twittsev.com

Situs Web Pendidikan Terupdate

Kisah Nabi Nuh A.S

Table of Contents

Kisah Nabi Nuh A.S

Nabi Nuh adalah nabi keempat sehabis Adam, Syith dan Idris dan keturunan kesembilan berasal dari Nabi Adam. Ayahnya adalah Lamik bin Metusyalih bin Idris.

Dakwah Nabi Nuh Kepada Kaumnya

Nabi Nuh terima wahyu kenabian berasal dari Allah di dalam jaman “fatrah” jaman kekosongan di antara dua rasul di mana umumnya manusia secara beransur-ansur meniadakan ajaran agama yang dibawa oleh nabi yang meninggalkan mereka dan ulang bersyirik meninggalkan amal kebajikan, melaksanakan kemungkaran dan kemaksiatan di bawah pimpinan Iblis.
Demikianlah maka kaum Nabi Nuh tidak luput berasal dari proses tersebut, agar kala Nabi Nuh berkunjung di tengah-tengah mereka, mereka sedang menyembah berhala ialah patung-patung yang dibuat oleh tangan-tangan mereka sendiri disembahnya sebagai tuhan-tuhan yang bisa membawa kebaikan dan manfaat serta menampik segala kesengsaraan dan kemalangan.berhala-berhala yang dipertuhankan dan menurut keyakinan mereka membawa kemampuan dan kekuasaan ghaib ke atas manusia itu diberinya nama-nama yang silih berubah menurut kehendak dan selera kebodohan mereka.Kadang-kadang mereka namakan berhala mereka ” Wadd ” dan ” Suwa ” kadang kala ” Yaguts ” dan seandainya udah jemu digantinya bersama nama ” Yatuq ” dan ” Nasr “.

Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya yang udah jauh tersesat oleh iblis itu, mengajak mereka meninggalkan syirik dan penyembahan berhala dan ulang kepada tauhid menyembah Allah Tuhan sekalian alam melaksanakan ajaran-ajaran agama yang diwahyukan kepadanya serta meninggalkan kemungkaran dan kemaksiatan yang diajarkan oleh Syaitan dan Iblis.
Nabi Nuh menarik perhatian kaumnya agar memandang alam semesta yang diciptakan oleh Allah berupa langit bersama matahari, bulan dan bintang-bintang yang menghiasinya, bumi bersama kekayaan yang tersedia di atas dan di bawahnya, berupa tumbuh-tumbuhan dan air yang mengalir yang memberi kenikmatan hidup kepada manusia, pengantian malam jadi siang dan sebaliknya yang kesemua itu jadi bukti dan tanda nyata akan ada keesaan Tuhan yang harus disembah dan bukan berhala-berhala yang mereka bikin bersama tangan mereka sendiri.Di samping itu Nabi Nuh termasuk mengumumkan kepada mereka bahwa akan tersedia gajaran yang akan di terima oleh manusia atas segala amalannya di dunia iaitu syurga bagi amalan kebajikan dan neraka bagi segala pelanggaran pada perintah agama yang berupa kemungkaran dan kemaksiatan.

Nabi Nuh yang dikurniakan Allah bersama sifat-sifat yang patut dimiliki oleh seorang nabi, fasih dan tegas di dalam kata-katanya, bijaksana dan sabar di dalam tindak-tanduknya melaksanakan tugas risalahnya kepada kaumnya bersama penuh kesabaran dan kebijaksanaan bersama langkah yang lemah lembut mengetuk hati nurani mereka dan kadang kala bersama kata-kata yang tajam dan suara yang kasar seandainya menghadapi pembesar-pembesar kaumnya yang keras kepala yang enggan terima hujjah dan dalil-dalil yang dikemukakan kepada mereka yang tidak bisa mereka membantahnya atau mematahkannya.

