twittsev.com

Situs Web Pendidikan Terupdate

Pendidikan

Shalat Idul Adha Tingkat Kota Bogor Digelar di Masjid Raya

Shalat Idul Adha Tingkat Kota Bogor Digelar di Masjid Raya

Shalat Idul Adha Tingkat Kota Bogor Digelar di Masjid Raya

 

Shalat Idul Adha Tingkat Kota Bogor Digelar di Masjid Raya

Hari Raya Idul Adha 2018

Hari Raya Idul Adha 2018 telah ditetapkan jatuh pada Rabu (22/8/2018). Hal tersebut berdasarkan keputusan sidang Isbat awal Dzulhijjah 1438 H yang digelar di kantor Kementerian Agama, Sabtu (11/8/2018) lalu.

Sementara itu

Di Kota Bogor pelaksanaan shalat Idul Adha 1439 H akan dilaksanakan di Masjid Raya Bogor (Masjid Agung Al Mi’raj), Jalan Pajajaran, Kota Bogor.

Kasubbag Bina Mental dan Rohani Administrasi Kesejahteraan Masyarakat (Adkesra) Setdakot Bogor Andrie mengatakan, shalat Idul Adha di Masjid Raya Bogor akan dilaksanakan pukul 06.30 WIB.

“Bertindak selaku Imam Ustadz Yusuf Ardabili pimpinan pondok pesantren Asyifa

Sedangkan Khotib Dr. KH. Muhidin Djunaedi selaku Wakil Ketua MUI Pusat bidang hubungan luar negeri,” ungkap Andrie di Balaikota Bogor, Selasa (21/8/2018).

Dalam sholat Idul Adha itu juga dijadwalkan Walikota Bogor Bima Arya dan Wakil Walikota Bogor Usmar Hariman serta unsur Muspida lainnya akan hadir sekaligus melaksanakan shalat Ied.

Usai sholat

Bima Arya dijadwalkan akan merayakan Idul Adha bersama warga di Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat Sejahtera (P2WKSS) Sukaresmi, Tanah Sareal. Dalam kesempatan tersebut Bima Arya akan menyerahkan hewan kurban berupa 1 ekor sapi.

Artikel terkait:

Museum Perjuangan Dihibahkan ke Pemkot Bogor

Museum Perjuangan Dihibahkan ke Pemkot Bogor

 

Museum Perjuangan Dihibahkan ke Pemkot Bogor

Pihak ahli waris pemilik lahan berdirinya Museum Perjuangan yang berlokasi di Kawasan Merdeka

Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, akan menghibahkannya kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Nantinya, museum yang menyimpan beragam koleksi masa perjuangan itu akan dikelola Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud).

Museum Perjuangan

Demikian kesimpulan dari hasil rapat lanjutan terkait Museum Perjuangan yang berlangsung di Paseban Narayana, Balai Kota Bogor, Selasa (21/08/2018).

Rapat tersebut dipimpin Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman dan diikuti Kepala Disparbud Shahlan Rasyidi bersama sejumlah kabid dan kasi, Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor (DK3B) serta pihak ahli waris, Ardian Wahab dan Fahmi Wahab.

Seperti diutarakan pihak ahli waris

Ardian Wahab, bahwa dihibahkannya lahan tersebut lantaran adanya penyimpangan dalam pengelolaannya selama ini. Sehingga Museum Perjuangan telah melenceng dari niat awalnya.

“Awalnya Museum Perjuangan ini diserahkan kepada sebuah yayasan untuk merawatnya, tetapi fakta yang ada Museum Perjuangan disewakan kepada pihak yg tidak bertanggung jawab. Pemasangan reklame atau iklan berbayar dan yang paling memprihatinkan adalah didapat informasi bahwa di sekitar Museum Perjuangan dijadikan tempat maksiat,” papar Ardian.

Atas dasar itulah, lanjutnya

Maka pihak keluarga ahli waris memutuskan untuk menghibahkannya kepada Pemkot Bogor melalui Disparbud dengan harapan agar Museum Perjuangan dapat dikelola dengan baik dan beroperasi sesuai dengan fungsinya.

Sementara Kepala Disparbud Kota Bogor Shahlan Rasyidi menceritakan, bahwa sebenarnya tahun 2011 lalu Museum Perjuangan itu sudah akan diserahkan kepada Pemkot Bogor. Namun lantaran saat itu dokumen dan legalitasnya belum memiliki kekuatan hukum yang tetap maka diurungkan.

“Dan Alhamdulillah sekarang sudah disepakati Pemkot Bogor menerima hibah Museum Perjuangan dari pihak ahli waris,” kata Shahlan.

Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman

Begitu pun halnya dengan Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman, ia mengaku senang Pemkot Bogor menerima hibah tersebut dari ahli waris.

“Karena museum merupakan aset bangsa yang dapat memberikan wawasan kepada masyarakat, terutama generasi muda untuk mengetahui sejarah dan memotivasi semangat juangnya,” katanya.

 

Sumber: http://bpbd.lampungprov.go.id/blog/gelombang-elektromagnetik/

138 Paket Pekerjaan Ditenderkan ULP Kota Bogor

138 Paket Pekerjaan Ditenderkan ULP Kota Bogor

138 Paket Pekerjaan Ditenderkan ULP Kota Bogor

 

 

138 Paket Pekerjaan Ditenderkan ULP Kota Bogor

Unit Layanan Pengadaan

Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kota Bogor mencatat, hingga 20 Agustus 2018 ada sekitar 138 paket pekerjaan yang diajukan oleh perangkat daerah untuk ditenderkan. Jumlah tersebut terdiri dari 69 paket konstruksi, 54 paket konsultasi, 8 pengadaan dan 4 paket lainnya.

Kepala Bagian Administrasi Pengendalian Pembangunan dan Pengadaan Barang Jasa

Kepala Bagian Administrasi Pengendalian Pembangunan dan Pengadaan Barang Jasa (Adalbang) Sekretariat Daerah Kota Bogor Rahmat Hidayat mengatakan, sebanyak 69 paket konstruksi dan 15 paket lainnya sudah dilakukan tanda tangan kontrak. “54 paket konsultasi masih dalam proses tender,” ujar Rahmat di sela briefing staf di Paseban Sri Bima Balaikota Bogor, Selasa (21/8/2018).

Dinas Pendidikan

Ia menambahkan, jumlah tender paket konstruksi yang diajukan terbesar datang dari Dinas Pendidikan sebanyak 27 paket, disusul Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) sebanyak 19 paket.

Lalu ada Dinas Perhubungan

“Lalu ada Dinas Perhubungan dan Dinas Kesehatan masing-masing 6 paket serta Dinas Perumahan dan Permukiman 4 paket,” pungkasnya. (Tria/Indra/pri).

 

Sumber: http://bpbd.lampungprov.go.id/blog/pancasila-sebagai-dasar-negara/

Potensi Diri Positif

Potensi Diri Positif

Potensi Diri Positif

Potensi Diri Positif

Potensi Diri Positif

a) Memiliki idealisme

Kita harus memiliki ide yang kita yakni kebenarannya dengan didukung fakta dan berusaha untuk mewujudkan dalam tujuan hidup kita.

b) Dinamis dan kreatif

Selalu berkembang mengikuti perkembang zaman tanpa berhenti untuk berkreasi dalam mencapai tujuan tanpa mengabaikan norma-norma yang ada dalam kehidupan sehari-hari, baik norma agama, norma hukum, norma Kesusilaan dan norma kesopanan.

c) Keberanian mengambil resiko

Semua tindakan yang dilakukan selalu ada resiko, itu karena selalu sebab pasti ada akibat. Jadi sebelum bertindak harus selalu mempertimbangkan masak-masak resiko yang akan timbul dan berusaha menghadapi serta mengatasi dengan baik.

