twittsev.com

Situs Web Pendidikan Terupdate

Pendidikan

Sertifikat Terhalang Kuota Kelas

Sertifikat Terhalang Kuota Kelas

Sertifikat Terhalang Kuota Kelas

Sertifikat Terhalang Kuota Kelas

Sertifikat Terhalang Kuota Kelas

BANDUNG – Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMA/SMK tahun ajaran 2017-2108

jalur nonakademik sudah memasuki tahapan pengumuman kelulusan calon peserta. Orangtua pun berbondong-bondong untuk mencari informasi prihal kelulusan anak mereka.

Dari pantauan Jabar Ekspres di SMAN 1 Soreang, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung. Ratusan anak yang didampingi orang tuanya berdatangan ke sekolah tersebut. Kebanyakan dari mereka, ingin mengetahui pengumuman dari pihak sekolah apakah mereka, di terima untuk mengikuti pembelajaran di SMAN 1 Soreang.

Sesuai intruksi dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa barat, panitia PPDB tingkat SMA/SMK harus mengumumkan hasil tes seleksi diterima atau tidaknya di sekolah tersebut Jumat (16/6) sekitar pukul 14.00.

”Sejak pagi ratusan anak bersama orangtuanya sudah berkumpul di halaman sekolah. Mereka ingin mengetahui hasil seleksi pada PPDB jalur nonakademik,” jelas Wakil Kepala SMAN 1 Soreang Achmad Ramdani yang didampingi Kepala TU Iyus Rusdita, kemarin.

Menurutnya SMAN 1 Soreang memiliki kuota 40 persen untuk jalur nonakademik, dari 187 siswa yang mendaftar

melalui jalur prestasi. Sedangkan, afirmasi yang diterima hanya 172 siswa sesuai kuota yang tersedia.

”Yang daftar 187 siswa, yang diterima 172 anak sesuai kuota 40 persen dari 12 rombel disiapkan. Dengan jumlah siswa yang akan diterima sekitar 432 anak,” tukasnya

Pihaknya mengimbau kepada anak yang tidak diterima agar tidak berkecil hati. Sebab, masih ada keempatan untuk ikut mendaftar pada jalur akademik pada 3-8 Juli 2017 mendatang.

”Jalur akademik tidak melihat persyaratan lain hanya mengacu pada hasil unas (ujian nasional) dan zonasi

sekolah dengan domisili anak,” tambah Iyus.

Sementara itu, rasa bahagia dirasakan Helmatia Fadilah salah satu siswa yang berhasil diterima menjadi siswa Baru di SMAN 1 Soreang. Helma masuk melalui jalur prestasi karena memiliki sertifikat keahlian ekstrakulikuler Paskibra.

Helmatia siswi asal SMP Madlaul Anwar (MA) Margahayu itu mengatakan, dirinya bersama ketiga teman yang satu pasukan Paskibra mendaftar ke SMA Soreang yang selama ini dinilai baik.

”Sejak masih kelas IX, saya menginginkan untuk melanjukan sekolah di SMAN Soreang. Dengan diterima menjadi siswa baru, saya merasa bahagia karena sesuai apa yang diharapkan,” aku Helmatia kepada Jabar Ekspres.

 

Baca Juga :

SMA dan SMK Negeri Buka PPDB Jalur Akademik

SMA dan SMK Negeri Buka PPDB Jalur Akademik

SMA dan SMK Negeri Buka PPDB Jalur Akademik

SMA dan SMK Negeri Buka PPDB Jalur Akademik

SMA dan SMK Negeri Buka PPDB Jalur Akademik

Puluhan SMA dan SMK Negeri di Kabupaten Purwakarta gelar pendaftaran Penerima Peserta Didik Baru

(PPDB) jalur Akademik tahun ajaran 2017/2018, Senin (3/7). Pendaftaran melalui jalur afirmasi telah digelar beberapa pekan sebelumnya.

Salah satunya seperti yang terlihat di SMKN 1 Sukatani. Ratusan pelajar lulusan SMP dan sederajat padati ruang pendaftaran dan mengikuti tes kesehatan dan memenuhi berkas persyaratan.
“Iya hari ini hari pertama dibuka PPDB jalur akademik, setelah PPDB jalur afirmasi telah ditutup beberapa pekan kemarin,” ujar Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Sukatani, Ujang Hambali kepada awak media.

