twittsev.com

Situs Web Pendidikan Terupdate

auguste comte

PENERAPAN POLITIK ISLAM PADA ERA MODERN PERSPEKTIF IBN KHALDUN

Awal perjalanan Ibn Khaldun didunia politik

Nama lengkap Ibn Khaldun adalah Wali al-Din ‘Abd.al-Rahman ibn Muhammad ibn Abi Bakr Muhammad Al-Hasan ibn Khaldun, beliau lahir di Tunisia pada tanggal 1 Ramadhan 723 H (7 Mei 1332 M) dan wafat pada tanggal 19 Maret 1406 M. Ia berasal dari suku Arabia Selatan. Beliau mempunyai nenek moyang yang sejak abad ke-8 telah hijrah ke Spanyol dan telah menyaksikan perkembangan islam di Barat.[2]
Ibn khaldun terjun kedunia politik dimulai sebagai tukang stempel surat dalam pemerintahan Ibnu Tafrakin. Ketika ibnu tafrakin berkonflik dengan Abu Zaid, dan pemerintahannya berhasil ditaklukan. Konflik tersebut bermula pada sebuah intrik dan perebutan kekuasan, lalu Ibnu Khaldun melarikan diri ke Tlemeen membuat persekutuan sekaligus menyusn strategi buat menjatuhkan sultan Abu Inan, dengan kecerdasan Ibn Khaldun tak butuh selang waktu yang lama, kemudian ia diangkat sebagai skretaris sultan Abu Inan, selanjutnya Ibn Khaldun melibatkan dirinya ke dalam sebuah intrik politik, dimana beliau bekerjasama dengan rival Sultan Abu Inan, yakni Amir Abu Abdullah. Dalam intrik tersebut sultan Abu Inan mencium bau penghianatan, dan melahirkan sebuah petaka bagi Ibn Khaldun, lalu Ibn Khaldun dipenjarakan selama dua Tahun oleh sultan Abu Inan setelah persengkokolan politik dan kekuasaan Amir Abu Abdullah ditumpas habis oleh sultan Abu Inan.[3]

v Strategi Ibnu Khaldun terhadap politik Islam pada era klasik
“Dua tahun berlalu Ibn Khaldun mendekam dalam penjara, dan dibebaskan setelah sultan Abu Inan meninggal dunia. Abu Zayyan menggantikan kedudukan sultan Abu Inan, namun Wazir Al-Hasan Ibn Umar melakukan kudeta dan mendudukkan Al-Sa’id ibn Abi Inan sebagai putra mahkota boneka. Wazir Al-Hasan membunuh wazir-wazir lain yang menentangnya.
Melihat kecerdasan Ibn Khaldun dalam dunia politik, Wazir Al-Hasan mengembalikan tugas-tugas kenegaraan semula. Meskipun Ibn Khaldun pernah meminta izin pada Wazir Al-Hasan untuk pulang ke negerinya, wazir tidak mengizinkan dan tetap menugaskan Ibn Khaldun dalam pemerintahannya. Kekuasaan Wazir Al-Hasan juga tidak berlangsung lama, karena ia digulingkan oleh Manshur ibn Sulaiman dari Bani Marin di Maghribi jauh. Uniknya, Ibn Khaldun malah berbalik mengkhianati Wazir Al-Hasan yang telah berjasa kepadanya. Ia ikut serta dalam menggulingkan Wazir Al-Hasan untuk kemudian mengabdi kepada Manshur ibn Sulaiman. Ia menjadi sekretaris pemerintahan ibn Sulaiman.
Namun seperti halnya dengan Wazir Al-Hasan, pengabdian Ibn Khaldun kepada Ibn Sulaiman juga tidak berlangsung lama. Ia mulai main mata dengan Abu Salim ibn Abi Al-Hasan, salah seorang keturunan Abu Inan, yang sedang menyusun strategi bersama Ibn Marzuq untuk merebut kembali kekuasaan dari ibn Sulaiman. Ibn Khaldun tidak segan-segan bekerja sama dalam menggulingkan Ibn Sulaiman. Bahkan Ibn Khaldun sendir yang memberi masukan masukan apa yang harus dilakukan oleh Abu Salim terhadap Ibn Sulaiman. Usaha ini pun berhasil dan Abu Salim mengangkat Ibn Khaldun sebagai sekretaris negara. Ketika Abu Salim menjadi penguasa terjadi lagi pemberontakan di bawah pimpinan Wazir Umar ibn Abdullah. Sultan Abu Salim dipecatnya dan digantikan dengan Sultan Tasyifin. Akhirnya terjadi perselisihan dan sebagai jalan tengah Ibn Khaldun diizinkan keluar Fez, teapi tidak boleh ke Tunisia atau ke Tilmisani, karena dua wilayah ini merupakan pusat pemerintahan dinasti Hafsh Bani Abdul Wad. Akhirnya Ibn Khaldun pergi ke Andalusia.

