twittsev.com

Situs Web Pendidikan Terupdate

Pendidikan

Sejarah Pendidikan Warga Cina Di Indonesia

Sejarah Pendidikan Warga Cina Di Indonesia

Sejarah Pendidikan Warga Cina Di Indonesia

Sejarah Pendidikan Warga Cina Di Indonesia

Sejarah Pendidikan Warga Cina Di Indonesia

Sekolah tradisional

saat pertama kali dibuka bagi etnik Cina dilakukan pada zaman kolonial Belanda dan saat itu kebijakan kolonial yang digunakan untuk pendidikan etnik Cina adalah membiarkan mereka mendirikan lembaga-lembaganya sendiri, berlainan dengan perlakuan mereka terhadap pendidikan bangsa Indonesia. Hal ini disebabkan karena adanya undang-undang kewarganegaraan yang berlaku saat itu mendudukkan Belanda dan Eropa lainnya sebagai warga negara kelas pertama, bangsa Cina dan Timur Asing lainnya sebagai warga negara kelas kedua, sedangkan bangsa pribumi sebagai lapis ketiga. Sekolah-sekolah untuk etnik Cina menggunakan bahasa Cina dan buku-buku ajaran Confusianisme sebagai bahasa dan alat pengajaran. Anak-anak golongan peranakan dan pedagang kaya juga anak-anak para kapten Cina (wijkmeesters) dimasukkan di sekolah-sekolah belanda, sedangkan anak-anak Cina yang miskin pada umumnya ditelantarkan. Pada tahun 1901, demi kepentingan mereka maka dibukalah sekolah-sekolah Tiong Hoa Kwee Koan (THHK) dengan mengajarkan cita-cita dan aspirasi bangsa Cina. Dari pengaruh gerakan kebangsaan di daratan Cina di bawah kepemimpinan Dr. Sun Yat-sen menyebabkan rasa kesetiaan dan kebanggaan terhadap tanah air (Cina) menjadi tumbuh semakin kuat.

Selanjutnya untuk menangkal kecenderung itu

maka Belanda mulai membuka sekolah-sekolah HCS (Holland Chineese School) di tahun 1908. Dalam kurikulum pembelajarannya, bahasa dan budaya Cina sudah tidak diajarkan lagi, dan bahasa pengantarnya yang digunakan adalah bahasa Belanda. Anak-anak para pemimpin dan orang kaya Cina mulai masuk sekolah-sekolah itu, nampaknya karena orang tua mereka berfikir secara pragmatik bahwa pendidikan Belanda semacam ini akan berarti kesempatan memasuki lapangan kerja kelas menengah, walaupun persyaratan dan uang sekolah yang harus dibayarkan cukup tinggi dan mahal. Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan di tingkat HCS, mereka memasuki sekolah-sekolah menengah dan kemudian perguruan tinggi baik di Indonesia ataupun di negeri Belanda, dan mereka berkembang menjadi angkatan pertama profesional Cina yang berpendidikan Barat. (https://bandarlampungkota.go.id/blog/jenis-jaringan-tumbuhan-dan-fungsinya/)

Selama zaman pendudukan Jepang

sekolah-sekolah Cina ditutup. Pada umumnya anak-anak sekolah atau pegawai etnik Cina mengganggur dan Tinggal di rumah. Hanya secara proklamasi kemerdekaan RI, di dalam perkembangannya pemerintah Indonesia menggolongkan sekolah-sekolah Cina ini sebagai sekolah asing karena bahasa pengajaran yang digunakan adalah bahasa Cina dan pengaruh ideologi komunis sangat besar. Tindakan-tindakan untuk membatasi meluasnya pengaruh asing ini diambil sejak 1975, terutama pengawasan terhadap guru dan buku-buku yang digunakan. Anak-anak Indonesia dilarang memasuki sekolah-sekolah asing itu.

Sesudah peristiwa G-30-S PKI tahun 1965

sekolah-sekolah Cina ditutup. Para siswanya disalurkan ke sekolah-sekolah negeri/swasta. Pada umumnya mereka memilih sekolah swasta yang dinaungi gereja. Coppel dan Suryadinata menyatakan bahwa pada waktu itu terjadi gelombang besar-besaran etnik Cina yang masuk agama Kristen untuk menghilangkan stigma sosial (dalam arti dituduh komunis) dan penganut Confusinisme atau Buddhisme.
Pada siswa yang tidak masuk sekolah negeri/swasta Katolik/Protestan selanjutnya memasuki Sekolah Proyek Khusus Nasional, yang dibuka pemerintah di beberapa daerah. Sekolah-sekolah ini mengikuti kurikulum nasional yang mengajarkan Ideologi Pancasila, Bahasa Indonesia, Kewarganegaraan, Sejarah dan Geografi Indonesia, serta mempelajari budaya Indonesia. Setelah periode transisi berakhir sekolah-sekolah khusus ini ditutup. Maka alternatif yang masih terbuka bagi anak-anak etnis Cina adalah masuk sekolah negeri atau swasta, pada umumnya mereka memilih sekolah swasta yang disponsori gereja.

Pendidikan Dalam Masyarakat Majemuk-Amerika

Pendidikan Dalam Masyarakat Majemuk-Amerika

Pendidikan Dalam Masyarakat Majemuk-Amerika

Pendidikan Dalam Masyarakat Majemuk-Amerika

Pendidikan Dalam Masyarakat Majemuk-Amerika

Bangsa Amerika Serikat telah mengalami pasang surut dalam upaya pembinaan bangsanya. Berbagai pilihan telah digunakan, mulai dari “Melting Pot” yang didominasi oleh kultur golongan kulit putih sampai dengan “Salad Bowl: Kesatuan dalam kemajemukan” yang menghargai eksistensi keragaman etnik dalam kemajemukan budaya. Kebijakan-kebijakan tersebut berpengaruh terhadap dunia pendidikan. Pemisahan dan diskriminasi berlaku dalam pelayanan pendidikan bagi siswa golongan kulit berwarna. Dalam perjuangan hak-hak sipil telah membawa perubahan ke arah perlakuan kemajemukan budaya (Culture Pluralism). Suatu masukan bagi dunia pendidikan, terutama dalam masyarakat yang pluralistik.

Prasangka Terhadap Orang-orang Berkulit Hitam

Masyarakat Amerika adalah masyarakat majemuk. Penduduknya terdiri dari kaum imigran yang berasal dari berbagai negara, ras, agama, dan kebudayaan. Para pendatang mulanya adalah orang-orang berkulit putih dari kebudayaan Anglo-Sakson. Jadi merekalah yang kemudian mendominasi arena politik dan kemasyarakatan. WASP (White, Anglo-Saxon, and Protestant) adalah premis keunggulan ras dan menjadi kriteria keberhasilan dan kekuasaan dalam masyarakat Amerika Serikat yang pluralistik.
Untuk pendidikan di sekolah-sekolah juga mencerminkan pandangan dalam masyarakatnya. Ada masalah yang paling kontroversial saat itu adalah diskriminasi terhadap orang-orang berkulit hitam, walaupun perlakuan yang berbeda juga lazim terhadap orang-orang Indian, Mexico, Puerto Rico dan dalam takaran yang relatif lebih lunak terhadap orang-orang keturunan Asia seperti Jepang, Cina dan Filipina.
prasangka terhadap orang-orang kulit hitam adalah yang paling tua usianya dalam diskriminasi pendidikan di Amerika Serikat. Perlakuan yang membedakan ini sudah berlangsung sejak abad ke-17 disebabkan karena, kecuali bangsa Indian, orang berkulit hitamlah yang merupakan minoritas tertua. Mereka juga merupakan minoritas terbesar yang diwakili di setiap negara bagian. Dan disamping itu citra dari budak melekat pada orang berkulit hitam dan hal tersebut merupakan stigma sosial bagi mereka.
Sesudah perang saudara dan periode rekonstruksi, diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam (blacks) ini berkurang walaupun mereka masih diperlakukan terpisah dalam segregasi. Dua keputusan pengadilan yakni perkara “Cumming vs Georgia Board of education (1899) dan Berea College vs Kentucky (1908) yang menyatakan agar pengurus sekolah dengan bijaksana sepatutnya menyediakan fasilitas pendidikan yang terpisah kepada anak-anak orang kulit hitam, menyebabkan pelayanan pendidikan bagi mereka rendah sehingga kualitas pendidikan akan menjadi lebih inferior dibandingkan dengan anak-anak orang kulit putih.
Perubahan yang berpengaruh terjadi pada awal perjuangan hak-hak sipil di Amerika Serikat. Dengan adanya keputusan Mahkamah Agung terhadap perkara Brown vs Board of Education of Topeka, menyatakan bahwa pelayanan yang terpisah walaupun sebenarnya sama pada hakekatnya adalah tidak sederajat. Keputusan tersebut berlaku juga terhadap kasus-kasus  segregasi di negara-negara bagian lainnya, sehingga dampaknya adalah pukulan terhadap upaya-upaya yang menentang intergrasi dalam pendidikan. Puncak yang menghebohkan ialah peristiwa de-segregasi di Little Rock, Arkansas, satu dekade sesudah keputusan perkara Brown berlaku.