Menurutnya, kuota siswa baru untuk sekolah yang beralamat di Jalan Raya Sukatani itu sekitar 432

, untuk enam jurusan, yakni TSM, RPL, Mesin,TKR, Akuntasi dan Listrik.
“Kuotanya 432 siswa, untuk 12 kelas, tiap jurusan dua kelas dengan jumlah satu kelas 36 siswa,” tuturnya.

Ia menjelaskan, untuk PPDB tahun ini tentunya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, selain sistem online juga penerimaannya dua jalur afirmasi dan akademik.
“Penerimaan jalur afirmasi kuota 20 persen, dan sekarang jalur akademik 80 persen, PPDB jalur akademik waktunya sampai 10 juli 2017,” imbuhnya.
Terpisah, Kepala Sekolah SMAN 1 Sukatani, Encah Komariah mengatakan, jumlah kuota PPDB di sekolah yang dipimpinnya sebanyak 288 siswa, untuk 8 kelas.

Masing-masing kelas juga sama dengan SMK yaitu 36 siswa.

“Kuota 288 siswa itu untuk dua jurusan, yakni IPA dan IPS, dan penutupannya juga sama tanggal 10 juli,” ujar Kepsek yang juga menjabat sebagai Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) tingkat SMA Kabupaten Purwakarta itu.

 

Sumber :

https://rollingstone.co.id/

Ombudsman Temukan Empat Pelanggaran PPDB

Ombudsman Temukan Empat Pelanggaran PPDB

Ombudsman Temukan Empat Pelanggaran PPDB

Ombudsman Temukan Empat Pelanggaran PPDB

Ombudsman Temukan Empat Pelanggaran PPDB

SUBANG – Setidaknya ada empat temuan pelanggaran yang diperoleh Ombudsman Jawa Barat

dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA di Kabupaten Subang. Temuan itu diperoleh di dua sekolah negeri di Subang, dalam pantauan selama dua hari 5-6 Juli 2017.

Asisten Muda Ombudsman Jawa Barat, Fitry Agustine membeberkan hasil temuannya tersebut. Ia menyebut panitia PPDB masih belum paham aturan Pergub dan Juknis PPDB mengenai jalur UU dan MoU.

Temuan di satu sekolah, kata Fitry, pihak panitia tidak memahami kriteria Calon Peserta Didik

(CPD) yang berhak mengikuti jalur UU. Sedangkan di satu sekolah lagi, pihak panitia tidak memahami kriteria CPD yang berhak mengikuti jalur MoU. Padahal kedua tersebut merupakan jalur non akademik.

Seperti diketahui, jalur Undang-undang merupakan jalur khusus untuk anak dari guru yang berprestasi, berdedikasi luar biasa, dan/atau bertugas di daerah khusus. Namun sayangnya, ada satu sekolah yang memahaminya peluang ini hanya pada anak guru di sekolah tersebut. Sementara kesempatan harus diberikan juga kepada anak dari guru dari sekolah lain.

“Panitia PPDB pikir itu hanya untuk anak guru yang di sekolah itu saja,” kata Fitry Agustine

kepada Pasundan Ekspres, Kamis (6/7).

Sementara itu jalur MoU merupakan jalur yang disediakan khusus untuk anak dari mereka yang bekerja pada instansi yang memiliki tanah tempat suatu sekolah berada. Biasanya, instansi tersebut adalah TNI AD atau TNI AU.

Sementara itu, akibat panitia tidak memahami kriteria CPD untuk jalur MoU akan berdampak pada pendaftar tersebut. Seharusnya dengan jalur ini ada MoU yang dibuatkan. Namun sayangnya tidak ada MoU yang dibuatkan. Ssementara siswa tersebut dinyatakan diterima.

“Karena panitia tidak mengerti yang MoU itu kaya gimana, yang titipan-titipan itu seperti rekomendasi, mereka masukan ke jalur MoU, tapi tidak ada MoU-nya,” ujarnya.

