twittsev.com

Situs Web Pendidikan Terupdate

Pendidikan

Pengertian Lembaga Sosial

Untuk pembahasan kali ini, kami akan mengulas tentang Panti Sosial terkait dari segi pengertian, ciri, fungsi, jenis dan jenisnya, untuk lebih lengkapnya dan untuk mengetahuinya simak ulasannya di bawah ini.

Pengertian Ilmu Sosial

Lembaga sosial adalah jenis lembaga yang memiliki proses dan prosedur berbeda dalam hubungan interpersonal, yang diselenggarakan sepanjang kehidupan sosial dengan tujuan untuk mencapai ketertiban dalam kehidupan interpersonal.

Papan sosial dalam bahasa Inggris adalah lembaga sosial, papan sosial juga diartikan sebagai tempat komunitas.

Ini karena institusi sosial mencerminkan perilaku setiap anggota masyarakat. Pandangan lain adalah bahwa tatanan sosial merupakan suatu sistem tingkah laku dan hubungan yang menitikberatkan pada aktivitas berbagai kebutuhan khusus dalam masyarakat.

Baca Juga Artikel Terkait: Memahami Kelembagaan Ketahanan Nasional Indonesia

Sedangkan menurut panti sosial Koentjaraningrat merupakan unit norma khusus yang menyebarkan beberapa tindakan khusus yang memotivasi kebutuhan manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

Sumber: blog.malavida.co.id

Memahami Lembaga Sosial Oleh Para Ahli

Berikut beberapa pengertian lembaga sosial menurut para ahli, di antaranya adalah:

1. Oleh Paul Horton dan Chester L. Hunter
Pranata sosial adalah sistem norma dan hubungan sosial yang mengintegrasikan nilai-nilai dan prosedur tertentu dalam kerangka kebutuhan dasar masyarakat.

2. Oleh Peter L. Berger
Pranata sosial adalah tata cara yang dilakukan oleh manusia dengan pola tertentu dan dipaksakan dengan cara yang sesuai dengan kepentingan masyarakat.

3. Menurut Walikota Polak
Lembaga sosial adalah kompleks atau sistem aturan dan adat istiadat yang menjaga nilai-nilai penting.

4. Oleh Hamilton
Pranata sosial yang menjadi pedoman hidup kelompok, pelanggarnya akan dikenakan berbagai sanksi.

5. Oleh Robert Maclver dan C.H. halaman
Institusi sosial adalah prosedur atau prosedur yang telah dibuat agar hubungan interpersonal yang digabungkan ke sekelompok orang.

6. Oleh Leopold Von Wiese dan Becker
Lembaga sosial merupakan jaringan proses antara individu dan kelompok yang dapat menjaga hubungan tersebut serta pola yang sesuai dengan kepentingan dan kepentingan individu dan kelompok.

7. Menurut Koenjaraningrat
Institusi atau sistem sosial tindakan dan hubungan yang berfokus pada aktivitas untuk mencapai kompleksitas tertentu dalam kehidupan manusia.

8. Menurut Soerjono Soekanto
Institusi sosial atau seperangkat norma dari semua tingkatan yang mengubah kebutuhan dasar kehidupan masyarakat.

Lembaga sertifikasi

Lembaga sertifikasi

Lembaga sertifikasi

Lembaga sertifikasi

Lembaga sertifikasi

4.1.1 Kebijakan, prosedur, dan administrasi lembaga sertifikasi harus terkait dengan kriteria sertifikasi, harus
jujur dan wajar terhadap seluruh calon dan harus memenuhi semua persyaratan dan peraturan perundang-
undangan yang berlaku. LSP tidak boleh menggunakan prosedur yang menghambat dan menghalangi akses
oleh pemohon dan calon, kecuali yang ditetapkan dalam pedoman ini.

4.1.2 LSP harus menetapkan kebijakan dan prosedur untuk pemberian, pemeliharaan, perpanjangan,
penundaan atau pencabutan sertifikasi serta perluasan/pengurangan ruang lingkup sertifikasi yang diajukan.

4.1.3 LSP harus membatasi persyaratan, evaluasi dan keputusan sertifikasinya, sesuai dengan hal-hal spesifik
yang berkaitan dengan ruang lingkup sertifikasi.

4.2 Struktur organisasi

4.2.1 Struktur LSP harus dibentuk sedemikian rupa sehingga memberikan kepercayaan kepada pihak terkait
atas kompetensi, ketidakberpihakan dan integritasnya. Secara khusus, lembaga sertifikasi harus :
a) independen dan tidak memihak dalam kaitannya dengan pemohon, calon dan profesi yang disertifikasi,
termasuk dengan pemiliki dan pelanggannya dan harus mengambil langkah yang dapat menjamin
operasi yang layak;
b) bertanggung jawab atas keputusannya berkaitan dengan pemberian, pemeliharaan, perpanjangan,
penundaan dan pencabutan sertifikasi serta perluasan/pengurangan ruang lingkup yang diajukan.
c) mengidentifikasi manajemen (kelompok atau profesi) yang memiliki tanggung jawab menyeluruh untuk:

1) evaluasi, sertifikasi dan survailen sebagaimana ditetapkan dalam pedoman ini, dalam persyaratan
kompetensi dan dalam dokumen relevan lain yang berlaku.
2) perumusan kebijakan operasi LSP, yang berkaitan dengan sertifikasi profesi.
3) keputusan sertifikasi,
4) penerapan kebijakan dan prosedurnya
5) keuangan lembaga sertifikasi, dan
6) pendelegasian kewenangan kepada beberapa komite atau perorangan untuk melakukan kegiatan
yang ditetapkan atas namanya.

d) memiliki dokumen legalitas hukum atau bagian dari legalitas hukum


baca Juga :