Melting Pot: Upaya Perbauran dalam Pembinaan Bangsa

Hal yang diupayakan untuk mempersatukan keragaman ini dalam sebuah nation, dilakukanlah upaya pembauran, Melting Pot adalah pilihan ke arah menciptakan sebuah bangsa baru yang lebih unggul dari hanya kumpulan berbagai kelompok etnik saja. Akan tetapi ternyata di dalam proses tersebut, budaya Anglo-Amerika tetap menonjol dan WASP masih mendominasi. Kelompok-kelompok etnis yang lain pun terpaksa melepaskan unsur-unsur etniknya untuk dapat menyesuaikan diri dengan pola perilaku dan sistem nilai Anglo-Amerika. Sekolah-sekolah merupakan lembaga masyarakat yang menyebarluaskan sasaran ini. Dan salah satunya sebaran tentang pembauran yang berbunyi sebagai berikut ini;

“Adalah tugas kami (sekolah) untuk membubarkan kelompok-kelompok dan pemukiman-pemukiman kaum imigran ini, untuk selanjutnya digabungkan dan dibaurkan ke dalam bangsa Amerika. Adalah tugas kami untuk mendidik anak-anak mereka ke dalam konsep-konsep Anglo-Sakson tentang baik buruk, hukum, tertib dan pemerintahan, serta membangkitkan rasa hormat mereka terhadap lembaga-lembaga demokratis dan cita-cita lainnya yang dijunjung tinggi oleh seluruh rakyat (James A. Banks, Multiethnic Education: Practices and Promises (Bloomington, Indiana: The Phi Delta Kappa Educational Foundation, 1977 , halaman 11).

Sebagai ilustrasi dari kebajikan pembauran bersi “kawah candradimuka” ini, kita tilik proses asimilasi yang terjadi dikalangan imigran Cina. Mereka merupakan kelompok yang menjunjung tinggi budaya leluhur dan selalu bermukim di wilayah-wilayah yang eksklusif, yang dikenal dengan istilah China Town. Di tempat itu mereka merasa aman dan dikelilingi oleh keluarga serta adat yang akrab. Namun tuntutan pendidikan, lapangan pekerjaan dan kesejahteraan yang lebih baik, yang ingin dicapai oleh orang-orang cina ini, ingin menuntut perubahan. Pada pasca perang dunia II (1939 sampai dengan 1945), mereka yang ingin maju mulai meninggalkan China Town dan berusaha bertempat tinggal di daerah pemukiman umum, berkompetisi dengan  bersekolah yang bermutu serta dilapangan pekerjaan yang penuh dengan saingan. Untuk itu mereka melepaskan budaya tradisional China, masuk ke dalam pola budaya Anglo-Sakson, agar diterima sebagai bangsa Amerika.

Perubahan yang terjadi di kalangan Cina ini, khususnya di bidang pendidikan, disebabkan karena perlakuan yang diskriminatif terhadap mereka dan tuduhan-tuduhan bahwa siswa keturunan Cina yang mempertahankan budaya nenek moyangnya, di sekolah kurang berpartisipasi, non-asertif dan tidak pernah bertanya. Walaupun demikian penelitian yang dilakukan oleh Lesser, Fifer, dan Clark (1965) menunjukkan bahwa siswa-siswa Cina memang benar mendapat skor rendah pada tes verbal, akan tetapi mereka mendapat skor tinggi pada tes numerik dan skor tertinggi pada tes yang menguji nalar dan spatial.
Pembauran di kalangan imigran Jepang menunjukkan gambaran yang agak berbeda. Pada dekade 1970-an angkatan Sensei, yaitu keturunan ketiga imigran Jepang di Amerika Serikat, telah berhasil menerobos citra “Bahaya Kuning” menjadi “Minoritas Teladan” melalui kerja keras dan berbagai pengalaman. Keturunan Jepang yang pertama, atau Issei, masih mengikuti pola hidup budaya asalnya. Sedangkan anak-anaknya atau Nissei, mulai mengalami perubahan. Di sekolah mereka berbahasa Amerika; tetapi di rumah mereka masih berbahasa dan menggunakan adat-istiadat Jepang. Maka keturunan Nissei ini hidup dalam dunia yang penuh dengan konflik, baik di bidang pendidikan, sosial, maupun ideologis. (https://bandarlampungkota.go.id/blog/konsep-dan-radiasi-gelombang-elektromagnetik/)
Akan tetapi sesudah perang dunia kedua, angkatan Sansei mulai berhasil tampil dalam kelas menengah di Amerika, tanpa telalu dibebani oleh diskriminasi atau prasangka ras yang dialami oleh para pendahulunya, Issei dan Nissei. Bahkan merekalah yang mampu menerobos mitos keberhasilan Amerika, yakni sukses dalam pendidikan dan sukses dalam profesi. Meskipun demikian, penelitian-penelitian yang dilakukan pada tahun 1970-an (antara lain oleh Hosakawa, 1978) masih menunjukkan tanda-tanda belum yakin diri dan kekhawatiran di kalangan Sansei. Isu bahwa mereka adalah high achievers masih ramai diperdebatkan, dan Sansei masih diliputi perasaan sebagai golongan marginal yang bukan Jepang lagi, namun belum sepenuhnya di terima sebagai warga Amerika. Khususnya di kalangan Sansei wanita, terutama yang berkaitan dengan kemandirian dan gerakan feminim, hal-hal itu masih merupakan persoalan dikotomi yang belum terpecahkan dan masih rawan.

Salad Bowl: Kesatuan dalam Kemajemukan

Gagasan dari pembauran dalam Melting Pot diakui telah memberi sumbangan yang baik ke arah pembinaan berbagai macam kelompok imigran dan etnik untuk bersatu menjadi sebuah bangsa. Tetapi penggabungan ini tidak berhasil menghapuskan perbedaan-perbedaan kultural di antara mereka. Para penganut pembauran memang selalu mengemukakan dalih bahwa tuntutan dari masyarakat modern dan teknokratis menghendaki surutnya budaya tradisional. Namun sulit juga untuk membantah bahwa cara-cara demikian justru berakibat tercerabutnya para imigran dari akar budaya mereka, sehingga menimbulkan alienasi dan anomie. Hal lain yang juga merupakan dampak negatif ialah tekanan-tekanan politik dan budaya dari kelompok etnik yang dominan terhadap yang lainnya, dengan mengatasnamakan tujuan dan kepentingan nasional.