 

Sumber :

https://voi.co.id/

Memilih Jurusan Bagi Anak IPS

Memilih Jurusan Bagi Anak IPS

Pernahkah kita mendengar kabar bahwa rekan Anda tengah putus harapan menghadapi seluruh materi pembelajaran di lokasi kuliahnya? Semua ini memang dapat terjadi di tengah jalan saat kuliah. Awalnya telah terlalu senang diterima di lokasi kuliah khayalan di jurusan yang dipilih (walau terkadang terdapat yang terpaksa pun sih dalam memilih jurusan )

Dan sesudah berjalan 1 atau 2 semester lantas ada rasa beban didalam dada dan terdapat rasa bosan karena jurusan itu tidak sesuai. Bahkan ada pun anak IPS yang memberanikan diri loncat pagar memilih jurusan yang sebetulnya jadi kewenangan anak IPA. Memang sekarang dapat seperti tersebut tetapi terdapat baiknya semua tersebut didasarkan pada arahan – arahan dan komponen pembelajaran yang barangkali pernah diadaptasi semasa SMA dulu. Lalu laksana apa tips tepat memilih jurusan guna anak IPS?

Memilih Jurusan Bagi Anak IPS
Bagi kita yang memang telah punya tekad yang bulat guna tidak bekerja selepas SMA dan hendak kuliah selepas SMA pasti saja opsi ini jangan menjadi opsi yang asal – asalan. Atau kuliah agar dapat duit jajan atau justeru kuliah melulu ikut pacar atau teman.

Hal ini tidak benar dan mesti segera diselesaikan. Anda mesti tentukan destinasi untuk kuliah. Mau apa di kuliah nanti? Jangan hingga Anda kuliah tetapi melulu tertekan atas pelajaran dan dosen sampai-sampai tidak akan dapat mendapatkan apapun pelajaran yang sebetulnya menjadi bekal yang kita butuhkan.
Anda terdapat baiknya pilih edukasi perguruan tinggi yang cocok kemampuan, cocok potensi dan pun sesuai dengan jurusan kita di SMA. Lalu bagaimana memilih jurusan yang tepat guna lulusan SMA IPS? Dan apa saja jurusan yang sesuai untuk alumni SMA IPS?

Bagi kita yang adalahseorang alumni SMA IPS, paling direkomendasikan sejumlah pilihan jurusan di perguruan tinggi yang kita pilih diantaranya jurusan ilmu komunikasi, ilmu perpustakaan, ilmu jurnalistik, ilmu akuntansi, ilmu hukum, ilmu sastra inggris, ilmu psikolog dan pun ilmu bisnis management.
Dan dari tidak sedikit pilihan diatas, Anda dapat coba guna berani menyimpulkan jurusan apa yang akan paling tepat guna prospek jangka panjang misalkan saat Anda lulus nanti apakah jurusan itu berprospek dan memang punya kesempatan kerja yang jauh lebih besar?

Jika memang nantinya Anda mengejar jurusan yang ternyata susah Anda geluti, jajaki saja guna Anda jajaki perbanyak diskusi dengan kerabat rekan dekat atau guru supaya memberikan saran, arahan dan pun masukan berhubungan jurusan apa yang cocok dan sesuai untuk kita ambil. Pertimbangan itu dapat dicocokkan atas minat, bakat dan prospek jangka panjang.

Demikian tidak banyak informasi yang kami bisa berikan guna Anda mengenai Memilih Jurusan Bagi Anak IPS. Semoga menjadi informasi yang bermanfaat.

Sumber : https://buttonspace.com/for/www.pelajaran.co.id

Masuk SMA Akan Pilih Jurusan IPA?

Masuk SMA Akan Pilih Jurusan IPA?

Tak inginkan pindah sekolah, ke SMK mungkin? Sudah mantap dengan opsi SMA? Untuk Anda yang memang punya orientasi kuliah memang memilih sekolah lanjutan SMA akan paling baik sebab disana bakal dituntut guna paham teori – teori pembelajaran dan wawasan yang nantinya bakal sangat urgen dalam menunjang tes ke perguruan tinggi.
Bagi kita yang memang yakin benar guna memilih SMA, nantinya di SMA dalam semester tertentu kita akan disarankan memilih jurusan. Apakah Anda bakal memilih jurusan IPA atau justeru akan memilih jurusan IPS? Bahkan ada pun jurusan bahasa kini – kini ini. Diantara ketiganya memang yang sangat dikenal “keren” oleh pelajar ialah IPA akhirnya tidak sedikit pelajar yang bersaing – lomba guna masuk di jurusan IPA. Atau barangkali demikian pun dengan Anda? Untuk Anda yang bakal memilih IPA sebagai jurusan di SMA, ada sejumlah aspek yang Anda mesti pertimbangkan. Apa sajakah itu?