Recent Posts

hak asasi dan kewajiban manusia

Hubungan Kerosulan Nabi Muhammad Dan HAM

Dalam pembahasan kita tentang HAM dalam diskursus klasik Islam sejak dari Piagam Madinah, Khutbah Haji Wada’, Mâqashid Sharî’ah/Dharûriyyât Khamsah dapat dilihat kesesuaian antara prinsip-prinsip HAM dalam Islam dan dalam DUHAM. Tercatat ada beberapa hak asasi manusia yang penyebutan selalu ada pada ketiga dokumen di atas, yaitu hak hidup atau hak perlindungan atas jiwa, kebebasan agama atau hak terhadap agama, hak
terhadap harta benda atau hak ekonomi. Hak-hak lainnya disebutkan dalam satu dokumen tapi tidak di dokumen lainnya adalah: hak kesetaraan dalam bidang hukum dan pemerintahan,
hak memperoleh jaminan keamanan, hak perempuan, hak anak atau keturunan, dan hak atas kehormatan diri dan hak privasi. Dengan demikian dapat disebutkan di sini pembahasan HAM dalam Hadits dan fiqih klasik telah merumuskan

hak-hak asasi manusia sebagai berikut:

1. Hak hidup
2. Kebebasan beragama atau hak atas agama
3. Hak ekonomi atau hak atas harta benda
4. Hak kesetaraan di bidang hukum dan pemerintahan 176
5. Hak untuk berkumpul dan berorganisasi
6. Hak memperoleh jaminan keamanan diri
7. Hak perempuan
8. Hak anak atau keturunan (termasuk hak bekeluarga)
9. Hak atas kehormatan diri dan privasi.
Dari analisis dokumen klasik Islam tentang HAM dapat kita simpulkan bahwa sebagian besar HAM dalam istilah modern baik hak-hak sipil dan politik maupun hak-hak ekonomi, sosial dan budaya telah tercakup dalam teks-teks klasik Islam baik yang berusumber dari Nabi saw maupun dari penafsiran kalangan ulama klasik. Kita dapat menegaskan bahwa HAM dalam Islam bukanlah wacana baru tapi wacana lama yang melekat dengan kehadiran Islam itu sendiri sejak pertama kali hadir di Makkah pada abad ke-6 Masehi. Hal ini dalam perspektif yang berbeda memperkuat klaim bahwa HAM adalah nilai-nilai universal yang berlaku di segala waktu dan tempat karena menjawab kebutuhan-kebutuhan dasar manusia sebagai manusia bukan sebagai kelompok identitas tertentu. Pengembangan rumusan HAM di zaman modern oleh masyarakat Barat tidak menjelaskan supremasi Barat atas peradaban lain. Tapi
mempertegas kekuasaan Tuhan yang menciptakan manusia dengan segala martabat kemanusiaannya yang suci. Pasalnya, kalau bukan masyarakat Barat yang mengembangkannya di dunia modern, maka masyarakat dari peradaban lain yang akan
mengambil peran itu. Pengembangan dalam arti perluasan penafsiran tentang pemenuhan, penghormatan dan perlindungan HAM di zaman modern harus dilihat sebagai konsekuensi kemajuan berpikir masyarakat manusia yang harus menjawab masalah-masalah kemanusiaan yang semakin kompleks. Memang sudah semestinya begitu. Namun membayangkan sekelompok kecil masyarakat Islam di daerah terpencil Makkah dan Madinah 15 abad lalu
mendeklarasikan Hak-hak asasi manusia tentu orang-orang itu sangatlah maju berpikirnya. Mengutip Robert N Bellah, seorang sosiolog Amerika, bahwa masyarakat Islam Madinah pada masa 177 Nabi saw terlalu cepat untuk menjadi modern (too early to be modern). Apa yang dapat dipahami dari ungkapan ini bagi umat Islam modern? Jelas bahwa berpikir jauh ke depan adalah karakter dasar Islam. Dengan begitu memperluas dan mengembangkan penafsiran atas konsep HAM dalam Islam, Maqâshid Sharî’ah dan Dharûriyât Khamsah perlu dilakukan. Karena itu memang bagian dari semangat Islam sendiri. Tentu dengan syarat tidak kebablasan sehingga mengorbankan spirit penghargaan terhadap martabat kemanusiaan itu sendiri. Lebih dari itu, keistimewaan masyarakat awal Islam di bawah kepemimpinan Nabi dan para sahabatnya bukan terletak pada konsep atau nilai-nilai HAM yang diucapkan
atau tercatat dalam dokumen, tapi lebih pada komitmen dan konsitensi mereka menjalankannya dalam kehidupan nyata. Jadi pertanyaannya bukan lagi apakah HAM sesuai dengan Islam ? Tapi apakah umat Islam siap menjalankan nilai-nilai HAM secara konsekuen dan konsisten? Nilai-nilai HAM modern yang mengedepankan kesetaraan dan non diskriminasi adalah semangat yang sejak awal telah ditiupkan oleh ajaran Islam.²


Sumber: https://scorpionchildofficial.com/

nabi sebagai penyempurna akhlak mulia

Membangun Manusia yang Mulia dan Bermanfaat.