Maka absahlah tuntutan pandangan baru yang konsekuensi dari sistem politik yang demokratis maupun kultur yang demokratis. Sehingga kaum imigran yang berasal dari Eropa Selatan, Tengah, dan Timur, mereka tergolong Afro-Amerika, Chicano atau Indian mempunyai hak atas lembaga dan budaya etnik mereka di dalam masyarakat Amerika Serikat. Mereka disebut Mangkuk Selada, karena argumentasi mereka ialah bahwa setiap bawaan budaya etnik akan mempunyai peranan yang unik dalam memperkaya khazanah budaya nasional secara keseluruhan. Jadi begitulah yang disebut kemajemukan budaya (cultural pluralism), gagasan dan pilihan lain yang dianjurkan untuk dilaksanakan, baik oleh lembaga pendidikan maupun umum.

Hubungan Kelangkaan Sumber Daya dengan Kebutuhan Manusia

Hubungan Kelangkaan Sumber Daya dengan Kebutuhan Manusia

Hubungan Kelangkaan Sumber Daya dengan Kebutuhan Manusia

Hubungan Kelangkaan Sumber Daya dengan Kebutuhan Manusia

Hubungan Kelangkaan Sumber Daya dengan Kebutuhan Manusia

Kebutuhan Manusia

Berkaitan dengan kebutuhan manusia, tentu kamu masih ingat bukan pelajaran di kelas VII yang lalu mengenai usaha manusia memenuhi kebutuhan? Ya, pada pelajaran di kelas VII usaha pemenuhan kebutuhan manusia lebih ditekankan pada aspek manusia sebagai makhluk sosial yang bermoral dalam memenuhi kebutuhan hidup, serta berkaitan dengan tindakan ekonomi berdasarkan motif dan prinsip ekonomi.

Adapun pelajaran kali ini masih berkaitan dengan kebutuhan, namun lebih ditekankan pada keterkaitan antara kebutuhan dan kelangkaan. Dengan demikian pengetahuan dan pemahamanmu mengenai kebutuhan akan makin lengkap.

1. Berbagai Macam Kebutuhan

Dalam hidupnya, manusia senantiasa memiliki banyak kebutuhan. Kebutuhan adalah segala sesuatu yang muncul dalam diri manusia agar manusia tetap hidup. Misalnya saat merasa lapar manusia berusaha untuk mendapatkan makanan yang dapat dimakan. Saat haus manusia berusaha untuk mendapatkan minuman
yang dapat diminum.

contoh teks ulasan drama – Makan dan minum merupakan suatu bentuk kebutuhan yang alamiah (naluri). Jika seseorang memerlukan sepatu, memerlukan buku, memerlukan kendaraan, dan semua benda yang melengkapi kehidupan manusia merupakan bentuk kebutuhan yang bukan alamiah, melainkan sebagai hasil kebudayaan.

Makin tinggi tingkat kebudayaan manusia makin kompleks pula kebutuhan yang diinginkan. Masyarakat modern memiliki kebutuhan yang lebih banyak ragamnya daripada masyarakat tradisional. Berbagai bentuk kebutuhan manusia dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

a. Menurut kepentingannya

Menurut kepentingannya, kebutuhan dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

1) Kebutuhan pokok/kebutuhan primer

Kebutuhan pokok merupakan bentuk kebutuhan yang mendasar dan muncul secara alamiah sebagai sarana untuk kelangsungan hidup manusia secara layak.

Adapun yang termasuk kebutuhan primer adalah pangan, sandang, dan papan. Jika kebutuhan primer belum tercukupi, maka manusia dikatakan belum layak hidupnya.

2) Kebutuhan tambahan/kebutuhan sekunder

Kebutuhan tambahan merupakan jenis kebutuhan yang muncul karena ada tuntutan sosial yang berguna sebagai pelengkap kebutuhan pokok. Misalnya sepatu/sandal untuk melengkapi kebutuhan akan pakaian, kendaraan (sepeda,  sepeda motor) sebagai alat transportasi.

Keberadaan kebutuhan sekunder tidak memengaruhi terhadap kelangsungan hidup seseorang, artinya jika tidak terpenuhi manusia tetap masih dikatakan sebagai hidup yang layak.

3) Kebutuhan tersier

Kebutuhan tersier merupakan bentuk kebutuhan akan barang mewah. Suatu benda dikatakan mewah atau tidak tergantung dari tingkat kemakmuran seseorang yang memiliki benda tersebut.

Misalnya bagi seorang yang berpenghasilan pas-pasan mobil bisa dikatakan sebagai barang mewah, namun tidaklah demikian bagi orang yang penghasilannya berlebih.

Dengan demikian pengertian mewah atau tidak sangatlah relatif. Hal yang membedakan kemewahan suatu barang ditinjau  dari:

  • Kegunaannya, sebagai pelengkap kebutuhan pokok dan kebutuhan tambahan.
  • Waktu pemenuhan, bisa ditunda setelah kebutuhan pokok dan kebutuhan tambahan terpenuhi.
  • Akibat, akan berpengaruh terhadap kesehatan maupun kelangsungan hidup.
  • Menurut waktu

b. Menurut waktu pemenuhannya, kebutuhan dapat diklasifkasikan sebagai berikut.

1) Kebutuhan sekarang

Kebutuhan sekarang merupakan bentuk kebutuhan untuk keperluan saat ini yang harus segera dipenuhi dalam jangka waktu yang cepat. Misalnya kebutuhan akan makanan/minuman, kebutuhan alat tulis bagi pelajar, kebutuhan kendaraan bagi yang akan bepergian jauh, dan sebagainya.

2) Kebutuhan yang akan datang

Kebutuhan yang akan datang merupakan bentuk kebutuhan yang pemenuhannya memerlukan proses lama,
sehingga dapat ditunda. Misalnya kebutuhan memiliki rumah pribadi, kendaraan pribadi, dan sebagainya.

c. Menurut subjek

Menurut subjek atau pemakainya, kebutuhan dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

1) Kebutuhan perorangan

Kebutuhan perorangan merupakan bentuk kebutuhan yang diperlukan oleh setiap individu secara pribadi. Misalnya makanan, minuman, pakaian, sepatu, dan sebagainya

2) Kebutuhan kelompok atau kebutuhan bersama

Kebutuhan rohani merupakan bentuk kebutuhan yang dapat dipergunakan secara bersama-sama. Misalnya jembatan, gedung sekolah, jalan raya, dan sebagainya.

d. Menurut sifatnya

Menurut sifatnya, kebutuhan dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

1) Kebutuhan jasmani

Kebutuhan jasmani merupakan bentuk kebutuhan yang berkaitan dengan fisik manusia. Misalnya makanan dan minuman, pakaian, perhiasan, kendaraan, dan sebagainya.

2) Kebutuhan rohani

Kebutuhan rohani merupakan bentuk kebutuhan yang berkaitan dengan psikis/kejiwaan seseorang. Misalnya hiburan, prestasi, penghargaan, dan sebagainya. Kebutuhan manusia sangatlah beranekaragam, baik jenis dan mutunya. Hal ini sudah menjadi sifat kebutuhan manusia.

Jika kebutuhan yang paling mendesak sudah terpenuhi, maka akan muncul kebutuhan berikutnya, sehingga dapat dikatakan bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas.

Beberapa hal yang menyebabkan kebutuhan manusia tidak terbatas atau beranekaragam antara lain:

  • Organ manusia, selalu membutuhkan sesuatu untukmenggerakkan fungsinya.
  • Kebudayaan manusia, makin maju kebudayaan manusia, maka akan ada tuntutan sosial kehidupan yang lebih baik. Misalnya model bangunan rumah, perhiasan, alat komunikasi yang terus berubah.
  • Faktor psikologis, di mana seseorang membutuhkan sesuatu untuk memenuhi kepuasan batin. Misalnya rasa aman, kasih sayang, dan kepedulian.

2. Alat Pemuas Kebutuhan

Berbagai bentuk kebutuhan manusia dapat berupa benda atau pun jasa. Orang yang lapar memerlukan makanan, orang yang bepergian memerlukan angkutan/kendaraan. Makanan dan kendaraan tersebut merupakan bentuk alat pemuas kebutuhan.