Pertimbangkan Ini Sebelum Pilih Jurusan IPA
Anak IPA familiar pandai
Benarkah anak IPA semuanya pintar? Sebenarnya sih, rata – rata anak IPA memang pandai, namun yang pandainya gunakan kata “banget” hanya sejumlah saja dan sisanya ya biasa – biasa saja atau justeru ada yang jauh dari kata pintar. Kecuali sih SMA yang benar – benar oke dan melulu anak pintar yang dapat masuk tentu pandai – pandai seluruh anak IPAnya. Jadi semua tersebut juga tergantung dimana sekolahnya. Kalau kita merasa dapat dengan seluruh tentang IPA bisa memilih jurusan IPA.

Anak IPA bahagia?
Anda bisa research di media sosial mengenai anak IPA. Baca saja statusnya baik di BBM, Facebook, Instagram atau sebagainya. Adakah diantara mereka yang bebas dan bahagia gunakan kata banget? Mungkin yang muncul ialah tugas yang banyak, tugas yang menumpuk dan seluruh status mengenai tugas. Kapan dong rekreasinya? ?

Anak IPA Individualis?
Entah siapa yang kesatu kali menyebarkan gosip mengenai hal ini. Akan namun memang anak IPA banyak sekali dikategorikan sebagai anak yang individualis. Berdasarkan keterangan dari wikipedia sendiri bahwa sikap dan sifat individualisme ini adalahsifat pandangan moral yang menekankan kebebasan manusia serta kepentingan bertanggung jawab. Pada intinya seorang yang punya sikap dan sifat individualis bakal melanjutkan prospek dan kehendak menurut kemauan pribadinya. Bahkan apa – apa sering digarap sendiri. Kemana – mana sendiri. Kalau kata orang Jawa tersebut “pelit”. Diantaranya terdapat yang kedapatan laksana ini belum?

Sebagai anak IPA terdapat baiknya menyerap yang baik dan meninggalkan yang buruk. Kalau individualis terlampau berlebihan pun tidak baik pada kehidupan sosial nantinya. Jadi bersikap sewajarnya saja ya. Semoga informasi diatas mengenai Pertimbangkan Ini Sebelum Pilih Jurusan IPA bermanfaat.

Baca Juga : http://av1611.org/newslink.php?news_link=http%3A%2F%2Fwww.pelajaran.co.id

Disdik Seleksi Kepsek Lewat ”Si Kasep”

Disdik Seleksi Kepsek Lewat ”Si Kasep”

Disdik Seleksi Kepsek Lewat ”Si Kasep”

Disdik Seleksi Kepsek Lewat ”Si Kasep”

Disdik Seleksi Kepsek Lewat ”Si Kasep”

Pertamina Marketing Operation Region (MOR) III mengirimkan sejumlah bantuan sarana distribusi BBM

dan avtur ke Sulawesi untuk membantu penyaluran BBM ke masyarakat.

Bantuan tersebut terdiri dari 12 mobil tangki BBM, 1 mobil tangki avtur dan 26 orang awak mobil tangki. Semuanya dilepas pada Selasa (2/10) di TBBM Plumpang, Jakarta dan akan dikirim dengan menggunakan kapal.

Pelepasan tersebut dilakukan oleh GM Marketing Operation Region III Erry Widiastono dan Direktur

Operasi Patra Niaga Made Adi Putra.

Erry menyampaikan, mobil tangki yang diberangkatkan ini berasal dari beberapa Terminal BBM yang ada di wilayah MOR III yaitu Jakarta, Banten dan Jawa Barat.

“Jadi ada yang dari TBBM di Ujung Berung, Padalarang, Balongan hingga Tasik. Mobil tangki ini akan dikirim ke Makassar dan Pare-Pare menggantikan mobil tangki disana yang sudah dikirim membantu Sulawesi Tengah,” ujarnya.

Selain Mobil Tangki dan AMT yang diberangkatkan hari ini, sebelumnya MOR III juga telah mengirimkan 4 unit

mobil tangki kapasitas 5KL pada Senin (1/10) tujuan Palu.

Tak hanya itu, pada Minggu (30/9) Pertamina MOR III juga telah mengirimkan beberapa perlengkapan distribusi yaitu 22 dus pompa engkol, 2 box nozzle dan 20 pcs selang BBM.