d) Optimis dan kegairahan semangat

Sebagai manusia yang hidup di era globalisasi tidak boleh pesimis, maka sebagai bagian dari dunia seseorang harus selalu optimis dan memiliki kegairahan semangat supaya tidak putus asa dan lemah sebelum bertanding. Bangsa yang maju adalah bangsa yang rakyatnya berkeinginan bekerja keras, ulet dan tangguh dalam mewujudkan sebuah prestasi. Kita perlu mengingat baik-baik bahwa Tuhan sendiri tidak akan mengubah kondisi suatu bangsa jika bangsa itu tidak mau berubah.

e) Kemandirian dan disiplin murni

Sebagai bagian dari bangsa yang mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri dan memiliki disiplin yang tinggi. Pendidikan disiplin bukan hanya sekedar patuh terhadap aturan tetapi juga harus terwujud dalam bentuk pengakuan terhadap hak dan keinginan orang lain, serta mau mengambil bagian dalam memikul tanggung jawab sosial secara manusiawi.

f) Fisik yang kuat dan sehat

Kita perlu menjaga kekuatan dan kesehatan fisik agar jiwa tetap kuat penuh semangat.

g) Sikap ksatria

Ksatria adalah sikap yang sportif yakni berani mengakui kesalahan dan kekalahan jika mengalaminya, serta bersedia meminta maaf untuk tidak mengulangi lagi perbuatan.

h) Terampil dalam menerapkan IPTEK

Melalu pendidikan dan pelatihan diharapkan manusia dapat melatih kemampuannya dengan bantuan fasilitas yang ada demi dapat mengikuti perkembangan zaman dan mampu bersaing dengan bangsa lain. Diharapkan kedepannya setiap orang dapat menerapkan IPTEK dalam kehidupan sehari-hari.

i) Kompetitif

Setiap individu harus menunjukkan kelebihan pada dirinya dengan berkompetisi dengan bangsa lain. Dalam berkompetisi tidak ditentukan adanya ajaran yang menjadikan orang lain sebagai objek / musuh. Jadi kompetitif adalah orang lain dijadikan sebagai mitra dalam mencapai suatu prestasi. Jika hendak bersaing harus mempersiapkan diri berani memulai, tidak menunda, kemudian menfokuskan pada keunggulan yang dimiliki serta yang tidak kalah penting adalah mengubah energi persaingan yang bersifat negatif menjadi sesuatu yang positif, supaya terjadi persaingan yang sehat dan mencapai hasil yang optimal.

j) Memilik bakat

Memiliki bakat berarti orang tersebut sungguh beruntung karena akan mudah dalam mewujudkan prestasi dirinya. Dukungan dari keluarga dan lingkungan sangat penting untuk memotivasi terwujudnya prestasi orang yang memiliki bakat. Bakat yang besar harus didukung dengan motivasi yang kuat di dalam dirinya. Seorang pemimpin hebat selain bisa dipersiapkan melalui pendidikan dan pelatihan akan lebih hebat jika dia memiliki bakat terpendam sebagai potensi dirinya.

k) Daya pikir kuat.

Untuk dapat mencapai keberhasilan, manusia harus memiliki daya pikir yang kuat dan didukung dengan motivasi yang kuat juga dalam dirinya. Karena merupakan penggerak untuk dapat melakukan aktivitas. Mempunyai kemampuan dan kemauan yang berfikir dengan kuat maka dia akan mampu berprestasi dengan baik.

 

Baca Artikel Lainnya:

Sejarah Pendidikan Warga Cina Di Indonesia

Sejarah Pendidikan Warga Cina Di Indonesia

Sejarah Pendidikan Warga Cina Di Indonesia

Sejarah Pendidikan Warga Cina Di Indonesia

Sejarah Pendidikan Warga Cina Di Indonesia

Sekolah tradisional

saat pertama kali dibuka bagi etnik Cina dilakukan pada zaman kolonial Belanda dan saat itu kebijakan kolonial yang digunakan untuk pendidikan etnik Cina adalah membiarkan mereka mendirikan lembaga-lembaganya sendiri, berlainan dengan perlakuan mereka terhadap pendidikan bangsa Indonesia. Hal ini disebabkan karena adanya undang-undang kewarganegaraan yang berlaku saat itu mendudukkan Belanda dan Eropa lainnya sebagai warga negara kelas pertama, bangsa Cina dan Timur Asing lainnya sebagai warga negara kelas kedua, sedangkan bangsa pribumi sebagai lapis ketiga. Sekolah-sekolah untuk etnik Cina menggunakan bahasa Cina dan buku-buku ajaran Confusianisme sebagai bahasa dan alat pengajaran. Anak-anak golongan peranakan dan pedagang kaya juga anak-anak para kapten Cina (wijkmeesters) dimasukkan di sekolah-sekolah belanda, sedangkan anak-anak Cina yang miskin pada umumnya ditelantarkan. Pada tahun 1901, demi kepentingan mereka maka dibukalah sekolah-sekolah Tiong Hoa Kwee Koan (THHK) dengan mengajarkan cita-cita dan aspirasi bangsa Cina. Dari pengaruh gerakan kebangsaan di daratan Cina di bawah kepemimpinan Dr. Sun Yat-sen menyebabkan rasa kesetiaan dan kebanggaan terhadap tanah air (Cina) menjadi tumbuh semakin kuat.

Selanjutnya untuk menangkal kecenderung itu

maka Belanda mulai membuka sekolah-sekolah HCS (Holland Chineese School) di tahun 1908. Dalam kurikulum pembelajarannya, bahasa dan budaya Cina sudah tidak diajarkan lagi, dan bahasa pengantarnya yang digunakan adalah bahasa Belanda. Anak-anak para pemimpin dan orang kaya Cina mulai masuk sekolah-sekolah itu, nampaknya karena orang tua mereka berfikir secara pragmatik bahwa pendidikan Belanda semacam ini akan berarti kesempatan memasuki lapangan kerja kelas menengah, walaupun persyaratan dan uang sekolah yang harus dibayarkan cukup tinggi dan mahal. Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan di tingkat HCS, mereka memasuki sekolah-sekolah menengah dan kemudian perguruan tinggi baik di Indonesia ataupun di negeri Belanda, dan mereka berkembang menjadi angkatan pertama profesional Cina yang berpendidikan Barat. (https://bandarlampungkota.go.id/blog/jenis-jaringan-tumbuhan-dan-fungsinya/)

Selama zaman pendudukan Jepang

sekolah-sekolah Cina ditutup. Pada umumnya anak-anak sekolah atau pegawai etnik Cina mengganggur dan Tinggal di rumah. Hanya secara proklamasi kemerdekaan RI, di dalam perkembangannya pemerintah Indonesia menggolongkan sekolah-sekolah Cina ini sebagai sekolah asing karena bahasa pengajaran yang digunakan adalah bahasa Cina dan pengaruh ideologi komunis sangat besar. Tindakan-tindakan untuk membatasi meluasnya pengaruh asing ini diambil sejak 1975, terutama pengawasan terhadap guru dan buku-buku yang digunakan. Anak-anak Indonesia dilarang memasuki sekolah-sekolah asing itu.

Sesudah peristiwa G-30-S PKI tahun 1965

sekolah-sekolah Cina ditutup. Para siswanya disalurkan ke sekolah-sekolah negeri/swasta. Pada umumnya mereka memilih sekolah swasta yang dinaungi gereja. Coppel dan Suryadinata menyatakan bahwa pada waktu itu terjadi gelombang besar-besaran etnik Cina yang masuk agama Kristen untuk menghilangkan stigma sosial (dalam arti dituduh komunis) dan penganut Confusinisme atau Buddhisme.
Pada siswa yang tidak masuk sekolah negeri/swasta Katolik/Protestan selanjutnya memasuki Sekolah Proyek Khusus Nasional, yang dibuka pemerintah di beberapa daerah. Sekolah-sekolah ini mengikuti kurikulum nasional yang mengajarkan Ideologi Pancasila, Bahasa Indonesia, Kewarganegaraan, Sejarah dan Geografi Indonesia, serta mempelajari budaya Indonesia. Setelah periode transisi berakhir sekolah-sekolah khusus ini ditutup. Maka alternatif yang masih terbuka bagi anak-anak etnis Cina adalah masuk sekolah negeri atau swasta, pada umumnya mereka memilih sekolah swasta yang disponsori gereja.