Penyusun sebagai Sentral dalam Tafsir

Penyusun sebagai Sentral dalam Tafsir

Penyusun sebagai Sentral dalam Tafsir

Penyusun sebagai Sentral dalam Tafsir

Penyusun sebagai Sentral dalam Tafsir

Penyusun sebagai Sentral dalam Tafsir (sentralisasi penyusun).
Untuk memahami makna teks yang menjadi perhatian dari si penyusun maka si pembaca berusaha memahami dan memahamkan hasrat dan maksud si penulis atau si penyusun. Kaidah hermeneutik ini berlaku secara mapan sebelumnya, yakni teks secara realitas dan nafsul amr menerangkan makna khusus yang meupakan niat , tujuan dan hasrat si penyusun, dan kaidah ini berhubungan dengan maqam penerapan dan pemahaman, yakni pemahaman fokus makna dalam teks harus memperhatikan maksud dan niat penyusun. Di sini pengikut hermeneutik filsafat juga melakukan penentangan, dari sudut pandang mereka pemahaman teks mengenyampingkan niat dan maksud penyusun atau dihasilkan dengan memadukan horizon makna penyusun dan pembaca teks.
Emilio Betty (Italia) dalam hal ini mengembalikan pada pandangan hermeneutik realistis. Sementara Eric (Amerika) pewaris pandangan Betty mengembalikan pada pandangan hermeneutik klasik, dan berkata: Jika makna tidak tetap dan permanen maka tidak akan ada realitas penafsiran.
Dalam hermeneutik fokus penyusun terdapat dua pandangan:

a. Pandangan fokus niat penyusun.

b. Pandangan fokus pribadi penyusun (penyusun secara kepribadian)
Yang pertama penafsir berusaha mendapatkan maksud dan niat penyusun dari karya dan ucapan ia dan jalan untuk memperoleh itu menjaga dan memelihara kaidah nahwu dan bahasa (Martin Kladinius). Yang kedua penafsir harus berusaha dengan jalan mengenal pribadi penyusun, sehingga mendapat makna yang menjadi perhatian ia (Schleier Macher). Yang pertama tidak bisa mengetahui teks lebih baik dari pada penyusun, maksimalnya menyamai penyusun dalam pemahaman sedangkan yang kedua memungkinkan mengetahui teks lebih baik dari pada penyusun.

TEORI – TEORI HERMENEUTIK

Penyusun sebagai Sentral dalam Tafsir

TEORI – TEORI HERMENEUTIK

TEORI – TEORI HERMENEUTIK

TEORI – TEORI HERMENEUTIK

Analisis Hermeneutik Dari Aliran Kritis

1. Frederic Ernest Schleier Macher (1768-1834) Teolog, sastrawan dan penerjemah karya-karya Plato.
Teori hermeneutik Schleier Macher didasari dengan pandangan filsafat dan Gnosis dimana secara umum menjelaskan metode tafsir teks. Dan teori ini tidak membatasi diri pada tafsiran teks tua dan teks kitab suci. Dia dengan mengganti pemahaman pada aturan hermeneutik untuk pemahaman kitab suci, tidak meyakini doktrin-doktrin gereja, dan menganggap metode hermeneutiknya universal dan menyeluruh.
Schleier Macher hidup di zaman di mana dua aliran filsafat, yaitu filsafat romantik dan filsafat kritik Kant berkembang; sebab itu hermeneutik ia tercampur dengan dua aliran filsafat tersebut. Maka dari itu hermeneutik ini memiliki penekanan pada aspek kondisi-kondisi kejiwaan dan emosional penyusun dan juga memiliki aspek kritik. Dia punya harapan meletakkan kaidah-kaidah universal untuk pemahaman sebagaimana Kant sebelumnya terhadap epistimologi dan penelitian keagamaan mengungkapkan kaidah universal.
Schleier Macher mengungkap dua teori penafsiran, yakni “Grammatical” (nahwu) dan “Technical” (Psychological) untuk menopang dasar-dasar hermeneutiknya.
Tafsir grammatical memperhatikan aspek-aspek kekhususan perkataan dan keanekaragaman kalimat-kalimat serta bentuk bahasa dan budaya dimana penyusun hidup dan membuat pikiran penulis terpengaruhi. Sedangkan tafsir technical atau Psichological terselip aspek aliran individu (subyetifitas) dalam pesan penyusun dan corak pikiran tulisan ia. Dengan kata lain setiap penjelasan (perkataan atau tulisan) harus merupakan bagian dari sistem bahasa, dan untuk memahaminya tanpa mengenal sistem ini tidaklah mungkin. Tetapi penjelasan itu juga mempunyai dimensi insani dan harus dipahami dalam teks kehidupan orang yang memiliki kehendak tersebut.
Dalam tafsir grammatical terdapat dua unsur penting:
1) Yang dianggap sebagai takwil dalam suatu perkataan yakni apa yang berkembang dalam ilmu bahasa (pengetahuan bahasa) yang sama di antara penyusun dengan pembaca.
2) Makna setiap kata dalam suatu kalimat diketahui dari hubungan kata tersebut degan kata-kata lain dalam kalimat tersebut.
Yang pertama memungkinkan hubungan penyusun dengan pembaca dan yang kedua memperjelas hubungan dalam sistem bahasa
Adapun tafsir teknikal meliputi metode Syuhûdi (penyaksian) dan qiyâsi (perbandingan). Metode syuhudi membimbing si penafsir menduduki posisi penyusun sehingga dia dapat memperoleh kondisi-kondisi penyusun. Metode qiyâsi membawa si penyusun sebagai bahagian dari keseluruhan, dan kemudian sesudah membandingkan penyusun tersebut dengan penyusun-penyusun lainnya (keseluruhan) menghadirkan spesifikasi-spesifikasi yang berbeda dengan yang lainnya. Kepribadian seseorang hanya bisa diperoleh dengan cara membandingkan perbedaan-perbedaannya dengan yang lain.
Schleier Macher tidak meyakini unsur niat penyusun sebagaimana pandangan Cladinus, dan berpendapat bahwa penyusun apa yang ia buat, ia tidak mengetahuinya, dan senantiasa ia tidak mengetahui dimensi-dimensi yang beraneka ragam dari yang dibuatnya.
Pengetahuan si penakwil dari si penyusun lebih besar ketimbang pengenalan si penyusun dari dirinya. Dia menggantikan keseluruhan kehidupan penyusun dengan mafhum (pemahaman) niat penyusun, sebab karya seni memperlihatkan dari keseluruhan kehidupan penyusun tidak hanya niat penyusun pada waktu khusus berkarya. Di sini terlihat Schleier Macher terpengaruh dengan konsep Frued “alam bawah sadar”.
Dia menghakimi bahwa teks mempunyai makna akhir, asli dan pasti, dan berpandangan bahwa setiap kata dalam setiap kalimat mempunyai satu makna dimana makna tersebut adalah mendasar serta dia mengingkari suatu teks dapat ditakwilkan dari beberapa sudut pandang.
Schleier Macher berpandangan bahwa untuk mengenal ucapan seseorang harus mengenal seluruh kehidupannya, dan dari sisi lain untuk mengenal dia harus mengenal pembicaraannya.


