twittsev.com

Situs Web Pendidikan Terupdate

pembelajaran ips dalam perubahan global

Isu-Isu Penting Dalam Globalisasi

Globalisasi membawa dampak baik dan buruk, baik ketika kita siap dan buruk ketika kita gagap. Realitas globalisasi telah menyebabkan terjadinya pergeseran orientasi yang kemudian menjelma menjadi sifar individualistis serta mengakibatkan pola hidup masyarakatsemakin dilandasi oleh persoalan persoalan ekonomi. Hal ini cukup mencemaskan, namun perlu disadari bahwa globalisasi adalah sebuah proses dan belum menjadi sebuah produk akhir.
Masyarakat modern memiliki sikap hidup yang mengutamakan materi, memperturutkan kesenangan dan kelezatan syahwat, ingin menguasai aspek kehidupan dan hanya percaya terhadap rumus-rumus pengetahuan empiris saja. Serta sikap hidup yang positivis yang hanya berlandaskan akal. Pada jiwa seseorang yang seperti ini dikhawatirkan akan terjadi sesuatu dikemudian hari seperti yang Allah janjikan akan membuat bencana di darat dan di laut sebagai peringatan agar manusia kembali ke jalan yang benar.

Dari berbagai persoalan diatas terdapat isu-isu penting dalam globalisasi adalah sebagai berikut:

1. Penyalahgunaan ilmu pengetahuan dam teknologi. Sebagai akibat dari terlepasnya ilmu pengetahuan dan teknologi dari ikatan spiritua, maka IPTEK telah disalahgunakan dengan segala cara implikasi negatifnya. Kecanggihan dibidang teknologi komunikasi dan lainnya telah digunakan untuk menggalang kekuatan guna menghancurkan moral umat manusia.
2. Pendangkalan iman. Sebagai akibat akibat lain dari pola pikiran keilmuan, khususnya ilmu-ilmu yang mengakui fakta-fakta yang bersifat empiris menyebabkan manusia dangkal ilmunya.
3. Desintegrasi ilmu pengetahuan. Kehidupan modern antara lain ditandai oleh adanya spesialisasi dibidang ilmu pengetahuan. Masing-masing ilmu pengetahuan memiliki cara pandang tersendiri dalam menghadapi masalah yang dihadapi.
4. Pola hubungan meteralistik. Semangat persaudaraan dan rasa saling tolong-menolong yang didasarkan atas panggilan iman sudah tidak nampak lagi, karena imannya memang sudah dangkal. Pola hubungan satu dan yang lainnya ditentukan oleh seberapa jauh antara satu dan lainnya dapat memberikan keuntungan yang bersifat material.
5. Menghalalkan segala cara. Sebagai akibat lebih jauh dari dangkalnya iman dan pola hidup materialistik, maka manusia dapat dengan mudah menggunakan prinsip menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.
6. Kepribadian yang pecah. Karena kehidupan masyarakat modern dipolakan oleh ilmu pengetahuan maka manusianya menjadi pribadi yang terpecah.
7. Stress dan frustasi. Kehidupan modern yang demikian kompetitif menyebabkan manusia harus menyerahkan seluruh pikiran, tenaga dan kemampuannya. Mereka harus bekerja tanpa mengenal batas dan kepuasan.
8. Kehilangan harga diri dan masa depannya. Terdapat sejumlah orang yang terjerumus atau salah memilih jalan kehidupan. Masa mudanya dihabiskan untuk mempruntukan hawa nafsu dan segala daya dan cara yang ditempuhnya. Kemudian timbulah penyesalan dikemudian hari.[2]

Recent Posts

pengaruh tasawuf dalam kehidupan

PERAN TASAWUF DI ERA GLOBALISASI

A. Pendahuluan
Zaman sekarang adalah zaman modern dimana kita dapat dengan mudah mengakses segala sesuatu hanya dengan jari telunjuk saja, yaitu dengan menggunakan internet. Dimasa globalisasi ini segala sesuatunya pun dapat lebih mudah dengan canggihnya berbagai macam teknologi canggih, untuk itu kita dituntut agar bisa memanfaatkan kelebihan itu dengan sebaik baiknya, jangan sampai malah menjadikan kita terjerumus ke arah yang salah.
Ketika sains mulai berkembang yang membuahkan teknologi modern, di dunia Barat sekarang ini telah merasa kehilangan makna kemanusiaannya, kehidupan yang dibelenggu oleh paham individualis, kasih sayang dan silaturrahmi sudah memudar, manusia sibuk berkompetisi dan tolok ukur keberhasilan seseorang terletak pada materi, mereka telah teralienasi dari nilai spiritual dan Tuhannya, sehingga tidak mengherankan jika akhir-akhir ini tasawuf mulai merebak dibicarakan. Sebagai salah satu jalan menangkal material dan sekular adalah melalui tasawuf karena di dalamnya tersimpan konsep-konsep spiritual Islam yang cukup kaya dan dalam.