Akan tetapi biarpun Nabi Nuh udah mengupayakan sekuat tanaganya berdakwah kepda kaumnya bersama segala kebijaksanaan, kecekapan dan kesabaran dan di dalam tiap-tiap kesempatan, siang mahupun malam bersama langkah berbisik-bisik atau langkah terang dan terbuka terbyata cuma sedikit sekali berasal dari kaumnya yang dpt terima dakwahnya dan ikuti ajakannya, yang menurut kala riwayat tidak melebihi bilangan seratus orang Mereka pun terdiri berasal dari orang-orang yang miskin berkedudukan sosial lemah. Sedangkan orang yang kaya-raya, berkedudukan tingi dan terpandang di dalam masyarakat, yang merupakan pembesar-pembesar dan penguasa-penguasa selamanya membangkang, tidak mempercayai Nabi Nuh mengingkari dakwahnya dan sesekali tidak merelakan melewatkan agamanya dan keyakinan mereka pada berhala-berhala mereka, bahkan mereka mengupayakan bersama mengadakan persekongkolan hendak melumpuhkan dan mengagalkan usaha dakwah Nabi nuh.

Berkata mereka kepada Nabi Nuh: “Bukankah engkau cuma seorang daripada kami dan tidak berbeda drp kami sebagai manusia biasa. Jikalau betul Allah akan mengutuskan seorang rasul yang membawa perintah-Nya, nescaya Ia akan mengutuskan seorang malaikat yang patut kami dengarkan kata-katanya dan kami ikuti ajakannya dan bukan manusia biasa seperti engkau cuma dpt diikuti orang-orang rendah kedudukan sosialnya seperti para buruh petani orang-orang yang tidak berpenghasilan yang bagi kami mereka seperti sampah masyarakat.Pengikut-pengikutmu itu adalah orang-orang yang tidak membawa daya fikiran dan ketajaman otak, mereka mengikutimu secara buta tuli tanpa berkhayal dan menimbangkan masak-masak benar atau tidaknya dakwah dan ajakanmu itu. Cuba agama yang engkau bawa dan ajaran -ajaran yang engkau sadurkan kepada kami itu betul-betul benar, nescaya kamilah pernah mengikutimu dan bukannya orang-orang yang mengemis pengikut-pengikutmu itu. kami sebagai pemuka-pemuka penduduk yang pintar berfikir, punya kecerdasan otak dan pandangan yang luas dan yang dipandang penduduk sebagai pemimpin-pemimpinnya, tidaklah mudak kami terima ajakanmu dan dakwahmu.Engkau tidak membawa kelebihan di atas kami berkenaan soaL-soal kemasyarakatan dan pergaulan hidup.kami jauh lebih pintar dan lebih mengetahui drpmu berkenaan perihal itu semua.nya.Anggapan kami terhadapmu, tidak lain dan tidak bukan, bahawa engkau adalh pendusta belaka.”

Nuh berkata, menjawab ejekan dan olok-olokan kaumnya: “Adakah engkau mengira bahwa saya dpt memaksa anda ikuti ajaranku atau mengira bahwa saya membawa kekuasaan untuk menjadikan anda orang-orang yang beriman jika anda selamanya menampik ajakan ku dan selamanya membuta-tuli pada bukti-bukti kebenaran dakwahku dan selamanya mempertahakan pendirianmu yang tersesat yang diilhamkan oleh kesombongan dan kecongkakan gara-gara kedudukan dan harta-benda yang anda miliki.Aku cuma seorang manusia yang mendpt amanat dan diberi tugas oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya kepada kamu. Jika anda selamanya berkeras kepala dan tidak mahu ulang ke jalur yang benar dan terima agama Allah yang diutuskan-Nya kepada ku maka terserahlah kepada Allah untuk menentukan hukuman-Nya dan gajaran-Nya keatas diri kamu. Aku cuma pesuruh dan rasul-Nya yang diperintahkan untuk menyampaikan amanat-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dialah yang berkuasa memberi hidayah kepadamu dan mengampuni dosamu atau turunkan azab dan seksaan-Nya di atas anda sekalian jika Ia kehendaki.Dialah pula yang berkuasa turunkan seksa danazab-nya di dunia atau menangguhkannya hingga hari kemudian. Dialah Tuhan pencipta alam semesta ini, Maha Kuasa ,Maha Mengetahui, maha pengasih dan Maha Penyayang.”.