Pendidikan Dalam Masyarakat Majemuk-Amerika

Pendidikan Dalam Masyarakat Majemuk-Amerika

Pendidikan Dalam Masyarakat Majemuk-Amerika

Pendidikan Dalam Masyarakat Majemuk-Amerika

Pendidikan Dalam Masyarakat Majemuk-Amerika

Bangsa Amerika Serikat telah mengalami pasang surut dalam upaya pembinaan bangsanya. Berbagai pilihan telah digunakan, mulai dari “Melting Pot” yang didominasi oleh kultur golongan kulit putih sampai dengan “Salad Bowl: Kesatuan dalam kemajemukan” yang menghargai eksistensi keragaman etnik dalam kemajemukan budaya. Kebijakan-kebijakan tersebut berpengaruh terhadap dunia pendidikan. Pemisahan dan diskriminasi berlaku dalam pelayanan pendidikan bagi siswa golongan kulit berwarna. Dalam perjuangan hak-hak sipil telah membawa perubahan ke arah perlakuan kemajemukan budaya (Culture Pluralism). Suatu masukan bagi dunia pendidikan, terutama dalam masyarakat yang pluralistik.

Prasangka Terhadap Orang-orang Berkulit Hitam

Masyarakat Amerika adalah masyarakat majemuk. Penduduknya terdiri dari kaum imigran yang berasal dari berbagai negara, ras, agama, dan kebudayaan. Para pendatang mulanya adalah orang-orang berkulit putih dari kebudayaan Anglo-Sakson. Jadi merekalah yang kemudian mendominasi arena politik dan kemasyarakatan. WASP (White, Anglo-Saxon, and Protestant) adalah premis keunggulan ras dan menjadi kriteria keberhasilan dan kekuasaan dalam masyarakat Amerika Serikat yang pluralistik.
Untuk pendidikan di sekolah-sekolah juga mencerminkan pandangan dalam masyarakatnya. Ada masalah yang paling kontroversial saat itu adalah diskriminasi terhadap orang-orang berkulit hitam, walaupun perlakuan yang berbeda juga lazim terhadap orang-orang Indian, Mexico, Puerto Rico dan dalam takaran yang relatif lebih lunak terhadap orang-orang keturunan Asia seperti Jepang, Cina dan Filipina.
prasangka terhadap orang-orang kulit hitam adalah yang paling tua usianya dalam diskriminasi pendidikan di Amerika Serikat. Perlakuan yang membedakan ini sudah berlangsung sejak abad ke-17 disebabkan karena, kecuali bangsa Indian, orang berkulit hitamlah yang merupakan minoritas tertua. Mereka juga merupakan minoritas terbesar yang diwakili di setiap negara bagian. Dan disamping itu citra dari budak melekat pada orang berkulit hitam dan hal tersebut merupakan stigma sosial bagi mereka.
Sesudah perang saudara dan periode rekonstruksi, diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam (blacks) ini berkurang walaupun mereka masih diperlakukan terpisah dalam segregasi. Dua keputusan pengadilan yakni perkara “Cumming vs Georgia Board of education (1899) dan Berea College vs Kentucky (1908) yang menyatakan agar pengurus sekolah dengan bijaksana sepatutnya menyediakan fasilitas pendidikan yang terpisah kepada anak-anak orang kulit hitam, menyebabkan pelayanan pendidikan bagi mereka rendah sehingga kualitas pendidikan akan menjadi lebih inferior dibandingkan dengan anak-anak orang kulit putih.
Perubahan yang berpengaruh terjadi pada awal perjuangan hak-hak sipil di Amerika Serikat. Dengan adanya keputusan Mahkamah Agung terhadap perkara Brown vs Board of Education of Topeka, menyatakan bahwa pelayanan yang terpisah walaupun sebenarnya sama pada hakekatnya adalah tidak sederajat. Keputusan tersebut berlaku juga terhadap kasus-kasus  segregasi di negara-negara bagian lainnya, sehingga dampaknya adalah pukulan terhadap upaya-upaya yang menentang intergrasi dalam pendidikan. Puncak yang menghebohkan ialah peristiwa de-segregasi di Little Rock, Arkansas, satu dekade sesudah keputusan perkara Brown berlaku.

Melting Pot: Upaya Perbauran dalam Pembinaan Bangsa

Hal yang diupayakan untuk mempersatukan keragaman ini dalam sebuah nation, dilakukanlah upaya pembauran, Melting Pot adalah pilihan ke arah menciptakan sebuah bangsa baru yang lebih unggul dari hanya kumpulan berbagai kelompok etnik saja. Akan tetapi ternyata di dalam proses tersebut, budaya Anglo-Amerika tetap menonjol dan WASP masih mendominasi. Kelompok-kelompok etnis yang lain pun terpaksa melepaskan unsur-unsur etniknya untuk dapat menyesuaikan diri dengan pola perilaku dan sistem nilai Anglo-Amerika. Sekolah-sekolah merupakan lembaga masyarakat yang menyebarluaskan sasaran ini. Dan salah satunya sebaran tentang pembauran yang berbunyi sebagai berikut ini;

“Adalah tugas kami (sekolah) untuk membubarkan kelompok-kelompok dan pemukiman-pemukiman kaum imigran ini, untuk selanjutnya digabungkan dan dibaurkan ke dalam bangsa Amerika. Adalah tugas kami untuk mendidik anak-anak mereka ke dalam konsep-konsep Anglo-Sakson tentang baik buruk, hukum, tertib dan pemerintahan, serta membangkitkan rasa hormat mereka terhadap lembaga-lembaga demokratis dan cita-cita lainnya yang dijunjung tinggi oleh seluruh rakyat (James A. Banks, Multiethnic Education: Practices and Promises (Bloomington, Indiana: The Phi Delta Kappa Educational Foundation, 1977 , halaman 11).

Sebagai ilustrasi dari kebajikan pembauran bersi “kawah candradimuka” ini, kita tilik proses asimilasi yang terjadi dikalangan imigran Cina. Mereka merupakan kelompok yang menjunjung tinggi budaya leluhur dan selalu bermukim di wilayah-wilayah yang eksklusif, yang dikenal dengan istilah China Town. Di tempat itu mereka merasa aman dan dikelilingi oleh keluarga serta adat yang akrab. Namun tuntutan pendidikan, lapangan pekerjaan dan kesejahteraan yang lebih baik, yang ingin dicapai oleh orang-orang cina ini, ingin menuntut perubahan. Pada pasca perang dunia II (1939 sampai dengan 1945), mereka yang ingin maju mulai meninggalkan China Town dan berusaha bertempat tinggal di daerah pemukiman umum, berkompetisi dengan  bersekolah yang bermutu serta dilapangan pekerjaan yang penuh dengan saingan. Untuk itu mereka melepaskan budaya tradisional China, masuk ke dalam pola budaya Anglo-Sakson, agar diterima sebagai bangsa Amerika.