“Dengan adanya bantuan ini maka penyaluran BBM di Sulawesi akan semakin lancar. Karena tim Pertamina yang sudah berada di sana telah mengupayakan maksimal untuk penyaluran BBM ke masyarakat,” tambahnya

 

Baca Juga :

Sri: Penting Menguasai Matematika

Sri Penting Menguasai Matematika

Sri: Penting Menguasai Matematika

Sri Penting Menguasai Matematika

Sri Penting Menguasai Matematika

Menteri Keungan RI Sri Mulyani Indrawati menyebut penting menguasai matematika untuk menghadapi era Revolusi Industri 4.0.

Mengingat peranan matematika sangat besar dalam memahami fenomena baru yang terlahir dari kebutuhan fintech dan digital economy secara luas.

Hal itu dikatakan Sri Mulyani saat memberikan kuliah umum kepada kepada mahasiswa matematika Institut Teknologi Bandung (ITB), pada Sabtu (29/9), di Aula Timur ITB, Jalan Ganesha no 10 Bandung. Tema kuliah umum yang diberikan itu adalah mengenai “Digitalisasi, Fintech dan Perekonomian Indonesia”.

Di awal paparannya, ia menerangkan kondisi perekonomian Indonesia sejak krisis di tahun 1998 dan 2008. Menurutnya ekonomi negara Indonesia saat itu, tengah dalam keadaan stabil meskipun ekonomi dunia sedang mengalami dinamika. Ekonomi negara dikatakannya dapat berpengaruh pada kondisi ekonomi dunia, seperti Amerika dan China.

Lebih lanjut Sri Mulyani menerangkan, dalam ekonomi makro ada empat pilar utama yang menjadi pertumbuhan perkonomian

berkelanjutan di Indonesia, yaitu moneter, fiskal, ekonomi riil dan neraca pembayaran.

“Mengelola ekonomi adalah mengelola keempat hal itu. Bersama-sama oleh seluruh sektor dan seluruh fungsi, dan policy bisa mempengaruhi masing-masing empat pilar tersebut,” kata Sri dalam keterangan yang diterima RMOLJabar

Menteri Keuangan Sri Mulyani juga mengajak mahasiswa ITB untuk memahami kebijakan utang Indonesia. Menurutnya kita semua harus memahami terlebih dahulu utang sebagai satu dari sekian instrumen pengelolaan keuangan dalam perekonomian negara.

“Saya ingin sampaikan bahwa mengelola utang itu adalah sesuatu yang kita lakukan dengan hati-hati.

Dan ada yang disebut bencmark-nya, prinsipalnya ada rambu-rambunya,” ujarnya.

Ia juga sangat menekankan pentingnya penguatan kemampuan matematika untuk generasi mendatang, selain kompetensi language dan behaviour.

“Basic matematika sebetulnya luar biasa penting, kalau sekarang bicara Indonesia ke depan selain language dan behaviour,” ucapnya.

Sri menyampaikan, walaupun pemerintah banyak mengeluarkan kebijakan dari mulai pembangunan infrastruktur, menyusun regulasi, menciptakan inovasi namun pada akhirnya tetap membutuhkan peran perguruan tinggi dan mahasiswa seperti ITB, untuk memanfaatkan kesempatan saat ini dalam membangun teknologi, dan berinovasi untuk meningkatkan produkifitas.

Acara kuliah umum ini dikemas bersamaan dengan acara Seminar MCF-MMC (Mathematical Challenge Festival – Mathematics Modeling Competition) yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Matematika ITB didukung oleh Kelompok Keilmuan Matematika Industri dan Keuangan FMIPA ITB.

 

Sumber :

https://nashatakram.net/

Sosialisasikan Sertifikasi Profesi Farmasi

Sosialisasikan Sertifikasi Profesi Farmasi

Sosialisasikan Sertifikasi Profesi Farmasi

Sosialisasikan Sertifikasi Profesi Farmasi

Sosialisasikan Sertifikasi Profesi Farmasi

Seiring peru­bahan zaman, dunia farmasi menghadapi tantangan yang semakin berat

. Salah satunya mengenai penggunaan obat-obat terlarang seperti nar­koba.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Ahmad Hadadi mengatakan, hal tersebut merupakan tantangan Far­masi untuk memberikan edu­kasi kepada masyarakat.

