twittsev.com

Situs Web Pendidikan Terupdate

Reformasi Pendidikan di Indonesia: Berhasilan atau Gagal?

Reformasi Pendidikan di Indonesia: Berhasilan atau Gagal?

Pada th. 2005, lebih dari satu sebagai respon pada permintaan untuk “re-memprofesionalkan” profesi guru, Indonesia mengadopsi UU Guru dan Dosen yang di sediakan komprehensif, paket memahami reformasi manajemen guru dan mekanisme pembangunan dan lembaga. Meskipun pendidikan tambahan yang dibutuhkan oleh guru untuk menjadi bersertifikat di bawah Undang-Undang memicu lebih dari satu hasil siswa yang positif, fakta sertifikasi dan dua kali lipat penghasilan yang mengikutinya. Sejumlah mekanisme jaminan mutu ditujukan untuk menopang proses ini, cuma saat ini tengah dimasukkan ke dalam daerah yang kala berguna seluruhnya mempunyai potensi untuk mewujudkan lebih dari satu tujuan awal dari diterbitkannya UU tersebut.

Di seluruh lokasi di dunia, peran guru dalam mengimbuhkan pendidikan yang berkwalitas baik dianggap jadi kritis. Guru yang perlu bekerja lebih ekstra, teknik belajar mengajar yang berpusat pada siswa aktif untuk mengimbuhkan kurikulum yang relevan, dalam konteks panggilan yang lebih kuat untuk desentralisasi, manajemen berbasis sekolah, perlu mempromosikan dukungan penduduk untuk sekolah, perlu memperlihatkan kedua prinsip-prinsip etika yang kuat dan praktek yang baik dan pada akhirnya perlu memberi impuls pada siswa, memastikan kesegaran dan keselamatan mereka, dan menopang mereka belajar apa yang mendambakan siswa perlukan.

Peran ini variasi bagi guru benar-benar mutlak di Indonesia, bersama nyaris tiga juta guru – dari TK sampai pendidikan menengah akademik dan kejuruan; di sekolah umum, swasta, dan Islam. Dengan dua macam status kepegawaian pegawai negeri dan status kontrak selagi – Indonesia mempunyai salah satu kader terbesar dan paling bervariasi dari keguruan di dunia. Bagaimana perihal ini dicoba untuk diprofesionalkan, profesi guru bersama reformasi manajemen guru dan pengembangan proses dan lembaga pendidikan guru dan proses yang membuahkan guru – dan type efek reformasi ini udah mempunyai pada mutu pendidikan dan hasil peserta didik, karenahal itu mutlak bagi pembangunan bangsa di masa depan.

Jawaban Indonesia pada tantangan ini adalah perintis menata peran, kiat dan tanggung jawab Guru dan Dosen mengacu UU Nomor 14 th. 2005, konsekuensinya tambahan biaya dibutuhkan pula untuk meningkatkan mutu dan kesejahteraan mereka dalam menopang UU Pendidikan yang sebelumnya terbit th. 2003. Aturan Guru layaknya yang dikenal diuraikan berkenaan kompetensi yang dibutuhkan guru di empat bidang (pedagogik, pribadi, sosial, dan profesional) dan penggabungan mereka ke dalam standar guru nasional, peran beraneka unit Kementerian dan lembaga dalam menopang guru mencapai kompetensi ini, proses sertifikasi guru dan kualifikasi yang dibutuhkan untuk sertifikasi tersebut, dan kondisi di mana guru dapat menerima tunjangan spesifik dan profesional.

Sebuah reformasi utama adalah persyaratan bahwa seluruh guru perlu resmi “bersertifikat”. Proses sertifikasi yang dihasilkan mandat penyelesaian gelar empat th. bersama kualifikasi profesional pascasarjana dalam pedagogi praktis subjek yang dapat diajarkan. Guru yang berhasil menerima tunjangan profesi untuk melipatgandakan penghasilan mereka.

Isu-isu mutlak regulasi tentang pengelolaan guru dan pengembangan yang dibutuhkan untuk pertimbangan lebih lanjut, pengembangan profesional berkesinambungan dan link ke promosi dan gaji bertahap, penilaian kinerja guru, dan peran kepala sekolah dalam kepemimpinan instruksional. Dengan kata lain, UU Guru mengimbuhkan yang komprehensif, paket yang memahami reformasi yang membentuk agenda ambisius untuk melakukan perbaikan proses pendidikan nasional.

Ternyata para siswa dari guru bersertifikat tidak mempunyai hasil belajar yang lebih baik dibandingkan bersama siswa guru non-sertifikasi padahal pendapatanya dinaikkan dua kali lipat dari sebelumnya. Hal ini khususnya disebabkan oleh fakta bahwa pada tahun-tahun awal reformasi, karena pertimbangan politik, sertifikasi bagi banyak guru tidak didasarkan pada desain asli dari pengujian kompetensi namun lebih pada penilaian portofolio guru-dirakit dari pengalaman mereka. Selain itu, nyaris seluruh guru yang perlu mengambil alih pelatihan tambahan di luar portofolio lulus uji kompetensi berikutnya; bersama kata lain, nyaris seluruh guru dalam antrian sertifikasi berhasil. (Meskipun proses portofolio kini udah ditinggalkan menopang uji kompetensi untuk semua, lebih dari satu besar pelamar tetap berhasil dalam proses sertifikasi).

Tidak adanya perbedaan dalam materi dan penilaian pedagogi skor subjek guru bersertifikat dan tidak bersertifikat, memperlihatkan bahwa proses ini sendiri tidak meningkatkan kompetensi atau membedakan guru dalam perihal kualitas.

Namun, belajar sebenarnya memperlihatkan pertalian yang kuat pada ilmu guru (baik materi pelajaran dan pedagogi) dan hasil belajar siswa. Hal ini khususnya disebabkan oleh persyaratan bahwa seluruh guru meraih gelar empat th. sebelum sertifikasi. Dengan kata lain, pelatihan tambahan tidak meningkatkan kualitas, sertifikasi dan tidak meningkatkan penghasilan.

Artikel Lainnya : https://tokoh.co.id/biodata-blackpink-all-member-dan-fakta-terlengkap/

Daya tarik sertifikasi dan penghasilan yang lebih tinggi udah memicu peningkatan besar dalam kuantitas dan mutu lulusan sekolah menengah masuk fakultas pendidikan guru di perguruan Indonesia.
Beragam mekanisme jaminan mutu ditujukan untuk menjadi anggota integral dari reformasi – pengembangan standar kompetensi guru, proses yang lebih baik merekrut dan kepala pelatihan guru dan pengawas, dan proses yang sistematis induksi guru, mentoring, masa percobaan, dan penilaian kinerja – cuma saat ini tengah dimasukkan ke dalam daerah daripada sebelumnya dalam proses di mana itu dapat menjadi lebih berguna. Harapannya adalah bahwa kala mekanisme ini beroperasi layaknya yang direncanakan, efisiensi dan efektivitas proses reformasi guru dapat meningkat.

Akhirnya, biaya reformasi guru (terutama pembayaran tunjangan profesi) udah burgeoned – dan dapat konsisten melakukannya – dan kiat penghematan biaya sehingga berarti dapat diperlukan, khususnya yang tentang bersama efisiensi yang lebih besar dalam penyebaran guru.

Baca Juga :