Berbagai bentuk alat pemenuhan kebutuhan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Menurut kelangkaannya

Menurut kelangkaannya, alat pemuas kebutuhan dapat dibedakan:

1) Benda ekonomi

Benda ekonomi, yaitu benda yang tersedia dalam jumlah yang kecil (sedikit) dibandingkan dengan yang membutuhkannya, sehingga untuk mendapatkan perlu pengorbanan. Misalnya pada saat kemarau panjang air merupakan benda ekonomi yang untuk memperolehnya diperlukan biaya atau tenaga.

2) Benda bebas

Benda bebas, yaitu benda yang tersedia di alam bebas. Orang bisa mendapatkannya secara cuma-cuma. Misalnya udara untuk pernapasan, air di musim penghujan, dan sebagainya.

3) Benda illith

Benda illith adalah benda yang ada di sekitar kita, namun jika berlebihan dapat merugikan kehidupan manusia. Misalnya air dan api termasuk benda illith yang jika berlebihan justru merugikan atau bahkan membunuh manusia.

b. Menurut wujudnya

Menurut wujudnya, alat pemuas kebutuhan dapat dibedakan:

  1. Barang atau benda konkret, Barang konkret merupakan alat pemuas kebutuhan yang dapat dilihat, diraba, dan dirasakan manfaatnya. Misalnya rumah, pakaian, roti, nasi, dan sebagainya.
  2.  Jasa, Jasa merupakan alat pemuas kebutuhan yang hanya dapat dirasakan manfaatnya, tetapi tidak dapat dilihat atau diraba. Misalnya hiburan musik, layanan angkutan, dan sebagainya.

 

c. Menurut hubungannya dengan benda lain

Menurut hubungannya dengan benda lain, alat pemuas kebutuhan dapat dibedakan:

  1. Benda substitusi, Benda substitusi merupakan benda yang penggunaannya dapat menggantikan benda lain yang sedang diperlukan. Misalnya sepeda motor dapat menggantikan mobil, roti dapat menggantikan nasi.
  2. Benda komplementer, Benda komplementer merupakan benda yang dapat berfungsi jika dilengkapi dengan benda lain. Misalnya nasi dengan lauk pauknya, buku dengan pulpen, mobil dengan bahan bakar, dan sebagainya.

 

d. Menurut tujuan pemakaiannya

Menurut tujuan pemakaiannya, alat pemuas kebutuhan dapat dibedakan: 

  1. Benda konsumsi, Benda konsumsi adalah benda yang dapat langsung dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan. Misalnya minuman dan makanan.
  2. Benda produksi, Benda produksi merupakan benda yang dipergunakan untuk memproduksi benda lain. Misalnya alat pembuat kue, mesin traktor, kompor, dan sebagainya.

 

e. Menurut tingkat pemakaiannya

Menurut tingkat pemakaiannya, alat pemuas kebutuhan dapat dibedakan:

  1. Benda tahan lama, Benda tahan lama merupakan benda yang dapat dipergunakan berulang kali. Misalnya pakaian, sepatu, perhiasan, kendaraan, dan sebagainya.
  2. Benda tidak tahan lama, Benda tidak tahan lama merupakan benda yang hanya dapat dipergunakan satu kali saja atau benda yang habis pakai. Misalnya makanan, minuman, parfum, bahan bakar, dan sebagainya.

 

Kelangkaan

Ketidakseimbangan antara kebutuhan dan alat pemuas kebutuhan menimbulkan kelangkaan pada sumber daya yang menjadi alat pemuas kebutuhan. Kelangkaan adalah suatu bentuk ketidakseimbangan antara kebutuhan dengan pemenuhan kebutuhan. Ketika masyarakat memerlukan minyak tanah, sedangkan minyak tanah tidak ada di pasaran, maka dikatakan minyak tanah mengalami kelangkaan.

Demikian halnya pada musim kemarau banyak masyarakat memerlukan air, tetapi air sulit atau tidak dapat dijumpai. Jika ada bahkan itu pun tidak mencukupi kebutuhan. Hal ini juga disebut sebagai bentuk kelangkaan.

Adapun sumber daya yang sulit didapat sebagai alat pemenuhan kebutuhan manusia disebut sebagai sumber daya langka, di mana menunjukkan keterbatasan sumber daya tersebut, sehingga tidak memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sumber daya langka atau terbatas dapat dikelompokkan menjadi tiga:

  1. Sumber daya alam, misalnya bahan bakar, air, udara, dan bahan tambang lain.
  2. Sumber daya manusia atau tenaga kerja, di mana makin sedikit gaji yang tersedia, maka makin terbataslah sumber daya manusia yang dipekerjakan.
  3. Modal, dapat berupa uang atau barang. Modal dikatakan terbatas karena untuk memperolehnya diperlukan pengorbanan dalam bentuk biaya.

Apabila sumber daya terbatas, sedangkan kebutuhan banyak, maka harus ada yang dikorbankan untuk pemakaian yang lebih penting. Usaha manusia untuk mengatasi kelangkaan sumber daya adalah sebagai berikut.

  1. Menyusun skala prioritas, yakni membuat daftar kebutuhan mana yang perlu didahulukan pengadaannya karena dirasa lebih mendesak.
  2. Menggunakan alat pengganti pemenuhan kebutuhan, misalnya kelangkaan minyak tanah diganti dengan arang, kayu bakar, atau gas.
  3. Melakukan penghematan dalam menggunakan sumber daya yang termasuk langka/terbatas.

Menyusun Skala Prioritas

Manusia memiliki kebutuhan yang banyak dan beranekaragam, sedangkan sumber daya/alat pemenuhan kebutuhan jumlahnya terbatas. Maka dari itu manusia harus mampu mengutamakan kebutuhan yang dapat dianggap paling penting/mendesak dibandingkan kebutuhan lainnya. Misalnya kebutuhan pangan lebih mendesak daripada kebutuhan papan.

Setelah kebutuhan yang paling mendesak telah terpenuhi, maka manusia baru memikirkan pemenuhan kebutuhan lainya. Oleh karena itu, manusia perlu menyusun skala prioritas, kebutuhan mana yang perlu didahulukan/diutamakan.

Hal-hal yang perlu dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan skala prioritas adalah:

1. Tingkat Urgensinya

Dalam menentukan pilihan mana yang harus didahulukan perlu mempertimbangkan seberapa jauh tingkat kepentingan hal yang kita butuhkan tersebut. Misalnya Badi seorang pelajar yang sedang menghadapi tes, lampu kamar lebih penting daripada alat tulis, karena lampu kamar sebagai sarana penerangan belajar, sedangkan alat tulis bisa meminjam dulu ke kakak ataupun adik.

2. Kesempatan yang Dimiliki

Jika suatu kebutuhan hanya dibutuhkan pada saat itu saja maka perlu didahulukan. Misalnya dalam kondisi darurat, keselamatan atau kesehatan merupakan nomor satu. Demi kesembuhan, obat merupakan kebutuhan yang perlu didahulukan, sedangkan hal yang lainnya bisa dikesampingkan.

3. Pertimbangan Masa Depan

Dalam menghadapi pilihan yang sulit, faktor masa depan perlu dipertimbangkan. Misalnya ada beberapa pilihan bidang kursus/les ingin diikuti, namun tidak mungkin memilih semuanya, maka perlu dipertimbangkan jenis kursus apa yang bermanfaat bagi masa depannya.

Antara pilihan les Matematika ataukah Bahasa Inggris? Meskipun keduanya sama penting, namun mengutamakan bahasa Inggris merupakan pilhan yang paling tepat, sebab kegunaan di masa mendatang Bahasa Inggris lebih luas dibandingkan dengan Matematika.

4. Kemampuan Diri

Memiliki banyak keinginan dan selalu merasa tidak puas merupakan bagian dari sifat manusia. Namun hal yang juga menjadi bagian dari sifat manusia yang sering terlupakan adalah sifat keterbatasan kemampuan.