B. Makna Globalisasi dan Karakteristiknya

Globalisasi berasal dari kata “the globe” (Inggris) atau “la monde” (Prancis) yang berarti bumi, dunia ini. Maka globalisasi atau mondialisation secara sederhana dapat diartikan sebagai proses menjadikan semuanya satu bumi atau satu dunia. Pada prinsipnya globalisasi mengacu pada perkembangan-perkembangan yang cepat didalam teknologi, komunikasi, transformasi, informasi yang membawa bagian-bagian dunia yang jauh bisa jangkau dengan mudah.
Istilah globalisasi makin sering digunakan sejak pertengahan tahun 1980-an. Pada tahun 200, Dana Moneter Internasional (IMF) mengidentifikasikan empat aspek dasar globalisasi : perdagangan dan transaksi, pergerakan modal dan investasi, migrasi dan perpindahan manusia dan pebebasan ilmu pengetahuan. Selain itu tantangan-tantangan lingkungan seperti perubahan iklim, polusi air dan udara lintas perbatasan, dan pemancing berlebihan dari laut juga ada hubungan dengan globalisasi. Proses globalisasi mempengaruhi dan dipengaruhi oleh bisnis dan tata kerja, ekonomi, sumber data sosial0budaya dan lingkungan alam. [1]
Globalisasi ditandai dengan berbagai hal, yaitu :
a. Globalisasi terkait erat dengan kemajuan inovasi teknologi, arus informasi atau komunikasi yang lintas batas negara.
b. Globalisasi tidak dapat dilepaskan dari akumulasi kapital, semakin tingginya intensitas arus investasi, keuangan, dan perdagangan global.
c. Globalisasi berkaitan dengan semakin tingginya intensitas perpindahan manusia, pertukaran budaya, nilai dan ide yang lintas batas negara.
d. Globalisasi ditandai dengan semakin meningkatnya tingkat keterkaitan dan ketergantungan tidak hanya antar bangsa namun juga antar masyarakat.


Sumber: https://voi.co.id/jasa-penulis-artikel/

syubhat khilafah

TAUHID DAN KHILAFAH

Ummah, sebagaimana didefinisikan diatas, adalah agen rekonstruksi, atau pembaruan dunia untuk memenuhi kehendak ilahi. Ummah sama dengan negara, dalam arti bahwa ia berdaulat, dan memiliki organ-organ serta kekuasaan yang diperlukan oleh kedaulatan tersebut. Sebagai negara, ummah lebih tepat disebut sebagai khalifah daripada daulah. Kekhalifahan adalah suatu kesepakatan tiga dimensi : kesepakatan wawasan, kekuatan dan produksi.

A. KESEPAKATAN WAWASAN (IJMA’ AL-RU’YAH)

Adalah komunitas pikiran atau kesadaran, dan mempunyai tiga komponen. Yang pertama adalah pengetahuan akan nilai-nilai yang membentuk kehendak ilahi dan tentang gerakan dalam sejarah, yang telah dihasilkan olih realisasi nilai-nilai tersebut. Pengetahuan bersifat sistematis dan historis, yang didasarkan pada wahyu. Yaitu Al-Quran, sunnah; dan akan, melalui pemahamannya akan proses-proses sendiri, Akan realita umum, alam, manusia dan masyarakat, baik dalam kasus wahyu maupun kasus akal.
Pengetahuan akan bergerak dalam sejarah yang telah dilahirkan oleh realisasi nilai-nilai Islam, materi-materi khusus dari aktualisasi nilai memberi pengaruh pedagogis yang berharga yang sangat baik pada mereka dan mempelajarinya dan lebih mudah untuk diserapi dan diingat daripada isi dari telah sistematis. Maka perlulah baginya untuk mengaitkan nilai-niilai dengan masa kini, dan menetapkan materi mana yang akan merealisasikan nilai yang mana, bagaimana kondisi-kondisi masa kini mempengaruhi tata urutan nilai-nilai dalam tugas untuk mengaktualisasikannya. Kesepakatan wawasan, sebagaimana yang didefinisasikan disini, telah dianggap sebagai sumber pengetahuan agama. Keterbukaan ini dilembagakan dalam ijtihad, suatu kemampuan-lebih tepatnya, kewajiban-bagi setiap muslim yang cerdas untuk meninjau kembali seluruh atau sebagian dari kebenaran-kebenaran dan nilai-nilai Islam. Ijtihad bersifat dinamis dan kreatif, dan dengan sendirinya sangat menarik bagi orang yang cerdas. Sementara ijma’ diberkati sebagai mahkota upaya pemahaman, yang secara terus menerus dibenturi oleh daya kreatif ijtihad: dan sementara ijtihad direstui sebagai tujuan pemahaman yang sangat dibutuhkan.