Perubahan yang terjadi di kalangan Cina ini, khususnya di bidang pendidikan, disebabkan karena perlakuan yang diskriminatif terhadap mereka dan tuduhan-tuduhan bahwa siswa keturunan Cina yang mempertahankan budaya nenek moyangnya, di sekolah kurang berpartisipasi, non-asertif dan tidak pernah bertanya. Walaupun demikian penelitian yang dilakukan oleh Lesser, Fifer, dan Clark (1965) menunjukkan bahwa siswa-siswa Cina memang benar mendapat skor rendah pada tes verbal, akan tetapi mereka mendapat skor tinggi pada tes numerik dan skor tertinggi pada tes yang menguji nalar dan spatial.
Pembauran di kalangan imigran Jepang menunjukkan gambaran yang agak berbeda. Pada dekade 1970-an angkatan Sensei, yaitu keturunan ketiga imigran Jepang di Amerika Serikat, telah berhasil menerobos citra “Bahaya Kuning” menjadi “Minoritas Teladan” melalui kerja keras dan berbagai pengalaman. Keturunan Jepang yang pertama, atau Issei, masih mengikuti pola hidup budaya asalnya. Sedangkan anak-anaknya atau Nissei, mulai mengalami perubahan. Di sekolah mereka berbahasa Amerika; tetapi di rumah mereka masih berbahasa dan menggunakan adat-istiadat Jepang. Maka keturunan Nissei ini hidup dalam dunia yang penuh dengan konflik, baik di bidang pendidikan, sosial, maupun ideologis. (https://bandarlampungkota.go.id/blog/konsep-dan-radiasi-gelombang-elektromagnetik/)
Akan tetapi sesudah perang dunia kedua, angkatan Sansei mulai berhasil tampil dalam kelas menengah di Amerika, tanpa telalu dibebani oleh diskriminasi atau prasangka ras yang dialami oleh para pendahulunya, Issei dan Nissei. Bahkan merekalah yang mampu menerobos mitos keberhasilan Amerika, yakni sukses dalam pendidikan dan sukses dalam profesi. Meskipun demikian, penelitian-penelitian yang dilakukan pada tahun 1970-an (antara lain oleh Hosakawa, 1978) masih menunjukkan tanda-tanda belum yakin diri dan kekhawatiran di kalangan Sansei. Isu bahwa mereka adalah high achievers masih ramai diperdebatkan, dan Sansei masih diliputi perasaan sebagai golongan marginal yang bukan Jepang lagi, namun belum sepenuhnya di terima sebagai warga Amerika. Khususnya di kalangan Sansei wanita, terutama yang berkaitan dengan kemandirian dan gerakan feminim, hal-hal itu masih merupakan persoalan dikotomi yang belum terpecahkan dan masih rawan.

Salad Bowl: Kesatuan dalam Kemajemukan

Gagasan dari pembauran dalam Melting Pot diakui telah memberi sumbangan yang baik ke arah pembinaan berbagai macam kelompok imigran dan etnik untuk bersatu menjadi sebuah bangsa. Tetapi penggabungan ini tidak berhasil menghapuskan perbedaan-perbedaan kultural di antara mereka. Para penganut pembauran memang selalu mengemukakan dalih bahwa tuntutan dari masyarakat modern dan teknokratis menghendaki surutnya budaya tradisional. Namun sulit juga untuk membantah bahwa cara-cara demikian justru berakibat tercerabutnya para imigran dari akar budaya mereka, sehingga menimbulkan alienasi dan anomie. Hal lain yang juga merupakan dampak negatif ialah tekanan-tekanan politik dan budaya dari kelompok etnik yang dominan terhadap yang lainnya, dengan mengatasnamakan tujuan dan kepentingan nasional.

Maka absahlah tuntutan pandangan baru yang konsekuensi dari sistem politik yang demokratis maupun kultur yang demokratis. Sehingga kaum imigran yang berasal dari Eropa Selatan, Tengah, dan Timur, mereka tergolong Afro-Amerika, Chicano atau Indian mempunyai hak atas lembaga dan budaya etnik mereka di dalam masyarakat Amerika Serikat. Mereka disebut Mangkuk Selada, karena argumentasi mereka ialah bahwa setiap bawaan budaya etnik akan mempunyai peranan yang unik dalam memperkaya khazanah budaya nasional secara keseluruhan. Jadi begitulah yang disebut kemajemukan budaya (cultural pluralism), gagasan dan pilihan lain yang dianjurkan untuk dilaksanakan, baik oleh lembaga pendidikan maupun umum.

Teori-Teori Penyimpangan Sosial

Teori-Teori Penyimpangan Sosial

Teori-Teori Penyimpangan Sosial

Teori-Teori Penyimpangan Sosial

Teori-Teori Penyimpangan Sosial

Teori-teori yang menguraikan tentang penyebab terjadinya perilaku menyimpang menurut pendapat para ahli sosiologi antara lain:

a. Teori Pergaulan Berbeda (teori differential association),

oleh Edwin H. Sutherland E. H. Sutherland mengemukakan bahwa penyimpangan bersumber pada pergaulan yang berbeda. Misalnya menjadi pemakai narkoba karena bergaul dengan pecandu narkoba.

b. Teori Labelling (pemberian julukan), oleh Edwin M. Lemert

E. M. Lemert mengemukakan bahwa seseorang telah melakukan penyimpangan pada tahap primer, tetapi masyarakat kemudian menjuluki sebagai pelaku menyimpang, sehingga pelaku meneruskan perilaku menyimpangnya dengan alasan kepalang basah.

Misalnya seorang yang baru mencuri pertama kali lalu masyarakat menjulukinya sebagai pencuri, meskipun ia sebenarnya Penyimpangan Sosial dan Upaya Pencegahan sudah tidak lagi mencuri, akibatnya karena selalu dijuluki pencuri, maka ia pun terus melakukan penyimpangannya.

c. Teori Fungsi, oleh Emile Durkheim

Emile Durkheim mengemukakan bahwa tercapainya kesadaran moral dari semua anggota masyarakat karena faktor keturunan, perbedaan lingkungan fisik, dan lingkungan sosial.

Ia menegaskan bahwa kejahatan itu akan selalu ada, sebab orang yang berwatak jahat pun akan selalu ada. Menurut Emile Durkheim kejahatan diperlukan agar moralitas dan hukum dapat berkembang secara normal.

d. Teori Merton, oleh Robert K. Merton

R. K. Merton mengemukakan bahwa perilaku menyimpang merupakan bentuk adaptasi terhadap situasi tertentu. Berdasarkan pendapat Robert K. Merton ada 5 (lima) tipe adaptasi yang termasuk penyimpangan sosial, yaitu ritualisme, rebellion, retreatisme, dan inovasi.

  1. Inovasi, yaitu perilaku mengikuti tujuan yang ditentukan masyarakat tetapi memakai cara yang dilarang oleh masyarakat (dengan melakukan tindak kriminal).
  2. Ritualisme, yaitu perilaku seseorang yang telah meninggalkan tujuan budaya, namun masih tetap berpegang pada cara-cara yang telah digariskan masyarakat.
  3. Pengunduran/pengasingan diri (retreatisme), yaitu meninggalkan baik tujuan konvensional maupun cara pencapaian yang konvensional sebagaimana dilakukan oleh para pelaku penyimpangan sosial.
  4. Pemberontakan (rebellion), yaitu penarikan diri dari tujuan dan cara-cara konvensional yang disertai upaya untuk melembagakan tujuan dan cara baru.
  5. Konformitas, yaitu perilaku mengikuti tujuan dan cara yang ditentukan oleh masyarakat untuk mencapai tujuan tersebut.
  6. Media Pembentukan Perilaku Menyimpang Terbentuknya perilaku menyimpang karena adanya media pencetus yang dapat mendorong terbentuknya kepribadian yang menyimpang tersebut.

 

Baca Artikel Lainnya:

Hubungan Kelangkaan Sumber Daya dengan Kebutuhan Manusia

Hubungan Kelangkaan Sumber Daya dengan Kebutuhan Manusia

Hubungan Kelangkaan Sumber Daya dengan Kebutuhan Manusia

Hubungan Kelangkaan Sumber Daya dengan Kebutuhan Manusia

Hubungan Kelangkaan Sumber Daya dengan Kebutuhan Manusia

Kebutuhan Manusia

Berkaitan dengan kebutuhan manusia, tentu kamu masih ingat bukan pelajaran di kelas VII yang lalu mengenai usaha manusia memenuhi kebutuhan? Ya, pada pelajaran di kelas VII usaha pemenuhan kebutuhan manusia lebih ditekankan pada aspek manusia sebagai makhluk sosial yang bermoral dalam memenuhi kebutuhan hidup, serta berkaitan dengan tindakan ekonomi berdasarkan motif dan prinsip ekonomi.