”Ini adalah tantangan, bagaimana mengedukasi masyarakat untuk tidak menggunakan obat seper­ti itu,” ujar Hadadi saat memberikan pengarahan sekaligus membuka acara Sosialisasi Uji Kompetensi dan Sertifikasi Profesi Komu­nitas Farmasi Indonesia (LSP KFI) dan Pelatihan Teknis Skema Farmasi da­ri BNSP bagi SMK Farmasi yang ada di Jawa Barat. Acara dilaksanakan pada Selasa, 2 Oktober 2018 di Hotel Grand Pasundan, Ja­lan Peta No 147-149, Bojong Loa, Kota Bandung. Acara tersebut digelar oleh Aso­siasi Pendidikan Menengah Farmasi Indonesia (APMFI).

Dalam dunia pendidikan menengah, Hadadi menga­takan, SMK farmasi hadir sebagai bagian

dari perubahan zaman. Untuk menjawab tan­tangan zaman, tentulah di­harapkan kelak siswa SMK farmasi menjadi kompeten dan siap bersaing di dunia kerja. Untuk meraih hal ter­sebut, Hadadi mengatakan, perlu ada proses yang teruji agar terstandar yaitu dengan sertifikasi profesi.

”Sampai maret 2017, seki­tar 327 SMK sudah menjadi lembaga sertifikasi profesi pihak pertama

(LSP P1) seluruh SMK tersebut sudah menerima setifikat lisensi dari badan nasional sertifi­kasi profesi (BNSP), sehing­ga bisa menguji dan mengelu­arkan sertifikat kompetensi untuk peserta didiknya,” ujarnya.

Hadadi mengapresiasi ke­giatan ini. Pemerintah sel­alu mendukung agar bidang farmasi dapat menembus berbagai hambatan, men­jadi lebih kreatif dan memi­liki peran lebih signifikan. Sementara itu, Ketua APM­FI Jawa Barat, Noni Cahyana berharap dengan adanya sertifikasi ini, dunia farma­si dapat memberikan kon­tribusi lebih besar dalam bidang kesehatan.

”Mudah-mudahan ini dapat terwujud sehingga menjadi legalitas formal, dan dapat ikut andil dalam pembagunan di bidang kesehatan khusus­nya di industri farmasi,” ujar Noni.

Sumber :

https://egriechen.info/

Keberagaman Pesantren Harus Dipertahankan

Keberagaman Pesantren Harus Dipertahankan

Keberagaman Pesantren Harus Dipertahankan

Keberagaman Pesantren Harus Dipertahankan

Keberagaman Pesantren Harus Dipertahankan

Adanya Rancangan Undang-undang Pesantren dan Pendidikan Agama yang tengah

diusulkan menjadi RUU Inisiatif DPR Fraksi PKS pada umumnya menyambut baik kehadiran RUU ini.

Anggota komisi X DPR RI dari FPKS Ledia Hanifa menilai,sesuai dengan amanah UUD penyelenggaraan sistem pendidikan nasional harus dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Sehingga, dengan adanya RUU tersebut akan semakin terwujud.

Ledia menuturkan, keberadaan pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, tidak hanya dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berkarakter religius, bermoral dalam kehidupan sosial, serta menguasai pengetahuan dan teknologi tetapi juga berkontribusi dalam pemberdayaan masyarakat.

’’Ada beberapa poin yang tetap perlu dicermati bersama antara pemerintah dan DPR

kelak dalam mengodok RUU ini menjadi Undang-undang diantaranya soal ragam metode pendidikan,”jelas Ledia ketika ditemui kemarin. (23/10).

Menurutnya, selama ini beragam ciri khas pengajaran pesantren telah tumbuh dan menjadi bagian dinamika pendidikan di negeri ini sejak sebelum masa kemerdekaan. Ada pesantren bermetode ajar tradisional dengan kurikulum khas keagamaan, pesantren yang bermetode ajar modern dengan kurikulum mengacu kurikulum diknas, pesantren yang mengacu pada kurikulum kementrian agama, pun pesantren yang memadukan metode ajar modern dengan rujukan pada kurikulum berkurikulum tradisional.

Karenanya Ledia berharap RUU ini tetap bisa mengakomodir kekhasan tersebut dan tidak terjebak

pada upaya mengarahkan metode pengajaran pesantren pada satu model.

“Ragam metode pendidikan dengan rujukan yang juga beragam telah menjadi ciri khas pesantren-pesantren di Indonesia. Pengaturan mengenai pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan ini diharapkan kelak tidak menghilangkan kekhasan ini. Bahkan adanya metode ajar dan rujukan yang diperkaya dengan muatan lokal dan budaya setempat seharusnya bisa didukung untuk tetap berlangsung.”papar Ledia.