Sumber: https://pendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

keterkaitan hukum wadhi dengan hukum taklifi

keterkaitan hukum wadhi dengan hukum taklifi

Syarat

Secara etimologi berarti ‘alamah (pertanda). Secara terminologi adalah apa yang tergantung adanya hukum dengan adanya syarat dan dengan tidak adanya syarat mana hukum tidak ada. Syarat letaknya diluar hakikat sesuatu maka apabila ia tidak ada maka masyrut pun tidak ada tetapi tidak mesti adanya masyrut. Akad nikah dijadikan syarat halalnya pergaulan suami istri, namun agar akad nikah itu sah disyaratkan dihadiri oleh dua orang saksi. Demikianlah dalam semua perjanjian dan tindakan baru dianggap sah dan mengikat kedua belah pihak apabila terpenuhi syarat-syaratnya. Syarat-syarat dalam kegiatan hukum kadang-kadang ditetapkan syara’ yang seperti ini dinamakan syarat syar’i dan kadang-kadang ditetapkan oleh mukallaf sendiri yang dinamakan syarat ja’li. Contoh syarat syar’i seperti syarat yang ditetapkan sahnya akad nikah yang dihadiri oleh dua orang saksi dan contoh syarat ja’li seperti jatuhnya talak apabila kedua belah pihak mempunyai ikatan perkawinan.
Syarat syar’i dapat dibagi menjadi 2 macam:
· Syarat yang terkandung dalam khitab taklifi yang kadang-kadang dalam bentuk tuntutan untuk memperbuatnya seperti wudhu dalam shalat. Dan kadang-kadang dalam bentuk tuntutan untuk tidak memperbuatnya seperti akad nikah tahlil, ialah nikah yang dilakukan sebagai syarat untuk memperbolehkan suami pertama menikahi kembali istrinya yang ditalak tiga.
· Syarat yang terkandung dalam kitab wadh’i. Contohnya haul bagi yang memiliki harta kekayaan yang cukup nisab menjadi syarat wajib mengeluarkan zakat.
Syarat ja’li dapat dibagi menjadi 3 macam:
· Syarat yang ditetapkan untuk menyempurnakan hikmah sesuatu perbuatan hukum dan tidak bertentangan dengan hikmah perbuatan hukum itu.
· Syarat yang ditetapkan tidak cocok dengan maksud perbuatan hukum yang dimaksud bahkan bertentangan dengan hikmah perbuatan hukum itu.
· Syarat yang tidak jelas bertentangan atau sesuai dengan hikmah perbuatan hukum. Syarat yang seperti ini kalau terjadi dalam bidang ibadah tidak berlaku karena tidak ada seorang juapun yang berhak menetapkan syarat dalam ibadah. Namun, kalau terjadi dalam bidang muamalah dapat diterima.