Sumber: https://promo-honda.id/blackberry-bakal-buat-smartwatch/

Reproduksi lokalitas bahas daerah

Reproduksi lokalitas bahas daerah

Reproduksi lokalitas bahas daerah

Reproduksi lokalitas bahas daerah

Reproduksi lokalitas bahas daerah

Proses transformasi keluarga Indonesia secara meluas dari karakter

Yang relatif “ tradisional” ke suatu karakter modern dengan gaya hidup dan ukuran nilai baru. Hubungan-hubungan sosial antar orang dalam keluarga modern bersifat lebih terbuka dan dialigis sehingga variasi tata nili dan ukuran dapat dinegosiasikan antar anggota keluarga.

Proses perubahan tata nilai dalam masyarakat yang tampak dari konflik-konflik sosial akibat relativitas nilai. Tingkat keabsahan suatu perilaku menjadi sangat relatif dan dapat dinegosiasikan baik didalam kelompok maupun diluar kelompok, sehingga ciri lokal,seperti bahasa daerah nusantara ini, bukan lagi bahasa satu-satunya akibat banyak bahasa alternatif yang dipakai.

Proses melemahnya peran institusi kebudayaan yang secara ideal berperan dalam pembentukan, pengembangan dan pelestarian nilai dan praktik sosial.

Bahasa Nusantara pada Millenium III

Arus Globalisasi membawa memiliki dampak langsung terhadap bahasa daerah, yaitu, pertama, Globalisasi telah meredifinisi batas-batas bahasa secara secara lebih luas dimana hubungan antar bahasa  satu dengan bahasa lain menjadi lebih terbuka. Kedua, sifat ekspansif globalisasi telah menyebabakan subordinasi bahasa daerah semakin kuat.ketiga, arus globalisasi menyebabkan hilangnya saluran enkulturasi nilai dan norma-norma daerah. Kebudayaan daerah dalam hal ini tidak lagi menjadi acuan dalam sikap dan praktik sosial.

Keberadaan bahasa saat daerah perlu dipahami lebih dalam, agar dapat digunakan secara lebih tepat. Pertama, bahasa nusantara harus diperlakukan sebagai suatu kesatuan yang memiliki kaitan kosmologis satu dengan yang lain. Kedua, perlu dipikirkan pengembangan kurikulum yang lebih sesuai agar mampu mempengaruhi cara pikir dan bertingkah laku. Ketiga, sosialisasi bahasa daerah secara lebih ekspansif dengan memperhatikan kelompok target dan media penyampaian untuk itu, media menyampaiakan harus disesuaikan dengan karakter target. Terutama dengan simbol yang dipahami melalui saluran yang biasa diakses oleh kelompok tersebut.


Baca Juga :

Sejarah akuisisi dan merger

Sejarah akuisisi dan merger

Sejarah akuisisi dan merger

Sejarah akuisisi dan merger

Sejarah akuisisi dan merger

Suatu tinjauan terhadap sejarah perusahaan di Amerika Serikat pada tiga-perempat terakhir abad ini akan mengungkapkan siklus berulang-ulang dari kombinasi dan akuisisi (pengambilalihan) dalam dunia industri. Bentuk dan jenis pengorbanan serta jumlah yang dibayarkan sehubungan dengan harga pasar dari saham mungkin berubah yaitu dari persetujuan berdasarkan mufakat menjadi penawaran-penawaran bersaing, dari suatu paket surat-surat berharga menjadi sebagian besar dengan kas, dari sedikit agio di atas harga pasar saham menjadi dengan agio yang besar. Dengan turunnya nilai uang, laju inflasi yang cepat disertai nilai ganti yang tinggi, serta stabilitas potensial yang lebih besar, lebih banyak kegiatan peleburan (merger) pada akhir tahun 1970-an dibandingkan dengan periode –periode yang lebih dini.