Terkait hal ini maka Ledia pun mengingatkan agar RUU ini kelak memuat skema kurikulum pendidikan berbasis keagamaan dan pesantren secara global dengan memperhatikan kekhususannya, meskipun diperlukan sebuah penataan, pengaturan, dan skema kurikulum agar pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan menjadi lebih baik.

’’Jadi metode pendidikan di Pesantren harus ada keselarasan dengan tujuan pendidikan nasional. Namun tidak menghilangkan ciri khas masing-masing,” Jelas Ledia yang kembali menyalonkan diri sebagai angota DPR RI Dapil Bandung-Cimahi. (yan)

 

Baca Juga :

Bantu Program ‘Jaksa Sahabat Guru’

Bantu Program ‘Jaksa Sahabat Guru’

Bantu Program ‘Jaksa Sahabat Guru’

Bantu Program ‘Jaksa Sahabat Guru’

Bantu Program ‘Jaksa Sahabat Guru’

Dinas Pendidikan Jawa Barat (Disdik Jabar) menilai program ‘Jaksa Sahabat Guru’

yang dicanangkan Kejaksaan Tinggi Jawa Barat (Kejati Jabar) akan mampu menjadi langkah preventif atau pencegahan agar tenaga pengajar tidak tersandung kasus hukum. Untuk itu, Disdik Jabar akan merumuskan Standar Operasional (SOP) bagi pihak kejaksaan sebagai fokus pendampingan.

Kepala Disdik Jabar, Ahmad Hadadi mengatakan, langkah kejaksaan tersebut akan pihaknya sikapi dengan berbagai bentuk dan dukungan positif. Terlebih, untuk pengelolaan pendidikan sangat menjadi perhatian khusus karena guru sebagai tenaga pengajar tidak disiapkan untuk mengelola anggaran pendidikan.

Diungkapkan Hadadi, untuk teknis kerja sama yang akan dilakukan Disdik Jabar dengan kejaksaan,

pihaknya telah merumuskan SOP agar pendampingan berjalan optimal. SOP tersebut, lanjut dia, terlebih dahulu dibentuk di level Disdik Jabar dengan Kejati Jabar dan akan berkembang menjadi sejumlah turunan.

”Nah, fokus pendampingannya, yang pertama adalah BOS, kedua DAK, ketiga dana dari masyarakat yang dituangkan dalam bentuk RKAS, itulah yang menjadi dokumen dasar untuk pendampingan,” kata dia.

Hadadi menyatakan, semua prosesnya akan disepakati dan dibuat rumusan, sehingga, semua menjadi standar. SOP yang telah dibentuk, nantinya dibuatkan Peraturan Gubernur (Pergub) agar sistem terstruktur dengan baik. Terlebih, Disdik Jabar memiliki Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA), sementara sekolah memiliki Rencana Kerja Anggaran Sekolah (RKAS).

”Sengaja memang tak terlalu dibuat jelimet karena fokus guru itu adalah mendidik dan mengajar.

Jangan sampai terjebak oleh masalah-masalah administrasi SPJ dan lain sebagainya,” kata dia.

Diharapkan Hadadi, SOP tersebut dibentuk agar tidak ada lagi multitafsir lantaran di sekolah terdapat sumbangan dan iuran. Selama ini, lanjut dia, masih terjadi salah tafsir mengenai sumbangan dan iuran. Untuk itu, SOP penting dibentuk supaya masyarakat semakin paham mengenai mengenai anggaran pendidikan.

”Sumbangan itu dasarnya Permendikbud 75/2016 yang dilakukan oleh komite sekolah dalam rangka peningkatan mutu termasuk salah satunya mencari sumbangan. Itu bida dari orang tua murid, bisa dari dunia usaha. Kecuali tak boleh dari perusahaan rokok dan Miras,” kata dia.

Hadadi menjelaskan, jika sekolah hanya mengandalkan anggaran bersumber dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diberikan pemerintah, maka tak akan cukup terutama untuk sekolah diperkotaan. Untuk itu, terdapat sekolah yang menerapkan iuran tahunan maupun iuran bulanan untuk membantu jalannya pendidikan.

 

Sumber :

https://s.id/6HWry