Kaum Nuh menyampaikan syarat bersama berkata: “Wahai Nuh! Jika engkau menghendaki kami mengikutimu dan memberi sokongan dan impuls kepada anda dan kepada agama yang engkau bawa, maka jauhkanlah para pengikutmu yang terdiri berasal dari orang-orang petani, buruh dan hamaba-hamba sahaya itu. Usirlah mereka berasal dari pengaulanmu gara-gara kami tidak dpt bergaul bersama mereka duduk berdampingan bersama mereka mengikut langkah hidup mereka dan bergabung bersama mereka di dalam suatu agama dan kepercayaan. Dan bagaimana kami dpt terima satu agama yang menyamaratakan para bangsawan bersama orang awam, penguasa dan pembesar bersama buruh-buruhnya dan orang kaya yang berkedudukan bersama orang yang miskin dan papa.”

Nabi Nuh menampik pensyaratan kaumnya dan berkata: “Risalah dan agama yang saya bawa adalah untuk semua orang tiada pengecualian, yang pintar mahupun yang bodoh, yang kaya mahupun miskin, majikan ataupun buruh ,diantara peguasa dan rakyat biasa seluruhnya membawa kedudukan dan tempat yang mirip trehadap agama dan hukum Allah. Andai kata saya mencukupi pensyaratan anda dan meluluskan keinginanmu menyingkirkan para pengikutku yang setia itu, maka siapakah yang dpt ku mengharapkan akan meneruskan dakwahku kepada orang ramai dan bagaimana saya hingga hati menjauhi drpku orang-orang yang udah beriman dan terima dakwahku bersama penuh keyakinan dan keikhlasan di kala anda menolaknya serta mengingkarinya, orang-orang yang udah membantuku di dalam tugasku di kala anda menghambat usahaku dan merintangi dakwahku. Dan bagaimanakah saya dpt mempertanggungjawabkan tindakan pengusiranku kepada mereka pada Allah seandainya mereka mengadu bahawa saya udah membalas loyalitas dan ketaatan mereka bersama sebaliknya sekedar untuk mencukupi permintaanmu dan tunduk kepada pensyaratanmu yang tidak lumrah dan tidak dpt di terima oleh akal dan fikiran yang sihat. Sesungguhnay anda adalah orang-orang yang bodoh dan tidak berfikiran sihat.”.

Pada akhirnya, gara-gara mulai tidak berdaya ulang mengingkari kebenaran kata-kata Nabi Nuh dan mulai kehabisan alasan dan hujjah untuk melanjutkan dialog bersama beliau, maka berkatalah mereka: “Wahai Nabi Nuh! Kita udah banyak bermujadalah dan berdebat dan cukup berdialog serta mendengar dakwahmu yang udah membosankan itu. Kami selamanya tidak akan mengikutimu dan tidak akan sesekali melewatkan keyakinan dan adat-istiadat kami agar tidak tersedia gunanya ulang engkau mengulang-ulangi dakwah dan ajakanmu dan bertegang lidah bersama kami. datangkanlah apa yang engkau sangat orang yang menepati janji dan kata-katanya. Kami mengidamkan memandang kebenaran kata-katamu dan ancamanmu di dalam kenyataan. Karena kami masih selamanya belum mempercayaimu dan selamanya meragukan dakwahmu.”

