajarinya. Setidaknya pahami sebagian besar mengenai kekuatan atau skill tersebut, agar dikala pembimbing berikan pekerjaan/tugas sanggup segera kalian lakukan.

Itu tadi sebagian besar tips buat kalian sedang buat persiapan magang/PKL. Yuk segera siapkan diri kalian untuk era magang/PKL. Semoga berfungsi yaa!

Persiapan Untuk anda yang Ingin Mendaftar Beasiswa

Persiapan Untuk anda yang Ingin Mendaftar Beasiswa

Persiapan Untuk anda yang Ingin Mendaftar Beasiswa

Banyak hal yang harus diperhatikan dikala inginkan mendaftar beasiswa, salah satunya adalah syarat-syarat administrasi atau kelengkapan dokumen yang harus dipenuhi. Persyaratan dokumen merupakan step screening awal dalam penyeleksian beasiswa, hal semacam ini harus disiapkan jauh hari sehingga tidak merepotkan gara-gara diburu oleh deadline. Tentuna anda termasuk harus tekun terhadap waktu, pergunakan waktumu sebijak kemungkinan untuk mempersiapkannya.

Persiapan Untuk anda yang Ingin Mendaftar Beasiswa

Berikut adalah hal perlu yang harus diperhatikan dikala bakal mendaftar beasiswa. Hati-hati ya guys, gara-gara seleksi administrasi merupakan seleksi awal dari penerimaan beasiswa, jangan sampai anda tidak cukup maksimal cuma gara-gara tidak cukup tekun mengfungsikan pas untuk persiapan.

1.Membaca informasi beasiswa secara lengkap
Langkah pertama adalah membaca informasi berkenaan beasiswa yang di tawarkan dengan teliti, pahami isinya sampai terlampau paham, kecuali harus catat poin pentingnya. Selain itu anda termasuk harus membaca formulir pendaftaran beasiswa dengan seksama, jangan sampai salah isikan atau kosong gara-gara terlewat.

2. Memahami pas dibukanya pendaftaran
Beasiswa yang di tawarkan umumnya punyai pola pas penerimaan. Sebagai perumpamaan beasiswa MEXT (Monbukagakusho) dari pemerintah Jepang umumnya diakses tiap tiap tahun terhadap bulan April. Pemahaman seperti ini memudahkan anda untuk buat persiapan bermacam macam berkas yang diperlukan, seperti kapan harus mengambil tes TOEFL/IBT/IELTS/JLPT (jika belum punyai atau sertifikatmu habis masa berlakunya), kapan harus meminta surat rekomendasi, dan lainnya. Buatlah rencana pas kapan anda bisa memulai untuk mempersiapkannya.

3. Menyiapkan dokumen yang diperlukan
Dari informasi yang diunggah di web beasiswa tersebut bisa dicermati dokumen apa yang diperlukan, umumnya dari tahun ke tahun dokumen yang diminta tidak cukup lebih sama. Persiapkan dokumen yang misalnya bisa disiapkan jauh hari sebelum saat tanggal deadline. Untuk memudahkan, anda bisa memicu catatan semacam to do list.

4. Membuat rencana penelitian (research plan)
Beasiswa umumnya menitikberatkan research plan sebagai poin perlu penilaian. Oleh gara-gara itu kecuali punyai rencana untuk mendaftar beasiswa, sebaiknya anda mulai membayangkan topik penelitian yang inginkan anda tulis. Mengapa? Karena memicu research plan mengambil waktu, belum kembali anda bakal direpotkan untuk melengkapi dokumen perlu lainnya.

5.Menghubungi dosen di universitas yang dituju
Selama memicu research plan di sela waktumu, anda bisa menghubungi dosen di universitas yang inginkan anda tuju. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan diri dan tema research-mu. Perkenalkan dirimu lantas kecuali anda tertarik dengan research dosen tersebut anda bisa mengapresiasi tulisannya, dan mulai membahas maksud dan tujuanmu (tentunya anda harus khususnya pernah membaca publikasi dosen tersebut). Komunikasi seperti ini dibutuhkan dikala anda inginkan mencari supervisor untuk penelitian di univesitas tujuanmu. https://www.ruangguru.co.id/

Bagaimana beroleh publikasi dan kontak dosen tersebut? Jika anda belum punyai referensi dosen di universitas tujuanmu, anda bisa membuka web universitas tersebut, lantas carilah laman research/research gate lantas selami isinya, cari tema cocok keinginanmu dengan mengfungsikan tombol search yang disediakan. Biasanya di dalam laman tersebut tersedia alamat e-mail penulisnya.