Menentukan pilihan perlu mempertimbangkan pula kemampuan yang dimiliki, baik kemampuan materi maupun nonmateri, sehingga pilihan yang dijatuhkan bisa tepat. Misalnya hidup di kota besar dengan persaingan yang ketat memaksa manusia untuk saling berlomba agar tidak tertinggal dengan lainnya.

Dalam kondisi seperti itu kadang muncul persaingan yang tidak sehat, berusaha memaksakan diri agar bisa sama dengan orang lain tanpa mempertimbangkan kemampuan diri, akibatnya akan menderita sendiri.

Kepedulian Terhadap Sumber Daya yang Terbatas dalam Pemenuhan Kebutuhan

Keterbatasan merupakan bagian dari kehidupan, termasuk di dalamnya sumber daya yang ada. Baik sumber daya alam, sumber daya manusia maupun sumber daya berupa modal, semuanya memiliki keterbatasan. Ada yang cepat habis bahkan tidak bisa diperbaharui lagi, tetapi ada yang bisa diperbaharui lagi.

Oleh karena itu, untuk menjaga kelestarian lingkungan bagi kelangsungan hidup manusia dari generasi ke generasi, manusia perlu mempedulikan keadaan sumber daya sebagai alat pemenuhan kebutuhan agar tidak cepat punah.

Beberapa perilaku yang mencerminkan kepedulian terhadap sumber daya yang terbatas adalah sebagai berikut.

1. Pemanfaatan Sumber Daya secara Efektif dan Efisien

Hendaknya kita memanfaatkan sumber daya secara efisien dan efektif serta menggali yang belum dimanfaatkan. Hal ini dapat dilakukan dengan lima cara, yakni:

  • Mengubah bentuk benda untuk meningkatkan nilai hasil. Misalnya tebu diubah menjadi gula, rotan diubah menjadi perabot rumah tangga, dan sebagainya.
  • Mengkombinasikan kegunaan benda, misalnya coklat yang dicampur gula dan susu.
  • Memperbaiki barang yang rusak, misalnya mengelem buku yang rusak jilidannya dan sebagainya.
  • Mendaur ulang barang bekas untuk dijadikan barang yang bernilai guna. Misalnya botol kemasan air mineral diubah menjadi kap lampu atau hiasan dinding, dan sebagainya.
  • Mengadakan tebang pilih dalam pemanfaatan hasil hutan dan mengadakan reboisasi. Misalnya hanya menebang pohon dengan diameter tertentu.

2. Menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan

Keterampilan untuk Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Keterbatasan kemampuan yang dimiliki manusia dapat diatasi melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan.

Proses alih teknologi dari negara maju ke negara berkembang hanya dapat terjadi melalui proses pendidikan dan pelatihan ini yang antara lain dapat dilakukan dengan cara:

a. Mengikuti pendidikan formal

Pendidikan formal menyediakan layanan pendidikan dari jenjang pendidikan dasar sampai ke jenjang pendidikan tinggi.

Untuk meningkatkan profesionalitas dapat ditempuh dengan mengikuti pendidikan lanjutan. Bagi yang telah meraih gelar sarjana S1 bisa melanjutan ke jenjang pasca sarjana untuk meraih gelar sarjana
S2 bahkan S3.

b. Mengikuti kursus-kursus keterampilan

Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka penguasaan keterampilan selalu mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Dengan memiliki banyak keterampilan, maka akan memiliki banyak peluang dalam era globalisasi ini.

c. Mengikuti program magang

Menimba pengalaman langsung di dunia kerja bagi para siswa atau calon tenaga kerja dapat dilakukan dengan mengikuti magang bekerja di suatu instansi/perusahaan sesuai dengan bidang yang ditekuninya.

Melalui magang ini akan diperoleh pengalaman praktis berkaitan dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dipelajari. Pengalaman merupakan salah satu faktor yang menentukan tingkat profesionalitas seseorang.

3. Mengelola dan Mendayagunakan Sumber Modal dengan Tepat Guna

Modal merupakan bentuk sumber daya yang sangat menentukan dalam proses produksi. Modal dapat berupa uang ataupun sarana, mesin-mesin produksi.

Namun, jika pengelolaannya tidak tepat, modal akan habis percuma. Kebangkrutan suatu usaha merupakan salah satu contoh konkret ketidakmampuan mengelola sumber daya modal yang ada.

Rumah Tangga Keluarga Sebagai Pelaku Ekonomi

Rumah Tangga Keluarga Sebagai Pelaku Ekonomi

Rumah Tangga Keluarga Sebagai Pelaku Ekonomi

Rumah Tangga Keluarga Sebagai Pelaku Ekonomi

Rumah Tangga Keluarga Sebagai Pelaku Ekonomi

Pelaku Ekonomi

Jika kita mengamati kehidupan di sekitar kita, dapat kita temukan bahwa aktivitas manusia sehari-hari senantiasa berkaitan erat dengan kegiatan pokok ekonomi, yakni kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi.

Perhatikan baik-baik apa yang dilakukan orang-orang di sekitar kalian setiap pagi sampai petang. Semuanya berkaitan dengan kegiatan pokok ekonomi tersebut, bukan?

Pernahkah kalian memikirkan dari mana kalian mendapatkan makanan, minuman, dan peralatan rumah tangga yang setiap hari kalian gunakan? Pernahkah kalian memikirkan bagaimana prosesnya barang-barang tersebut dapat sampai ke rumah kalian? Atau pernahkah kalian berpikir mengapa orang tua kalian harus
bekerja?

Ya, anggota pki semua jawabannya berkaitan dengan kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh rumah tangga keluarga, yang meliputi kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi. Untuk lebih jelasnya coba perhatikan materi berikut dengan saksama.

1. Rumah Tangga Keluarga sebagai Produsen

Untuk dapat melakukan kegiatan ekonomi dalam rumah tangga keluarga harus memiliki penghasilan atau pendapatan yang dapat dipergunakan untuk melakukan kegiatan ekonomi lainnya.

Rumah tangga keluarga dalam kegiatan ekonomi merupakan pemilik faktor produksi. Faktor produksi tersebut antara meliputi:

a. Tanah, bagi masyarakat pedesaan khususnya keluarga petani,

tanah merupakan aset produksi yang utama. Dari tanah inilah dapat difungsikan sebagai penghasil pendapatan. Misalnya disewakan atau ditanami sebagai sumber penghidupan keluarga.

b. Tenaga kerja,

keluarga merupakan penyedia tenaga kerja bagi kegiatan produksi, baik produksi dalam keluarga tersebut ataupun kemungkinan dimanfaatkan oleh pihak lain.

c. Keahlian,

sumber penghasilan keluarga adalah dari keahlian yang dimiliki oleh kepala keluarga (bisa ayah, ibu atau keduanya). Keluarga juga menjadi sumber daya berupa keahlian yang dimiliki oleh anggota keluarga itu.

d. Modal,

keluarga merupakan modal produksi. Di mana masingmasing anggota keluarga memiliki keahlian masing-masing dan berpotensi menjadi tenaga kerja untuk menghasilkan suatu barang.

Kegiatan produksi yang dilakukan dalam rumah tangga keluarga adalah menyediakan faktor produksi yang dibutuhkan pelaku ekonomi lainnya. Dalam kegiatan produksi inilah rumah tangga keluarga memperoleh penghasilan atau pendapatan dalam bentuk uang.

2. Rumah Tangga Keluarga sebagai Distributor

Kegiatan distribusi adalah kegiatan menyampaikan barang dan jasa dari produsen kepada konsumen. Kegiatan distribusi dapat dilakukan oleh rumah tangga dengan membuka toko atau warung yang digunakan untuk mendistribusikan barang-barang kebutuhan masyarakat.

Selain membuka toko atau warung, rumah tangga juga dapat melakukan distribusi dengan menjadi pedagang keliling, pedagang asongan, pedagang perantara, dan lain-lain. Kegiatan distribusi yang dilakukan oleh rumah tangga ini bertujuan untuk mendapatkan penghasilan atau menambah penghasilan keluarga.