Nabi Nuh Berputus Asa Dari Kaumnya

Nabi Nuh berada di tengah-tengah kaumnya selama sembilan ratus lima puluh th. berdakwah menyampaikan risalah Tuhan, mengajak mereka meninmggalkan penyembahan berhala dan ulang menyembah dan beribadah kepada Allah Yang maha Kuasa memimpin mereka muncul berasal dari jalur yang sesat dan gelap ke jalur yang benar dan terang, mengajar mereka hukum-hukum syariat dan agama yang diwahyukan oleh Allah kepadanya, mangangkat darjat manusia yang tertindas dan lemah ke tingak yang sesuai bersama fitrah dan qudratnya dan mengupayakan menyingkirkan sifat-sifat sombong dan bongkak yang melekat pd para pembesar kaumnya dan medidik agar mereka berkasih sayang, tolong-menolong di antara sesama manusia. Akan tetapi di dalam kala yang cukup lama itu, Nabi Nuh tidak sukses menyedarkan an menarik kaumnya untuk ikuti dan terima dakwahnya beriman, bertauhid dan beribadat kepada
Allah jika sekelompok kecil kaumnya yang tidak meraih seramai seratus orang, biarpun ia udah melaksanakan tugasnya bersama segala daya-usahanya dan sekuat tenaganya bersama penuh kesabaran dan kesusahan menghadapi penghinaan, ejekan dan cercaan makian kaumnya, gara-gara ia mengharapkan akan dtg masanya di mana kaumnya akan sedar diri dan dtg mengakui kebenarannya dan kebenaran dakwahnya. Harapan Nabi Nuh akan kesedaran kaumnya ternyata semakin hari semakin berkurangan dan bahawa cahaya iman dan takwa tidak akan menebus ke di dalam hati mereka yang udah tertutup rapat oleh ajaran dan bisikan Iblis. Hal mana Nabi Nuh berupa berfirman Allah yang bermaksud:
“Sesungguhnya tidak akan seorang drp kaumnya mengikutimu dan beriman jika mereka yang udah mengikutimu dan beriman lebih dahulu, maka jgnlah engkau bersedih hati gara-gara apa yang mereka perbuatkan.”
Dengan penegasan firman Allah itu, lenyaplah sisa harapan Nabi Nuh berasal dari kaumnya dan habislah kesabarannya. Ia memohon kepada Allah agar turunkan Azab-Nya di atas kaumnya yang berkepala batu seraya berseru:”Ya Allah! Jgnlah Engkau biarkan seorang pun drp orang-orang kafir itu hidup dan tinggal di atas bumi ini. Mareka akan mengupayakan menyesatkan hamba-hamba-Mu, jika Engkau biarkan mereka tinggal dan mereka tidak akan melahirkan dan turunkan tak hanya anak-anak yang berbuat maksiat dan anak-anak yang kafir spt.mereka.”

Doa Nabi Nuh dikalbulkan oleh Allah dan permohonannya diluluskan dan tidak harus ulang mengacuhkan dan mempersoalkan kaumnya, gara-gara mereka itu akan terima hukuman Allah bersama mati tenggelam.

Nabi Nuh Membuat Kapal

Setelah terima perintah Allah untuk membuat sebuah kapal, segeralah Nabi Nuh menghimpun para pengikutnya dan mulai mereka menghimpun bhn yang dibutuhkan untuk maksud tersebut, sesudah itu bersama menyita tempat di luar dan agak jauh berasal dari kota dan keramaiannya mereka bersama rajin dan tekun bekerja siang dan malam merampungkan pembinaan kapal yang diperintahkan itu.

Walaupun Nabi Nuh udah menjauhi kota dan masyarakatnya, agar dpt bekerja bersama tenang tanpa gangguan bagi merampungkan pembinaan kapalnya tetapi ia tidak luput berasal dari ejekan dan cemuhan kaumnya yang kebetulan atau sengaja lewat tempat kerja membina kapal itu. Mereka mengejek dan mengolok-olk bersama mengatakan: “Wahai Nuh! Sejak seandainya engkau udah jadi tukang kayu dan pembuat kapal?Bukankah engkau seorang nabi dan rasul menurut pengakuanmu, kenapa sekarang jadi seorang tukang kayu dan pembuat kapal.Dan kapal yang engkau bikin itu di tempat yang jauh berasal dari air ini adalah maksudmu untuk ditarik oleh kerbau ataukah mengharapkan angin yang ankan menarik kapalmu ke laut?”Dan lain-lain kata ejekan yang di terima oleh Nabi Nuh bersama sikap dingin dan tersenyum seraya menjawab: “Baiklah tunggu saja saatnya nanti, jika anda sekrg mengejek dan mengolok-olok kami maka akan tibalah masanya kelak bg kami untuk mengejek anda dan akan anda ketahui kelak untuk apa kapal yang kami siapkan ini.Tunggulah saatnya azab dan hukuman Allah menimpa atas diri kamu.”