Recent Posts

HUKUM WADH’I

HUKUM WADH’I

Pengertian

Wadh’i ialah buatan atau bikinan. Hukum wadh’i adalah firman Allah SWT yang menuntut untuk menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat, atau penghalang dari sesuatu yang lain. Hukum wadh’i merupakan hukum yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf yang mengandung persyaratan, sebab atau mani’. Hukum wadh’i adalah hukum yang berhubungan dengan dua sebab (sabab) dan yang disebabi (musabbab), antara syarat dan disyarati (masyrut), antara penghalang (mani’) dan yang menghalangi (mamnu’), antara hukum yang sah dan hukum yang tidak sah. Ini disebut hukum wadh’i karena saling berhubungan dan berkaitan.
B. Macam-Macam Hukum Wadh’i
Hukum wadh’i itu terbagi menjadi lima macam yaitu, sebab, syarat, mani’, azimah dan rukhsah, sah dan batal.
1. Sebab
Sebab dalam bahasa Indonesia disebut “sebab”, secara etimologis artinya adalah “sesuatu yang memungkinkan dengannya sampai pada suatu tujuan”. Dari kata inilah yang dinamakan “jalan” karena bisa menyampaikan seseorang kepada tujuan. Secara terminologi sebab adalah sesuatu keberadaannya dijadikan syari’ (pembuat hukum) sebagai pertanda keberadaan suatu hukum, dan ketiadaan sebab sebagai pertanda tidak adanya hukum. Misalnya, Allah menjadikan perbuatan zina sebagai sebab ditetapkannya hukuman, karena zina itu sendiri bukanlah penyebab ditetapkannnya hukuman, tetapi penetapan hukuman itu adalah syari’. Semua tanda yang melahirkan hukum dan apabila hubungan antara tanda dan hukuman nampak cocok itu disebut dengan “’illat”. Tetapi apabila hubungan keduanya tidak cocok itu disebut sebab. Sebab secara garis besar ada dua macam, sebab yang termasuk perbuatan mukallaf dan yang berasal dari perbuatan mukallaf. Sebab yang termasuk perbuatan mukallaf seperti tibanya waktu sholat dan menimbulkan wajib shalat. Dan sebab yang berasal dari perbuatan mukallaf seperti pembunuhan secara sengaja merupakan sebab adanya hukum qishahs (hukuman yang setimpal dengan perbuatan). Sebab dari segi objek dibagi menjadi dua, yaitu;
a. Sabab al-waqti, seperti tergelincirnya matahari sebagai pertanda wajibnya shalat zhuhur, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam (QS. Al-Isra’: 78)

Dirikanlah shalat karena (telah) tergelincir matahari…

b. Sabab al-ma’nawi, seperti mabuk sebagai penyebab keharaman khamar, sebagaimana sabra Rasulullah saw:

Setiap yang memabukkan itu adalah haram. (H.R. Muslim, Ahmad ibn Hanbal dan Ashhab al-sunan).


Sumber: https://www.dosenpendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

An-nadb (sunnah)

An-nadb (sunnah)

Yaitu tuntutan dari syari’at untuk melakukan suatu perbutan, namun tuntutan itu tidak secara pasti. Jika dikerjakan mendapat pahala, dan apa bila ditinggalkan tidak akan mendapat hukuman.
Contohnya : Qs. Al baqarah ayat 282
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya…

Sunah dibagi menjadi beberapa macam, yaitu:

a) sunah mu’akkadah, yaitu perbuatan yang tidak wajib yang sering dilakukan oleh Rosul. Seperti shalat sunah qobliyah dan ba’diyah yang mengiringi shalat fardhu lima waktu.
b) sunah ghairu ma’akkadah, yaitu segala perbuatan yang tidak wajib kadang-kadang dikerjakan oleh rasul, kadang-kadang ditinggalkan. Seperti puasa senin kamis.
c) sunah al-zawaid yaitu kebiasaan srhari-hari sebagai manusia. Seperti cara makan, cara tidur, dan cara berpakaian.

3. Al- ibahah(mubah)
Yaitu pembebasan untuk memilih antara mengerjakan atau meninggalakan.
Contohnya : Qs. Al-Baqarah ayat 235
وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ
Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran…
4. Al-karahah (makruh)
Yaitu tuntutan untuk meninggalkan suatu perbuatan, tetapi apabila dikerjakan maka akan mendapat pahala.
Contoh : Qs. Al-Maidah ayat 101
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu…
Macam-macam makruh, yaitu:
a) makruh tanzih, yaitu perbuatan yang terlarang bila ditinggalkan akan diberi pahala tetapi bila dilakukan tidak berdosa dan tidak dikenakan siksa. Contoh : merokok, memakan makanan yang memiliki bau tidak sedap.
b) makruh tahrim, yaitu perbuatan yang dilakukan namun dasar hukumnya tidak pasti. Contoh : memakan daging ular.

5. AT-Tahrim (haram)
Yaitu suatu tuntutan untuk tidak mengerjakan suatu perbuatan dan apabila dilanggar akan mendapa hukuman (dosa).
Contohnya, Qs Al Maidah ayat 3
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi”.
Secara garis besar, haram dibagi kepada dua :
1. Haram karena perbuatan itu sendiri, atau haram karena zatnya, seperti membunuh, mencuri, dll.
2. Haram karena berkaitan dengan perbuatan lain, seperti : puasa ramadhan yang aasalnya wajib menjadiharam dikarenakan dengan berpuasa itu akan menimbulkan sakit yang mengancam keselamatan jiwa.