3. Rumah Tangga Keluarga sebagai Konsumen

Konsumsi dalam pengertian ekonomi adalah kegiatan mengurangi atau menghabiskan nilai guna barang/jasa. Pengertian mengurangi atau menghabiskan di sini dapat secara berangsurangsur atau sekaligus.

Barang yang digunakan langsung untuk pemenuhan kebutuhan disebut barang konsumsi, misalnya makanan dan minuman. Adapun barang yang tujuannya untuk menghasilkan barang disebut barang produksi, misalnya kendaraan, komputer, dan lain-lain.

Rumah tangga keluarga merupakan kelompok yang paling sering melakukan kegiatan konsumsi. Sesuai perannya, masingmasing anggota keluarga memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, baik dilihat dari jumlah maupun macamnya.

Perbedaan kegiatan konsumsi tersebut disebabkan adanya perbedaan jenis kelamin, usia, latar belakang pendidikan, cara dan kebiasaan hidup. Misalnya, ayah sebagai kepala keluarga yang bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan membutuhkan dasi, sepatu, tas kantor, dan lainlain.

Ibu sebagai ibu rumah tangga membutuhkan kompor, sayurmayur, buah-buahan, dan lain-lain. Adapun kebutuhan anak lain lagi, misalnya sebagai pelajar, ia membutuhkan buku tulis, pena, pensil, tas sekolah, dan lain-lain.

Kegiatan konsumsi yang dilakukan oleh setiap rumah tangga keluarga pun berbeda-beda.  Adapun faktor yang memengaruhi perbedaan kegiatan konsumsi yang terjadi dalam masing-masing rumah tangga keluarga adalah:

a. Jumlah pendapatan keluarga

Makin besar pendapatan keluarga makin besar pula dana yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi.

b. Jumlah anggota keluarga

Makin banyak anggota keluarga, makin banyak pula barang/jasa yang diperlukan.

c. Tingkat harga barang atau jasa

Makin tinggi harga barang/jasa, makin banyak pula dana yang diperlukan untuk membeli barang/jasa yang diperlukan keluarga tersebut.

d. Status sosial ekonomi keluarga

Makin tinggi status sosial keluarga, makin tinggi pula selera konsumsinya. Tingkat selera konsumsi seseorang akan nampak pada tingkat kualitas barang atau jasa yang dipilih untuk memenuhi kebutuhan.

Wabup Dukung Penuh Pembangunan Terminal Kargo di Malang Raya

Wabup Dukung Penuh Pembangunan Terminal Kargo di Malang Raya

Wabup Dukung Penuh Pembangunan Terminal Kargo di Malang Raya

 

 

Wabup Dukung Penuh Pembangunan Terminal Kargo di Malang Raya

Drs. H. M. Sanusi, MM

Wakil Bupati (Wabup) Malang Drs. H. M. Sanusi, MM hadir dalam diskusi yang diadakan oleh Malang Post tentang pembangunan terminal kargo sebagai antisipasi kemacetan di Malang Raya. Forum diskusi yang digelar di Kantor Malang Post, Rabu (9/1) siang tadi juga dihadiri Kepala Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Malang diantaranya, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK), Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kepala Dinas Pertanahan, Kepala Dinas Perhubungan, Kabag Kesra, Kabag Humas Protokol, Camat Singosari, dan Camat Lawang.

Wabup menyampaikan bahwa terminal kargo

Wabup menyampaikan bahwa terminal kargo dapat mengurai kemacetan jika pembangunan tol Malang-Pandaan dibangun hingga Kepanjen. “Pemerintah Kabupaten Malang telah mengusulkan pembangunan tol Malang-Pandaan dilanjutkan hingga ke Kepanjen. Saya sudah membuat spanduk, dengan tulisan Pembangunan Tol Pandaan Malang sukses, Terima Kasih Pak Jokowi, Lanjutkan Hingga Kepanjen,” katanya.

Pria  yang akrab disapa Abah

Pria  yang akrab disapa Abah ini sangat mendukung dengan pembangunan terminal kargo karena akan banyak memberikan efek. “Membangun terminal kargo itu wajib memberikan efek. Tak sekedar mengurai kemacetan, tapi juga memberikan dampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Selain itu, terminal kargo ini juga dapat menyerap tenaga kerja,” tambahnya.

Menurutnya, pemangku kebijakan dari tiga daerah Malang Raya sama-sama sepaham jika Malang Raya membutuhkan terminal kargo ini. “Insyallah ini menjadi titik awal dimana tiga daerah bersama-sama mengatasi permasalahan di Malang Raya khususnya dalam mengantisipasi kemacetan. Soal terminal kargo, kami sebenarnya sudah memikirkan hal ini sejak dulu. Mudah-mudahan dapat segera terealisasi,” harap Abah.

Diskusi ini diawali dengan paparan data oleh pakar transportasi dari Universitas Brawijaya

dilanjutkan  oleh pakar ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang yang sebelumnya telah melakukan penelitian tentang terminal kargo. Pemaparan kembali dilanjutkan oleh dua narasumber lainnya yakni Kepala Barenlitbang Kota Malang, Erik Setyo Santoso dan Kepala Bappeda Kota Batu, M. Chori.

 

Artikel Terkait:

Pastikan Kawal Bansos Tepat Sasaran Bersama Polri

Pastikan Kawal Bansos Tepat Sasaran Bersama Polri

Pastikan Kawal Bansos Tepat Sasaran Bersama Polri

 

 

Pastikan Kawal Bansos Tepat Sasaran Bersama Polri

KEPANJEN

Dalam rangka upaya pengentasan berskala nasional dan bisa menerobos ke pelosok Indonesia salah satunya di Kabupaten Malang, Wakil Bupati Malang Drs. H. M. Sanusi bersama Wakapolres Polres Malang dan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Malang menyaksikan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dan Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita saat menandatangani nota kesepahaman (MoU) antara Polri dan Kemensos di Mabes Polri Jakarta tentang keseriusan penanganan Bantuan Sosial (Bansos), melalui video conference di Mapolres Malang Kepanjen Jumat, (11/1) pagi tadi.

Bantuan Sosial pemerintah pusat

“Bantuan Sosial pemerintah pusat ataupun daerah memang sangat perlu perhatian, pengawasan serta ketepatan sasaran, maka dari itu dengan sinergitas seluruh lembaga pemerintah dan masyarakat dalam hal ini adanya keberadaan pihak kepolisian turut serta dalam mengawal Bansos hingga ke pelosok negeri sangatlah tepat,” ungkap Pak Sanusi di saat terpisah.

Adapun, ruang lingkup nota kesepahaman tersebut mencakup pertukaran data dan informasi, bantuan pengamanan, penegakkan hukum, dan kerja sama lain yang disepakati. “Keterlibatan pemerintah pusat hingga daerah bersama kepolisian sangat erat dengan kebutuhan akurasi data untuk kondisi setiap penduduk miskin yang akan dituju untuk memenuhi kriteria layak dan tidaknya menerima bantuan”, tambah Wabup.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Malang

Nur Hasyim, S.H, M.Si selaku Kepala Dinas Sosial Kabupaten Malang usai mengikuti acara tersebut menyebutkan bahwa di Kabupaten Malang tercatat penurunan angka kemiskinan mencapai 1% dari data terbaru saat ini 739.158 orang.

“Dari penurunan 1 % tersebut di Tahun 2019, kami akan melakukan upaya dan terobosan inovatif baik melalui PKH, kesehatan hingga pendidikan terlebih masyarakat yang belum dapat kartu KIS lebih dari 200 ribu warga yang nantinya akan dianggarkan oleh APBD,” ulas Nur Hasyim. https://bandarlampungkota.go.id/blog/contoh-report-text/

“Kami selaku pihak dinas juga akan menyatukan update data untuk status masyarakat miskin dari sumber awal yaitu pihak kepala desa, sehingga tepat sasaran serta tepat kondisi. Selain itu jika ada keterangan kemiskinan yang tidak sesuai fakta maka kami juga akan lakukan langkah-langkah pencegahan hingga penindakan sanksi hukum dengan bekerja sama dengan pihak kepolisian,” tambahnya.