Ya, pasti saja hal ini butuh pas dan kesabaran.

Faktor Pendidikan Sebagai Sarana Penunjang Pendidikan

Selain berbagai macam komponen yang dapat menunjang pendidikan, dalam dunia pendidikan unsur  yang juga sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan adalah faktor – faktor pendidikan. Faktor – faktor pendidikan ini merupakan berbagai unsur yang dapat menunjang ke dalam goal pendidikan yang nantinya ingin dicapai.

Faktor Pendidikan Sebagai Sarana Penunjang Pendidikan

Faktor Pendidikan Sebagai Sarana Penunjang Pendidikan

Unsur – unsur ini juga sangat penting fungsinya karena aspek ini dapat menjadi suatu penunjang tujuan secara berkesinambungan dan secara sistematik. Mengenai faktor – faktor penting dalam dunia pendidikan ini setidaknya terdiri dari beberapa aspek penunjang. Apakah saja aspek – aspek penting yang menjadi faktor penunjang pendidikan dan memang harus diterapkan sebagai sarana penunjang pendidikan?

Faktor – Faktor Pendidikan Sebagai Sarana Penunjang Pendidikan

Faktor pendidik dalam pendidikan

Pendidik dalam dunia pendidikan memang menjadi sebuah faktor dalam pendidikan yang punya fungsi sebagai pengajar atau pendidik yang nantinya akan menuntun atau membimbing suatu murid atau siswa yang diajar dan dapat mencapai tujuannya. Kesuksesan pendidikan tak hanya dipengaruhi oleh faktor pendidik formal saja seperti guru, dosen atau pengajar lain akan tetapi orang tua sebagai tenaga pendidik di rumah juga menjadi suatu faktor yang sangat penting juga dalam dunia pendidikan.

Faktor peserta didik

Faktor yang satu ini juga turut mencakup siswa dan kalangan yang mendapatkan pengajaran oleh pendidik. Faktor yang dididik juga tidak kalah pentingnya dalam rangka menyerap pelajaran dan untuk mencapai tujuan pendidikan karena nantinya siswa yang aktif dan rajin dalam kegiatan pembelajaran tentu akan memiliki pengaruh pada prosentase hasil pendidikan yang dicapainya.

Faktor materi pendidikan

Tak hanya dua aspek penting diatas yang juga berkontribusi dalam suksesnya pendidikan dan suksesnya pembelajaran yang dilakukan karena aspek pendukung lain seperti materi pendidikan juga menjadi sangat penting. Materi pendidikan diharapkan menjadi suatu materi yang segar dan update selain juga harus mudah dicerna dan harus interaktif. Dengan demikian nantinya akan ada hubungan timbal balik antara pendidik, yang dididik dan materi yang diajarkan.

Faktor metode pendidikan

Aspek yang satu ini juga turut menjadi suatu faktor yang sangat menunjang dalam rangka penyampaian materi, metode pendidikan yang baik adalah metode pendidikan yang dapat diserap oleh siswa dengan cepat dan dapat dengan mudah untuk memberikan timbal balik positif pada siswa. Ada banyak metode pendidikan yang dapat diterapkan guru misalkan metode kontemporer, diskusi atau sebagainya. Bisa dipilih mana yang jauh lebih sampai dan lebih mudah diterima oleh siswa.

Selain itu faktor goal atau tujuan dalam pendidikan juga sangat penting dalam menunjang keberhasilan pendidikan. Semoga informasi diatas tentang Faktor – Faktor Pendidikan Sebagai Sarana Penunjang Pendidikan menjadi informasi yang bermanfaat. sumber : sekolahbahasainggris.com