Akuisisi dan Tujuan-Tujuan Perusahaan

Dalam waktu kapan saja, terdapat berbagai alasan keuangan atau operasional bagi sebuah perusahaan untuk membeli perusahaan lain yang aktif. Beberapa dari alasan-alasan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Diversifikasi untuk pertumbuhan
  2. Diversifikasi menurut pasar atau pelanggan untuk mengimbangi faktor-faktor musiman, untuk menetralisir pasar produk yang menurun, dan sebagainya.
  3. Perluasan, penyempurnaan, atau komplementasi lini produk
  4. Mendapatkan kemampuan riset dan pengembangan yang diperlukan.
  5. Penciptaan dan perolehan lini produk baru.
  6. Integrasi, sehingga mendapatkan penawaran yang cukup dari bahan-baku atau suku cadang yang kritis.
  7. Perluasan pasar, termasuk pasar di luar negeri yang belum dijamah.
  8. Memperbaiki manajemen.
  9. Memperoleh fasilitas-fasilitas pengolahan atau riset yang baru.

10.  Menyediakan tambahan modal kerja atau dana-dana lain.

11.  Mencapai keuntungan perpajakan, hukum, atau lain-lain semaksimum yang diperkenankan.

12.  Menginvestasikan modal yang belum dimanfaatkan.

13.  Menaikkan nilai pasar saham.

14.  Menyediakan jasa-jasa baru bagi para pelanggan.

15.  Memperbaiki citra dan reputasi perusahaan.

Unsur-unsur dari suatu program akuisisi yang berhasil

  1. Merumuskan tujuan-tujuan perusahaan untuk perkembangan jangka-panjang
  2. Mengembangkan suatu program dan jadwal untuk pencapaian tujuan.
  3. Menyediakan sekelompok staf yang terkoordinir dan efektif untuk meneliti dan mengevaluasi rencana dan prospek.
  4. Menetapkan spesifikasi yang harus dipenuhi oleh perusahaan yang akan diambil Oper.
  5. Memperoleh kemampuan untuk menganalisa secara kritis sebuah perusahaan dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan lain.
  6. Mengembangkan metode yang paling efektif untuk mengembilalih perusahaan.
  7. Mengakui adanya elemen manusiawi dalam akuisisi.

Tinjauan Pendahuluan Atas Prospek

Komentar-komentar terdahulu telah mengemukakan cara pendekatan umum terhadap suatu akuisisi yang sehat. Dengan mengasumsikan bahwa perusahaan telah diseleksi, dan setelah saringan pendahuluan, ternyata memenuhi spesifikasi-spesifikasi yang ditentukan oleh pembeli, maka sekarang dapatlah kita memasuki langkah berikutnya. Ini biasanya berupa pertemuan tatap-muka antara para pimpinan atau wakil-wakil mereka. Ini juga agak bersifat pendahuluan dan meiputi penentuan mengenai hal-hal umum sebagai berikut :

  1. Apakah penjual kelihatan bersungguh-sungguh ingin menjual?
  2. Apakah pembahasan umum menegaskan data-data statistik dan sebagainya, yang menunjukkan bahwa perusahaan yang akan diambil oper memenuhi kriteria luas yang ditentukan oleh perusahaan yang ingin membeli/mengambil-oper?
  3. Apakah penjual kelihatan akan menentukan suatu nilai untuk perusahaannya dan apakah angkanya jauh dari yang sewajarnya?
  4. Apakah para pimpinan ingin terus melanjutkan usaha dan apakah mereka sejalan dan serasi dengan manajemen perusahaan yang ingin membeli/mengambil oper?
  5. Apakah kelihatan ada dasar yang saling memuaskan untuk menangani transaksi akuisisi itu?

Evaluasi Prospek

Mengevaluasi perusahaan bukanlah tugas yang mudah. Menghadapkan nilai dari dua perusahaan untuk menentukan suatu nilai pertukaran yang adil dari hak pemilikan (equities) atau pengorbanan lain yang sesuai memerlukan adanya analisa yang khusus dan teliti. Meskipun suatu perusahaan memiliki sejarah yang kurang memuaskan dalam memperoleh laba dibandingkan dengan perusahaan lain, tetapi hak-hak khusus, paten atau fasilitas-fasilitas produksi yang dimilikinya mempunyai arti penting yang khusus bagi perusahaan yang memerlukannya. Sebuah perusahaan mungkin memiliki pabrik yang modern dan berlokasi baik sehubungan dengan bahan baru dan pasar, tetapi kurang memiliki keahlian penjualan.

Bidang-bidang utama untuk diteliti umumnya mencakup hal-hal yang berikut ini:

  1. Manajemen dan personalia
  2. Pasar dan produk
  3. Fasilitas dan proses produksi
  4. Riset dan paten, dan sebagainya
  5. Pembiayaan (financing)

Meskipun setiap team akuisisi harus mengembangkan cara pendekatannya sendiri untuk melakukan analisis perusahaan, daftar pengecek yang dipergunakan oleh Rockwell International Corporation berikut menunjukkan banyak aspek bagi suatu penelitian yang lengkap :

  1. Umum
    1. Pernyataan mengenai transaksi yang sedang dipertimbangkan dan sasaran-sasarannya.
    2. Sejarah dan uraian umum mengenai perusahaan.
    3. Daftar mengenai para pejabat dan direksi; afiliasi.
    4. Pendistribusian saham-banyaknya saham, para pemegang saham utama dan sebagainya.
    5. Bagan organisasi.
    6. Buku pedoman kebijakan (policy manual).
  1. Pembiayaan
    1. Laporan keuangan terakhir yang telah diaudit.
    2. Laporan keuangan terakhir yang tersedia.
    3. Laporan keuangan ikhtisar sepuluh-tahun.
    4. Laporan keuangan dan operasi yang diproyeksikan.
    5. Deskripsi lengkap mengenai surat-surat berharga, utang, investasi dan harta serta hutang lain diluar perkiraan sehari-hari yang lazim.
    6. Bagan perkiraan (chart of accounts)
  2. Penjualan
  3. Pabrikase
  4. Pembelian
  5. Penelitian keahlian teknis
  6. Tenaga kerja