Sumber: https://www.gurupendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

romusha adalah

SEJARAH MODAL BANGSA INDONESIA PRA-KEMERDEKAAN

Modal bangsa Indonesia (masa penjajahan)

Ketika redaksi “Indonesia Merdeka” pada tahun1924 menulis sebuah pengantar yang berisi tentang, “Indonesia Merdeka telah menjadi suara pelajar Indonesia muda. Mungkin suara ini belum terdengar oleh penguasa, tetapi suatu waktu, suara itu pasti akan tertangkap. Suara itu tidak dapat diabaikan begitu saja, karena di belakangnya berdiri suatu kemauan yang keras untuk merebut kembali dan mempertahankan hak-hak tertentu, yakni agar dapat dibentuk suatu Negara Indonesia Merdeka, cepat atau lambat!”[1]

Anak-anak muda Indonesia telah merasakan pukulan dari kolonial dan rasial, membuat para pemuda yang belajar terpanggil karena menyadari bahwa mereka sebagai pengemban tugas untuk memberi perlindungan terhadap kemanusiaan. Kesadaran yang mendalam, bahwa kemerdekaan hanya dapat dicapai dengan segenap tenaga dan kekuatan diri. Hal ini membuat mahasiswa Indonesia mengesampingkan kepentingan mereka dan mengorbankan diri pribadi untuk mencapai kemerdekaan.[2]

Selain itu, langkah selanjutnya yang dipikirkan oleh pemuda-pemuda Indonesia adalah meyakinkan kepada seluruh masyarakat bahwa kita punya kekuatan di setiap daerah yang masing-masing mempunyai suku, ras, dan agama yang berbeda. Dengan moral yang mencerminkan sila pancasila, tertanam di setiap individu masyarakat Indonesia meyakini bahwa persatuan adalah kekuatan yang paling besar untuk meciptakan sebuah negara yang merdeka. Oleh sebab itu, nilai-nilai pancasila di ambil dari sikap moral yang ada di individu bangsa Indonesia. Dalam hal ini, nilai-nilai pancasila masih belum jelas batas-batas antara sila satu dengan sila lainnya. Masyarakat masih memahaminya sebagai nilai-nilai kehidupan yang harus dikejar, bukan prinsip-prinsip abstrak yang akan menjadi pedoman bangsa.[3]

Lalu muncullah himpunan Indonesia yang menyadari bahwa gerakan kebangsaan dapat mencapai banyak hal apabila faktor-faktor kekuasaan psikologis itu, yang merupakan tumpuan si penjajah dapat diruntuhkan.
1. Melawan polotik memecah-belah dan menguasai
Dengan adanya himpunan Indoneseia yang menimbulkan propaganda cukup menakuti para penguasa, terbukti dengan ditariknya majalah Indonesia Merdeka tahun 1925 dari kantor-kantor pos di Indonesia. Walaupun sudah disita, gagasan tentang persatuan Indonesia sudah menyebar mencapai berbagai lapisan masyarakat.
2. Memerangi usaha membiarkan masa Indonesia dungu
Memerangi usaha membiarkan Indonesia dungu merupakan tugas pergerakan nasional dan Tanah Air. Dengan menyebarluaskan prinsip-prinsip yang akan membebaskan rakyat banyak dar tirani mental polotik kolonial Belanda. Rakyat Indonesia harus diberi pandanga nyang luas soal pendidikan massa melalui sejarah, politik, dan lain-lain. Dengan keaadan psikis yang baik akan memperkuat dan meningkatkan kadar rakyat yang baik.