Adapun pelajaran kali ini masih berkaitan dengan kebutuhan, namun lebih ditekankan pada keterkaitan antara kebutuhan dan kelangkaan. Dengan demikian pengetahuan dan pemahamanmu mengenai kebutuhan akan makin lengkap.

1. Berbagai Macam Kebutuhan

Dalam hidupnya, manusia senantiasa memiliki banyak kebutuhan. Kebutuhan adalah segala sesuatu yang muncul dalam diri manusia agar manusia tetap hidup. Misalnya saat merasa lapar manusia berusaha untuk mendapatkan makanan yang dapat dimakan. Saat haus manusia berusaha untuk mendapatkan minuman
yang dapat diminum.

contoh teks ulasan drama – Makan dan minum merupakan suatu bentuk kebutuhan yang alamiah (naluri). Jika seseorang memerlukan sepatu, memerlukan buku, memerlukan kendaraan, dan semua benda yang melengkapi kehidupan manusia merupakan bentuk kebutuhan yang bukan alamiah, melainkan sebagai hasil kebudayaan.

Makin tinggi tingkat kebudayaan manusia makin kompleks pula kebutuhan yang diinginkan. Masyarakat modern memiliki kebutuhan yang lebih banyak ragamnya daripada masyarakat tradisional. Berbagai bentuk kebutuhan manusia dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

a. Menurut kepentingannya

Menurut kepentingannya, kebutuhan dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

1) Kebutuhan pokok/kebutuhan primer

Kebutuhan pokok merupakan bentuk kebutuhan yang mendasar dan muncul secara alamiah sebagai sarana untuk kelangsungan hidup manusia secara layak.

Adapun yang termasuk kebutuhan primer adalah pangan, sandang, dan papan. Jika kebutuhan primer belum tercukupi, maka manusia dikatakan belum layak hidupnya.

2) Kebutuhan tambahan/kebutuhan sekunder

Kebutuhan tambahan merupakan jenis kebutuhan yang muncul karena ada tuntutan sosial yang berguna sebagai pelengkap kebutuhan pokok. Misalnya sepatu/sandal untuk melengkapi kebutuhan akan pakaian, kendaraan (sepeda,  sepeda motor) sebagai alat transportasi.

Keberadaan kebutuhan sekunder tidak memengaruhi terhadap kelangsungan hidup seseorang, artinya jika tidak terpenuhi manusia tetap masih dikatakan sebagai hidup yang layak.

3) Kebutuhan tersier

Kebutuhan tersier merupakan bentuk kebutuhan akan barang mewah. Suatu benda dikatakan mewah atau tidak tergantung dari tingkat kemakmuran seseorang yang memiliki benda tersebut.

Misalnya bagi seorang yang berpenghasilan pas-pasan mobil bisa dikatakan sebagai barang mewah, namun tidaklah demikian bagi orang yang penghasilannya berlebih.

Dengan demikian pengertian mewah atau tidak sangatlah relatif. Hal yang membedakan kemewahan suatu barang ditinjau  dari:

  • Kegunaannya, sebagai pelengkap kebutuhan pokok dan kebutuhan tambahan.
  • Waktu pemenuhan, bisa ditunda setelah kebutuhan pokok dan kebutuhan tambahan terpenuhi.
  • Akibat, akan berpengaruh terhadap kesehatan maupun kelangsungan hidup.
  • Menurut waktu

b. Menurut waktu pemenuhannya, kebutuhan dapat diklasifkasikan sebagai berikut.

1) Kebutuhan sekarang

Kebutuhan sekarang merupakan bentuk kebutuhan untuk keperluan saat ini yang harus segera dipenuhi dalam jangka waktu yang cepat. Misalnya kebutuhan akan makanan/minuman, kebutuhan alat tulis bagi pelajar, kebutuhan kendaraan bagi yang akan bepergian jauh, dan sebagainya.

2) Kebutuhan yang akan datang

Kebutuhan yang akan datang merupakan bentuk kebutuhan yang pemenuhannya memerlukan proses lama,
sehingga dapat ditunda. Misalnya kebutuhan memiliki rumah pribadi, kendaraan pribadi, dan sebagainya.

c. Menurut subjek

Menurut subjek atau pemakainya, kebutuhan dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

1) Kebutuhan perorangan

Kebutuhan perorangan merupakan bentuk kebutuhan yang diperlukan oleh setiap individu secara pribadi. Misalnya makanan, minuman, pakaian, sepatu, dan sebagainya

2) Kebutuhan kelompok atau kebutuhan bersama

Kebutuhan rohani merupakan bentuk kebutuhan yang dapat dipergunakan secara bersama-sama. Misalnya jembatan, gedung sekolah, jalan raya, dan sebagainya.

d. Menurut sifatnya

Menurut sifatnya, kebutuhan dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

1) Kebutuhan jasmani

Kebutuhan jasmani merupakan bentuk kebutuhan yang berkaitan dengan fisik manusia. Misalnya makanan dan minuman, pakaian, perhiasan, kendaraan, dan sebagainya.

2) Kebutuhan rohani

Kebutuhan rohani merupakan bentuk kebutuhan yang berkaitan dengan psikis/kejiwaan seseorang. Misalnya hiburan, prestasi, penghargaan, dan sebagainya. Kebutuhan manusia sangatlah beranekaragam, baik jenis dan mutunya. Hal ini sudah menjadi sifat kebutuhan manusia.

Jika kebutuhan yang paling mendesak sudah terpenuhi, maka akan muncul kebutuhan berikutnya, sehingga dapat dikatakan bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas.

Beberapa hal yang menyebabkan kebutuhan manusia tidak terbatas atau beranekaragam antara lain:

  • Organ manusia, selalu membutuhkan sesuatu untukmenggerakkan fungsinya.
  • Kebudayaan manusia, makin maju kebudayaan manusia, maka akan ada tuntutan sosial kehidupan yang lebih baik. Misalnya model bangunan rumah, perhiasan, alat komunikasi yang terus berubah.
  • Faktor psikologis, di mana seseorang membutuhkan sesuatu untuk memenuhi kepuasan batin. Misalnya rasa aman, kasih sayang, dan kepedulian.

2. Alat Pemuas Kebutuhan

Berbagai bentuk kebutuhan manusia dapat berupa benda atau pun jasa. Orang yang lapar memerlukan makanan, orang yang bepergian memerlukan angkutan/kendaraan. Makanan dan kendaraan tersebut merupakan bentuk alat pemuas kebutuhan.

Berbagai bentuk alat pemenuhan kebutuhan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Menurut kelangkaannya

Menurut kelangkaannya, alat pemuas kebutuhan dapat dibedakan:

1) Benda ekonomi

Benda ekonomi, yaitu benda yang tersedia dalam jumlah yang kecil (sedikit) dibandingkan dengan yang membutuhkannya, sehingga untuk mendapatkan perlu pengorbanan. Misalnya pada saat kemarau panjang air merupakan benda ekonomi yang untuk memperolehnya diperlukan biaya atau tenaga.

2) Benda bebas

Benda bebas, yaitu benda yang tersedia di alam bebas. Orang bisa mendapatkannya secara cuma-cuma. Misalnya udara untuk pernapasan, air di musim penghujan, dan sebagainya.

3) Benda illith

Benda illith adalah benda yang ada di sekitar kita, namun jika berlebihan dapat merugikan kehidupan manusia. Misalnya air dan api termasuk benda illith yang jika berlebihan justru merugikan atau bahkan membunuh manusia.

b. Menurut wujudnya

Menurut wujudnya, alat pemuas kebutuhan dapat dibedakan:

  1. Barang atau benda konkret, Barang konkret merupakan alat pemuas kebutuhan yang dapat dilihat, diraba, dan dirasakan manfaatnya. Misalnya rumah, pakaian, roti, nasi, dan sebagainya.
  2.  Jasa, Jasa merupakan alat pemuas kebutuhan yang hanya dapat dirasakan manfaatnya, tetapi tidak dapat dilihat atau diraba. Misalnya hiburan musik, layanan angkutan, dan sebagainya.