Nabi Muhammad saw. mengajarkan tentang persamaan derajat manusia. Nabi Muhammad saw. jugamengajarkan agar penyelesaianmasalah tidak boleh dilakukan dengan cara kekerasan, namun harus dilakukan dengan cara-cara yang damai dan beradab.

Hal ini tercermin dalam tindakan Nabi Muhammad Saw. ketika mendamaikan masyarakat Mekah saat akan meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya. Nabi Muhammad mengajarkan agar manusia bekerja keras untuk dapat memenuhi kebutuhannya, namun ketika menjadi kaya, dia harus mengasihi yang miskin dengan cara menyisihkan sebagian hartanya untuk mereka. Orang yang kuat harus mengasihi yang lemah. Orang tua harus menyayangi anaknya, baik anak itu laki-laki maupun perempuan. Sebaliknya, anak harus menghormati dan berbakti kepada orang tuanya walaupun mereka sudah sangat tua. Ketika antar anggota masyarakat dapat memahami hak dan kewajibannya, saling menghormati, menghargai, dan mengasihi, akan menjadi masyarakat yang damai, aman, tenteram, dan sejahtera. Terbukti, saat ini, keadaan Masyarakat Mekah dan Madinah menjadi masyarakat yang sangat beradab, damai, sejahtera, dan mengalami kemajuan yang pesat. Semua itu diawali dengan ketakwaan mereka kepada Allah Swt dan senantiasa berpegang teguh kepada ajaran Nabi Muhammad Saw.

4. Memberi Kabar Gembira dan Peringatan.

Rasulullah Saw memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman kepada Allah Swt, serta mengikuti beliau. Sebaliknya beliau mengingatkan kepada mereka yang berbuat kejahatan, kemusyrikan, dan kemaksiatan agar menghentikan perbuatan-perbuatan yang terlarang itu, pahamilah Firman Allah Swt dalam Al-Qur’an :

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا ۚ وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ

“Sungguh, Kami mengutus engkau dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada satupun umat melainkan di sana telah datang seorang pemberi peringatan.” (QS. Al-Fatir :24)


Sumber: https://swatproject.org/

BIOGRAFI DAN PERAN CUT NYAK DIEN

BIOGRAFI DAN PERAN CUT NYAK DIEN

BIOGRAFI DAN PERAN CUT NYAK DIEN

Cut Nyak Dien adalah seorang pahlawan Nasional wanita Indonesia yang berasal dari Aceh.