Sumber: https://belantaraindonesia.org/

pegunungan drakensberg

pegunungan drakensberg

Kebudayaan Peru Kuno

Peradaban di dataran pegunungan Andes yang terbentang sepanjang Amerika Selatan terdiri dari berbagai budaya yang berkembang dari dataran tinggi Colombia hingga gunung Atacama. Kebudayaan yang paling menonjol adalah kebudayaan Peru Kuno dan kebudayaan lainnya di sekitar Peru, seperti Tiahuanaco di Bolovia. Di lembah ayacucho, tepatnya di situs Pikimachay, hasil penelitian arkeologis mengungkapkan bukti keberadaan manusia di sana sejak 22.200 hingga 14.700 tahun yang lalu. Namun hasil tersebut masih diragukan dan periode yang lebih konservatif, yaitu 12.000 SM lebih diakui. Di situ Pikimachay ditemukan bukti budi daya tanaman, contohnya labu air, sejak 11.000 tahun yang lalu. Sisa-sisa tanaman mengindikasikan bahwa sebelum 3000 SM, bayam, kapas, labu, lucuma, dan kinoa sudah dibudidayakan di basin Ayacucho. Sejak 4000 SM, jagung dan kacang-kacangan mulai dibudidayakan. Sejumlah tulang-belulang marmot mengindikasikan peternakan hewan tersebut, dan kemungkinan besar Ilama mulai dibudidayakan sekitar 4300-2800 SM.
Di kawasan Buena Vista, bangunan observatium serupa kuil telah didirikan sejak 4200 tahun lalu. Bangunan tersebut mengandung ukiran yang elok serta parung seukuran manusia, terkesan unik karena kebudayaan di sekitarnya masih menciptakan relief dan dimensi pada periode itu. Sementara itu di situs Ventarron, Regin Lambayaqeu terdapat kuil berhias berusia 4300-2800 SM.
Sejauh penelitian arkeologis, peradaban tertua di belahan bumi barat pada umumnya, dan di Amerika Selatan, pada khususnya, adalah peradaban Norte Chico atau peradaban Caral Supe (3200-1800 SM) yang meninggalkan bukti arkeologis berupa pemukiman di pesisir Peru, termasuk pusat kota di Aspero dan Caral. Keberadaan quipu perbakala (media komunikasi orang-orang Andes) di Caral menandakan bahwa penggunaan benda tersebut sudah ada sejak dahulu kala. Piramida batu di situs tersebut diduga sezaman dengan Piramida Agung Giza. Di Norte Chico tidak ditemukan bukti pembangunan kubu bertahan atau tanda-tanda bekas pertempuran, tidak seperti kota-kota lainnya di pegunungan Andes.
Secara arkeologis, Norte Chico merupakan kebudayaan pra-keramik Periode Kuno Akhir era Pra-Colombus; peradaban tersebut tak meninggalkan keramik dan jejak-jejak kesenian yang ditinggalkan hampir tidak tampak. Prestasi mereka yang menakjubkan berupa arsitektur monumental, termasuk tumulus dan plaza melingkar yang terbenam. Bukti arkeologis mengindikasikan penggunaan teknologi tekstil dan kemungkinan besar ada pemujaan simbol-simbol dewa-dewi. Pemerintahan maju diduga pernah dibentuk untuk memimpin Norte Chico kuno.
2.2 Peradaban inca
Inca merupakan sebuah kelompok klan yang mula-mula mendiami daerah Peru. Menurut legenda, asal-usul suku bangsa Inca berawal dari sekelompok anak dewa matahari, yang berasal dari sebuah gua di sebelah tenggara kota Cuzco. Bangsa Inca telah mendiami daerah Cuzco sejak kira-kira tahun 1200. tetapi sejak penaklukan oleh kekuasaan Panchacuti dalam tahun 1438, bangsa Inca mulai memperluas wilayahnya dengan menaklukan daerah-daerah sekitarnya. Akhirnya mereka membentuk suatu wilayah kekuasaan besar dan luas yang membentang dari

 