Dalam video conference tersebut

Kapolri Tito menyambut baik kerja sama ini. Polri, kata Tito akan menindaklanjuti MoU ini dengan membentuk satuan tugas untuk membantu bantuan sosial, untuk Satgas Polri akan dipimpin oleh Koordinator Staf Ahli Kapolri Irjen Pol Muktiono.

“Nanti dari Polri akan membentuk satgas untuk membantu Kemensos secara maksimal,” ujar Kapolri. Dalam acara menyaksikan video conference ini hadir seluruh seluruh jajaran perwira Polres Malang serta para Kapolsek di seluruh wilayah Kabupaten Malang.

Pemkab Malang Raih Piala Adipura ke 11 Secara Beruntun

Pemkab Malang Raih Piala Adipura ke 11 Secara Beruntun

Pemkab Malang Raih Piala Adipura ke 11 Secara Beruntun

 

Pemkab Malang Raih Piala Adipura ke 11 Secara Beruntun

Pemerintah Kabupaten

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang kembali meraih penghargaan Adipura tahun 2018 untuk kategori kota kecil yang diraih Kota Kepanjen. Penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia ini diterima Kabupaten Malang secara beruntun untuk kali ke-11. Penyerahan Piala Adipura diserahkan langsung Wakil Presiden, Jusuf Kalla didampingi Menteri KLHK, Siti Nurbaya Bakar  kepada Wakil Bupati Malang, Drs. H.M. Sanusi, MM di Auditorium Dr. Soedjarwo, Manggala Wanabakti, Jakarta, Senin (14/1/) siang.

Dalam kesempatan ini

Pemerintah Pusat mengingatkan Program Adipura merupakan salah satu intrumen pemerintah dalam mendorong implementasi kebijakan lingkungan dengan sejumlah pendekatan. Antara lain, pendekatan wilayah, pendekatan implementasi kebijakan persampahan, dan pendekatan implementasi penghijauan. Salah satu kriteria penilaian Adipura adalah dalam hal implementasi atas amanat UU Nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, upaya dan hasil dalam memenuhi target nasional pengelolaan sampah.

Target nasional pengelolaan sampah

”Target nasional pengelolaan sampah yang dimaksud, adalah pengurangan sampah 30 persen dan penanganan sampah 70 persen pada tahun 2025. Serta upaya mendorong penerapan sistem pengelolaan sampah secara terpadu mulai dari hulu sampai hilir di setiap kabupaten/kota. Prinsip utama penerapan Adipura yaitu sejauh mana peran aktif masyarakat dalam peningkatan pemahaman dan kesadaran sebagai kunci perubahan perilaku, terpasangnya sistem pengelolaan sampah dengan basis sistem teruji dan data yang akurat terverifikasi, serta pemenuhan ruang terbuka hijau sesuai dipersyaratkan peraturan dan undang-undang,” terang Wabup.

Pria ramah ini lantas menjelaskan

pemerintah berharap prinsip tersebut akan menjadi dasar pergeseran paradigma pengelolaan sampah dengan harus bergerak ke hulu. Sehingga, kata Wabup, upaya-upaya pengurangan sampah menjadi penentu yang penting. Serta, pengklasifikasikan kota menurut leveled playing system. Artinya kota dan kabupaten akan bersaing dalam level kapasitas sistem pengelolaan sampah dan pemenuhan ruang terbuka hijau yang setara. Ia pun bersyukur, Kabupaten Malang pun mampu meraih prestasi bergengsi di bidang kebersihan itu. https://bandarlampungkota.go.id/blog/kata-bijak-bahasa-inggris/

”Tentunya, prestasi ini diraih setelah upaya pengelolaan lingkungan dan sampah mendapat poin lebih dari kementerian. Prestasi 11 kali berturut-turut dalam pengolahan lingkungan hidup ini karena kerja keras dan sinergi antara pemerintah dengan masyarakat dan berbagai pihak terkait yang peduli lingkungan. Terlebih, memperkuat daya dukung lingkungan hidup merupakan bagian dari tiga strategi umum pembangunan oleh Pemkab Malang,” jelasnya.

Pemkab Malang melalui Dinas Lingkungan Hidup

Banyak proses dilalui Pemkab Malang melalui Dinas Lingkungan Hidup dalam upaya mempertahankan prestasi Adipura. Diantaranya, mendirikan bank sampah yang kini hampir seluruhnya sudah memiliki bank sampah aktif. Masyarakat juga melakukan pengelolaan sampah secara mandiri. Ada  juga pengolahan sampah 3R (Reduce, Reuse, Recycle), dan Tempat Penampungan Akhir (TPA) berbasis Edukasi dan Wisata. Selain itu ada 60 titik pantau kota bersih, hijau dan teduh, berada di sekolah, pasar, perkantoran, ruang publik dan TPA. Bahkan, Kabupaten Malang memastikan diri sebagai daerah percontohan dalam pengelolaan sampah terbaik skala nasional.

‘Seperti di TPA Wisata Edukasi Talangagung

Kepanjen menjadi ruang belajar dalam pengelolaan sampah menjadi gas methane sebagai sumber bahan bakar masyarakat. Pada tahun 2018, Kabupaten Malang menargetkan raih Adipura Kencana, dan semoga terwujud. Harapan saya, seluruh masyarakat Kabupaten Malang tetap menjaga kepedulian dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya. Mewujudkan Kabupaten Malang yang bersih, teduh dan bebas polusi,” tambah Wabup kepada Humas dan Protokol Setda Kabupaten Malang.

Diawal tahun 2019

KLHK memberikan anugerah Adipura periode 2017-2018 kepada 146 penerima penghargaan. Terdiri dari satu Adipura Kencana, 119 Adipura, 10 Sertifikat Adipura, dan lima Plakat Adipura. KLHK juga memberikan penghargaan Nirwasita Tantra 2018 kepada tiga Gubernur, enam Walikota dan enam enam Bupati. Pada periode sebelumnya, Bupati Malang, Dr. H. Rendra Kresna menerima penghargaan Nirwasita Tantra tersebut dari Wapres.

Kapitalisme Eropa dan Kehadiranya VOC di Nusantara

Kapitalisme Eropa dan Kehadiranya VOC di Nusantara

Kapitalisme Eropa dan Kehadiranya VOC di Nusantara

Kapitalisme Eropa dan Kehadiranya VOC di Nusantara

Kapitalisme Eropa dan Kehadiranya VOC di Nusantara

 

Kapitalisme Eropa membawa dampak yang sangat besar

terhadap perdagangan di Asia Tenggara. Hal ditadai dengan datanganya pertama kali bangsa portugis di Malaka dan disusul oleh Belanda dan Inggris. Kedatangan bangsa barat ke Asia Tenggara tidak terlepas dari keadaan di Eropa pada masa itu. Dimana kekuasaan islam berhasil menguasai perdagangan di Eropa akan tetapi orang – orang eropa seperti bangsa Portugis berhasil mencapai kemajuan dibidang teknologi tertentu yang kemudian melibatkan bangsa portugis dalam sala satu pertualangan mengarungi samudera yang paling berani pada zmaannya. Sehingga Untuk menjelajah kearahh timur petunjuk didapat melalui informasi – informasi dari Marcopolo[1].

Kedatangan portugis di Asia dilatar belakangi kejatuhan konstatinopel

ketangan turki sehingga pusat – pusat perdangangan di Timur Tengah termasuk sebagian daerah Mediterania dikuasai oleh orang – orang islam. Dengan ini monopoli perdagangan antara Eropa dan Asia jatuh ketangan orang islam yang menjual harga rempah – rempah dengan sangat tinggi. Keadaan inilah yang membuat bangsa Portugis mulai sadar mereka harus mendapatkan rempah – rempah sendiri dan datang kedunia timur yaitu Indonesia. Keinginan ini juga tidak terlepas untuk mengembagkan ajaran kristen sekaligus mengahancurkan kekuasaan islam, apalagi setelah islam menguasai Semenajung Liberia. Sehingga tahun 1511 Alfonso alburquerque menaklukan Malaka.