Setelah selesai pekerjaan pembuatan kapal yang merupakan alat pengangkutan laut pertama di dunia, Nabi Nuh terima wahyu berasal dari Allah: “Siap-siaplah engkau bersama kapalmu, seandainya tiba perintah-Ku dan muncul gejala drp-Ku maka segeralah angkut bersamamu di di dalam kapalmu dan kerabatmu dan bawalah dua gunakan berasal dari tiap-tiap model makhluk yang tersedia di atas bumi dan belayarlah bersama izin-Ku.”
Kemudian tercurahlah berasal dari langit dan memancur berasal dari bumi air yang deras dan dahsyat yang di dalam sekelip mata udah jadi banjir besar melanda semua kota dan desa menggenangi daratan yang rendah mahupun yang tinggi hingga meraih puncak bukit-bukit agar tiada tempat berlindung berasal dari air bah yang dahsyat itu jika kapal Nabi Nuh yang udah terisi penuh bersama para orang mukmin dan pasangan makhluk yang diselamatkan oleh Nabi Nuh atas perintah Allah.

Dengan iringan “Bismillah majraha wa mursaha” belayarlah kapal Nabi Nuh bersama lajunya menyusuri lautan air, menentang angin yang kadang kala lemah lembut dan kadang kala ganas dan ribut. Di kanan kiri kapal terlihatlah orang-orang kafir bergelut melawan gelombang air yang menggunung mengupayakan menyelamat diri berasal dari cengkaman maut yang udah sedia menerkam mereka di di dalam lipatan gelombang-gelombang itu.

Tatkala Nabi Nuh berada di atas geladak kapal menyimak cuaca dan melihat-lihat orang-orang kafir berasal dari kaumnya sedang bergelimpangan di atas permukaan air, tiba-tiba terlihatlah olehnya tubuh putera sulungnya yang bernama “Kan’aan” timbul tenggelam dipermainkan oleh gelombang yang tidak menaruh belas kasihan kepada orang-orang yang sedang terima hukuman Allah itu. Pada kala itu, tanpa disadari, timbullah rasa cinta dan kasih sayang seorang ayah pada putera kandungnya yang berada di dalam kondisi risau menghadapi maut ditelan gelombang.

Nabi Nuh secara spontan, terdorong oleh suara hati kecilnya berteriak bersama sekuat suaranya memanggil puteranya: “Wahai anakku! Datanglah kemari dan gabungkan dirimu bersama keluargamu. Bertaubatlah engkau dan berimanlah kepada Allah agar engkau selamat dan terhindar berasal dari bahaya maut yang engkau meniti hukuman Allah.” Kan’aan, putera Nabi Nuh, yang tersesat dan udah terkena racun rayuan syaitan dan hasutan kaumnya yang sombong dan keras kepala itu menampik bersama keras ajakan dan panggilan ayahnya yang menyayanginya bersama kata-kata yang menentang: “Biarkanlah saya dan pergilah, jauhilah aku, saya tidak rela berlindung di atas geladak kapalmu saya akan bisa menyelamatkan diriku sendiri bersama berlindung di atas bukit yang tidak akan dijangkau oleh air bah ini.”

Nuh menjawab: “Percayalah bahawa tempat satu-satunya yang bisa menyelamatkan engkau ialah bergabung bersama kami di atas kapal ini. Masa tidak akan tersedia yang bisa melewatkan diri berasal dari hukuman Allah yang udah ditimpakan ini jika orang-orang yang memperolehi rahmat dan keampunan-Nya.”

Setelah Nabi Nuh mengucapkan kata-katanya tenggelamlah Kan’aan disambar gelombang yang ganas dan lenyaplah ia berasal dari pandangan mata ayahnya, tergelincirlah ke bawah lautan air mengikut kawan-kawannya dan pembesar-pembesar kaumnya yang durhaka itu.

Nabi Nuh bersedih hati dan berdukacita atas kematian puteranya di dalam kondisi kafir tidak beriman dan belum mengenal Allah. Beliau berkeluh-kesah dan berseru kepada Allah: “Ya Tuhanku, memang puteraku itu adalah darah dagingku dan adalah bahagian berasal dari keluargaku dan memang janji-Mu adalha janji benar dan Engkaulah Maha Hakim yang Maha Berkuasa.” Kepadanya Allah berfirman: “Wahai Nuh! Sesungguhnya dia puteramu itu tidaklah termasuk keluargamu, gara-gara ia udah menyimpang berasal dari ajaranmu, melanggar perintahmu menampik dakwahmu dan ikuti jejak orang-orang yang kafir drp kaummu.Coretlah namanya berasal dari daftar keluargamu.Hanya mereka yang udah terima dakwahmu ikuti jalanmu dan beriman kepada-Ku dpt engkau masukkan dan golongkan ke di dalam barisan keluargamu yang udah Aku janjikan perlindungannya danterjamin keselamatan jiwanya.Adapun orang-orang yang mengingkari risalah mu, mendustakan dakwahmu dan udah ikuti udara nafsunya dan tuntutan Iblis, pastilah mereka akan binasa meniti hukuman yang udah Aku memastikan biarpun mereka berada dipuncak gunung. Maka janganlah engkau sesekali menanyakan berkenaan sesuatu yang engkau belum ketahui. Aku ingatkan janganlah engkau hingga tergolong ke di dalam golongan orang-orang yang bodoh.”