Cut Nyak Dien lahir di Lampadang, yaitu pada tahun 1848 dari keluarga bangsawan yang agamis di Aceh Besar. Ayahnya yang bernama Teuku Nanta Setia adalah seorang ulubalang VI Mukim yang juga mempunyai keturunan dari Datuk Makhudum Sati perantau dari Minangkabau. Ayahnya merupakan seorang keturunan Minangkabau. Sedangkan ibunya adalah putri ulubalang Lampagar.
Cut Nyak Dien merupakan anak yang cantik dan taat beragama. Ia mendapatkan pendidikan agama dari orang tua dan guru agama. Pengetahuan mengenai rumah tangga, baik memasak maupun cara menghadapi atau melayani suami dan hal-hal yang menyangkut kehidupan sehari-hari, didapatkan dari ibunda dan kerabatnya. Karena pengaruh didikan agama yang kuat, dan didukung suasana lingkungannya, Cut Nyak Dien memiliki sifat tabah, teguh pendirian dan tawakal. Cut Nyak Dien dibesarkan dalam lingkungan suasana perjuangan yang amat dahsyat, yaitu suasana perng Aceh.Ketika usia Cut Nyak Dien menginjak 12 tahun, ia dinikahkan dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga putra dari ulubalang Lam Nga XII pada tahun 1862. Kehidupan pasangan ini berjalan baik dan harmonis. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. Pada saat perang Aceh melawan Belanda, suami Cut Nyak Dien, yaitu Teuku Cek Ibrahim turut aktif di garis depan sehingga suami Cut Nyak Dien merupakan tokoh peperangan di daerah Mukim VI.
Cut Nyak Dien mempunyai peran sangat penting dalam perjuangan dan perlawanan rakyat Aceh melawan kolonialisme Belanda. Keterlibatan Cut Nyak Dien dalam perang Aceh nampak sekali ketika terjadi pembakaran terhadap Masjid Besar Aceh. Bertahun-tahun peperangan kian berkecamuk. Namun, karena keunggulan Belanda dalam hal persenjataan membuat satu per satu benteng pertahanan Aceh berjatuhan, termasuk Kuta (benteng) Lampadang. Karena terdesak Cut Nyak Dien beserta keluarganya terpaksa mengungsi. Pada pertempuran di Sela Glee Tarun, Teuku Ibrahim Lamnga gugur, yang konon hal ini terjadi karena adanya pengkhianatan dari Habib Abdurrahman. Meski kematian suaminya menimbulkan kesedihan yang dalam bagi Cut Nyak Dien, tapi ini tak membuatnya murung dan mengurung diri. Tetapi sebaliknya, semangat juangnya kian berkobar. Sebagai janda muda dengan seorang anak, ia tetap ikut bergerilya melawan Belanda. Menurut pendapat orang yang dekat dengannya, Cut Nyak Dien pernah bersumpah hanya akan menikah dengan orang yang mau membantunya dalam melawan Belanda. Kehadiran sosok Teuku Umar yang juga adalah seorang pemimpin perjuangan yang gagah berani, sangatlah berarti bagi rencana perjuangan Cut Nyak Dien. Meski keduanya masih saudara sepupu, tetapi keduanya baru bertemu saat acara pemakaman suami Cut Nyak Dien. Karena sama-sama terikat Sabilillah maka pasangan ini kemudian menikah pada tahun 1878 dan dikaruniai seorang anak.
Selama Cut Nyak Dien mendampingi Teuku Umar banyak hal yang dapat dijadikan sebuah pengalaman yang menarik. Teuku Umar adalah sosok pejuang rakyat yang unik, ia dicintai rakyat tetapi ia pernah dibenci juga. Taktik Teuku Umar dalam peperangan melawan Belanda tergolong “aneh” bagi orang lain dan juga Cut Nyak Dien. Teuku Umar pernah membantu Belanda atas permintaan Gubernur Loging Tobias, untuk membebaskan kapal Inggris yang terdampar kemudian disita oleh Teuku Imam Muda Raja Tenom. Namun pada saat itu terjadi penyerangan terhadap awak kapal yang dilakukan oleh anak buah Teuku Umar. Sesudah peristiwa tersebut Teuku Umar kembali ke Lampisang dan ia tidak mau bekerja sama lagi dengan Belanda. Karena itu Teuku Umar kembali bersatu dengan pejuang Aceh, tetapi pejuang Aceh tidak yakin akan tekad baik Teuku Umar.

Recent Posts

KONDISI OMAN DI ERA MODERN

KONDISI OMAN DI ERA MODERN

Pada tahun 796, Oman dikuasai oleh pemerintahan Imam Ibadiyah yang berusaha mempertahankan sistem kesukuan, pertanian dan mengintegrasikan warga nomadik dan warga pemukiman. Ibadiyah berusaha memperluas jaringan perdagangan Oman dengan cara mendirikan koloni dagang di Basrah, Siraf, Aden, India dan wilayah pesisir Afrika Timur.
Portugis memasuki Oman pada abad ke-16 setelah Vasco da Gama berhasil memasuki India. Kemudian Portugis memerintahkan Alfonso de Albuquerque untuk mendirikan sebuah imperium di Timur. Alfonso berpendapat bahwa untuk bisa mendirikan sebuah imperium terlebih dahulu harus menguasai lautan yang menghubungkan antara Timur dan Barat, yaitu Oman sebab posisinya yang berada di mulut Teluk Persia. Pendudukan Portugis atas Oman terjadi pada tahun 1507 dan berakhir pada tahun 1650.
Namun pada abad ke-19, Mesir mengambil alih lalu lintas Samudera Hindia melalui rute perdagangan Laut Merah. Akibatnya perdagangan bangsa Oman dibawah dominasi Ibadiyah hancur. Kemudian Oman berusaha bangkit dengan cara mengintegrasikan masyarakatnya menjadi masyarakat tunggal disertai pengakuan Ibadiyah sebagai mazhab resmi negara yang akan mengatur hukum perdata dan pidana di Oman.

Oman merupakan satu-satunya negara yang paling koservatif di kawasan Teluk Persia.