Sumber: https://student.blog.dinus.ac.id/blogtekno/apple-patenkan-teknologi-tali-jam-tangan/

Seminar Proposal

Seminar Proposal

Seminar Proposal

Seminar Proposal

Seminar Proposal

yup yup… pada seminar proposal saya dibantai habis-habisan oleh dosen penguji, mulai dari pendahuluan sampai metode penelitian tak ada yang luput dari revisi. >.<

dan akhirnya saya mengganti hampir semua semua proposal saya, dari 40 halaman cuma sisa 2 halaman yang bisa dipakai untuk proposal revisi. bagaimana tidak? lha wong ganti rumusan masalah, yang otomatis juga ganti judul, ganti semua… hohoho

rumusan masalah yang semula tentang mengapa masyarakat lebih memilih kendaraan pribadi dibanding bis kota, diganti menjadi “buy the service sebagai reformasi sistem angkutan umum kota di Yogyakarta”

nah lo…

namun saya tak putus semangat… karena memang saya pernah mentarget 3 bulan selesai maka bulan februari hrus sudah ke lapangan untuk penelitian.

konsultasi demi konsultasi dijalani, perpus demi perpus dikunjungi untuk merevisi proposal sehingga layak mendapat acc penelitian ke lapangan. dan sayangnya tidak sesuai target akhir maret baru mendapat ACC untuk kelapangan

April 2011

tanggal 1 april baru bisa mulai ke lapangan karena surat ijin dari kantor gurbernur mengijinkannya mulai tanggal itu.

dan penelitian pun dilakukan. penelitian dilakukan dengan metode wawancara (lebih ke penelitian diskriptif kualitatif). dan saya mengunjungi 3 organisasi yaitu Dinas Perhubungan Provinsi, PT. Jogja Tugu Trans, dan DPRD Provinsi.

alhamdulillah penelitian berjalan lancar, para narasumber ramah dan bisa memberikan pernyataan-pernyataan. penelitian lapangan berakhir pada akhir mei. maka dari itu jelas target awal untuk lulus Mei 2011 tidak tercapai. lalu menetapkan target selanjutnya untuk lulus Agustus 2011.

Amazing Juni-Juli 2011

ini bulan bisa dikatakan keberuntungan. doa saya menjadi nyata. syukur alhamdulillah. setelah mengajukan draft skripsi beberapa kali ke Madam dan revisi beberapa kali masih belum tembus untuk ACC pendadaran. pada pertengahan Juni melihat pengumuman di jurusan bahwa untuk wisuda Agustus mahasiswa harus sudah mendaftar ujian pendadaran pada tanggal paling lambat 30 Juni.

alangkah nikmat yag diberikan Allah. saya mendapat ACC pendadaran tanggal 29 Juni dan terdaftar untuk pendadaran di jurusan tanggal 30 untuk pelaksanaan  tanggal 5 Juli. alhamdulillah

Saat pendadaran pun saya entah kenapa tidak se grogi sewaktu seminar proposal dulu. semua berjalan lancar. dan memang perlu revisi beberapa namun tidak banyak. hanya menyangkut isi dan kesimpulan saran saja.

selesai pendadaran rasanya lega… namun masi diliputi kecemasan baru. karena syarat untuk bisa wisuda Agustus, revisi skripsi harus sudah di ACC sebelum tanggal 20 Juli. padahal sudah tanggal 5. maka hanya ada waktu 2 minggu untuk menyelesaikan Revisi. lebih-lebih Dosen penguji yang satu pergi ke hongkong 1 mingu dan yang satunya lagi cuti 10 hari untuk persiapan pernikahan.

nah kejar-kejaran dah sama waktu. dengan berbagai upaya, sampai-sampai revisi Via Email. akhirnya  ACC berhasil didapatkan sebelum tangal 20 Juli 2011

Alhamdulillah SKRIPSI saya sekarang sudah benar-benar selesai


Sumber: https://desaingrafis.co.id/asus-zenfone-4-max-pro-ponsel-kamera-ganda-dengan-baterai-raksasa/

Kehidupan Politik dan Pemerintahan kerajaan Majapahit

Kehidupan Politik dan Pemerintahan kerajaan Majapahit

Kehidupan Politik dan Pemerintahan kerajaan Majapahit

Kehidupan Politik dan Pemerintahan kerajaan Majapahit

1)     Raden Wijaya.

Berdirinya Kerajaan Majapahit sangat berhubungan dengan runtuhnya Kerajaan Singasari.Kerajaan Singasari runtuh setelah salah satu raja vasalnya yaitu Jayakatwang mengadakan pemberontakan. Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya yang merupakan menantu dari Raja Singasari terakhir yaitu KertanegaraRaden Wijaya beserta istri dan pengikutnya dapat meloloskan diri ketika Singasari diserang JayakatwangRaden Wijaya meloloskan diri dan pergi ke Madura untuk menemui dan meminta perlindungan Bupati Sumenep dari Madura yaitu Aryawiraraja. Berkat Aryawiraraja juga, Raden Wijaya mendapat pengampunan dari Jayakatwang, bahkan Raden Wijayasendiri diberi tanah di hutan Tarik dekat Mojokerto yang kemudian daerah itu dijadikan sebagai tempat berdirinya kerajaan Majapahit.

Raden Wijaya kemudian menyusun kekuatan di Majapahit dan mencari saat yang tepat untuk menyerang balik Jayakatwang. Untuk itu, dia mencoba mencari dukungan kekuatan dari raja-raja yang masih setia pada Singasari atau raja yang kurang senang pada Jayakatwang. Kesempatan untuk menghancurkan Jayakatwang akhirnya muncul setelah tentara Mongol mendarat di Jawa untuk menyerang Kertanegara. Keadaan seperti ini dimanfaatkan oleh Raden Wijaya dengan cara memperalat mereka untuk menyerang JayakatwangRaden Wijaya bersama-sama dengan pasukan Kubhilai Khanberhasil mengalahkan pasukan Jayakatwang. Begitu pula Jayakatwang berhasil ditangkap dan lalu dibunuh oleh pasukan Kubhilai Khan.