Belanda datang ke Asia tahun 1640

sebelum Belanda datang ke Asia dibawah pimpinan Cornelis De Houtman 1596. Bangsa belanda merupakan pedagang – pedangan yang mengambil rempah – rempah dari Indonesia di Lisabon ( Portugal) dan dan memperdagangkan keseluruh Eropa . tahun 1594 Belanda dilarang mengambil rempah – rempah di Lisabon karena ketika itu Lisabon merupakan wilayah Spanyol yang baru siap melawan Belanda dalam perang 80 tahun. Karena itulah Lisabon tidak mau menjual rempah – rempah kepada Belanda sehingga Belanda mencari sendiri pusat rempah – rempah kedunia timur. Yang memudahkan Belanda sampai kedunia timur adalah buku “ Itinerario oleh Van Linschoten”[2]. Kedatagan Belanda membuat geram Portugis yang waktu itu penguasa Selat Malaka dan Rempah di Goa. Belanda berhasil menduduki Malaka tahun 1641 setelah mengalahkan Portugis.

Inggris tidak begitu melihat persainganya di Malaka

Karena Inggris juga tidak bisa menandingi kekuasaan Belanda di Malaka. Perimbangan kekuasaan setahap demi etahap berubah hal ini dsiebabkan karena revolusi Prancis dan perang Napeleon di Eropa, dimana tentara Napaleon berhasil menduduki Belanda dan seluruh daerah jajahan Belanda jatuh ke Tagan Inggris termasuk Asia tengara dan Inggris memanfaatkan kondisi ini untuk merebut Malaka ( 1975 ) dan Nusantara (1811). Setelah berakhir perang Napoleon nanti seluruh wilayah jajahan Belanda dikembalikan kepada Belanda oleh Inggris. Sedangankan di Nusantara Inggris hanya menduduki Bengkulu.

Sumber : https://dosen.co.id/

Tingkatkan SDM, Kementrian ESDM Adakan Kerjasama dengan Dinas Pendidikan Jawa Barat

Tingkatkan SDM, Kementrian ESDM Adakan Kerjasama dengan Dinas Pendidikan Jawa Barat

Tingkatkan SDM, Kementrian ESDM Adakan Kerjasama dengan Dinas Pendidikan Jawa Barat

 

Tingkatkan SDM, Kementrian ESDM Adakan Kerjasama dengan Dinas Pendidikan Jawa Barat

Guna meningkatkan kualitas dan daya saing sumber daya manusia Indonesia

Pusat Pengembangan Sumber Daya Kelistrikan, Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bekerja dengan Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (PSMK) Dinas Pendidikan Jawa Barat. Salah satu bentuk kerjasamanya adalah meningkatkan akses sertifikasi lulusan SMK yang terkait dengan bidang energi dan sumber daya mineral.

Kepala Subbidang Evaluasi PPSDM KEBTKE

Ahmad Nasarudin mengutarakan, kerjasama ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang ketenagalistrikan di tingkat SMK. Program ini juga merupakan langkah mengimplementasikan Instruksi Presiden (Inpres) nomor 9 tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan Dalam Rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia di Indonesia.

“Berangkat dari Inpres tersebut

kami bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Jawa Barat untuk meningkat kualitas siswa SMK, khususnya di bidang ketenagalistrikan dengan melakukan uji kompetensi untuk mendapatkan sertifikasi,” tutur Nasarudin saat ditemui di Kantor Dinas Pendidikan Jawa Barat, Jalan Radjiman nomor 6, Kota Bandung, Senin, 8 Oktober 2018.

Karena masih tahap awal

kerjasama ini masih berbentuk sosialisasi dari pihak PPSDM KEBTKE ke seluruh Kepala Sekolah SMK Jawa Barat yang akan dilaksanakan besok di Wisma PPSDM Aparatur, Jalan Cisitu Lama nomor 37, Kota Bandung.

Nasarudin berharap, lewat kegiatan ini peserta didik SMK semakin berdaya saing dan berkeunggulan untuk menyambut Masyarakat Ekonomi Asian (MEA). “Dari pemetaan yang kita buat, Jawa Barat sangat berpotensi  memenuhi kriteria untuk meningkatkan peserta didik yang unggul dan memiliki kompetensi yang lebih baik,” ucap Nasarudin.

Staf PSMK Dinas Pendidikan Jawa Barat, Nelli Yohana menyambut baik kerjasama tersebut. Ia mengatakan dengan diadakannya sertfikasi untuk peserta didik SMK akan meningkatkan kualitas peserta didik Jawa Barat di bidang ketenagalistrikan. “Kami sangat merespon baik program yang akan diadakan oleh PPSDM KEBKTE Kementrian ESDM. Kita berharap di proses sosialiasi besok, banyak SMK yang tertarik untuk mengikuti kerjasama tersebut,” tutur Nelly.

 

Artikel Terkait:

Olahraga Bocce, Latih Konsentrasi dan Rangsang Motorik Anak Bekebutuhan Khusus

Olahraga Bocce, Latih Konsentrasi dan Rangsang Motorik Anak Bekebutuhan Khusus

Olahraga Bocce, Latih Konsentrasi dan Rangsang Motorik Anak Bekebutuhan Khusus

 

Olahraga Bocce, Latih Konsentrasi dan Rangsang Motorik Anak Bekebutuhan Khusus

Bocce atau boccia

Bocce atau boccia merupakan salah satu olahraga khusus anak-anak penyandang tunagrahita, yang masih belum dikenal namanya di Indonesia. Boccia ini menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan di Asian Para Games 2018. Selain di Asian Para Games 2018, olahraga ini pun diperkenalakan di Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) 2018 yang dilaksanakan di Yogyakarta pada beberapa waktu lalu.

Boccia merupakan olahraga melempar bola yang bertujuan untukmecapai atau mendekati satu target

Pada olahraga Boccia, terdapat tiga nomor pertandingan, yaitu nomor individu, pasangan dan beregu. Pemainnya terdiri tiga orang yaitu BC 1, satu orang dan BC 2, dua orang. Seperti dirilis dari kompas.com, ada empat kategori pertandingan unutk nomor individu, yakni BC1, BC2, BC3, dan BC4.

Ada 3 warna bola dalam Boccia, yakni putih, merah, dan biru. Bola putih disebut dengan bola Jack yaitusasaran lempar bola merah dan enam bola biru yang dipegang tim. Semakin dekat jarak bola dengan sasaran, semakin besar kesempatan untuk memenangi pertandingan. Jarak bola dihitung menggunakan alat ukur yang berbentuk seperti jangka. Pelemparan bola dilakukan bergantian. Durasi pertandingannya juga berbeda di setiap nomor. Durasi empat menit untuk individu, lima menit untuk pasangan, dan enam menit untuk beregu.

Olahraga Boccia sangat baik untuk anak-anak Tunagrahita

Dalam olahraga ini, anak dituntut untuk melakukan beberapa gerakan sederhana yang baik untuk merangsang saraf dan gerakan motorik tubuh. Olahraga ini dapat melatih mototrik tangan dan kaki, melatih konsentrasi hingga melatih sosialisasi saat berada dalam tim.

Kepala Sekolah SLB-B Sukapura

Anna Bhudiarti mengatakan olahraga ini dapat melatih kemampuan membidik dan melatih keseimbangan. Anak-anak dibimbing agar melempar bola sejauh-jauhnya, sehingga dapat diukur sejauh mana bola tersebut terjatuh. Selain itu, permainan bola ini dapat meningkatkan konsentrasi.

“Permainan ini pertama kali berasal dari Inggris, khusus diberikan untuk anak-anak down  syndrome. Saat diberikan ternyata mereka juga mampu membidik sesuai arahan,” ujar Anna.

 

Sumber : https://pengajar.co.id/