 

c. Menurut hubungannya dengan benda lain

Menurut hubungannya dengan benda lain, alat pemuas kebutuhan dapat dibedakan:

  1. Benda substitusi, Benda substitusi merupakan benda yang penggunaannya dapat menggantikan benda lain yang sedang diperlukan. Misalnya sepeda motor dapat menggantikan mobil, roti dapat menggantikan nasi.
  2. Benda komplementer, Benda komplementer merupakan benda yang dapat berfungsi jika dilengkapi dengan benda lain. Misalnya nasi dengan lauk pauknya, buku dengan pulpen, mobil dengan bahan bakar, dan sebagainya.

 

d. Menurut tujuan pemakaiannya

Menurut tujuan pemakaiannya, alat pemuas kebutuhan dapat dibedakan: 

  1. Benda konsumsi, Benda konsumsi adalah benda yang dapat langsung dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan. Misalnya minuman dan makanan.
  2. Benda produksi, Benda produksi merupakan benda yang dipergunakan untuk memproduksi benda lain. Misalnya alat pembuat kue, mesin traktor, kompor, dan sebagainya.

 

e. Menurut tingkat pemakaiannya

Menurut tingkat pemakaiannya, alat pemuas kebutuhan dapat dibedakan:

  1. Benda tahan lama, Benda tahan lama merupakan benda yang dapat dipergunakan berulang kali. Misalnya pakaian, sepatu, perhiasan, kendaraan, dan sebagainya.
  2. Benda tidak tahan lama, Benda tidak tahan lama merupakan benda yang hanya dapat dipergunakan satu kali saja atau benda yang habis pakai. Misalnya makanan, minuman, parfum, bahan bakar, dan sebagainya.

 

Kelangkaan

Ketidakseimbangan antara kebutuhan dan alat pemuas kebutuhan menimbulkan kelangkaan pada sumber daya yang menjadi alat pemuas kebutuhan. Kelangkaan adalah suatu bentuk ketidakseimbangan antara kebutuhan dengan pemenuhan kebutuhan. Ketika masyarakat memerlukan minyak tanah, sedangkan minyak tanah tidak ada di pasaran, maka dikatakan minyak tanah mengalami kelangkaan.

Demikian halnya pada musim kemarau banyak masyarakat memerlukan air, tetapi air sulit atau tidak dapat dijumpai. Jika ada bahkan itu pun tidak mencukupi kebutuhan. Hal ini juga disebut sebagai bentuk kelangkaan.

Adapun sumber daya yang sulit didapat sebagai alat pemenuhan kebutuhan manusia disebut sebagai sumber daya langka, di mana menunjukkan keterbatasan sumber daya tersebut, sehingga tidak memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sumber daya langka atau terbatas dapat dikelompokkan menjadi tiga:

  1. Sumber daya alam, misalnya bahan bakar, air, udara, dan bahan tambang lain.
  2. Sumber daya manusia atau tenaga kerja, di mana makin sedikit gaji yang tersedia, maka makin terbataslah sumber daya manusia yang dipekerjakan.
  3. Modal, dapat berupa uang atau barang. Modal dikatakan terbatas karena untuk memperolehnya diperlukan pengorbanan dalam bentuk biaya.

Apabila sumber daya terbatas, sedangkan kebutuhan banyak, maka harus ada yang dikorbankan untuk pemakaian yang lebih penting. Usaha manusia untuk mengatasi kelangkaan sumber daya adalah sebagai berikut.

  1. Menyusun skala prioritas, yakni membuat daftar kebutuhan mana yang perlu didahulukan pengadaannya karena dirasa lebih mendesak.
  2. Menggunakan alat pengganti pemenuhan kebutuhan, misalnya kelangkaan minyak tanah diganti dengan arang, kayu bakar, atau gas.
  3. Melakukan penghematan dalam menggunakan sumber daya yang termasuk langka/terbatas.

Menyusun Skala Prioritas

Manusia memiliki kebutuhan yang banyak dan beranekaragam, sedangkan sumber daya/alat pemenuhan kebutuhan jumlahnya terbatas. Maka dari itu manusia harus mampu mengutamakan kebutuhan yang dapat dianggap paling penting/mendesak dibandingkan kebutuhan lainnya. Misalnya kebutuhan pangan lebih mendesak daripada kebutuhan papan.

Setelah kebutuhan yang paling mendesak telah terpenuhi, maka manusia baru memikirkan pemenuhan kebutuhan lainya. Oleh karena itu, manusia perlu menyusun skala prioritas, kebutuhan mana yang perlu didahulukan/diutamakan.

Hal-hal yang perlu dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan skala prioritas adalah:

1. Tingkat Urgensinya

Dalam menentukan pilihan mana yang harus didahulukan perlu mempertimbangkan seberapa jauh tingkat kepentingan hal yang kita butuhkan tersebut. Misalnya Badi seorang pelajar yang sedang menghadapi tes, lampu kamar lebih penting daripada alat tulis, karena lampu kamar sebagai sarana penerangan belajar, sedangkan alat tulis bisa meminjam dulu ke kakak ataupun adik.

2. Kesempatan yang Dimiliki

Jika suatu kebutuhan hanya dibutuhkan pada saat itu saja maka perlu didahulukan. Misalnya dalam kondisi darurat, keselamatan atau kesehatan merupakan nomor satu. Demi kesembuhan, obat merupakan kebutuhan yang perlu didahulukan, sedangkan hal yang lainnya bisa dikesampingkan.

3. Pertimbangan Masa Depan

Dalam menghadapi pilihan yang sulit, faktor masa depan perlu dipertimbangkan. Misalnya ada beberapa pilihan bidang kursus/les ingin diikuti, namun tidak mungkin memilih semuanya, maka perlu dipertimbangkan jenis kursus apa yang bermanfaat bagi masa depannya.

Antara pilihan les Matematika ataukah Bahasa Inggris? Meskipun keduanya sama penting, namun mengutamakan bahasa Inggris merupakan pilhan yang paling tepat, sebab kegunaan di masa mendatang Bahasa Inggris lebih luas dibandingkan dengan Matematika.

4. Kemampuan Diri

Memiliki banyak keinginan dan selalu merasa tidak puas merupakan bagian dari sifat manusia. Namun hal yang juga menjadi bagian dari sifat manusia yang sering terlupakan adalah sifat keterbatasan kemampuan.

Menentukan pilihan perlu mempertimbangkan pula kemampuan yang dimiliki, baik kemampuan materi maupun nonmateri, sehingga pilihan yang dijatuhkan bisa tepat. Misalnya hidup di kota besar dengan persaingan yang ketat memaksa manusia untuk saling berlomba agar tidak tertinggal dengan lainnya.

Dalam kondisi seperti itu kadang muncul persaingan yang tidak sehat, berusaha memaksakan diri agar bisa sama dengan orang lain tanpa mempertimbangkan kemampuan diri, akibatnya akan menderita sendiri.

Kepedulian Terhadap Sumber Daya yang Terbatas dalam Pemenuhan Kebutuhan

Keterbatasan merupakan bagian dari kehidupan, termasuk di dalamnya sumber daya yang ada. Baik sumber daya alam, sumber daya manusia maupun sumber daya berupa modal, semuanya memiliki keterbatasan. Ada yang cepat habis bahkan tidak bisa diperbaharui lagi, tetapi ada yang bisa diperbaharui lagi.

Oleh karena itu, untuk menjaga kelestarian lingkungan bagi kelangsungan hidup manusia dari generasi ke generasi, manusia perlu mempedulikan keadaan sumber daya sebagai alat pemenuhan kebutuhan agar tidak cepat punah.