Setelah Jayakatwang terbunuh, lalu Raden Wijaya melakukan serangan balik terhadap pasukan Kubhilai Khan. Raden Wijaya berhasil memukul mundur pasukan Kubhilai Khan, sehingga mereka terpaksa menyelamatkan diri keluar Jawa. Setelah berhasil mengusir pasukan Kubhilai Khan, Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Majapahit pada tahun 1293 M dengan gelar Sri Kertarajasa Jayawardhana.

2)     Jayanegera.

Pada masa pemerintahannya, Jayanegara dirongrong oleh serentetan pemberontakan. Pemberontakan-pemberontakan ini datang dari Ranggalawe (1309), Lembu Sora (1311), Juru Demung dan Gajah Biru (1314),  Nambi (1316), dan Kuti (1320).

Pemberontakan Kuti merupakan pemberontakan yang paling berbahaya karena Kuti berhasil menduduki ibu kota Majapahit, sehingga raja Jayanegara terpaksa melarikan diri ke daerah BadandeaJayanegara diselamatkan oleh pasukan Bhayangkari di bawah pimpinan Gajah Mada. Berkat ketangkasan dan siasat jitu dari Gajah Mada, pemberontakan Kuti berhasil ditumpas. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Gajah Mada diangkat menjadi Patih di Kahuripan pada tahun 1321 M dan Patih di Daha (Kediri).

3)     Tribhuanatunggadewi

Pada masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan Sadeng dan Keta pada tahun 1331. Pemberontakan ini dapat dipadamkan oleh Gajah Mada. Sebagai penghargaan atas jasanya, Gajah Mada diangkat menjadi mahapatih di Majapahit oleh Tribhuanatunggadewi.

Di hadapan raja dan para pembesar Majapahit, Gajah Mada mengucapkan sumpah yang terkenal dengan nama Sumpah Palapa. Isi sumpahnya, ia tidak akan Amukti Palapa sebelum ia dapat menundukkan Nusantara, yaitu Gurun, Seran, Panjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik.

4)     Hayam Wuruk

Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Wilayah kekuasaan Majapahit meliputi seluruh Nusantara. Pada saat itulah cita-cita Gajah Mada dengan Sumpah Palapa berhasil diwujudkan.

Usaha Gajah Mada dalam melaksanakan politiknya, berakhir pada tahun 1357 dengan terjadinya peristiwa di Bubat, yaitu perang antara Pajajaran dengan Majapahit. Pada waktu itu, Hayam Wurukbermaksud untuk menikahi putri Dyah Pitaloka. Sebelum putri Dyah Pitaloka dan ayahnya beserta para pembesar Kerajaan Pajajaran sampai di Majapahit, mereka beristirahat di lapangan Bubat. Di sana terjadi perselisihan antara Gajah Mada yang menghendaki agar putri itu dipersembahkan oleh raja Pajajaran kepada raja Majapahit. Para pembesar Kerajaan Pajajaran tidak setuju, akhirnya terjadilah peperangan di Bubat yang menyebabkan semua rombongan Kerajaan Pajajaran gugur.

Pada tahun 1364 M, Gajah Mada meninggal dunia. Hal itu merupakan kehilangan yang sangat besar bagi Majapahit. Kemudian pada tahun 1389 Raja Hayam Wuruk meninggal dunia. Hal ini menjadi salah satu penyebab surutnya kebesaran Kerajaan Majapahit di samping terjadinya pertentangan yang berkembang menjadi perang saudara.


Baca Juga :

Kehidupan Sosial, politik dan Ekonomi kerajaan Aceh

Kehidupan Sosial, politik dan Ekonomi kerajaan Aceh

Kehidupan Sosial, politik dan Ekonomi kerajaan Aceh

Kehidupan Sosial, politik dan Ekonomi kerajaan Aceh

  1. Kehidupan Sosial

Adalanya penggolongan masyarakat menjadi beberapa golongan, yaitu teuku (kaum bangsawan), golongan teungku (Kaum ulama yang memegang),  Hulubalang (prajurit) serta rakyat biasa. Antara Golongan teuku dan Teungku sering timbul persaingan yang mengakibatkan melemahnya kerajaan Aceh.

  1. Kehidupan Politik

Aceh tumbuh secara cepat menjadi kerajaan besar karena didukung oleh letaknya yang strategis, kemudian Kerajaannya memiliki Bandar pelabuhan. Aceh juga memiliki daerah yang kaya akan tanaman lada. Tanaman ini sendiri merupakan komoditi ekspor yang sangat penting. Selain itu, jatuhnya malaka ke tangan Portugis menyebabkan pedagang Islam banyak singgah ke Aceh, ditambah Jalur pelayaran beralih melalui sepanjang pantai barat Sumatera.

  1. Kehidupan Ekonomi

Letaknya yang sangat strategis, di jalur pelayaran dan perdagangan Selat malakah menitikberatkan pada , maka Kerajaan Aceh menitikberatkan pada perekonomian pada bidang perdagangan. Penguasaan atas daerah pantai barat dan timur sumatera banyak menghasilkan lada. Sementara di Semenanjung Malaka menghasilkan lada dan timah.

  1. Penyebab Mundurnya kerajaan Aceh

Berikut merupakan factor yang mengakibatkan kerajaan Aceh mengalami kemunduran.

1)        Kekalahan perang antara Aceh melawan portugis di Malaka pada tahun 1629 M

2)        Tokoh pengganti Sultan Iskandar Muda tidaklah sebaik yang terdahulu.