auguste comte

PENERAPAN POLITIK ISLAM PADA ERA MODERN PERSPEKTIF IBN KHALDUN

Awal perjalanan Ibn Khaldun didunia politik

Nama lengkap Ibn Khaldun adalah Wali al-Din ‘Abd.al-Rahman ibn Muhammad ibn Abi Bakr Muhammad Al-Hasan ibn Khaldun, beliau lahir di Tunisia pada tanggal 1 Ramadhan 723 H (7 Mei 1332 M) dan wafat pada tanggal 19 Maret 1406 M. Ia berasal dari suku Arabia Selatan. Beliau mempunyai nenek moyang yang sejak abad ke-8 telah hijrah ke Spanyol dan telah menyaksikan perkembangan islam di Barat.[2]
Ibn khaldun terjun kedunia politik dimulai sebagai tukang stempel surat dalam pemerintahan Ibnu Tafrakin. Ketika ibnu tafrakin berkonflik dengan Abu Zaid, dan pemerintahannya berhasil ditaklukan. Konflik tersebut bermula pada sebuah intrik dan perebutan kekuasan, lalu Ibnu Khaldun melarikan diri ke Tlemeen membuat persekutuan sekaligus menyusn strategi buat menjatuhkan sultan Abu Inan, dengan kecerdasan Ibn Khaldun tak butuh selang waktu yang lama, kemudian ia diangkat sebagai skretaris sultan Abu Inan, selanjutnya Ibn Khaldun melibatkan dirinya ke dalam sebuah intrik politik, dimana beliau bekerjasama dengan rival Sultan Abu Inan, yakni Amir Abu Abdullah. Dalam intrik tersebut sultan Abu Inan mencium bau penghianatan, dan melahirkan sebuah petaka bagi Ibn Khaldun, lalu Ibn Khaldun dipenjarakan selama dua Tahun oleh sultan Abu Inan setelah persengkokolan politik dan kekuasaan Amir Abu Abdullah ditumpas habis oleh sultan Abu Inan.[3]

v Strategi Ibnu Khaldun terhadap politik Islam pada era klasik
“Dua tahun berlalu Ibn Khaldun mendekam dalam penjara, dan dibebaskan setelah sultan Abu Inan meninggal dunia. Abu Zayyan menggantikan kedudukan sultan Abu Inan, namun Wazir Al-Hasan Ibn Umar melakukan kudeta dan mendudukkan Al-Sa’id ibn Abi Inan sebagai putra mahkota boneka. Wazir Al-Hasan membunuh wazir-wazir lain yang menentangnya.
Melihat kecerdasan Ibn Khaldun dalam dunia politik, Wazir Al-Hasan mengembalikan tugas-tugas kenegaraan semula. Meskipun Ibn Khaldun pernah meminta izin pada Wazir Al-Hasan untuk pulang ke negerinya, wazir tidak mengizinkan dan tetap menugaskan Ibn Khaldun dalam pemerintahannya. Kekuasaan Wazir Al-Hasan juga tidak berlangsung lama, karena ia digulingkan oleh Manshur ibn Sulaiman dari Bani Marin di Maghribi jauh. Uniknya, Ibn Khaldun malah berbalik mengkhianati Wazir Al-Hasan yang telah berjasa kepadanya. Ia ikut serta dalam menggulingkan Wazir Al-Hasan untuk kemudian mengabdi kepada Manshur ibn Sulaiman. Ia menjadi sekretaris pemerintahan ibn Sulaiman.
Namun seperti halnya dengan Wazir Al-Hasan, pengabdian Ibn Khaldun kepada Ibn Sulaiman juga tidak berlangsung lama. Ia mulai main mata dengan Abu Salim ibn Abi Al-Hasan, salah seorang keturunan Abu Inan, yang sedang menyusun strategi bersama Ibn Marzuq untuk merebut kembali kekuasaan dari ibn Sulaiman. Ibn Khaldun tidak segan-segan bekerja sama dalam menggulingkan Ibn Sulaiman. Bahkan Ibn Khaldun sendir yang memberi masukan masukan apa yang harus dilakukan oleh Abu Salim terhadap Ibn Sulaiman. Usaha ini pun berhasil dan Abu Salim mengangkat Ibn Khaldun sebagai sekretaris negara. Ketika Abu Salim menjadi penguasa terjadi lagi pemberontakan di bawah pimpinan Wazir Umar ibn Abdullah. Sultan Abu Salim dipecatnya dan digantikan dengan Sultan Tasyifin. Akhirnya terjadi perselisihan dan sebagai jalan tengah Ibn Khaldun diizinkan keluar Fez, teapi tidak boleh ke Tunisia atau ke Tilmisani, karena dua wilayah ini merupakan pusat pemerintahan dinasti Hafsh Bani Abdul Wad. Akhirnya Ibn Khaldun pergi ke Andalusia.