Kebangkitan kembali Oman terjadi pada abad ke-17 dan ke-18 ketika Oman berhasil mengusir Portugis keluar dari kawasan Afrika timur. Selain itu pada abad ke-19, para sultan dari dinasti Bu Sa’id pun berhasil memperkuat kembali jaringan perdagangan mereka. Oman memperbaiki kembali kontrol atas Zanzibar dan beberapa kota lainnya di Afrika Timur.
Pada tahun 1749 Ahmad ibn Sa’id terpilih menjadi khalifah Oman dan mendirikan dinasti al-Bu Sa’id yang memerintah Oman hingga sekarang. Disamping itu dominasi Portugis yang telah hilang kemudian digantikan oleh Inggris. Langkah Inggris dalam usaha untuk menguasai Oman terhalang oleh adanya niat yang sama dari Perancis. Sehingga hampir satu abad lamanya Inggris berusaha membuat perjanjian dagang dengan Oman namun baru berhasil pada tanggal 31 Mei 1839. Oman berada sepenuhnya dalam penguasaan protektorat Inggris pada tahun 1854, ketika sultan Oman, Sa’id ibn Sulthan (1791-1856), menghadiahkan pulau Kuria Muria kepada Inggris.
Pada tahun 1955, Sa’id ibn Taymur (1932-1970) dengan bantuan Inggris, merampas seluruh wilayah negeri dibawah pemerintahannya. Pola pemerintahan yang sempit dan tiranis memancing sejumlah gerakan oposisi. Salah satunya ialah Front Pembebasan Masyarakat Oman dibentuk tahun 1965 oleh para pelajar dan The Dhofar Liberation Front mengorganisir perlawanan terhadap pemilikan tanah pribadi para sultan. Sa’id ibn Taymur mampu mempertahankan keutuhan kekuasaan atas negeri ini lantaran jasa para perwira militernya dari Inggris dan lantaran kebijakan isolasi Oman dari dunia luar.
Tahun 1970-an, putranya yang bernama Qabus ibn Sa’id naik tahta untuk membentuk sebuah rezim yang lebih modern. Ia menumpas semua kekuatan perlawan yang dilakukan oleh oposisi. Selain itu, ketika Qabus mengambil kontrol atas pemerintahan ia kemudian membuka isolasi Oman dari dunia luar. Ia melakukan pembangunan dan pembaruan di segala sektor seperti jalanan, sekolah-sekolah, kesehatan, komunikasi, layanan keuangan, sumber air, dan perumahan. Ia berkeyakinan bahwa kebijakan baru tersebut dapat mentransformasikan Oman kearah kemajuan.
Citra Oman segera berubah sejak ditemukannya ladang minyak dan adanya ambisi yang kuat dari sultan Qabus untuk mengakhiri isolasi tersebut. Oman menjadi salah satu negara maju dengan perkembangan yang pesat dalam berbagai bidang. Kesejahteraan sosial di negara yang beribukota di Muskat itu mengandalkan pengusaha dan jaringan kerabat. Jika ada masyarakat yang berusia lanjut, memiliki keterbatasan fisik serta mengalami keterbatasan ekonomi maka akan dirawat oleh jaringan kerabat.


Sumber: https://bengkelharga.com/

SEJARAH MASUKNYA ISLAM KE OMAN

SEJARAH MASUKNYA ISLAM KE OMAN

Sebelum datangnya Islam, Oman termasuk kedalam bagian jaringan perdagangan kerajaan Sasania di Persia yang membentang dari Teluk Persia hingga ke Sindu. Disamping mendapatkan keuntungan dari perdagangan, Oman juga menjadi masyarakat pertanian yang sangat maju sebab berada di wilayah Arab yang subur. Pengaruh Persia memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan lingkungan budaya Oman. Persia mengenalkan pengembangan sistem irigasi falaj untuk menggantikan sistem irigasi sederhana yang sebelumnya dilakukan. Pengembangan ini dilakukan kedalam dua tahap, yang pertama meliputi sisi barat dari pegunungan di utara Oman ke Jauf dan Sharqiyah serta yang kedua di lembah-lembah gunung khususnya di Ghadaf.

Selama periode Sasania,

terutama setelah dikembangkannya sistem irigasi yang lebih maju maka pengaruh perdagangan laut meningkat dan jalur-jalur perdagangan dikembangkan dengan Afrika Timur dan China menggunakan kapal-kapal. Kapal-kapal tersebut menggunakan pelabuhan Apologas di Mesopotamia Selatan untuk berlayar hingga menuju ke India dan China. Bahkan pelaut-pelaut Oman memainkan peranan penting dalam membawa barang-barang dagangan dari Afrika Timur, India, China dan melakukan kontak dengan wilayah-wilayah lain melalui lautan.
Islam masuk ke Oman pada tahun 630 M ketika Nabi Muhammad saw mengutus Amr ibn al-‘Ash menemui Julanda Abd dan Jaifar untuk mengajak mereka menganut kepercayaan baru. Hal ini dilakukan setelah adanya persetujuan syekh-syekh Arab dan pengiriman seorang delegasi ke Madinah. Amr bin al-‘Ash tetap berada di Oman untuk mengajarkan masyarakat tentang Islam dan mendorong mereka untuk melawan terhadap Persia. Orang-orang Persia yang mengalami kekalahan kemudian memutuskan berdamai dengan orang-orang Arab. Mereka menarik iri ke Iran sehingga Oman menjadi milik muslim dan orang-orang Arab. Kemudian kebijakan Rasulullah saw yang diserahkan kepada pemerintahan muslim dengan sangat mudah diterapkan di Oman, terutama yang berkaitan dengan zakat. Karena zakat yang terkumpul di wilayah Oman tetap dibiarkan didistribusikan kepada penduduk miskin dan tidak diserahkan ke pemerintahan pusat di Madinah.