Beberapa perilaku yang mencerminkan kepedulian terhadap sumber daya yang terbatas adalah sebagai berikut.

1. Pemanfaatan Sumber Daya secara Efektif dan Efisien

Hendaknya kita memanfaatkan sumber daya secara efisien dan efektif serta menggali yang belum dimanfaatkan. Hal ini dapat dilakukan dengan lima cara, yakni:

  • Mengubah bentuk benda untuk meningkatkan nilai hasil. Misalnya tebu diubah menjadi gula, rotan diubah menjadi perabot rumah tangga, dan sebagainya.
  • Mengkombinasikan kegunaan benda, misalnya coklat yang dicampur gula dan susu.
  • Memperbaiki barang yang rusak, misalnya mengelem buku yang rusak jilidannya dan sebagainya.
  • Mendaur ulang barang bekas untuk dijadikan barang yang bernilai guna. Misalnya botol kemasan air mineral diubah menjadi kap lampu atau hiasan dinding, dan sebagainya.
  • Mengadakan tebang pilih dalam pemanfaatan hasil hutan dan mengadakan reboisasi. Misalnya hanya menebang pohon dengan diameter tertentu.

2. Menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan

Keterampilan untuk Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Keterbatasan kemampuan yang dimiliki manusia dapat diatasi melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan.

Proses alih teknologi dari negara maju ke negara berkembang hanya dapat terjadi melalui proses pendidikan dan pelatihan ini yang antara lain dapat dilakukan dengan cara:

a. Mengikuti pendidikan formal

Pendidikan formal menyediakan layanan pendidikan dari jenjang pendidikan dasar sampai ke jenjang pendidikan tinggi.

Untuk meningkatkan profesionalitas dapat ditempuh dengan mengikuti pendidikan lanjutan. Bagi yang telah meraih gelar sarjana S1 bisa melanjutan ke jenjang pasca sarjana untuk meraih gelar sarjana
S2 bahkan S3.

b. Mengikuti kursus-kursus keterampilan

Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka penguasaan keterampilan selalu mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Dengan memiliki banyak keterampilan, maka akan memiliki banyak peluang dalam era globalisasi ini.

c. Mengikuti program magang

Menimba pengalaman langsung di dunia kerja bagi para siswa atau calon tenaga kerja dapat dilakukan dengan mengikuti magang bekerja di suatu instansi/perusahaan sesuai dengan bidang yang ditekuninya.

Melalui magang ini akan diperoleh pengalaman praktis berkaitan dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dipelajari. Pengalaman merupakan salah satu faktor yang menentukan tingkat profesionalitas seseorang.

3. Mengelola dan Mendayagunakan Sumber Modal dengan Tepat Guna

Modal merupakan bentuk sumber daya yang sangat menentukan dalam proses produksi. Modal dapat berupa uang ataupun sarana, mesin-mesin produksi.

Namun, jika pengelolaannya tidak tepat, modal akan habis percuma. Kebangkrutan suatu usaha merupakan salah satu contoh konkret ketidakmampuan mengelola sumber daya modal yang ada.

Rumah Tangga Keluarga Sebagai Pelaku Ekonomi

Rumah Tangga Keluarga Sebagai Pelaku Ekonomi

Rumah Tangga Keluarga Sebagai Pelaku Ekonomi

Rumah Tangga Keluarga Sebagai Pelaku Ekonomi

Rumah Tangga Keluarga Sebagai Pelaku Ekonomi

Pelaku Ekonomi

Jika kita mengamati kehidupan di sekitar kita, dapat kita temukan bahwa aktivitas manusia sehari-hari senantiasa berkaitan erat dengan kegiatan pokok ekonomi, yakni kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi.

Perhatikan baik-baik apa yang dilakukan orang-orang di sekitar kalian setiap pagi sampai petang. Semuanya berkaitan dengan kegiatan pokok ekonomi tersebut, bukan?

Pernahkah kalian memikirkan dari mana kalian mendapatkan makanan, minuman, dan peralatan rumah tangga yang setiap hari kalian gunakan? Pernahkah kalian memikirkan bagaimana prosesnya barang-barang tersebut dapat sampai ke rumah kalian? Atau pernahkah kalian berpikir mengapa orang tua kalian harus
bekerja?

Ya, anggota pki semua jawabannya berkaitan dengan kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh rumah tangga keluarga, yang meliputi kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi. Untuk lebih jelasnya coba perhatikan materi berikut dengan saksama.

1. Rumah Tangga Keluarga sebagai Produsen

Untuk dapat melakukan kegiatan ekonomi dalam rumah tangga keluarga harus memiliki penghasilan atau pendapatan yang dapat dipergunakan untuk melakukan kegiatan ekonomi lainnya.

Rumah tangga keluarga dalam kegiatan ekonomi merupakan pemilik faktor produksi. Faktor produksi tersebut antara meliputi:

a. Tanah, bagi masyarakat pedesaan khususnya keluarga petani,

tanah merupakan aset produksi yang utama. Dari tanah inilah dapat difungsikan sebagai penghasil pendapatan. Misalnya disewakan atau ditanami sebagai sumber penghidupan keluarga.

b. Tenaga kerja,

keluarga merupakan penyedia tenaga kerja bagi kegiatan produksi, baik produksi dalam keluarga tersebut ataupun kemungkinan dimanfaatkan oleh pihak lain.

c. Keahlian,

sumber penghasilan keluarga adalah dari keahlian yang dimiliki oleh kepala keluarga (bisa ayah, ibu atau keduanya). Keluarga juga menjadi sumber daya berupa keahlian yang dimiliki oleh anggota keluarga itu.

d. Modal,

keluarga merupakan modal produksi. Di mana masingmasing anggota keluarga memiliki keahlian masing-masing dan berpotensi menjadi tenaga kerja untuk menghasilkan suatu barang.

Kegiatan produksi yang dilakukan dalam rumah tangga keluarga adalah menyediakan faktor produksi yang dibutuhkan pelaku ekonomi lainnya. Dalam kegiatan produksi inilah rumah tangga keluarga memperoleh penghasilan atau pendapatan dalam bentuk uang.

2. Rumah Tangga Keluarga sebagai Distributor

Kegiatan distribusi adalah kegiatan menyampaikan barang dan jasa dari produsen kepada konsumen. Kegiatan distribusi dapat dilakukan oleh rumah tangga dengan membuka toko atau warung yang digunakan untuk mendistribusikan barang-barang kebutuhan masyarakat.

Selain membuka toko atau warung, rumah tangga juga dapat melakukan distribusi dengan menjadi pedagang keliling, pedagang asongan, pedagang perantara, dan lain-lain. Kegiatan distribusi yang dilakukan oleh rumah tangga ini bertujuan untuk mendapatkan penghasilan atau menambah penghasilan keluarga.

3. Rumah Tangga Keluarga sebagai Konsumen

Konsumsi dalam pengertian ekonomi adalah kegiatan mengurangi atau menghabiskan nilai guna barang/jasa. Pengertian mengurangi atau menghabiskan di sini dapat secara berangsurangsur atau sekaligus.

Barang yang digunakan langsung untuk pemenuhan kebutuhan disebut barang konsumsi, misalnya makanan dan minuman. Adapun barang yang tujuannya untuk menghasilkan barang disebut barang produksi, misalnya kendaraan, komputer, dan lain-lain.

Rumah tangga keluarga merupakan kelompok yang paling sering melakukan kegiatan konsumsi. Sesuai perannya, masingmasing anggota keluarga memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, baik dilihat dari jumlah maupun macamnya.

Perbedaan kegiatan konsumsi tersebut disebabkan adanya perbedaan jenis kelamin, usia, latar belakang pendidikan, cara dan kebiasaan hidup. Misalnya, ayah sebagai kepala keluarga yang bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan membutuhkan dasi, sepatu, tas kantor, dan lainlain.