Recent Posts

hak asasi dan kewajiban manusia

Hubungan Kerosulan Nabi Muhammad Dan HAM

Dalam pembahasan kita tentang HAM dalam diskursus klasik Islam sejak dari Piagam Madinah, Khutbah Haji Wada’, Mâqashid Sharî’ah/Dharûriyyât Khamsah dapat dilihat kesesuaian antara prinsip-prinsip HAM dalam Islam dan dalam DUHAM. Tercatat ada beberapa hak asasi manusia yang penyebutan selalu ada pada ketiga dokumen di atas, yaitu hak hidup atau hak perlindungan atas jiwa, kebebasan agama atau hak terhadap agama, hak
terhadap harta benda atau hak ekonomi. Hak-hak lainnya disebutkan dalam satu dokumen tapi tidak di dokumen lainnya adalah: hak kesetaraan dalam bidang hukum dan pemerintahan,
hak memperoleh jaminan keamanan, hak perempuan, hak anak atau keturunan, dan hak atas kehormatan diri dan hak privasi. Dengan demikian dapat disebutkan di sini pembahasan HAM dalam Hadits dan fiqih klasik telah merumuskan

hak-hak asasi manusia sebagai berikut:

1. Hak hidup
2. Kebebasan beragama atau hak atas agama
3. Hak ekonomi atau hak atas harta benda
4. Hak kesetaraan di bidang hukum dan pemerintahan 176
5. Hak untuk berkumpul dan berorganisasi
6. Hak memperoleh jaminan keamanan diri
7. Hak perempuan
8. Hak anak atau keturunan (termasuk hak bekeluarga)
9. Hak atas kehormatan diri dan privasi.
Dari analisis dokumen klasik Islam tentang HAM dapat kita simpulkan bahwa sebagian besar HAM dalam istilah modern baik hak-hak sipil dan politik maupun hak-hak ekonomi, sosial dan budaya telah tercakup dalam teks-teks klasik Islam baik yang berusumber dari Nabi saw maupun dari penafsiran kalangan ulama klasik. Kita dapat menegaskan bahwa HAM dalam Islam bukanlah wacana baru tapi wacana lama yang melekat dengan kehadiran Islam itu sendiri sejak pertama kali hadir di Makkah pada abad ke-6 Masehi. Hal ini dalam perspektif yang berbeda memperkuat klaim bahwa HAM adalah nilai-nilai universal yang berlaku di segala waktu dan tempat karena menjawab kebutuhan-kebutuhan dasar manusia sebagai manusia bukan sebagai kelompok identitas tertentu. Pengembangan rumusan HAM di zaman modern oleh masyarakat Barat tidak menjelaskan supremasi Barat atas peradaban lain. Tapi
mempertegas kekuasaan Tuhan yang menciptakan manusia dengan segala martabat kemanusiaannya yang suci. Pasalnya, kalau bukan masyarakat Barat yang mengembangkannya di dunia modern, maka masyarakat dari peradaban lain yang akan
mengambil peran itu. Pengembangan dalam arti perluasan penafsiran tentang pemenuhan, penghormatan dan perlindungan HAM di zaman modern harus dilihat sebagai konsekuensi kemajuan berpikir masyarakat manusia yang harus menjawab masalah-masalah kemanusiaan yang semakin kompleks. Memang sudah semestinya begitu. Namun membayangkan sekelompok kecil masyarakat Islam di daerah terpencil Makkah dan Madinah 15 abad lalu
mendeklarasikan Hak-hak asasi manusia tentu orang-orang itu sangatlah maju berpikirnya. Mengutip Robert N Bellah, seorang sosiolog Amerika, bahwa masyarakat Islam Madinah pada masa 177 Nabi saw terlalu cepat untuk menjadi modern (too early to be modern). Apa yang dapat dipahami dari ungkapan ini bagi umat Islam modern? Jelas bahwa berpikir jauh ke depan adalah karakter dasar Islam. Dengan begitu memperluas dan mengembangkan penafsiran atas konsep HAM dalam Islam, Maqâshid Sharî’ah dan Dharûriyât Khamsah perlu dilakukan. Karena itu memang bagian dari semangat Islam sendiri. Tentu dengan syarat tidak kebablasan sehingga mengorbankan spirit penghargaan terhadap martabat kemanusiaan itu sendiri. Lebih dari itu, keistimewaan masyarakat awal Islam di bawah kepemimpinan Nabi dan para sahabatnya bukan terletak pada konsep atau nilai-nilai HAM yang diucapkan
atau tercatat dalam dokumen, tapi lebih pada komitmen dan konsitensi mereka menjalankannya dalam kehidupan nyata. Jadi pertanyaannya bukan lagi apakah HAM sesuai dengan Islam ? Tapi apakah umat Islam siap menjalankan nilai-nilai HAM secara konsekuen dan konsisten? Nilai-nilai HAM modern yang mengedepankan kesetaraan dan non diskriminasi adalah semangat yang sejak awal telah ditiupkan oleh ajaran Islam.²


Sumber: https://scorpionchildofficial.com/