Sumber: https://ngegas.com/

Kebijakan Bani Umayyah di dalam dan luar Syria

Kebijakan Bani Umayyah di dalam dan luar Syria

Dinasti Bani Umayyah berlangsung kurang lebih 90 tahun, Ibu kota Negara dipindahkan oleh Muawiayah dari Madinah ke Damaskus, tempat ia berkuasa sebagai gubernur sebelumnya. Walaupun dengan menggunakan berbagai cara dan strategi yang kurang baik yaitu dengan cara kekerasan, diplomasi dan tipu daya serta tidak dengan pemilihan yang demokrasi Muawiyah tetap dianggap sebagai pendiri Dinasti Umayyah yang telah banyak melakukan kebijakan-kebijakan yang baru dalam bidang politik, pendidikan, pemerintahan dan lain sebagainya.

Berikut beberapa kebijakan yang pada masa Daulah ini berkuasa:

1. Memindahkan ibu kota dari Madinah ke Damaskus (syria)
Telah dibahas sekilas di atas bahwa Muawiyah memindahkan ibu kotanya setelah ia menjabat sebagai khalifah. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi tindakan-tindakan yang timbul daari reaksi pemebentukan kekuasaan, khususnya dari kelompok yang tidak menyukainya.
2. Pemisahan kekuasaan
Pemisahan kekuasaan antara kekuasaan agama (Spiritual power) dengan kekuasaan politik (temporal power). Muawiyah bukanlah seorang yang ahli dalam soal-soal keagamaan, maka masalah keagamaan diserahkan kepada para ulama.
3. Merubah Sistem Pemerintahan Menjadi Monarki Absolut
Pada awal kepemimpinan Muawiyah masih menerapkan kekuasaan secara dekomokratis, tetapi setelah berjalannya waktu Muawiyah mengubah model pemerintahan menjadi monarki atau turun temurun. Hal ini mendapat pengaruh oleh sistem monarki dari Persia dan Bizantium. Dengan adanya perubahan tersebut menunjukkan bahwa Muawiyah telah memulai mengubah pemerintahan dari demokratis menjadi dinastian, yang segala bentuk kekuasaan mutlak ada di tangannya.
Tidak ada lagi suksesi kepemimpinan berdasar musyawarah dalam menentukan seorang pemimpin baru. Muawiyah telah mengubah model kekuasaan menjadi model putra mahkota. Sehingga tidak ada ruang dan kesempatan bagi orang di luar keturunan Muawiyah unutk memimpin pemerintah umat Islam.
4. Penataan Administrasi
Pada saat menjabat sebagai khalifah salah satu strategi yang dilakukan Muawiyah adalah meningkatkan pengelolaan administrasi negara yang kemudian disempurnakan oleh khalifah-khalifah selanjutnya. Berikut ini beberapa diwan yang dibentuk:
a. Diwan al Rasul yaitu semacam sekretaris jenderal yang berfungsi untuk mengurus surat surat negara yang ditujukan kepada para gubernur atau menerima surat-surat mereka;
b. Diwan al Kharraj yang berfungsi mengurus pajak
c. Diwan al Barid yang berfungsi sebagai penyampai berita-berita rahasia daerah kepada pemerintah pusat
d. Diwan al Khatam yang berfungsi untuk mencatat atau menyalin peraturan yyang dikeluarkan khalifah
e. Diwan Musghilat yang berfungsi untuk menangani berbagai kepentingan umum.

Recent Posts

Faktor – Faktor kemunduran Turki Utsmani

Faktor – Faktor kemunduran Turki Utsmani

Keruntuhan Turki Utsmani dimulai setelah diangkatnya Sultan Salim II (1566-1574 M). Hal ini ditandai engan melemahnya semangat perjuangan prajurit Utsmani yang menyebabkan sejumlah kekalahan dalam pertempuran menhgghadapi musuh-musuhnya. Pada tahun 1663, Tentara Utsmani menderita kekalahan dalam penyerbuan Hungaria. Tahun1676 Turki kalah dalam pertempuran di Mohakez, Hungaria dan dipaksa menandatangani perjanjian karlowits pada tahun 1699 yang didalamnya berisi pernyataan mengenai seluruh wilayah Hungaria, sebagian besar Slovenia dan Croasia kepada penguasa Venetia.
Pada tahun 1774, penguasa Utsmani, Abdul Hamid menandatangani perjanjian dengan Rusia yang berisi pengakuan kemerdekaan Crimenia dan penyerahan benteng-benteng pertahanan di laut hitam serta memberikan izin kepada Rusia untuk melintasi selat antara laut hitam dengan laut putih.
Selain itu terdapat beberapa wilayah kekuasaan yang melancarkan pemberontakan akibat sadar akan mulai menurunnya kekuasaan Turki Utsmani. Gerakan separatisme terus gencar hingga Abad ke-19 dan ke-20. Ditambah dengan munculnya gerakan modernisasi politik di pusat pemerintahan, Kerajaan Turki akhirnya berakhir dengan berdirinya Republik Turki pada tahun 1924 M, dan mengangkat Mustafa Kemal Attaturk sebagai presiden pertama di Republik Turki.
Apabila dikategorikan,