3)        Permusuhan yang hebat diantara kaum ulama yang menganut ajaran Syamsyudias-Sumatra dan penganut ajaran Nur ad-Din ar-raniri

4)        Saerah-daerah yang jauh dari pemerintahan pusat melepaskan diri dari Aceh

5)        Pertahanan Aceh lemah sehingga bangsa-bangsa Eropa berhasil mendesak dan menggeser daerah perdagangan Aceh. Akhirnya, perekonomian di Aceh menjadi melemah.

 


Sumber: https://icbbumiputera.co.id/advan-a8-ponsel-kamera-ganda-dengan-keamanan-berlapis/

Sejarah dan perkembangan kerajaan Aceh

Sejarah dan perkembangan kerajaan Aceh

Sejarah dan perkembangan kerajaan Aceh

Sejarah dan perkembangan kerajaan Aceh

Kerajaan Aceh dirintis oleh Mudzaffar Syah

Ketika awal kedatangan Bangsa Portugis di Indonesia, tepatnya di Pulau Sumatra, terdapat dua pelabuhan dagang yang besar sebagai tempat transit para saudagar luar negeri, yakni Pasai dan Pedir. Pasai dan Pedir mulai berkembang pesat ketika kedatangan bangsa Portugis serta negara-negara Islam. Namun disamping pelabuhan Pasai dan Pedir, Tome Pires menyebutkan adanya kekuatan ketiga, masih muda, yaitu “Regno dachei” (Kerajaan Aceh).

Aceh berdiri sekitar abad ke-16, dimana saat itu jalur perdagangan lada yang semula melalui Laut Merah, Kairo, dan Laut Tengah diganti menjadi melewati sebuah Tanjung Harapan dan Sumatra. Hal ini membawa perubahan besar bagi perdagangan Samudra Hindia, khususnya Kerajaan Aceh. Para pedagang yang rata-rata merupakan pemeluk agama Islam kini lebih suka berlayar melewati utara Sumatra dan Malaka. Selain pertumbuhan ladanya yang subur, disini para pedagang mampu menjual hasil dagangannya dengan harga yang tinggi, terutama pada para saudagar dari Cina. Namun hal itu justru dimanfaatkan bangsa Portugis untuk menguasai Malaka dan sekitarnya. Dari situlah pemberontakan rakyat pribumi mulai terjadi, khususnya wilayah Aceh (Denys Lombard: 2006, 61-63)

Pada saat itu Kerajaan Aceh yang dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah atau Sultan Ibrahim, berhasil melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Pedir pada tahun 1520. Dan pada tahun itu pula Kerajaan Aceh berhasil menguasai daerah Daya hingga berada dalam kekuasaannya. Dari situlah Kerajaan Aceh mulai melakukan peperangan dan penaklukan untuk memperluas wilayahnya serta berusaha melepaskan diri dari belenggu penjajahan bangsa Portugis. Sekitar tahun 1524, Kerajaan Aceh bersama pimpinanya Sultan Ali Mughayat Syah berhasil menaklukan Pedir dan Samudra Pasai. Kerajaan Aceh dibawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah tersebut juga mampu mengalahkan kapal Portugis yang dipimpin oleh Simao de Souza Galvao di Bandar Aceh (Poesponegoro: 2010, 28)

Setelah memiliki kapal ini, Sultan Ali Mughayat Syah atau Sultan Ibrahim bersiap-siap untuk menyerang Malaka yang dikuasai oleh Bangsa Portugis. Namun rencana itu gagal. Ketika perjalanan menuju Malaka, awak kapal dari armada Kerajaan Aceh tersebut justru berhenti sejenak di sebuah kota. Disana mereka dijamu dan dihibur oleh rakyat sekitar, sehingga secara tak sengaja sang awak kapal membeberkan rencananya untuk menyerang Malaka yang dikuasai Portugis. Hal tersebut didengar oleh rakyat Portugis yang bermukim disana, sehingga ia pun melaporkan rencana tersebut kepada Gubernur daerah Portugis (William Marsden, 2008: 387)

Selain itu sejarah juga mencatat, usaha Sultan Ali Mughayat Syah atau Sultan Ibrahim untuk terus-menerus memperluas dan mengusir penjajahan Portugis di Indonesia. Mereka terus berusaha menaklukan kerajaan-kerajaan kecil yang ada di sekitar Aceh, dimana kerajaan-kerajaan tersebut merupakan kekuasaan Portugis, termasuk daerah Pasai. Dari perlawanan tersebut akhirnya Kerajaan Aceh berhasil merebut benteng yang terletak di Pasai.

Hingga akhirnya Sultan Ibrahim meninggal pada tahun 1528 karena diracun oleh salah seorang istrinya. Sang istri membalas perlakuan Sultan Ibrahim terhadap saudara laki-lakinya, Raja Daya. Dan ia pun digantikan oleh Sultan Alauddin Syah (William Marsden, 2008: 387-388)

Sultan Alauddin Syah atau disebut Salad ad-Din merupakan anak sulung dari Sultan Ibrahim. Ia menyerang Malaka pada tahun 1537, namun itu tidak berhasil. Ia mencoba menyerang Malaka hingga dua kali, yaitu tahun 1547 dan 1568, dan berhasil menaklukan Aru pada tahun 1564. Hingga akhirnya ia wafat 28 September 1571. Sultan Ali Ri’ayat Syah atau Ali Ri’ayat Syah, yang merupakan anak bungsu dari Sultan Ibrahim menggantikan kedudukan Salad ad-Din. Ia mencoba merebut Malaka sebanyak dua kali, sama seperti kakaknya, yaitu sekitar tahun 1573 dan 1575. Hingga akhirnya ia tewas 1579 (Denys Lombard: 2006, 65-66)