Ibu sebagai ibu rumah tangga membutuhkan kompor, sayurmayur, buah-buahan, dan lain-lain. Adapun kebutuhan anak lain lagi, misalnya sebagai pelajar, ia membutuhkan buku tulis, pena, pensil, tas sekolah, dan lain-lain.

Kegiatan konsumsi yang dilakukan oleh setiap rumah tangga keluarga pun berbeda-beda.  Adapun faktor yang memengaruhi perbedaan kegiatan konsumsi yang terjadi dalam masing-masing rumah tangga keluarga adalah:

a. Jumlah pendapatan keluarga

Makin besar pendapatan keluarga makin besar pula dana yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi.

b. Jumlah anggota keluarga

Makin banyak anggota keluarga, makin banyak pula barang/jasa yang diperlukan.

c. Tingkat harga barang atau jasa

Makin tinggi harga barang/jasa, makin banyak pula dana yang diperlukan untuk membeli barang/jasa yang diperlukan keluarga tersebut.

d. Status sosial ekonomi keluarga

Makin tinggi status sosial keluarga, makin tinggi pula selera konsumsinya. Tingkat selera konsumsi seseorang akan nampak pada tingkat kualitas barang atau jasa yang dipilih untuk memenuhi kebutuhan.

Pengertian Asuransi Adalah

Pengertian Asuransi Adalah

Pengertian Asuransi Adalah

Pengertian Asuransi Adalah

Pengertian Asuransi Adalah

Asuransi adalah

Istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan, sistem, atau bisnis dimana perlindungan finansial (atau ganti rugi secara finansial) untuk jiwa, properti, kesehatan dan lain sebagainya mendapatkan penggantian dari kejadian-kejadian yang tidak dapat diduga yang dapat terjadi seperti kematian, kehilangan, kerusakan atau sakit, dimana melibatkan pembayaran premi secara teratur dalam jangka waktu tertentu sebagai ganti polis yang menjamin perlindungan tersebut. Istilah “diasuransikan” biasanya merujuk pada segala sesuatu yang mendapatkan perlindungan.

 

Asuransi dalam Undang-Undang No.2 Th 1992

Asuransi dalam Undang-Undang No.2 Th 1992 tentang usaha perasuransian adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum pihak ke tiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

Badan yang menyalurkan risiko disebut “tertanggung”, dan badan yang menerima risiko disebut “penanggung”. Perjanjian antara kedua badan ini disebut kebijakan: ini adalah sebuah kontrak legal yang menjelaskan setiap istilah dan kondisi yang dilindungi. Biaya yang dibayar oleh “tetanggung” kepada “penanggung” untuk risiko yang ditanggung disebut “premi”. Ini biasanya ditentukan oleh “penanggung” untuk dana yang bisa diklaim di masa depan, biaya administratif, dan keuntungan.
Contohnya, seorang pasangan membeli rumah seharga Rp. 100 juta. Mengetahui bahwa kehilangan rumah mereka akan membawa mereka kepada kehancuran finansial, mereka mengambil perlindungan asuransi dalam bentuk kebijakan kepemilikan rumah. Kebijakan tersebut akan membayar penggantian atau perbaikan rumah mereka bila terjadi bencana. Perusahaan asuransi mengenai mereka premi sebesar Rp1 juta per tahun. Risiko kehilangan rumah telah disalurkan dari pemilik rumah ke perusahaan premi asuransi

Asuransi dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD)

Definisi Asuransi menurut Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD), tentang asuransi atau pertanggungan seumurnya, Bab 9, Pasal 246: “Asuransi atau Pertanggungan adalah suatu perjanjian dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tertentu.”

Penanggung Menggunakan Ilmu Aktuaria

Penanggung menggunakan ilmu aktuaria untuk menghitung risiko yang mereka perkirakan. Ilmu aktuaria menggunakan matematika  terutama statistika dan probabilitas yang dapat digunakan untuk melindungi risiko untuk memperkirakan klaim di kemudian hari dengan ketepatan yang dapat diandalkan.

Contohnya, banyak orang membeli kebijakan asuransi kepemilikan rumah dan kemudian mereka membayar premi kepada perusahaan asuransi. Bila kehilangan yang dilindungi terjadi, penanggung harus membayar klaim. Bagi beberapa tertanggung, keuntungan asuransi yang mereka terima jauh lebih besar dari uang yang mereka telah bayarkan kepada penanggung. Lainnya mungkin tidak membuat klaim. Kalau dirata-ratakan dari seluruh kebijakan yang dijual, total klaim yang dibayar keluar lebih rendah dibanding total premi yang dibayar kepada tertanggung, dengan perbedaannya adalah biaya dan keuntungan.

 

Keuntungan Perusahaan Asuransi

Perusahaan asuransi juga mendapatkan keuntungan investasi. Ini diperoleh dari investasi premi yang diterima sampai mereka harus membayar klaim. Uang ini disebut “float”. Penanggung bisa mendapatkan keuntungan atau kerugian dari harga perubahan float dan juga suku bunga atau deviden di float. Di Amerika Serikat, kehilangan properti dan kemtian yang tercatat oleh perusahaan asuransi adalah US$142,3 milyar dalam waktu lima tahun yang berakhir pada 2003. Tetapi keuntungan total di periode yang sama adalah US$68,4 milyar, sebagai hasil dari float.

 

Prinsip Asuransi

Dalam dunia asuransi ada 6 macam prinsip dasar yang harus dipenuhi, yaitu :

a. Insurable interest Hak untuk mengasuransikan, yang timbul dari suatu hubungan keuangan, antara tertanggung dengan yang diasuransikan dan diakui secara hukum.

b. Utmost good faith Suatu tindakan untuk mengungkapkan secara akurat dan lengkap, semua fakta yang material (material fact) mengenai sesuatu yang akan diasuransikan baik diminta maupun tidak. Artinya adalah : si penanggung harus dengan jujur menerangkan dengan jelas segala sesuatu tentang luasnya syarat/kondisi dari asuransi dan si tertanggung juga harus memberikan keterangan yang jelas dan benar atas obyek atau kepentingan yang dipertanggungkan.

c. Proximate cause Suatu penyebab aktif, efisien yang menimbulkan rantaian kejadian yang menimbulkan suatu akibat tanpa adanya intervensi suatu yang mulai dan secara aktif dari sumber yang baru dan independen.

d. Indemnity Suatu mekanisme dimana penanggung menyediakan kompensasi finansial dalam upayanya menempatkan tertanggung dalam posisi keuangan yang ia miliki sesaat sebelum terjadinya kerugian (KUHD pasal 252, 253 dan dipertegas dalam pasal 278).

e. Subrogation Pengalihan hak tuntut dari tertanggung kepada penanggung setelah klaim dibayar.

f. contribution Hak penanggung untuk mengajak penanggung lainnya yang sama-sama menanggung, tetapi tidak harus sama kewajibannya terhadap tertanggung untuk ikut memberikan indemnity.

Penolakan Asuransi

Beberapa orang menganggap asuransi sebagai suatu bentuk taruhan yang berlaku selama periode kebijakan. Perusahaan asuransi bertaruh bahwa properti pembeli tidak akan hilang ketika pembeli membayarkan uangnya. Perbedaan di biaya yang dibayar kepada perusahaanasuransi melawan dengan jumlah yang dapat mereka terima bila kecelakaan terjadi hampir sama dengan bila seseorang bertaruh di balab kedua (misalnya, 10 banding 1). Karena alasan ini, beberapa kelompok agama termasuk Amish menghindari asuransi dan bergantung kepada dukungan yang diterima oleh komunitas mereka ketika bencana terjadi. Di komunitas yang hubungan erat dan mendukung di mana orang-orangnya dapat saling membantu untuk membangun kembali properti yang hilang, rencana ini dapat bekerja. Kebanyakan masyarakat tidak dapat secara efektif mendukung sistem seperti di atas dan sistem ini tidak akan bekerja untuk risiko besar.

Baca Juga :