twittsev.com

Situs Web Pendidikan Terupdate

Definisi Qurban ( Udhiyyah )

Definisi Qurban ( Udhiyyah )

Definisi Qurban ( Udhiyyah )

Qurban berasal dari kata qaruba, yang berarti dekat. Dari segi istilah, qurban berarti acara penyembelihan hewan ternak yang dilakukan pada Hari Raya Idul Adha, yaitu tanggal 10 Dzulhijjah, dan pada tiga hari berikutnya yang disebut Yaum At-Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam surat Al-Kautsar ayat 2, istilah qurban disebut nahr, yang artinya sembelihan, maksudnya menyembelih hewan ternak.

Dalam ilmu fiqih, qurban dikenal dengan istilah udhiyyah, yang berasal dari kata dhuha, yang artinya waktu ketika matahari sedang naik pada pagi hari. Ini dikarenakan kegiatan penyembelihan hewan qurban dimulai ketika matahari naik di pagi hari atau waktu dhuha.

Ibadah qurban sudah disyariatkan sejak umat terdahulu. Pada awalnya berqurban dalam Islam merupakan syariat yang dibawa oleh Nabi Ibrahim AS. Kemudian Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk meneruskan syariat tersebut setiap Hari Raya Idul Adha.

Ibadah qurban mulai disyariatkan pada tahun 2 H/623 M, bersamaan dengan pensyariatan zakat serta shalat Idul Fitri dan Idul Adha.

2.2            Hukum dan Waktu Berqurban

Hukum berqurban adalah sunnah muakkadah bagi kita artinya kesunnahan yang sangat ditekankan namun bagi Rasulullah Saw berqurban adalah wajib sebagai kekhususan beliau. Kesunnahan tadi terbagi dua ada kalanya sunnah kifayah yaitu bagi tiap-tiap muslim yang sudah baligh, berakal, memiliki kemampuan untuk berqurban dan hidup dalam satu keluarga. Artinya jika ada salah satu anggota keluarga berqurban, maka gugurlah tuntutan untuk berqurban dari tiap-tiap anggota keluarga itu. Namun tentunya yang mendapat pahala qurban adalah khusus bagi orang yang melakukannya.Dan ada kalanya hukum qurban sunnah ‘ain yaitu bagi mereka yang hidup seorang diri, tidak memiliki sanak saudara. Atau dengan kata lain sunnah ‘ain adalah sasaran kesunnahannya ditujukan pada indifidu atau personal semata.

Yang dimaksud ‘memiliki kemampuan’ disini adalah orang yang memiliki harta yang cukup untuk dibuat qurban dan cukup untuk memenuhi kebutuhannya pada hari raya Idul Adha dan hari-hari Tasyriq. Bahkan Imam As Syafi’i berkata, “Saya tidak memberi dispensasi / keringanan sedikitpun pada orang yang mampu berqurban untuk meninggalkannya”. Maksud perkataan ini adalah makruh bagi orang yang mampu berqurban, tapi tidak mau melaksanakannya (lihat: Iqna’ II/278)

 

Sumber :

https://mhs.blog.ui.ac.id/abd.jalil/gb-whatsapp-apk/