maka faktor-faktor keruntuhan kerajaan Utsmani yaitu :

a. Faktor Internal :
 Karena luasnya wiayah kekuasaan dan Kelemahan para penguasa
 Heterogenitas penduduk dan agama
 Kehidupan istimewa yang bermegahan
 Merosotnya perekonomian negara

b. Faktor Eksternal
 Munculnya gerakan nasionaisme dari wilayah yang tunduk dengan kekuasaan Turki
 Terjadinya kemajuan Teknologi di barat khusunya dalam bidang persenjataan

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kerajaan Turki Utsmani merupakan kerajaan bercorak islam yang berkuasa cukup lama. Kerajaan tersebut mengalami dinamika perjalanan dari awal perkembangan sebuah daerah kecil hingga menjadi kerajan yang besar. Kerajaan Turki Utsmani memiliki kebijakan ekspansionisme yang mana membuat kerajaan ini lebih condong kemiliteranya. Berkat strategi dan dukungan militer yang kuat, kerajaan ini mampu menguasai berbagai benua. Sayangnya dalam hal ilmu engetahuan kurang begitu berkembang karena beberapa factor. Kerajaan ini juga mengalami kemunduran setelah menikmati masa kejayaan, hal itu dimulai sejak wafatnya Sultan Sulaiman Al Qanuni. Kemunduran kerajaan ini dipicu oleh factor intern dan factor ekstern.


Sumber: https://vds.co.id/

Sejarah Berdirinya Dinasti Turki Utsmani

Sejarah Berdirinya Dinasti Turki Utsmani

Dinasti Turki utsmani

merupakan dinasti yang menjadikan islam eksis kembali di abad ke 13 M. Pada Awalnya bangsa Turki mempunyai dua dinasti. Pertama, dinasti Turki Saljuk, dan kedua, dinasti Turki Utsmani. Akan tetapi pada akhirnya kerajaan Turki Saljuk hancur oleh serangan pasukan mongol, yang nantinya merupakan momen terbentuknya dinasti Turki Utsmani.
Ketika masih berupa kelompok suku, Turki Utsmani dipimpin oleh Ertoghrol bin Sulaiman. Pada saat serangan Mongol mereda, ia bersama Sulaiman menyeberangi sungai Eufrat. Akan tetapi yang terjadi justru Ayah dari Ertogrol tenggelam dan ertoghrol melanjutkan perjalanannya menuju Asia Kecil.
Ertoghtol dan kelompoknya mengabdikan diri kepada Dinasti Saljuk yang saat itu dipimpin oeh Sultan Alaudin II. Ketika terjadi sebuah penyerangan oleh Byzantium, Pasukan Turki Ertogrhol membantu peperangan hingga Sultan Alaudin II mencapai kemenangan. Oleh sebab itu, Ertoghrol diberi sejumlah daerah sebagai imbalan jasannya.
Ditahun 1288 Ertoghrol meninggal dunia, kepemimpinanpun dianjutkan oleh anaknya yang bernama Utsman. Utsman juga ikut mengabdikan dirinya kepada Dinasti Saljuk. Utsman juga banyak berjasa terhadap kekuasaan Dinasi saljuk, yang mana hal itu membuat Sultan Alaudin II semakin simpati dan memperlakukan Utsman secara istimewa.
Bangsa Mongol menyerang kekuasaan Saljuk ditahun 1300 dan membuat Sultan Saljuk terbunuh. Sultan saljuk meninggal dan tidak memiliki penerus. Akhirnya Utsman mengambil alih kekosongan dengan memerdekakan daerah-daerah Saljuk serta memproklamirkan wilayahnya dengan sebutan Kesultanan Utsmani.
Dalam perjalanannya, kerajaan Utsmani mampu berkembang menjadi besar berkat ekspansinya ke berbagai wilayah. Hal ni tentunya juga didukung ole militer yang kuat dan siap siaga.
Puncak kejayaan Turki Utsmani terjadi pada masa kepemimpinan sultan Sulaiman I yang bergelar Al Qanuni berkat kebijakannya yang berhasil membuat undang-undang. Ia melakukan berbagai pembaruan.
Meski di bidang meliter begitu maju, ilmu pengetahuan tidak banyak berkembang karena beberapa factor, seperti adanya kefanatikan mahdzab, ditutupnya pintu ijtihad, dan lain sebagainya.