Nabi Nuh sedar langsung sehabis terima teguran berasal dari Allah bahwa cinta kasih sayangnya kepada anaknya udah menjadikan ia lupa akan janji dan ancaman Allah pada orang-orang kafir termasuk puteranya sendiri. Ia sedar bahawa ia tersesat pd kala ia memanggil puteranya untuk menyelamatkannya berasal dari bencana banjir yang didorong oleh perasaan naluri darah yang menghubungkannya bersama puteranya padahal semestinya cinta dan taat kepada Allah harus mendahului cinta kepada keluarga dan harta-benda. Ia sangat sesalkan kelalaian dan kealpaannya itu dan menghadap kepada Allah memohon ampun dan maghfirahnya bersama berseru: “Ya Tuhanku saya berlindung kepada-Mu berasal dari godaan syaitan yang terlaknat, ampunilah kelalaian dan kealpaanku agar saya menanyakan sesuatu yang saya tidak mengetahuinya. Ya Tuhanku seandainya Engkau tidak memberi ampun dan maghfirah serta turunkan rahmat bagiku, nescaya saya jadi orang yang rugi.”

Setelah air bah itu meraih puncak keganasannya dan habis binasalah kaum Nuh yang kafir dan zalim sesuai bersama kehendak dan hukum Allah, surutlah lautan air diserap bumi sesudah itu bertambatlah kapal Nuh di atas bukit ” Judie ” bersama iringan perintah Allah kepada Nabi Nuh: “Turunlah wahai Nuh ke darat engkau dan para mukmin yang menyertaimu bersama selamat dilimpahi barakah dan inayah berasal dari sisi-Ku bagimu dan bagi umat yang menyertaimu.”

Kisah Nabi Nuh Dalam Al-Quran

Al-Quran menceritakan kisah Nabi Nuh di dalam 43 ayat berasal dari 28 surah di antaranya surah Nuh berasal dari ayat 1 sehinga 28, termasuk di dalam surah “Hud” ayat 27 agar 48 yang mengisahkan dialog Nabi Nuh bersama kaumnya dan perintah pembuatan kapal serta kondisi banjir yang menimpa di atas mereka.

Pengajaran Dari Kisah Nabi Nuh A.S.

Bahawasanya pertalian antara manusia yang terkait gara-gara ikatan persamaan keyakinan atau penamaan aqidah dan pendirian adalah lebih erat dan lebih berkesan drp pertalian yang terkait gara-gara ikatan darah atau kelahiran. Kan’aan yang biarpun ia adalah anak kandung Nabi Nuh, oleh Allah s.w.t. dikeluarkan berasal dari bilangan keluarga ayahnya gara-gara ia menganut keyakinan dan agama berbeda bersama apa yang dianut dan didakwahkan oleh ayahnya sendiri, bahkan ia berada di pihak yang memusuhi dan menentangnya.

Maka di dalam pengertian inilah bisa difahami firman Allah di dalam Al-Quran yang bermaksud: “Sesungguhnya para mukmin itu adalah bersaudara.” Demikian pula hadis Rasulullah s.a.w.yang bermaksud:”Tidaklah sempurna iman seseorang jika jika ia menyintai saudaranya yang beriman sebagaimana ia menyintai dirinya sendiri.”Juga peribahasa yang berbunyi:”Adakalanya engkau memperolehi seorang saudara yang tidak dilahirkan oleh ibumu.”

Sumber : https://tokoh.co.id/

Baca Juga :