Sejarah juga mencatat ketika masa pemerintahan Salad ad-Din, Aceh juga berusaha mengambangkan kekuatan angkatan perang, mengembangkan perdagangan, mengadakan hubungan internasional dengan kerajaan-kerajaan Islam di Timur Tengah, seperti Turki, Abysinia, dan Mesir. Bahkan sekitar tahun 1563, ia mengirimkan utusannya ke Konstantinopel untuk meminta bantuannya kepada Turki dalam melakukan penyerangan terhadap Portugis yang menguasai wilayah Aceh dan sekitarnya. Mereka berhasil menguasai Batak, Aru dan Baros, dan menempatkan sanak saudaranya untuk memimpin daerah-daerah tersebut. Penyerangan yang dilakukan oleh Kerajaan Aceh ini tak luput dari bantuan tentara Turki.

Mansyur Syah atau Sultan Alauddin Mansyur Syah dari Kerajaan Perak di Semenanjung adalah orang berikutnya yang naik tahta. Ia merupakan menantu Sultan Ali Ri’ayat Syah. Menurut Hikayat Bustan as-Salatin, ia adalah seorang yang sangat baik, jujur dan mencintai para ulama. Karena itulah banyak para ulama baik dari nusantara maupun luar negeri yang datang ke Kerajaan Aceh. Hingga akhirnya ia wafat pada tahun 1585 dan digantikan oleh Sultan Alauddin Ri’ayat Syah ibn Sultan Munawar Syah yang memerintah hingga tahun 1588. Sejak tahun1588, Kerajaan Aceh dipimpin oleh Sultan Alauddin Ri’ayat Syah ibn Firman Syah atau Sultan Muda hingga tahun 1607 (Poesponegoro: 2010, 30-31)

Kerajaan Aceh mulai mengalami masa keemasan atau puncak kekuasaan di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda, yaitu sekitar tahun 1607 sampai tahun 1636. Pada masa Sultan Iskandar Muda, Kerajaan Aceh mengalami peningkatan dalam berbagai bidang, yakni dalam bidang politik, ekonomi-perdagangan, hubungan internasional, memperkuat armada perangnya, serta mampu mengembangakan dan memperkuat kehidupan Islam. Bahkan kedudukan Bangsa Portugis di Malaka pun semakin terdesak akibat perkembangan yang sangat pesat dari Kerajaan Aceh di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda (Poesponegoro: 2010, 31)

Sultan Iskandar Muda memperluas wilayah teritorialnya dan terus meningkatkan perdagangan rempah-rempah menjadi suatu komoditi ekspor yang berpotensial bagi kemakmuran masyarakat Aceh. Ia mampu menguasai Pahang tahun 1618, daerah Kedah tahun 1619, serta Perak pada tahun 1620, dimana daerah tersebut merupakan daerah penghasil timah. Bahkan dimasa kepemimpinannya Kerajaan Aceh mampu menyerang Johor dan Melayu hingga Singapura sekitar tahun 1613 dan 1615. Ia pun diberi gelar Iskandar Agung dari Timur.

Kemajuan dibidang politik luar negeri pada era Sultan Iskandar Muda, salah satunya yaitu Aceh yang bergaul dengan Turki, Inggris, Belanda dan Perancis. Ia pernah mengirimkan utusannya ke Turki dengan memberikan sebuah hadiah lada sicupak atau lada sekarung, lalu dibalas dengan kesultanan Turki dengan memberikan sebuah meriam perang dan bala tentara, untuk membantu Kerajaan Aceh dalam peperangan. Bahkan pemimpin Turki mengirimkan sebuah bintang jasa pada sultan Aceh (Harry Kawilarang, 2008: 21-22)

Dalam lapangan pembinaan kesusasteraan dan ilmu agama, Aceh telah melahirkan beberapa ulama ternama, yang karangan mereka menjadi rujukan utama dalam bidang masing-masing, seperti Hamzah Fansuri dalam bukunya Tabyan Fi Ma’rifati al-U Adyan, Syamsuddin al-Sumatrani dalam bukunya Mi’raj al-Muhakikin al-Iman, Nuruddin Al-Raniri dalam bukunya Sirat al-Mustaqim, dan Syekh Abdul Rauf Singkili dalam bukunya Mi’raj al-Tulabb Fi Fashil

Dalam hubungan ekonomi-perdagangan dengan Mesir, Turki, Arab, juga dengan Perancis, Inggris, Afrika, India, Cina, dan Jepang. Komoditas-komoditas yang diimpor antara lain: beras, guci, gula (sakar), sakar lumat, anggur, kurma, timah putih dan hitam, besi, tekstil dari katun, kain batik mori, pinggan dan mangkuk, kipas, kertas, opium, air mawar, dan lain-lain yang disebut-sebut dalam Kitab Adat Aceh. Komoditas yang diekspor dari Aceh sendiri antara lain kayu cendana, saapan, gandarukem (resin), damar, getah perca, obat-obatan (Poesponegoro: 2010, 31)

Di bawah kekuasannya kendali kerajaan berjalan dengan aman, tentram dan lancar. Terutama daerah-daerah pelabuhan yang menjadi titik utama perekonomian Kerajaan Aceh, dimulai dari pantai barat Sumatra hingga ke Timur, hingga Asahan yang terletak di sebelah selatan. Hal inilah yang menjadikan kerajaan ini menjadi kaya raya, rakyat makmur sejahtera, dan sebagai pusat pengetahuan yang menonjol di Asia Tenggara (Harry Kawilarang, 2008: 24)


Sumber: https://khasanahkonsultama.co.id/lapan-bahas-pembangunan-stasiun-peluncuran-satelit/