Sumber: https://pss-sleman.co.id/

Neal Roese (1977),

Pemikiran Konterfaktual

Misalnya Anda melaksanakan ujian penting; ketika Anda menerima hasilnya, nilainya adalah C —jauh lebih rendah dari yang Anda harapkan. Apa yang ada di benak Anda mengenai nilai Anda itu? Jika Anda seperti kebanyakan orang, Anda mungkin dengan cepat mulai membayangkan “apa yang akan terjadi seandainya…” yaitu mendapat nilai yang lebih tinggi —selain pemikiran tentang apa yang seharusnya perlu dilakukan agar dapat memperoleh hasil yang lebih baik. “Seandainya saya belajar lebih giat, atau datang ke kelas lebih sering”, Anda mungkin berpikir seperti ini. Kemudian, Anda mungkin mulai membuat perencanaan untuk bisa lebih baik pada ujian berikutnya.

Pemikiran tentang apa yang akan terjadi seandainya —dikenal dalam psikologi sosial sebagai pemikiran konterfaktual (counterfactual thinking) —muncul dalam berbagai situasi, tidak hanya pada situasi yang mengecewakan. Berpikir dengan meninjau kembali bisa melibatkan bayangan mengenai kemungkinan yang lebih baik (upward counterfactuals) atau mengenai kemungkinan yang lebih buruk (downward counterfactuals) dari yang kita alami.

Ketika memikirkan kemungkinan yang lebih baik daripada yang sebenarnya terjadi, hal ini berdekatan dengan penyesalan. Penyesalan semacam itu tampaknya lebih kuat intensitasnya ketika melibatkan hal – hal yang tidak kita lakukan tapi berharap kita telah melakukannya, dibandingkan dengan hal – hal yang sebenarnya telah kita lakukan tapi hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita (Gilovich && Medvec, 1994).

Mengapa terjadi seperti ini? Di antaranya karena ketika berpikir tentang hal – hal yang telah kita lakukan namun hasilnya buruk, kita tahu apa yang telah terjadi dan menemukan rasionalisasi atau alasan bagi hasil buruk tersebut. Namun ketika kita berpikir bahwa kita telah kehilangan kesempatan, situasinya menjadi sangat berbeda. Dengan berjalannya waktu, perlahan – lahan kita tidak lagi mengecilkan arti faktor – faktor penghambat kinerja pada waktu itu —faktor – faktor ini menjadi semakin kurang penting. Lebih buruk lagi, kita cenderung untuk membayangkan keuntungan yang menyenangkan yang akan kita peroleh, seandainya kita melakukan hal – hal yang seharusnya kita lakukan. Akibatnya : Semakin lama kita menyesal maka penyesalan tersebut kita semakin kuat dari waktu ke waktu dan dapat menghantui kita seumur hidup

(Medvec, Madey, & Gilovich, 1995).

Yang menarik, temuan terkini mengindikasikan bahwa orang – orang yang memulai bisnis mereka sendiri -wiraswastawan- memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk terlibat dalam pemikiran konterfaktual dan lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami penyesalan terhadap kehilangan kesempatan dibanding orang – orang lain (Baron, 2000). Ternyata, mereka percaya bahwa hilangnya kesempatan tidak berpengaruh : akan selalu ada kesempatan baru di tempat lain. Sejalan dengan ini, mereka tidak menghabiskan terlalu banyak waktu memikirkan apa yang akan terjadi seandainya mereka telah melakukan hal tertentu: mereka terlalu sibuk memikirkan apa yang akan datang!

Namun ini bukan satu – satunya efek dari konterfaktual. Seperti yang dilihat oleh Neal Roese (1977), psikolog sosial yang telah melakukan berbagai penelitian dapat berakibat pada banyak hal, di antaranya menguntungkan dan lainnya merugikan. Contohnya, tergantung pada fokus, pemikiran konterfaktual dapat berakibat pada peningkatan atau penurunan suasana hati saat ini. Jika individu membayangkan kemungkinan yang lebih baik, membandingkan hasil saat ini dengan kemungkinan yang lebih baik, hasilnya akan berupa perasaan tidak puas atau iri yang kuat, khususnya jika mereka merasa tidak mampu mencapai hasil yang lebih baik pada waktu yang akan datang (Sanna, 1977). Para atlet olimpiade yang memenangkan medali perak namun membayangkan memenangkan medali emas mengalami reaksi seperti itu (Medvec, Madey & Gilovich, 1995).

Selain itu, apabila individu membandingkan hasil mereka saat ini dengan kemungkinan yang lebih buruk, atau bila mereka mempertimbangkan berbagai cara agar dapat menghindari hasil yang mengecewakan dan memperoleh hasil yang positif, mereka dapat mengalami perasaan puas atau penuh harapan. Reaksi semacam itu ditemukan pada atlet – atlet olimpiade yang memenangkan medali perunggu yang kemudian membayangkan bagaimana rasanya bila ia tidak memenangkan medali sama sekali (misalnya dalam Gleicher, dll, 1995). Kesimpulannya, pemikiran konterfaktual dapat secara kuat berpengaruh terhadap kondisi afek kita (Medvec & Savitsky, 1997).

Recent Posts